Aku hanya ingin agar engkau tahu betul bahwa engkaulah satu-satunya wanita yang tinggal di dalam hatiku." Lega rasa hati Kim Giok dan ia men-jadi semakin suka kepada pemuda yang penuh pengertian itu.
"Terima kasih, Bu--ko atas pengertianmu.
Sekarang mari kita bicara tentang apa yang terjadi tadi.
Aku masih merasa heran sekali kenapa Sin-ciang Tai-hiap hendak membunuhmu setelah dia membunuhi banyak tokoh Thian-li-pang.
Aku pernah men-dengar namanya yang dipuji-puji oleh para pendekar dari dua keluarga besar pendekar Istana Pulau Es dan Istana Gurun Pasir.
Mereka menyatakan bahwa Sin-ciang Tai-hiap adalah seorang pendekar yang budiman dan bijaksana.
Akan tetapi kenapa di sini dia menjadi begitu kejam dan jahat?" Ouw Seng Bu menghela napas pan-jang.
"Aku tidak heran dan sebaiknya engkau juga tidak perlu mengherankan hal itu, Giok-moi.
Kedudukan dan kekua-saan seringkali membuat orang lupa diri!.
Dia hendak menguasai Thian-li-pang hendak menonjolkan diri dan menguasai dunia lewat Thian-li-pang." "Akan tetapi, aku mendengar bahwa dia telah diangkat menjadi pemimpin Thian-li-pang, hanya kedudukan ketua dia serahkan kepada mendiang Lauw Pangcu.
Kenapa dia malah membunuh Lauw Pang-cu dan beberapa orang tokoh Thian-li--pang, dan sekarang hendak membunuhmu pula" Sungguh aku tidak mengerti." "Giok-moi, agaknya engkau hanya mengerti ekornya tidak mengerti kepalanya.
Memang benar dia menjadi pemim-pin besar Thian-li-pang seperti dikehen-daki oleh para tokoh tua Thian-li-pang.
Akan tetapi, sikapnya tidak sejalan de-ngan sikap para pimpinan Thian-li-pang.
Dia tidak suka Thian-li-pang memper-gunakan kekerasan menentang pemerintah penjajah, bahkan dia tidak setuju ber-sama-sama berjuang mengusir penjajah Mancu dari tanah air.
Bahkan mungkin sekali dia hendak membawa Thian-li--pang agar menjadi antek penjajah.
Itulah sebabnya dia membunuhi para pimpinan Thian-li-pang yang pendiriannya tegas tegas menentang penjajah.
Melihat aku yang diangkat menjadi ketua menghimpun tenaga, bekerja sama dengan Pat-kwa--pai dan Pek-lian-pai, juga dengan ke-lompok pejuang lainnya, dia menjadi marah dan dengan berpura-pura hendak menyelidiki kematian para pimpinan Thianli-pang di dekat sumur tua itu, tiba-tiba dia menyerangku dan hendak membunuhku dan melemparku ke sumur tua seperti yang dia lakukan kepada para pimpinan lain.
Untung para dewa masih melindungiku dan sebaliknya dia yang terlempar ke dalam sumur tua itu." "Aihhh," Cu Kim Giok menghela na-pas panjang.
"Ayah dan ibu pernah me-ngatakan bahwa kedudukan memang suka membuat orang menjadi kejam.
Kuharap saja engkau tidak ikutikutan mabuk kekuasaan, Ha-ko." "Tidak mungkin, Giok-moi.
Apalagi kalau engkau suka membantuku dan ber-ada di sampingku.
Sejak Thian-li-pang berdiri, nenek moyangku adalah pejuang--pejuang yang gigih, yang rela mengorban-kan nyawa demi membela nusa bangsa.
Aku melanjutkan cita-cita mereka, dan aku akan berjuang semata-mata demi membebaskan rakyat dan tanah air dari cengkeraman penjajah Mancu, bukan un-tuk mencari kedudukan atau harta benda.
Tentu engkau percaya kepadaku, bukan?" "Tentu saja aku percaya padamu, Bu--ko.
Kalau tidak percaya, tentu aku tidak akan suka membantumu.
Dan selanjut-nya, langkah apa yang akan kauambil?" "Aku akan mengadakan perundingan dengan para pimpinan puncak Pat-kwa--pai dan Peklian-kauw, juga kelompok pejuang lainnya.
Seperti juga pendirian orang-orang sombong, macam Yo Han, masih banyak tokoh dunia kang-ouw yang mengambil jalan sendiri, membeda-beda-kan kelompok dan tidak mau bekerja sama untuk menghancurkan penjajah.
Cara kerja sendiri-sendiri ini, apalagi kalau disertai persaingan, menimbulkan pertentangan antara para pejuang sendiri dan hal ini melemahkan perjuangan dan memperkuat kedudukan pemerintah pen-jajah.
Oleh karena itu, kita haruslah beruaaha untuk lebih dulu menundukkan para kelompok dan tokoh dunia persilat-an.
Kalau selurub dunia kang-ouw sudah dapat bekerja sama, kukira mengguling-kan pemerintah penjajah Mancu bukan merupakan hal yang sukar lagi." Kim Giok yang sudah benar-benar jatuh cinta kepada pemuda itu, tertarik oleh gaya bicara dan sikapnya, meng-angguk-angguk dan merasa kagum karena ia manganggap bahwa pendapat pemuda itu tepat.
Sedikit banyak, ayah ibunya juga sudah menanamkan perasaan cinta tanah air dan bangsa kepadanya, juga sudah menceritakan tentang kekuasaan bangsa Mancu yang menjajah bangsanya.
"Pendapatmu itu tepat sekali dan aku akan membantumu, Bu-koko!" katanya penuh semangat.
Tentu saja Seng Bu menjadi girang bukan main.
"Terima kasih, Giok-moi.
Dengan adanya engkau di sampingku, bintang dan bulan di langit pun akan dapat kuraih!" Mereka saling pandang dengan senyum mesra dan ketika mereka mendengar suara gaduh kembalinya anak buah Thian-li-pang, mereka pun keluar dari ruangan itu.
*** Dengan bantuan yang besungguh-sung-guh dari Siangkoan Kok, Ouw Seng Bu memperoleh kemajuan pesat dalam me-nyatuan kekuatan.
Siangkoan Kok yang kini dia angkat menjadi wakil ketua Thian-li-pang, mendatangi banyak perkumpulan silat dan perguruan-perguruan silat yang terkenal, mula-mula membujuk mereka untuk bekerja sama dengan Thian-li-pang berjuang menentang pemerintah Mancu.
Kalau ada yang menolak, Siangkoan Kok mengalahkan dan menundukkan para pim-pinannya sehingga akhirnya perkumpulan itu menaluk juga karena takut dibasmi.
Tentu saja dengan mudah Siangkoan Kok mengajak mereka yang dahulunya me-mang sudah bersekutu dengan Pao-beng--pai agar kini bekerja sama dengan Thian--li-pang karena Pao-beng-pai telah dihancurkan pasukan pemerintah.
Hanya ada satu dua perkumpulan saja yang memiliki pimpinan yang terlampau kuat bagi Siangkoan Kok.
Untuk menaluk-kan pimpinan perkumpulan yang lihai ini, Ouw Seng Bu sebagai ketua Thian-li--pang turun tangan sendiri dan selama ini, belum pernah ada yang mampu menan-dingi ilmunya yang aneh akan tetapi juga dahsyat bukan main.
Thian-li-pang menjadi semakin besar dan berpengaruh.
Melihat kemajuan yang dicapai kekasihnya, tentu saja Kim Giok merasa gembira dan kagum.
Beberapa kali ia menawarkan diri untuk membujuk orang tuanya agar mau membentu per-juangan Thian-li-pang karena kalau ayah ibunya suka membantu, tentu mereka itu akan dapat menarik perhatian para pen-dekar lainnya.
Akan tetapi Ouw Seng Bu selalu menolak dengan halus.
"Belum tiba saatnya, Giok-moi.
Ayah ibumu tentu akan merasa heran dan ter-kejut melihat hubungan kita yang akrab dan hal itu saja sudah membutuhkan pendekatan yang lembut.
Apalagi kalau ditambah dengan bujukan agar mereka membantu perjuangan.
Biarlah, nanti kalau Thian-li-pang sudah kuat benar, aku sendiri akan menghadap mereka, untuk melamarmu dan kalau kita sudah menjadi suami isteri, orang tuamu men-jadi mertuaku, tentu dengan sendirinya mereka akan membantu perjuangan kita." Kim Giok tidak membantah lagi.
Sikap Seng Bu terhadap dirinya selalu lembut dan sopan, dan pemuda itu memegang janji, tidak pernah lagi bicara tentang cinta mereka seperti yang pernah dijanji-kannya.
Hal ini membuat ia menjadi se-makin kagum dan suka, dan diam-diam ia pun sudah mengambil keputusan untuk memilih pemuda ini sebagai calon suami-nya.
Ouw Seng Bu memang cerdik luar biasa.
Setiap kali dia berlatih silat Bu--kek Hoat-keng yang ditemukannya di dalam sumur dan dia tahu bahwa latihan itu membuat dia berubah dan merasa aneh, dia selalu melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, apalagi setelah kini Kim Giok berada di Thian-li-pang.
Juga, dia melarang keras anak buahnya agar bertindak seperti pejuang-pejuang yang gagah dan menjauhkan diri dari perbuat-an yang akan menjadi celaan orang.
Hal ini untuk menjaga nama baik Thian-li-pang dan untuk menarik hati para pen-dekar agar mau bergabung dengan me-reka.
Untuk biaya perkumpulannya, diam--diam, tanpa kekerasaan yang me-nyolok, mereka masih menguasai semua tempat pelesir dan tempat judi, juga dengan halus namun mengandung ancam-an maut, mereka dapat memeras para pedagang untuk setiap bulan menyerah-kan uang sumbangan kepada Thian-li--pang! Ada pula anggauta yang tugasnya melakukan pencurian di rumah para har-tawan dan bangsawan, namun mereka yang bertugas mencuri adalah anggauta yang ilmu kepandaiannya sudah tinggi dan setiap kali melakukan pencurian, mereka selalu menutupi muka dengan kain hitam.
Juga, mereka dipesan agar sampai mati pun tidak mengaku bahwa mereka orang Thian-li-pang, yaitu kalau mereka sampai tertangkap ketika me-lakukan pencurian.
Pesan ini harus ditaati, karena Seng Bu mengancam akan -menyiksa dan membunuh seluruh keluarga anggauta Thian-li-pang yang melanggar pesan itu.
Demikianlah, dengan hasil yang cukup berlimpah, Seng Bu dapat memperkuat Thian-li-pang menjadi perkumpulan yang cukup mewah, walaupun kini tidak ada lagi anggauta yang me-lakukan kejahatan secara berterang.
Sebenarnya, sejak kecil Ouw Seng Bu memang digembleng untuk menjadi se-orang pendekar dan patriot.