Halo!

Asmara Si Pedang Tumpul Chapter 39

Memuat...

Coa Kun lalu menyuruh tiga orang rekannya untuk menggotong peti yang dimuat di dalam kereta, sedangkan kuda penarik kereta diserahkan kepada pelayan untuk dirawat.

Mereka berempat lalu mengikuti Maniyoko dan Ouwyang kim memasuki gedung, menuju ke ruangan tamu yang berada di bagian samping kanan.

Di dalam ruangan tamu yang mewah itu telah menanti Tung-hai-liong Ouwyang Cin yang duduk di kursinya dengan sikap yang agung seperti seorang raja yang hendak menerima orang-orang yang hendak menghadap.

Biarpun usianya sudah enampuluh enam tahun, tubuhnya gendut dan kepalanya semakin botak, namun datuk ini masih nampak mencorong dan berwibawa, seperti pandang mata seseorang yang merasa yakin akan kekuatannya sendiri.

Bu-tek Kiam-mo Coa Kun juga seorang tokoh besar dalam dunia kangouw, akan tetapi dia maklum bahwa kedudukannya kalah tinggi dibandingkan kakek yang duduk di kursi dengan angkuhnya itu, maka diapun segera memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada, diikuti tiga orang rekannya setelah meletakkan peti yang mereka angkut dari dalam kereta tadi.

"Saya Coa Kun dan tiga orang pembantu datang menghadap locianpwe Ouwyang Cin untuk menyampaikan salam hormat dari Yang Mulia di kota raja," katanya dengan suara lantang.

Ouwyang Cin, juga Maniyoko dan Ouwyang Kim memandang dengan penuh perhatian, karena mereka terkejut dan heran juga mendengar disebutnya Yang Mulia, sebutan yang biasanya hanya diberikan kepada seorang kaisar, raja atau setidaknya pangeran.

Akan tetapi, tak seorangpun di antara mereka memperlihatkan perasaan heran itu pada wajah mereka.

"Coa Kun, jelaskan siapa yang kausebut Yang Mulia itu, agar aku mengetahui dengan siapa aku berurusan," suara datuk itu dalam dan parau.

"Saya sendiri tidak tahu siapa nama pemimpin besar kami itu, locianpwe.

Akan tetapi, Yang Mulia mengutus saya menghadap locianpwe, selain menyampaikan salam hormatnya, juga mengirim sekedar bingkisan dan surat kepada locianpwe, harap locianpwe sudi menerimanya." Coa Kun memberi isyarat kepada tiga orang rekannya dan mereka segera membuka tutup peti itu, memperlihatkan isinya kepada tuan rumah.

Dari tempat duduknya, Ouwyang Cin dapat melihat bahwa peti itu terisi barang berharga seperti kain sutera yang mahal, barang ukiran kuno, ada pula lukisan indah dan barang-barang perhiasan dari emas dan perak.

Sungguh merupakan bingkisan yang amat besar nilainya.

Hatinya merasa senang, akan tetapi inipun tidak nampak pada wajahnya.

"Berikan surat itu kepadaku," katanya.

Coa Kun mengeluarkan sesampul surat dari saku bajunya dan menyerahkannya kepada Ouwyang Cin.

Datuk ini membuka sampulnya, mengeluarkan sehelai surat yang ditulis dengan huruf-huruf indah.

Sebelum membaca isinya, dia melirik ke arah cap di bawah surat sebagai tanda si pengirim surat dan sekali ini, matanya terbelalak tanpa dapat dia sembunyikan lagi saking kaget dan herannya.

Tentu saja dia mengenal cap kebesaran itu, karena dahulu di waktu mudanya sering dia melihat cap itu, yalah cap kebesaran Kaisar Kerajaan Goan atau Mongol!

Kerajaan itu telah jatuh duapuluh tahun yang lalu, akan tetapi bagaimana sekarang ada seseorang memakai cap kebesaran itu dan mengirim bingkisan berharga kepadanya?

Cepat dibacanya surat itu dan dia menjadi semakin terheran-heran.

Surat itu menerangkan bahwa Kerajaan Goan kini sedang menyusun kekuatan untuk bangkit dan berjaya kembali, dan untuk tugas itu diserahkan kepada seorang pangeran dan seseorang yang bergerak di bawah tanah, menggunakan kedok dan hanya dikenal dengan sebutan Yang Mulia.

Dan kini Yang Mulia mengajak Ouwyang Cin untuk membantu gerakannya menjatuhkan Kerajaan Beng, dengan janji bahwa kalau berhasil kelak, maka Ouwyang Cin pasti akan diangkat menjadi raja muda yang menguasai daerah timur!

Ouwyang Cin masih terbelalak, akan tetapi wajahnya berseri-seri.

Menjadi raja muda!

Mana mungkin hal itu dapat terjadi kalau tidak bekerja sama dengan kekuasaan besar yang mempunyai balatentara kuat seperti bekas kaisar Mongol?

Dia kini hanya menjadi datuk golongan sesat!

Tentu saja jauh berlainan dibandingkan dengan menjadi seorang raja muda!

Sudah terbayang di pelupuk matanya betapa dia duduk di singgasana, berpakaian sebagai raja muda tulen, dihadap para pengawal dan disembah oleh seluruh rakyat di wilayah timur!

Membantu orang-orang Mongol mencoba untuk meruntuhkan Kerajaan Beng baginya bukan berarti memberontak, karena sekarangpun sebagai datuk sesat, dia sudah dimusuhi oleh pemerintah.

Pula, dia seorang peranakan Jepang!

Dibacanya sekali lagi isi surat itu, dan diliriknya isi peti, kemudian dia mengangguk-angguk dan tersenyum puas.

"Baiklah, Coa Kun.

Kami terima bingkisan dari Yang Mulia dengan ucapan terima kasih.

Dan kami setuju untuk bekerja sama, akan tetapi kami ingin mendengar lebih banyak tentang rencananya.

Kita bicarakan hal itu sambil makan minum, saudara Coa Kun!" Ouwyang Cin dengan gembira lalu menoleh kepada puterinya dan berkata, "Katakan kepada ibumu agar menyiapkan hidangan besar untuk menjamu para tamu kita yang terhormat." Ouwyang Kim mengerutkan alisnya, akan tetapi ia tidak berani membantah dan mengangguk, lalu masuk ke dalam untuk memberitahu kepada ibunya.

Sebagai seorang yang kaya raya, Ouwyang Cin dapat saja membuat pesta setiap hari, karena ternak tinggal potong, bumbu-bumbu sudah sedia, tukang masakpun ada.

Segera terjadi kesibukan di dapur, dipimpin oleh Nyonya Ouwyang Cin, dan dibantu pula oleh Ouwyang Kim.

"A Kim, siapa sih tamu-tamunya maka harus dibuatkan jamuan besar segala?" "Tamunya itu seorang di antara Bu-tek Cap-sha-kwi, ibu, namanya Coa Kun dan julukannya Bu-tek Kiam-mo, julukan yang mergandung kesombongan besar.

Akan tetapi bukan karena dia itu berjuluk Setan Pedang Tanpa Tanding maka dia dijamu ayah, melainkan karena dia mengaku sebagai utusan Yang Mulia." Wanita cantik yang lembut itu memandang kepada puterinya dengan heran.

"Yang Mulia?

Siapa itu?" "Aku tidak tahu, ibu.

Coa Kun itu menyerahkan surat dan barang hadiah yang serba mahal.

Setelah membaca surat itu, ayah kelihatan senang sekali dan menjamu Coa Kun yang tadinya sama sekali tidak dihormatinya.

Jelas bahwa yang mengutus orang itulah yang dihormati ayah, dan aku tidak tahu siapa itu Yang Mulia." "Sebutan Yang Mulia hanya ditujukan kepada kaisar atau raja atau orang yang besar kedudukannya.

Kalau Kaisar, kiranya tidak mungkin mengirim hadiah dan surat kepada ayahmu, ah, aku khawatir........." wanita itu termenung.

"Khawatir apa, ibu?" Ouwyang Kim bertanya.

"Ayahmu tentu hanya mengenal dua orang kaisar, yaitu kaisar Kerajaan Beng yang baru berdiri duapuluh tahun, dan tentu saja kaisar lama, kaisar Mongol dari Kerajaan Goan yang sudah jatuh.

Aku khawatir sekali karena aku sudah mendengar bahwa orang-orang Mongol berusaha untuk membangun kembali pemerintah Mongol yang sudah jatuh.

Jangan-jangan........

ayahmu didekati orang-orang Mongol untuk membantu mereka memberontak dan mendirikan lagi Kerajaan Mongol." Gadis itu mengangguk-angguk.

"Mungkin sekali, ibu.

Akan tetapi, ayah memang seorang petualang yang tidak pantang melakukan apa saja demi keuntungan........" suara gadis itu terdengar penuh kedukaan.

Ia sependapat dengan ibunya, yaitu bahwa pekerjaan seperti yang dilakukan ayahnya, menjadi datuk para bajak laut, merupakan pekerjaan yang jahat dan tidak baik.

Pada dasarnya, ibu gadis itu seorang wanita Jepang, puteri seorang samurai yang berjiwa lembut dan tidak suka melihat perbuatan jahat dan kekerasan sehingga ketika menjadi isteri seorang seperti Tung-hai-liong seorang datuk yang hidupnya penuh dengan kekerasan, ia hidup dalam keadaan batin tertekan dan menderita.

"Akan tetapi, menjadi pemberontak?

Ini sudah keterlaluan, A Kim.

Berbahaya sekali pekerjaan itu.

Bagaimana mungkin menentang pemerintahan yang mempunyai ratusan ribu pasukan?

Sebaiknya kalau ayahmu tidak melibatkan diri dengan pemberontakan." "Akan tetapi, belum tentu surat itu datang dari pemberontak Mongol, ibu." "Syukurlah kalau begitu.

Akan tetapi hatiku tidak enak, A Kim.

Engkau harus dapat memperoleh keterangan yang jelas.

Kalau benar dugaanku bahwa ayahmu didekati pemberontak, kita berdua harus mencegahnya dan membujuknya.

Maniyoko tidak bisa kita harapkan, selalu mentaati ayahmu sampai mati." "Ibu, andaikata benar demikian dan kita tidak berhasil membujuk ayah?

Ibu tahu akan kekerasan hati ayah." "Kalau begitu, kita harus menentangnya!

Maksudku, engkau harus menentangnya karena aku sejak kecil tidak suka mempelajari ilmu silat.

Aku tidak suka melihat ayahmu memberontak.

Engkau harus berjuang untuk menentang pemberontakan itu sehingga engkau akan dapat mencuci noda karena perbuatan ayahmu.

Aku tidak ingin melihat engkau kelak dihukum karena menjadi anak pemberontak.

Nah, tidak perlu engkau membantu di dapur, A Kim.

Keluarlah dan ikutlah dengan mereka bercakap-cakap.

Engkau seorang ahli silat, engkau pantas saja untuk ikut berbincang.

Akan tetapi jangan tergesa-gesa mencela ayahmu di depan tamu.

Aku ingin engkau mengetahui sepenuhnya siapa Yang Mulia yang mengirim surat kepada ayahmu itu dan bagaimana bunyi suratnya." Ouwyang Kim yang sejak kecil lebih dekat kepada ibunya dari pada ayahnya, kecuali kalau ia sedang berlatih silat, mengangguk dan iapun meninggalkan dapur, kembali ke ruangan tamu di mana ayahnya masih bercakap-cakap sambil minum arak harum yang membuat lidah mereka lebih lancar bicara.

Melihat puterinya muncul, Ouwyang Cin tidak menegurnya.

Puterinya itu memang tidak dipingit seperti para gadis lainnya, namun dibiarkan bebas dan sudah biasa puterinya hadir kalau dia sedang menerima tamu penting.

"Sumoi, apakah engkau tidak membantu subo yang sibuk di dapur?" Maniyoko bertanya, nadanya tidak menegur dan halus.

Dia selalu bicara halus kepada sumoinya itu.

Ouwyang Kim cemberut.

"Suheng, kenapa aku saja yang harus membantu selalu?

Kenapa tidak engkau yang sekarang membantu?

Aku ingin mendengar percakapan ayah dengan tamu penting ayah, aku ingin sekali tahu, siapa sih yang disebut

Post a Comment