Halo!

Asmara Si Pedang Tumpul Chapter 31

Memuat...

i terhadap keselamatan ayah kalau dia pergi bertanding sore nanti." "Jangan khawatir, ayahmu seorang yang berkepandaian tinggi.

Siapapun tidak akan mudah mengalahkannya." Sin Wan menghibur dengan sungguh-sungguh karena dia maklum bahwa betapapun lihainya, Lili tidak akan mudah mengalahkan panglima itu.

"Akan tetapi aku tetap khawatir, twako.

Gadis siluman itu lihai bukan main.

Melihat engkau tadi mengadu kepandaian dengan ayah, aku merasa yakin bahwa hanya engkau yang akan mampu mengalahkannya.

Wan-twako, maukah engkau menolongku?" "Menolongmu?

Tentu saja aku mau, Hwa-moi," kata Sin Wan sambil menatap wajah yang manis itu.

"Kalau begitu, kau lindungilah ayahku!" Sin Wan mengerutkan alisnya, "Ayahmu telah menekankan bahwa kita tidak boleh mencampuri urusan itu, Hwa-moi?" "Aku tidak minta engkau mencampuri urusan itu, twako.

Akan tetapi, aku minta engkau melindunginya, secara diam-diam.

Kalau sampai ayah terancam bahaya maut, engkau dapat melindunginya.

Maukah engkau berjanji, twako?

Aku....

aku akan berterima kasih sekali padamu," Gadis itu menyentuh tangan Sin Wan, lalu menggenggam tangan itu dan mengguncangnya, pandang matanya penuh harapan, penuh permohonan.

Sin Wan tidak tega untuk menolaknya.

Dan memang di lubuk hatinya dia sedang mencari jalan bagaimana untuk dapat melindungi panglima itu dari ancaman maut di tangan Lili, maka diapun mengangguk, "Baiklah, akan kuusahakan, Hwa-moi." Tangan yang kecil itu menggenggam jari-jari tangan Sin Wan lalu melepaskannya.

"Twako, terima kasih!

Terima kasih, dan aku yakin, bahwa percayaanku kepadamu tidak akan sia-sia.

Aku sendiri tidak akan duduk diam.

Aku akan pergi keluar, dan kalau Han-koko mencari mata-mata Mongol, aku akan mencari gadis siluman itu.

Kalau ia berada di kota, aku akan menyerangnya dan memanggil pasukan penjaga untuk membantuku!" "Jangan, Hwa-moi.

Itu berbahaya sekali!" "Aku tidak takut!" "Tapi ayahmu telah melarangmu......." "Melarang aku mencampuri urusannya?

Tentu, aku tidak akan melanggar larangannya.

Akan tetapi dia tidak melarang aku membalas kekalahanku dari gadis siluman itu!" Ci Hwa lalu meninggalkan ruangan itu dan Sin Wan termangu dalam lamunan.

Berbahaya, pikirnya.

Orang macam Lili dapat melakukan apa saja.

Dia harus melindungi Ci Hwa lebih dahulu sebelum melindungi ayahnya.

Dan dia pun segera keluar.

Putera Mahkota atau Pangeran Chu Hui San sama sekali tidak mewarisi sifat-sifat baik dari ayahnya, yaitu Kaisar Thai-cu yang dahulu bernama Chu Goan Ciang.

Kalau ayahnya seorang pejuang yang gigih, kemudian menjadi kaisar yang bijaksana, pendiri kerajaan Beng-tiauw, sebaliknya pangeran yang merupakan putera mahkota yang sulung itu sejak mudanya adalah seorang yang lemah dan kurang bersemangat.

Pangeran Chu Hui San seperti mabok kemuliaan dan yang disukai hanyalah bersenang-senang saja.

Biarpun dia sudah beristeri dan memiliki belasan orang selir, masih saja dia haus akan kecantikan wanita.

Puteranya yang baru berusia enam tahun lebih itulah yang agaknya mewarisi kecerdikan dan semangat kakeknya.

Puteranya itu bernama Chu Hong dan karena semangatnya inilah maka Pangeran kecil Chu Hong menjadi kekasih kakeknya.

Bahkan kakeknya, Kaisar Thai-cu sendiri yang seringkali mendidik Chu Hong, menanamkan jiwa kepahlawanan melalui dongeng-dongeng.

Tidak jarang kaisar membiarkan cucunya tercinta itu tidur di dalam kamarnya!

Biarpun usianya sudah empatpuluh tahun, Pangeran Mahkota Chu Hui San masih berlagak seperti seorang pemuda remaja saja.

Pakaiannya selalu mewah dan dia seringkali lolos dari istana, tidak mau dikawal sehingga dia dapat melancong dengan bebas seperti halnya para kongcu (tuan muda) bangsawan.

Dan tentu saja diapun banyak bergaul dengan para kongcu bangsawan lainnya yang mempunyai kebiasaan dan kesukaan seperti dia, yaitu menghambur-hamburkan uang dan beroyal-royalan sepuas hati.

Pada suatu hari, pagi-pagi pangeran Chu Hui San sudah berada di beranda loteng rumah pelesir Seruni, sebuah rumah pelesir terbesar di kota raja.

Tentu saja pengurus rumah pelesir Seruni berikut semua penghuninya, para gadis penghibur, menyambut dengan penuh kehormatan dan kegembiraan ketika pangeran mahkota bersama dua orang temannya, dua orang kongcu bangsawan lain, muncul dan mereka seolah berebut menawarkan diri untuk menghibur tiga orang tamu itu terutama sang pangeran.

Siapa tahu pangeran mahkota terpikat olehku dan membawaku ke istana menjadi selirnya, dan kalau kelak sang pangeran menjadi kaisar berarti ia akan menjadi selir kaisar!

Demikian diharapkan oleh setiap orang gadis penghibur itu.

Akan tetapi sekali ini, Pangeran Chu Hui San dan dua orang kawannya agaknya sudah merasa jemu dengan mereka.

Karena bertiga hanya minta disediakan sarapan pagi yang mewah, dan setelah makan pagi mereka bertiga duduk di beranda loteng dan melihat-lihat mereka yang berlalu lalang di atas jalan raya di bawah depan loteng.

Pagi itu seperti biasa banyak wanita tua muda berlalu lalang di atas jalan raya.

Untuk pergi ke pasar dan pulangnya, para wanita itu melewati jalan itu karena pasar terletak dekat dengan rumah pelesir itu.

Dan tiga orang laki-laki bangsawan ini menjadi iseng.

Mereka melempar-lemparkan kwaci dan kacang ke bawah setiap kali ada gadis atau wanita muda lewat di bawah sana.

Wanita yang terkena lemparan kwaci atau kacang, kalau hendak marahpun tidak jadi, bahkan tersenyum malu dan bangga ketika mereka melihat siapa laki-laki yang mengganggunya itu.

Wanita mana yang tidak akan senang diganggu oleh Pangeran Mahkota?

Dari jauh nampak seorang wanita muda melangkah gontai di atas jalan raya.

Ia seorang wanita muda, usianya sekitar duapuluh tahun dan bentuk tubuhnya yang ramping amat menggiurkan dan menggairahkan.

Langkahnya dan lenggangnya amat memikat, dengan tubuh lentur lemas dan berlekuk lengkung sempurna.

Pada waktu itu musim panas, telah tiba dan karena hawa udara panas, para wanitanya mengenakan pakaian yang lebih tipis dan longgar sehingga keindahan bentuk tubuh mereka lebih dapat dikagumi dari pada kalau mereka mengenakan pakaian tebal musim dingin.

Wanita muda ini membawa keranjang gantung yang kosong sehingga mudah dimengerti bahwa ia tentu sedang menuju ke pasar untuk berbelanja.

Bajunya yang biru muda itu nampak baru.

Pangeran Chu Hui San memandang kepada wanita itu dan berkata kepada dua orang temannya.

"Tunggu!

Yang baju biru muda itu untukku, biar aku yang menembaknya!" Istilah menembak itu mereka pergunakan untuk menyambitkan kwaci dan kacang ke bawah.

Dua orang temannya adalah pemuda pemuda bangsawan yang selalu ingin memperoleh kesan baik dengan menjilat, maka mendengar permintaan ltu, segera mereka mentaati dan hanya menjadi penonton.

Putera Mahkota itu mempersiapkan kacang yang besar dan ketika wanita itu berlenggang di bawah loteng, dia membidik dan menyambitkan kacang itu ke bawah.

"Tukk!" kacang itu tepat mengenai kepala wanita itu.

Tidak menimbulkan sakit memang, akan tetapi cukup mengagetkan dan wanita itu cepat mengangkat muka memandang ke atas.

Dilihatnya tiga orang pria berpakaian mewah tertawa-tawa.

Akan tetapi Pangeran Chu Hui San terpesona ketika memandang ke atas itu dia melihat sebuah wajah yang cantik manis, dan tidak seperti wanita lain yang begitu melihat siapa penyambitnya lalu melempar senyum dan kerling memikat, wanita itu berani cemberut, mengerling marah lalu membuang muka!

Akan tetapi semua tarikan muka yang lain dari pada yang lain itu, yang tidak bermanis-manis tidak menjual murah, bahkan nampak demikian memikat bagi Pangeran Chu Hui San.

"Cui-ma, cepat kejar perempuan itu.

Aku menginginkannya, sekarang juga!" kata sang putera mahkota yang sudah terbiasa sejak kecil selalu terpenuhi segala kehendaknya.

Mendengar perintah ini, nyonya kurus yang berada di belakang mereka terbongkok-bongkok melayaninya dan bergegas turun dari loteng.

Dari atas beranda loteng itu, Pangeran Chu Hui San dan dua orang temannya dapat melihat betapa mucikari itu berlari keluar diikuti dua orang laki-laki berewok tinggi besar dan mereka bertiga cepat mengejar wanita muda yang jalannya belum jauh itu.

Mereka melihat betapa mucikari itu bersama dua orang jagoannya telah dapat menyusul.

Wanita muda itu nampak menolak, menggeleng kepala dan kelihatan marah-marah, tidak dapat dibujuk oleh mucikari itu dengan omongan manis.

Sang mucikari sendiri, bibi Cui atau dipanggil Cui-ma, merasa heran bukan kepalang melihat ada seorang wanita muda berani menolak ajakan putera mahkota!

Tidak perduli ia sudah menikah atau belum, rakyat jelata atau bangsawan belum pernah ada wanita yang menolak ajakan yang seolah merupakan bulan jatuh ke pangkuan itu.

Karena wanita muda itu menolak, dua orang tukang pukul sudah menangkap kedua lengan wanita itu dan tanpa kesulitan dua orang jagoan yang kuat itu memaksa dan menarik wanita muda itu ikut ke dalam rumah pelesir.

Tak seorangpun yang berani melerai ketika melihat ada wanita muda dipaksa masuk ke rumah itu oleh seorang wanita tua dan dua orang jagoannya.

Cui-ma memang disegani, bukan hanya karena ia mempunyai tukang pukul, melainkan terutama sekali karena dibelakang mucikari ini berdiri banyak bangsawan tinggi yang menjadi langganannya sehingga ia bisa mendapatkan pembelaan dari kalangan atas.

Petugas rendahan biasa saja, mana berani menentangnya?

Mungkin akan berhadapan dengan atasannya sendiri nanti!

Pangeran Chu Hui San telah duduk menanti dalam kamar yang mewah itu seorang diri ketika wanita muda itu masih bersama keranjangnya didorong masuk dari luar dan daun pintu segera ditutup kembali dari luar.

Wanita itu, bagaikan seekor anak kelinci yang dilempar ke dalam kerangkeng harimau, berdiri menggigil dan menangis, tidak berani berkutik, hanya bersandar pada dinding memeluk keranjangnya.

"Ampun......

ampunkan aku......

lepaskan aku.....

aku sudah bersuami, suamiku keras dan galak......" ia meratap ketakutan tanpa berani mengangkat mukanya yang menunduk.

Akan tetapi, alasan bahwa wanita itu sudah bersuami tidak meredakan gelora gairah sa

Post a Comment