yangkan kemarahan.
Lili memang tidak marah karena ia memandang rendah semua pengepungnya itu.
Yang marah dan penasaran adalah belasan orang yang mengepungnya.
Gadis itu telah merobohkan tujuh orang rekan mereka dan kini dalam keadaan terkepung masih mengeluarkan ucapan yang memandang rendah sekali kepada mereka.
Betapapun cantik menariknya gadis itu, perasaan marah membuat mereka merasa gatal tangan untuk membunuhnya.
Mereka mulai membuat gerakan mengelilingi gadis itu dengan senjata di tangan.
Lili masih tersenyum, berdiri tegak dan tenang seperti sikap seekor ular yang melingkar di tengah-tengah, dikepung dan dikelilingi belasan ekor tikus yang mencoba untuk mengganggunya.
"Hemm, tikus-tikus ini memang sudah bosan hidup," kata Lili seperti kepada diri sendiri.
"Tahan!" tiba-tiba terdengar seruan dan belasan orang itu mengenal suara komandan mereka, lalu mereka semua menahan senjata dan mundur, membiarkan dua orang laki-laki berusia limapuluhan tahun maju, menghadapi Lili.
Mereka itu juga memakai topi bulu putih, akan tetapi melihat pakaian mereka yang lebih mewah dan sikap mereka yang berwibawa, nampak jelas perbedaannya dan mereka tentu merupakan pimpinan, pikir Lili.
Juga mereka tidak bersikap sombong seperti para anak buah mereka tadi.
Keduanya bertubuh tinggi besar, yang seorang berwajah bersih tanpa jenggot dan kumis, akan tetapi orang kedua bercambang bauk dengan kumis dan jenggot lebat.
Di pinggang mereka tergantung pedang, dan sikap mereka sama menunjukkan bahwa mereka berdua adalah orang-orang yang "berisi", bukan kaleng-kaleng kosong macam yang mengeroyoknya tadi.
"Nona, siapakah nona dan mengapa nona menganiaya tujuh orang anak buah kami?" tanya yang bermuka bersih.
Lili tersenyum mengejek.
"Siapa aku tidak perlu kalian ketahui, dan mengapa aku menghajar anak buah kalian?
Karena mereka yang minta dihajar, bukan aku yang sengaja menghajar." "Tidak mungkin!" bentak yang berewok karena jawaban gadis itu dianggapnya tidak masuk diakal.
"Mana ada orang minta dihajar?" "Hemm, kalau tidak percaya, tanya saja kepada mereka," kata pula Lili sambil menunjuk ke arah tujuh orang yang masih nampak kesakitan itu.
Mendengar ucapan itu, tentu saja dua orang pemimpin itu menoleh ke arah tubuh anak buah mereka yang tadi kena dihajar, Mereka itu sambil meringis kesakitan, menggeleng kepala dan seorang di antara mereka, yang tulang keringnya retak, menudingkan telunjuknya ke arah Lili dan berseru.
"Toako (kakak tertua), Ji-ko (kakak ke dua), gadis itu sombong dan jahat sekali.
Tolong balaskan penghinaan atas diri kami!" Si berewok kini menghampiri Lili dan membentak, "Nona, engkau masih muda akan tetapi sudah bersikap sombong dan kejam.
Sungguh engkau terlalu mengandalkan kepandaian sendiri!" Lili tersenyum dan matanya mengerling tajam.
"Orang hutan, kalau begitu engkau mau apa?" tantangnya.
"Bocah sombong, engkau patut dihajar!" bentak si berewok sambil menyerang dengan tangannya yang besar, panjang dan kuat.
Temannya, si muka bersih juga sudah siap untuk menyerang.
Pukulan tangan yang besar dan kuat itu cukup berbahaya, mendatangkan angin pukulan yang amat kuat.
Lili maklum akan hal ini, namun ia tetap memandang rendah.
Orang itu hanya tenaga otot yang kuat, tidak terlalu berbahaya baginya.
Dengan gerakan ringan sekali, iapun menggeser tubuh ke kiri, pinggangnya meliuk seperti tubuh ular saja dan pukulan si berewok yang amat kuat itupun luput.
Dari sebelah kirinya, datang angin pukulan menyambar dahsyat.
Ah, kiranya si muka bersih itu malah lebih kuat dari pada si berewok, pikir Lili dan kembali tubuhnya membuat gerakan meliuk dan pukulan itupun luput.
Dua orang itu terkejut.
Mereka melihat gerakan tubuh gadis itu amat aneh, tidak seperti orang bersilat, lebih mirip gerakan seekor ular kalau mengelak, tubuhnya begitu lentur dan dengan mudah saja menghindarkan pukulan mereka.
Tentu saja keduanya merasa penasaran bukan main dan menyerang lebih gencar.
Kini Lili memperlihatkan kepandaiannya.
la memang telah mewarisi ilmu silat dari See-thian Coa-ong (Raja Ular Dunia Barat) yang memiliki ilmu silat aneh, ilmu silat yang mengandung gerakan ular.
Tubuh Lili meliuk-liuk dengan cepatnya ketika menghindarkan semua serangan dan begitu ia membalas, kedua orang lawan itupun terkejut dan cepat menghindar dengan loncatan seperti orang dipagut ular.
Kedua tangan gadis itu membentuk kepala ular dengan jari-jari disatukan, dan ketika tangan itu meluncur dan menyerang, maka terdengar suara mendesis, seolah kedua tangan itu benar-benar telah berubah menjadi dua ekor ular berbisa yang ganas!
Akan tetapi kedua orang itu tidak boleh disamakan dengan tujuh orang yang tadi sudah dikalahkan Lili.
Kalau hanya seperti mereka, biar ia dikeroyok puluhan orang, ia tidak perlu bekerja keras untuk merobohkan mereka.
Dua orang pengeroyoknya ini lain.
Mereka ternyata adalah dua orang yang tangguh, memiliki gerakan silat yang baik, mantap dan bertenaga.
Memang, kalau Lili mau menurunkan tangan maut, kiranya tidak akan terlalu lama ia dapat merobohkan mereka.
Akan tetapi ia tidak ingin membunuh orang tanpa sebab yang kuat.
Ia selalu tidak setuju dengan watak gurunya atau sucinya yang mudah saja membunuh orang.
Di dasar hatinya, Lili bukan seorang yang jahat atau kejam.
Ia hanya galak dan ganas karena sejak kecil ia hidup di dekat orang-orang yang biasa mengandalkan kepandaian untuk memaksakan kehendaknya.
Sampai belasan jurus, belum juga dua orang setengah tua itu mampu merobohkan Lili.
Apa lagi merobohkan, bahkan semua serangan mereka, baik dengan tangan ataupun kaki, tidak pernah mampu menyentuh tubuh gadis itu.
Sebaliknya, Lili yang memang suka bertanding mengadu ilmu itu, sengaja mempermainkan mereka.
Ia menanti saat baik dan memancing-mancing dengan membiarkan diri di tengah, diapit oleh kedua orang lawan dari kanan kiri.
Ketika saat yang dinanti-nantinya tiba, yaitu ketika kedua orang itu dengan hampir berbareng memukulnya dengan tangan mereka yang besar dan lengan yang panjang dari kanan agak ke depan, ia tidak bergerak mengelak, melainkan menyambut pukulan mereka itu dengan kedua tangannya.
Akan tetapi ia bukan sekedar menangkis.
Begitu pergelangan kedua tangannya bertemu dengan pergelangan tangan lawan yang memukulnya, ia meliuk maju, kedua tangannya itu bagaikan seekor ular membelit lengan lawan!
Dua orang lawan itu terkejut, berusaha untuk menarik kembali tangan mereka, akan tetapi, seperti melekat dengan kedua lengan gadis itu yang bukan saja membelit, bahkan seperti dua ekor ular, tangan dan lengan gadis itu merayap maju cepat sekali dan tahu-tahu kedua tangan yang membentuk kepala ular itu telah mematuk dada mereka tanpa dapat mereka hindarkan lagi.
"Tuk!
Tuk!" Dua orang itu mengeluh dan roboh terjengkang.
Untung bagi mereka bahwa Lili memang tidak berniat membunuh orang, maka ia membatasi tenaganya ketika kedua tangannya yang membentuk kepala ular itu mematuk.
Dua orang itu tidak tewas, hanya merasa betapa mereka kehilangan tenaga dan dada terasa nyeri, napas mereka menjadi sesak.
Akan tetapi karena merekapun bukan orang lemah, sebentar saja mereka dapat memulihkan keadaan tubuh mereka.
Keduanya berloncatan berdiri dan nampak sinar berkilauan ketika mereka berdua mencabut pedang.
Berkembang kempis cuping hidung Lili, tanda ia marah.
Kalau lawan menyerangnya dengan tangan kosong, ia menganggap mereka itu hanya menguji ilmu, maka ia tidak mau membunuh orang.
Akan tetapi kalau lawan sudah mencabut senjata, berarti bahwa lawan menginginkan kematiannya, maka ia menganggap sudah sepatutnya kalau iapun berusaha membunuhnya!
Dalam keadaan yang menegangkan, kedua orang itu dengan pedang di tangan berhadapan dengan Lili yang masih berdiri tenang dengan mulut tersenyum.
Akan tetapi tangan kanannya sudah siap untuk mencabut pedang di punggungnya, dan sekali pedang itu tercabut, akan celakalah kedua orang lawan itu.
Pedang Pek-coa-kiam (Pedang Ular Putih), jarang dicabut dari sarungnya, akan tetapi biasanya, sekali dicabut, tentu akan jatuh korban!
"Tahan senjata!" tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan mendengar bentakan ini, dua orang yang memegang pedang itu cepat menengok dan menjatuhkan diri setengah berlutut, menyimpan pedang dan memberi hormat kepada pria yang muncul di situ.
"Kongcu......!" kata mereka dengan sikap merendah sekali.
Melihat ini, Lili merasa heran dan iapun memandang kepada orang yang baru muncul itu penuh perhatian.
Dia seorang laki-laki berusia sekitar tigapuluh lima tahun, bertubuh tinggi kokoh namun pembawaannya lembut dan sopan seperti pembawaan seorang bangsawan terpelajar.
Pakaiannya rapi, pakaian seorang sasterawan dan diapun memakai sebuah topi bulu yang indah.
Wajahnya tampan dan cerah sehingga dia nampak jauh lebih muda dari pada usianya, wajah yang halus dan tidak berkumis atau berjenggot karena dicukur bersih.
Matanya tajam berwibawa dan mata itu jelas menunjukkan kecerdikan.
Diam-diam Lili merasa heran bagaimana dua orang yang tangguh itu bersikap demikian merendah terhadap seorang kongcu yang nampaknya lemah.
Juga mereka yang tadi mengepungnya, kini bersikap hormat dan tidak ada seorangpun di antara mereka yang mencabut senjata lagi.
Pria itu menyapu mereka dengan pandang matanya, lalu terdengar dia bicara dengan suara lantang namun lembut.
"Apa yang telah terjadi di sini dan mengapa kalian mengepung siocia (nona) ini?" Karena pertanyaan itu ditujukan kepada dua orang yang tadi mengeroyok Lili, maka dua orang itu saling pandang dan si muka bersih memberi hormat lalu menjawab.
"Maaf, kongcu.
Kami berdua menyerangnya karena nona ini menghajar dan merobohkan lima orang anak buah kami." Pria itu mengangguk, lalu menengok ke arah mereka yang masih meringis kesakitan.
Kemudian dia menghadapi Lili, mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan.
"Nona, kalau boleh aku bertanya, mengapa nona menghajar lima orang anak buah kami?
Kesalahan apakah yang mereka lakukan terhadap diri nona?" Melihat sikap yang sopan dari pria itu,