a Ouwyang Cin.
Di dalam rumah gedung besar itu hanya tinggal dia dan isterinya, puterinya dan muridnya itu.
Jumlah pelayan jauh lebih banyak karena semua ada sepuluh orang pelayan untuk mengurusi rumah gedung besar itu dan empat orang penghuninya.
Pekerjaan Ouwyang Cin setiap harinya hanyalah menerima tamu-tamu, kebanyakan para bajak laut yang berkunjung untuk menghormat dan untuk menyumbangkan sebagian dari hasil bajakan mereka sebagai tanda bahwa mereka mengakui kepemimpinan datuk ini.
Juga banyak perampok pantai yang mengakuinya sebagai datuk pemimpin.
Waktu selebihnya dipergunakan Ouwyang Cin untuk mengurus perkebunan, peternakan dan juga beberapa buah perahu besar beserta para nelayannya yang mencari ikan di sepanjang muara.
Dari hasil semua ini, Ouwyang Cin terkenal sebagai seorang yang kaya raya.
Diapun tidak pernah melupakan latihan silat untuk puterinya dan muridnya atau keponakannya, bahkan dia sendiri tak pernah mengendurkan semangatnya berlatih silat karena dia maklum bahwa tanpa latihan, kemahiran akan cepat menurun, mengingat bahwa usianya semakin bertambah.
Maniyoko merupakan murid yang baik dan patuh kepada gurunya dan sudah seringkali Ouwyang Cin menyerahkan pekerjaan penting kepada muridnya ini sebagai wakilnya.
Jarang sekali Maniyoko gagal melaksanakan tugas sehingga gurunya semakin sayang dan percaya kepadanya.
Diam-diam Ouwyang Cin mengandung niat untuk menarik murid yang juga keponakan isterinya ini menjadi calon suami bagi puterinya.
Dia melihat dengan jelas betapa Maniyoko mencinta puterinya.
Hanya karena sikap Ouwyang Kim yang nampaknya tidak atau belum membalas cinta itulah yang membuat Ouwyang Cin masih belum dapat mengambil keputusan.
Dia terlalu sayang kepada puterinya untuk memaksanya dalam urusan apapun juga.
Pada suatu pagi yang cerah, di taman bunga belakang gedung milik keluarga Ouwyang, nampak seorang pemuda dan seorang gadis sedang berlatih silat.
Mereka merupakan pasangan yang sedap dipandang.
Pemudanya berusia duapuluh tujuh tahun, wajahnya tampan dan bulat, kulitnya halus putih dan pakaiannya yang ringkas itu rapi dan mewah.
Cambangnya hitam tebal tumbuh dari pelipis sampai ke dagu, terpelihara rapi.
Melihat pakaian dan rambutnya yang disisir rapi, ada kesan pesolek pada diri pemuda yang nampak tampan dan juga gagah karena cambangnya itu.
Tubuhnya agak pendek, hanya sedikit lebih tinggi dari pada gadis yang bertubuh mungil dan tidak tergolong tinggi itu.
Gadis itupun cantik jelita, wajahnya yang berbentuk bulat, kulitnya putih halus dan kemerahan seperti kulit seorang bayi.
Rambut dan alis matanya hitam sekali, membuat wajah itu nampak semakin putih.
Tubuhnya mungil kecil namun padat dan ramping dan ia nampak lembut dan lemah gemulai dalam gerakan silatnya.
Mereka adalah Maniyoko dan Ouwyang Kim.
Mereka sedang berlatih silat tangan kosong dan keduanya dapat bergerak dengan gesit bukan main.
Dasar gerakan ilmu silat mereka adalah ilmu silat dari selatan karena sebelum menjadi bajak laut, dahulu Ouwyang Cin adalah seorang ahli silat dari selatan yang sudah mempelajari banyak macam ilmu silat dari berbagai aliran, baik dari Siauw-lim selatan maupun dari Butong-pai.
Namun, ilmu silatnya berkembang dan bercampur dengan aliran lain, bahkan telah dikombinasikan dengan ilmu bela diri dari Jepang.
Dalam latihan, nampak gerakan Ouwyang Kim lebih cepat dan ringan, dan ia lebih banyak menyerang dari pada suhengnya (kakak seperguruannya).
Namun, gerakan Maniyoko yang mantap dan kokoh dapat membuat pemuda Jepang ini mampu menangkis atau mengelak dari semua serangan lawannya.
Akhirnya dia meloncat ke belakang dan berseru, "Cukup, sumoi, desakanmu membuat aku repot sekali.
Sungguh kecepatan gerakanmu luar biasa!" pemuda itu memuji dan pandang matanya penuh rasa kagum dan sayang kepada sumoinya.
Ouwyang Kim tersenyum.
"Aih, engkau selalu memuji, suheng.
Engkaupun sudah maju pesat, kedua tanganmu berat sekali." "Sumoi, mari kita berlatih pedang.
Gerakan di bagian akhir dari ilmu pedang kita sungguh masih terlalu sulit bagiku, belum juga aku mampu melakukannya dengan sempurna." Pemuda itu mengambil dua batang pedang yang memang sudah dipersiapkan di situ.
Biasanya, mereka berlatih di dalam ruangan berlatih silat yang cukup luas di bagian belakang gedung.
Akan tetapi karena pagi hari yang cerah itu amat panas, mereka memilih untuk terlatih di taman, di udara terbuka.
"Suheng, memang ilmu pedang Raja Matahari yang dirangkai ayah merupakan ilmu pedang yang sukar.
Ilmu pedang itu diambil dari jurus-jurus pilihan dari semua ilmu pedang yang pernah dipelajari ayah, dicampur dengan ilmu pedang dari Jepang yang menggunakan pedang samurai.
Kalau kita belum pernah mempelajari ilmu-ilmu pedang dari ayah, tidak mungkin kita akan mampu menguasai Jit-ong-kiamsut (Ilmu Pedang Raja Matahari) ini dengan baik.
Kita harus tekun dan bagian yang sukar harus kita latih terus menerus." Mereka lalu berlatih ilmu pedang.
itu dan dalam hal ilmu yang baru ini, ternyata Ouwyang Kim jauh lebih unggul dan ialah yang memberi petunjuk-petunjuk kepada suhengnya.
Mereka berhenti berlatih ketika dari taman itu mereka melihat sebuah kereta memasuki pekarangan depan.
Mareka tertarik karena yang datang dengan kereta itu bukanlah para bajak atau golongan sesat yang biasa datang menghadap Ouwyang Cin.
Melihat muka-muka baru, kedua orang muda ini tertarik dan tanpa bicara mereka menghentikan latihan dan pergi ke depan untuk melihat siapakah para tamu yang datang berkunjung.
(Lanjut ke Jilid 08) Asmara Si Pedang Tumpul (Seri ke 02 - Serial Si Pedang Tumpul) Karya : Asmaraman S.
Kho Ping Hoo Ternyata kereta itu memuat sebuah peti dan tamunya berjumlah empat orang yang sedang diterima oleh pelayan penjaga yang seperti biasa menanyakan siapa mereka dan apa keperluan mereka datang berkunjung.
Ketika empat orang itu melihat munculnya Maniyoko dan Ouwyang Kim, yang tertua di antara mereka, berusia limapuluh tahun lebih bertubuh tinggi kurus, segera menghadapi mereka dan bertanya dengan sikap yang sopan.
"Kami mendengar bahwa locianpwe (orang tua gagah) Ouwyang Cin mempunyai seorang murid laki-laki dan seorang puteri yang keduanya gagah perkasa Apakah (anda berdua) murid dan puterinya itu?" Ouwyang Kim yang wataknya pendiam dan halus itu tidak menjawab, membiarkan suhengnya yang menjawab.
Maniyoko memandang kepada penanya itu dan diapun berkata dengan suara yang angkuh.
"Benar, Tung-hai-liong Ouwyang Cin adalah guruku, dan aku bernama Maniyoko.
Sumoiku ini puteri suhu bernama Ouwyang Kim.
Siapakah paman dan ada keperluan apa datang berkunjung?" "Nama saya Coa Kun, seorang di antara Bu-tek Cap-sha-kwi (Tigabelas Setan Tanpa Tanding), bersama tiga orang rekan saya diutus oleh Yang Mulia untuk menghaturkan sedikit bingkisan berikut suratnya, kepada locianpwe Tung-hai-liong Ouwyang Cin." Berbeda dengan Ouwyang Kim yang jarang meningggalkan rumahnya, Maniyoko sudah banyak terjun ke dunia kangouw dia mengenal banyak tokoh kangouw, maka tentu saja dia sudah pernah mendengar tentang Bu-tek Cap-sha-kwi.
Dia mengamati laki-laki tinggi kurus itu, melihat pedang yang tergantung di punggungnya dan diapun berkata, "Ah, kalau begitu tentu kami berhadapan dengan Bu-tek Kiam-mo (Iblis Pedang Tanpa Tanding)!" "Kongcu mempunyai penglihatan yang tajam sekali!" Bu-tek Kiam-mo memuji.
"Mari, paman, kami antar paman sekalian menghadap suhu," kata Maniyoko dengan gembira, apa lagi mendengar bahwa tokoh kangouw ini diutus oleh seseorang yang disebutnya Yang Mulia.
Tentu seorang tokoh besar.
Diapun menyuruh seorang pelayan penjaga untuk memberi laporan kepada gurunya bahwa empat orang tamu hendak menghadap diantar oleh dia dan sumoinya.