jelas kedudukannya ditentang para pendekar.
Akan tetapi kalau hitam tidak putihpun bukan, sungguh merepotkan.
Dianggap kawan, tiba-tiba menjadi lawan, dianggap lawan, bisa menjadi kawan.
Orang yang bukan hitam bukan putih ini yang berbahaya, seperti bunglon, suka plin-plan!
Huh, aku tidak suka kepada mereka!
Gadis bernama Lili itu sepantasnya siluman ular!" "Sudahlah, Hwa-moi.
Mari kita antar Wan-toako kekamarnya.
Biar dia mengaso, dan mandi.
Nanti kita makan bersama di ruangan samping dekat kamarnya." Kakak beradik itu lalu mengantar Sin Wan ke kamar tamu yang berada di samping.
Kamar itu cukup luas dan nyaman, lengkap dengan kamar mandi.
Mereka lalu meninggalkan Sin Wan dan berjanji akan makan malam bersama setelah Sin Wan mandi.
Setelah berada seorang diri, mandi dan bertukar pakaian, Sin Wan merasa suka dan kagum kepada keluarga ini.
Bhok-ciangkun demikian gagah perkasa dan bijaksana, anak-anaknyapun ramah dan sama sekali tidak congkak.
Akan tetapi diam-diam dia merasa khawatir.
Dia tahu bahwa Lili amat lihai dan merupakan lawan yang amat berbahaya.
Dan biarpun dia sudah mendengar bahwa Bhok Cun Ki juga bukan orang lemah, melainkan seorang pendekar Butong-pai, namun dia belum tahu sampai di mana kepandaian panglima itu.
Dan orang seperti Lili itu tidak akan segan untuk membunuh lawannya!
Pada keesokan harinya, dengan sikap tenang seperti biasa, Bhok Cun Ki setelah makan pagi bersama Sin Wan, berunding dengan pemuda itu tentang tugas mereka.
"Pemilihan bengcu akan terjadi beberapa bulan lagi di puncak Thai-san," kata panglima itu.
"Menurut pendapatmu, siapa-siapa sajakah kiranya yang akan menjadi calon bengcu, taihiap?" Dalam perundingan pagi itu, hadir pula Ci Han dan Ci Hwa yang diperbolehkan ayah mereka untuk ikut mendengarkan dan siapa tahu mereka mempunyai usul-usul yang baik, dan perundingan itupun akan menambah pengalaman mereka.
"Aih, ayah!
Han-ko dan aku sendiri sudah sepakat untuk menyebut twako kepada Wan-twako, dan dia menyebut kami adik.
Kenapa ayah masih menggunakan sebutan sungkan itu?
Biarpun dia diam saja, namun aku tahu bahwa Wan-twako tidak suka disebut taihiap.
Dia amat rendah hati, ayah!" kata Ci Hwa yang lincah dan sudah biasa berbicara sejujurnya kepada ayahnya.
Panglima itu menoleh kepada Sin Wan sambil tersenyum, hanya pandang matanya yang bertanya.
Sin Wan juga tersenyum dan mengangguk.
"Memang benar apa yang dikatakan Hwa-moi, ciangkun.
Aku lebih suka kalau disebut Sin Wan saja, tanpa embel-embel taihiap." "Ha..ha..ha, engkau semakin menarik, orang muda.
Tinggal satu lagi yang ingin kuketahui, kekuatan apa yang tersembunyi di balik kesederhanaan dan kerendahan hatimu.
Baiklah, aku akan menyebutmu Sin Wan saja, akan tetapi engkaupun tidak boleh menyebutku ciangkun.
Aku lebih pantas menjadi pamanmu, bukan?
Nah, kita saling menyebut ciangkun dan taihiap dalam pertemuan resmi di depan orang-orang lain.
Setuju?" Sin Wan memandang kagum.
Bukan main keluarga ini!
"Baik, paman, dan terima kasih!" "Nah, Sin Wan.
Sekarang jawab pertanyaanku tadi.
Siapa saja kiranya yang akan menjadi calon bengcu?" "Paman Bhok, seperti pernah kuceritakan kepada Jenderal Shu Ta, ketika diadakan pemilihan pemimpin besar para kai-pang (perkumpulan pengemis) yang diadakan di Lok-yang kurang lebih setahun yang lalu, banyak tokoh memperebutkan kedudukan pemimpin besar itu, semata-mata karena kedudukan itu akan membuat pemegangnya mendapat kesempatan untuk menjadi calon bengcu dan banyak harapan akan menang karena memperoleh dukungan suara seluruh kai-pang.
Selain Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki yang memang sejak dahulu menjadi pemimpin besar kai-pang, ada beberapa orang yang mewakili guru-guru atau pemimpin mereka.
See-thian Coa-ong ketika itu diwakili oleh puterinya, yaitu Bi-coa Sianli Cu Sui In dan Lili.
Kemudian Tung-hai-liong (Naga Lautan Timur) Ouwyang Cin diwakili oleh muridnya yang bernama Maniyoko........" "Bukankah Tung-hai-liong Ouwyang Cin adalah seorang peranakan Jepang, merupakan datuk para bajak laut di lautan timur?" Bhok-ciangkun memotong.
"Benar, paman.
Kalau See-thian Coa-ong merupakan datuk di barat, Tung-hai-liong merupakan datuk di timur.
Mereka berdua sama kuat, lihai dan liciknya." "Hemm, lalu siapa datuk dari selatan dan utara?" tanya pula panglima itu.
"Setahuku, tokoh besar selatan tidak ada yang melebihi locianpwe (orang tua gagah) Bu Lee Ki yang berjuluk Pek-sim Lo-kai (Pengemis Tua Hati Putih), dan beliau yang didukung oleh Raja Muda Yung Lo agar kelak menjadi bengcu.
Kalau dia yang menjadi ketua bengcu, kurasa dunia kang-ouw akan aman dan tidak akan ada yang berani memberontak terhadap pemerintah, paman.
Mengenai datuk besar dari utara, aku belum mendengar siapa orangnya.
Banyak tokoh besar kang-ouw di utara kini cerai berai dan meninggalkan daerah yang menjadi daerah perang dan amat berbahaya itu." "Aih, sudah disebut datuk besar dunia kang-ouw, kenapa takut menghadapi bahaya perang?
Siapa akan berani mengganggunya?" Ci Hwa mencela.
Ayahnya tertawa.
"Ci Hwa, engkau terlalu mengangkat tinggi seorang datuk besar persilatan.
Boleh jadi kalau menghadapi lawan pribadi, seorang datuk besar tidak mengenal takut dan sukar dikalahkan.
Akan tetapi, dalam perang antara pasukan pemerintah melawan para sisa pasukan Mongol, yang berperang adalah ratusan ribu orang.
Betapapun lihainya seorang datuk besar, bagaimana dia akan mampu melindungi diri terhadap ratusan ribu orang?
Kelihaian seseorang tidak akan lebih dari seratus orang.
Kalau dikeroyok ribuan orang, apalagi dikeroyok perajurit yang bersenjata lengkap, biar dia pandai terbang seperti burung sekalipun, tentu akhirnya akan mati ditembus anak panah atau senjata lain." "Kalau begitu, bahaya hanya datang dari See-thian Coa-ong dan Tung-hai-liong saja, tentu dengan anak buah dan para pembantu mereka?" "Yang kita ketahui memang dari kedua pihak itu, paman.
Akan tetapi, mengingat bahwa kedudukan bengcu merupakan kedudukan yang penting dan amat berharga, maka kuyakin bahwa dari utara tentu akan muncul pula seorang datuk baru." "Menurut pendapatmu, di antara tiga orang sakti yang telah kita ketahui itu siapa yang paling lihai dan akan dapat menangkan kedudukan bengcu?" "Kurasa locianpwe Bu Lee Ki!
Tentu saja kalau tidak terjadi kecurangan dan kalau seluruh kai-pang setia kepada pemimpin besarnya.
Kita tidak dapat menentukan dengan pasti sikap para ketua kai-pang.
Mereka orang-orang aneh yang mudah berubah, mudah dipengaruhi dari luar." "Memang ke sanalah kita harus melakukan penjagaan, mengirim penyelidik-penyelidik yang pandai untuk mengawasi para kai-pang.
Mereka itu dapat dimanfaatkan pihak yang kuanggap paling berbahaya?" "See-thian Coa-ong, ayah?" tanya Ci Hwa.
"Bukan." "Kalau begitu, Tung-hai-liong?" tanya pula Ci Han.
"Juga bukan.
Yang paling berbahaya dari semuanya adalah orang-orang Mongol!
Mereka tiba-tiba mengubah siasat, tidak lagi melakukan penyerangan dengan pengerahan pasukan dari utara dan barat.
Hal ini mencurigakan dan boleh jadi sekali mereka menggunakan siasat halus untuk menyusup ke dalam negeri melalui pemilihan bengcu.
Karena itulah, kita harus berhati-hati.
Siapa tahu, sekarang juga mereka telah menyusup ke kota-kota besar, bahkan ke kota raja." "Kalau begitu, siluman ular Lili itu mungkin juga dipergunakan oleh orang Mongol" Ci Hwa berseru.
Bagaimana pendapatmu, Wan-ko?" Sin Wan mengerutkan alisnya yang tebal dan dia menggeleng kepala perlahan.
"Kukira orang seperti See-thian Coa-ong, puterinya dan para muridnya merupakan orang-orang yang sulit untuk diperalat orang lain.
Mereka tidak akan mau tunduk kepada siapapun dengan pengaruh apapun." "Kurasa Sin Wan benar, Ci Hwa.
Akupun yakin bahwa gadis itu tidak diperalat, melainkan datang atas kemauan sendiri.
Sudah, kita tidak perlu bicara tentang gadis itu.
Sin Wan, selama beberapa hari ini, bersama para mata-mata yang menjadi anak buahku, harap kausuka membantu melakukan penyelidikan di kota raja, di rumah-rumah penginapan, di kuil-kuil kosong, di tempat-tempat yang sekiranya patut dicurigai menjadi tempat pemondokan mata-mata Mongol.
Ingat, mereka sudah hafal benar akan keadaan di sini, akan kebudayaan pribumi, dan mereka licik dan cerdik sehingga akan sia-sia kalau engkau mencari-cari seorang yang kelihatan seperti orang Mongol di antara mereka.
Mungkin mereka itu nampak lebih pribumi dari pada pribuminya sendiri." "Baik, paman.
Dan untuk keperluan itu, sebaiknya kalau aku bekerja bebas dan tidak disiarkan berita bahwa aku menjadi pembantu paman.
Dengan demikian, rasanya akan lebih leluasa aku melakukan penyelidikan." "Aku mengerti, Sin Wan.
Dan sekarang, agar kita dapat lebih saling mengenal, mari kita pererat melalui ilmu silat." Sin Wan maklum apa yang dimaksudkan dan dalam hatinya, dia tidak setuju.
"Apakah itu perlu, paman?" "Tentu saja, perlu sekali.
Bukankah kita harus bekerja sama?
Untuk itu, kita harus dapat melihat kemampuan masing-masing." Sin Wan ingin membantah, akan tetapi tiba-tiba dia teringat bahwa sore nanti Bhok Cun Ki akan bertanding melawan Lili, bukan pertandingan yang main-main, melainkan mempertahankan nyawa dari ancaman gadis liar itu.
Ah, dia dapat memberi petunjuk secara tidak langsung, tanpa menyinggung perasaan pendekar Butong ini, pikirnya.
"Baiklah, paman, kalau paman berpendapat demikian." Ci Han dan Ci Hwa gembira sekali mendengar itu.
Mereka juga ingin sekali menyaksikan kelihaian tamu yang kini sudah akrab dengan mereka, yang hanya mereka kenal sebagai murid dari Sam-sian (Tiga Dewa) yang namanya pernah menggemparkan dunia persilatan karena Sam-sian adalah tokoh-tokoh besar yang berhasil mengembalikan pusaka-pusaka yang dicuri dari gudang pusaka istana kaisar!
Sam-sian merupakan tokoh-tokoh besar persilatan yang banyak jasanya, dan amat dihargai oleh Kaisar sendiri.
Dan kini, di antara ke tiga Sam-sian hanya tinggal seorang saja, yaitu Ciu-sian (Dewa Arak) yang mendapat tugas baru dari Kaisar, akan tetapi karena merasa sudah tua dan dua orang rekannya sudah tid