antara para datuknya, yaitu See-thian Coa-ong.
Nah, itulah sebabnya aku memisahkan diri walau aku selalu mencintanya." "Omong kosong!
Cinta macam apa itu kalau memakai persyaratan?
Cinta macam apa yang dapat dibeli dengan keadaan seseorang?
Yang kaucinta itu orangnya, pribadinya, ataukah kedudukannya dan namanya?
Ingat, aku adalah murid See-thian Coa-ong, dan bagiku, suhu jauh lebih jantan dari pada engkau yang mengaku pendekar!
Setidaknya, suhu tidak pernah menjual omong kosong dan rayuan gombal kepada seorang wanita!" Wajah Bhok Cun Ki berkerut-kerut dan agak pucat, matanya nampak bingung dan gelisah!
Selama hidupnya, baru sekali ini dia merasa menyesal bukan main.
Memang dia tidak pernah dapat melupakan Cu Sui In, akan tetapi selama ini selalu dia menghibur perasaannya, menghibur batinnya bahwa dia meninggalkan Sui In karena melihat bahwa dia dan Sui In tidak akan dapat menjadi suami isteri yang rukun.
Namun, semua itu hanya hiburan belaka bagi perbuatan mengkhianati kasih di antara mereka.
Dalam hati kecilnya dia sudah merasa menyesal mengapa dia tergesa-gesa mengambil keputusan memutuskan cintanya itu.
Padahal, dia tahu betapa Sui In amat mencintanya, dan demi cinta kasih mereka itu, bukan tidak mungkin dia akan dapat menuntun Sui In kembali ke jalan benar!
Kini, dari mulut gadis itu dia seperti mendengarkan suara hatinya sendiri yang setiap kali membuatnya menyesal.
"Sudahlah, aku merasa bersalah kepada Sui In.
Akan tetapi, nona muda, jangan harap orang lain akan dapat membunuhku.
Kalau Cu Sui In sendiri yang datang, aku akan menyerahkan nyawaku tanpa melawan.
Kalau ia mewakilkannya kepada orang lain, jangankan engkau, biar andaikata See-thian Coa-ong sendiri yang datang, aku akan melawan dan membela diri." "Bagus, akupun bukan orang yang suka membunuh lawan yang tidak mau membela diri.
Hayo, cabut senjatamu dan sudah cukup banyak kita bicara!" bentak Lili dengan sikap garang.
Bhok Cun Ki tersenyum dan diapun mencabut pedangnya.
Nampak sinar kehijauan berkelebat ketika dia mencabut pedang Ceng-kong-kiam (Pedang Sinar Hijau) yang merupakan sebatang pedang pusaka dari Butong-pai.
Hanya murid yang sudah berjasa mengangkat nama baik Butong-pai sajalah yang berhak menerima hadiah sebatang senjata pusaka Butong-pai dan Bhok-ciangkun ini seorang di antara para pendekar Butong-pai yang tangguh.
"Aku sudah siap, nona Lili!" katanya.
"Lihat pedang!" Lili membentak dan iapun sudah menggerakkan pedangnya yang berbentuk ular putih itu, mulai dengan serangannya.
Karena ia sudah tahu bahwa lawannya adalah seorang ahli pedang Butong-pai yang berjuluk Sin-kiam-eng, (Pendekar Pedang Sakti) dan menurut sucinya amat lihai, begitu menyerang ia sudah menggunakan jurus yang amat dahsyat.
Pedangnya berubah menjadi sinar putih meluncur bagaikan anak panah cepatnya menusuk ke arah tenggorokan lawan.
"Wirr....
sing.......!" Pedang itu berdesing ketika sasarannya luput karena Bhok Cun Ki sudah mengelak dengan cepat, lalu dari samping pedangnya berubah menjadi sinar hijau menyambar ke arah mata kiri Lili!
Serangan balasan inipun dahsyat, cepat dan mengandung tenaga sehingga pedangnya berdesing nyaring.
Namun, Lili sudah mengelak dengan merendahkan tubuhnya, kemudian kaki kirinya mencuat ke arah pusar lawan, disusul pedangnya menyambar dari kanan ke kiri membabat leher!
"Wuuuutttt.........!" Kembali Bhok-ciangkun menghindarkan diri dari serangan dahsyat itu dengan meloncat ke belakang, dengan amat cepatnya Lili sudah meloncat ke depan, menyusulkan serangan lanjutan yang makin hebat.
Pedangnya bagaikan seekor ular meluncur dibarengi tubuhnya yang merendah, pedang itu menusuk ke arah kedua lutut kaki lawan secara bertubi!
Seolah-olah ada banyak sekali ular yang menyerang dan mematuk ke arah lutut dan kalau sekali saja lutut itu terkena patukan pedang ular, tentu Bhok-ciangkun akan roboh!
Namun, Bhok-ciangkun adalah seorang pendekar pedang yang sudah banyak pengalamannya bertanding dengan pedang.
Dalam pengalamannya sebagai seorang pendekar pedang, sudah banyak dia bertanding melawan orang-orang dari berbagai golongan.
Tentu saja dia tidak mudah dikalahkan begitu saja dan dia sudah melihat bahayanya serangan yang dilakukan gadis itu ke arah kedua lututnya.
Dengan ringan sekali tubuhnya meloncat ke atas, berjungkir balik dan turun ke belakang Lili dan membalas dengan serangan pedangnya yang diputar dengan cepatnya.
Dia mulai memainkan jurus-jurus ilmu pedang Butong-pai yang indah dan kuat, juga amat cepat sehingga pedangnya lenyap berubah menjadi sinar hijau yang bergulung-gulung!
Lili terkejut juga melihat kehebatan ilmu pedang lawan.
Iapun tidak mau kalah dan ia memainkan pedangnya dengan gerakan cepat sehingga pedangnya lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar putih yang bergulung-gulung.
Kadang-kadang, kedua gulungan putih dan hijau itu retak dan putus, ketika sepasang pedang itu bertemu di udara, menimbulkan percikan bunga api dan mengeluarkan bunyi berkerontang nyaring.
Keduanya merasa tergetar tangan kanan masing-masing, maka tahulah mereka bahwa lawan memiliki tenaga yang tangguh dan keadaan mereka berimbang.
Namun, setelah lewat limapuluh jurus, mulailah sinar putih itu terkurung tertekan oleh sinar hijau.
Bagaimanapun juga ilmu pedang yang dimainkan Bhok Cun Ki memang hebat sekali.
Pula, dia mempunyai banyak pengalaman bertanding, jauh lebih banyak dibandingkan lawannya.
Lili mulai terdesak!
Gadis yang keras hati dan pemberani ini maklum bahwa kalau ia hanya memainkan ilmu pedang biasa saja hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan, ia takkan menang melawan ilmu pedang lawan yang demikian hebatnya.
Tiba-tiba ia mengeluarkan suara mendesis nyaring dan gerakan pedangnya berubah.
Bukan hanya gerakan pedangnya yang berubah, melainkan juga gerakan tubuhnya.
Tubuh gadis itu, kedua lengannya, dan gerakan pedang itu kini mengandung gerakan seekor ular!
Berlenggang lenggok dan menyerang dari bawah dengan tusukan, bacokan seperti ular memagut, disertai desis mengerikan seperti seekor ular cobra yang marah!
Bhok Cun Ki terkejut juga menghadapi serangan aneh yang amat berbahaya itu.
Tahulah dia bahwa gadis itu mengeluarkan inti dari ilmu silatnya yang bersumber dari gerakan ular dan ilmu ini yang membuat nama besar See-thian Coa-ong ditakuti orang.
Gadis itu memang lihai dan berbahaya sekali.
Bukan hanya pedang putih itu yang berbahaya, menyambar-nyambar dari bawah bagaikan seekor ular beracun pembawa maut, akan tetapi juga tangan kirinya membantu dengan serangan yang tidak kalah ampuhnya.
Tangan itu menotok, mencengkeram dan gerakannya seperti seekor ular pula.
Dihujani serangan dari bawah seperti itu, keadaannya menjadi berbalik.
Kalau tadi Bhok Cun Ki berhasil mendesak lawan, kini dia lebih banyak mengelak dan menangkis, dan segera terdesak karena dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk melindungi dirinya.
Dia merasa seolah-olah dikeroyok banyak ular beracun.
Akan tetapi setelah belasan jurus lewat dan dia terdesak semakin hebat, teringatlah dia, akan pertandingan ujian dalam permainan pedang melawan Sin Wan pagi tadi.
Pemuda itu berkata bahwa lawan ular yang tangguh adalah burung!
Mengertilah kini Bhok Cun Ki bahwa secara tidak langsung pemuda itu telah memberi petunjuk kepadanya bagaimana harus melayani gadis ini!
Diapun mengerahkan tenaga, mengeluarkan bentakan nyaring dan tiba-tiba tubuhnya meloncat ke atas, lalu menukik turun dan menyerang dari atas dengan pedangnya!
Lili yang kini terkejut dan cepat menangkis, akan tetapi Bhok Cun Ki sudah melanjutkan serangkaian serangannya yang membuat gadis itu repot.
Ketika Lili melempar diri ke atas tanah bergulingan dan membentuk serangan baru dari bawah, kembali tubuh Bhok-ciangkun melompat tinggi ke atas.
Kini dia tidak mau menangkis atau mengelak ke samping, melainkan menghadapi serangan gadis itu dengan loncatan tinggi kemudian ketika tubuhnya turun dia menyambar bagaikan seekor rajawali menyerang seekor ular.
Kembali keadaan menjadi berbalik, Lili yang kini terdesak karena bagaikan seekor ular menghadapi burung yang dapat terbang, ia tidak diberi kesempatan menyerang lawan, sebaliknya lawan menghujankan serangan yang dimulai dari atas.
Hal ini membuat Lili menjadi penasaran dan marah sekali.
Ketika untuk kesekian kalinya Bhok Cun Ki mendesaknya dengan serangan bertubi, ia mengeluarkan teriakan nyaring, pedangnya diputar cepat melindungi tubuhnya dan tangan kirinya mendorong dengan pengerahan tenaga dari ilmu tok-coa-kun (silat ular beracun).
Dorongan ini hebat sekali karena dari telapak tangan kiri itu keluar uap kehitaman.
Itulah pukulan beracun yang ganas!
"Haiiiitttt!" Bhok Cun Ki yang mengenal pukulan maut, segera meloncat lagi ke atas, lalu menukik bagaikan seekor burung garuda.
Pada saat itu, dia melihat sinar hitam meluncur ke arah dadanya dari arah kiri.
Dia tahu bahwa dia diserang oleh senjata rahasia yang berbahaya.
Karena tubuhnya sedang berada di udara dan tidak dapat mengelak, dia mengerahkan tenaga pada pedangnya dan menangkis senjata rahasia yang hanya berupa sinar hitam itu.
"Cringgg!" Dan sinar hitam itu tertangkis, meluncur ke bawah, ke arah Lili.
"Awas.......!!" Bhok Cun Ki berseru memperingatkan, namun terlambat.
Lili sama sekali tidak mengira bahwa akan ada senjata rahasia meluncur demikian cepatnya oleh tangkisan pedang lawan yang berada di atas sehingga sebelum ia tahu apa yang terjadi, tiba-tiba ia merasa nyeri pada pundak kirinya dan senjata rahasia itu telah menancap di pundak.
Tubuhnya seketika menjadi lemas dan matanya berkunang, lalu gelap!
Lili roboh pingsan.
"Pengecut curang!" teriak Bhok Cun Ki dan tubuhnya sudah melayang ke arah dari mana datangnya senjata rahasia tadi.
Namun dia tidak menemukan orangnya.
Agaknya penyerang gelap itu telah melarikan diri dengan cepat.
Karena cuaca mulai remang-remang, Bhok Cun Ki cepat menghampiri Lili.
Gadis itu rebah miring dan ketika dia memeriksanya, dia terkejut.
Sebatang paku hitam menancap di pundak itu.
Paku itu