Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 123

Memuat...

"Saya menghaturkan banyak terima kasih atas segala kebaikan locianpwe, juga terhadap, kuburan Kakek saya. Akan tetapi nama seperti yang dimiliki Kakek saya perlukah dipertahankan? Hanya akan mendatangkan aib dan noda saja pada keturunannya."

Suara Han Han terdengar penuh kepahitan ketika ia mengucapkan kata-kata terakhir "keturunannya"

Itu, ketika ia teringat betapa sesungguhnya ia adalah keturunan seorang yang begitu bejat akhlaknya. Im-yang Seng-cu juga kelihatan marah.

"Orang muda, engkau sombong. Biarpun Kakekmu tersesat dalam hal kelemahannya terhadap wanita, namun aku sebagai sahabat baiknya maklum betapa dengan susah payah ia melawan pengaruh jahat yang mengalir dalam tubuhnya sebagai darah nenek moyang Suma. Engkau pun hanya seorang manusia yang tentu memiliki kelemahan-kelemahan. Kalau engkau tak dapat memaafkan Kakekmu sendiri, bagaimana engkau akan dapat memaafkan orang lain? Hemmm, hendak kulihat engkau kelak apakah lebih baik daripada Suma Hoat."

Setelah berkata demikian, Im-yang Seng-cu melesat pergi dan lenyap dari situ. Han Han menghela mapas panjang dan merasa menyesal bahwa guru Sin Kiat itu pun marah kepadanya. Melihat Han Han termenung dengan wajah keruh, Kim Cu mendekatinya dan menyentuh lengannya.

"Han Han, biar semua orang marah dan tidak suka kepadamu, ingatlah bahwa di sini masih ada aku yang selamanya takkan dapat membencimu...."

Hati Han Han seperti dibetot-betot dan ia memeluk gadis itu yang membenamkan mukanya di dadanya yang masih panas karena kemarahannya tadi. Sampai lama mereka berada dalam keadaan seperti itu, kemudian Kim Cu dapat menguasai hatinya, melepaskan pelukan Han Han dan berkata.

"Marilah kita cepat pergi dari tempat ini."

Bisikannya mengandung perasaan takut.

"Jangan takut, Kim Cu. Kalau sampai gurumu muncul dan hendak mengganggu kita, kita lawan mati-matian."

"Aku tidak takut, Han Han, hanya aku merasa ngeri kalau harus berpisah denganmu. Marilah kita pergi."

Dua orang muda itu melanjutkan perjalanan. Biarpun keduanya tidak takut lagi menghadapi ancaman Toat-beng Ciu-sian-li, namun mereka juga bukan orang-orang nekat yang ingin mencari mati. Mereka mengambil jalan melalui hutan-hutan dan mendaki lereng yang tersembunyi agar jangan sampai bertemu dengan nenek itu.

"Han Han, kesehatanmu belum pulih kembali. Kalau kita melanjutkan perjalanan terlalu lama, tentu engkau akan jatuh sakit. Maka, kurasa lebih baik kita mencari tempat persembunyian dan tinggal dulu di tempat itu sampai kesehatanmu pulih. Bagaimana?"

Han Han mengangguk.

"Terserah kepadamu, Kim Cu. Akan tetapi di mana kita mencari tempat yang baik?"

Kim Cu tersenyum. Manis sekali wajahnya setelah kini mereka terlepas dari bahaya dan ia dapat tersenyum dengan hati lapang.

"Kau tahu, dahulu ketika kita mendapat waktu libur dan diperbolehkan pergi untuk beberapa hari, setelah bertemu dengan engkau yang tidak mau kembali, aku lalu pergi mendaki sebuah puncak di antara puncak-puncak pegunungan ini dan bersembunyi di sebuah goa yang amat tersembunyi. Tempat itu indah sekali, goa itu merupakan terowongann yang menjurus ke tepi jurang yang tak berdasar saking tingginya. Tak seorang pun akan datang ke tempat itu."

"Hemmm, mau apa engkau dahulu bersembunyi di tempat itu?"

Wajah Kim Cu menjadi merah.

"Mau.... menangis...."

Han Han memandang wajah cantik itu dengan mata terbelalak heran.

"Menangis? Menangis saja mengapa mencari tempat yang tersembunyi?"

Kim Cu mengangguk.

"Ya, biar tidak ketahuan orang. Aku kecewa sekali melihat engkau pergi tidak mau kembali, dan aku menangis di sana sampai kedua mataku bengkak-bengkak."

"Ah.... Kim Cu.... Kim Cu...."

Han Han makin terharu menyaksikan betapa gadis ini sejak dahulu telah jatuh cinta kepadanya. Dan ia pun merasa heran bukan main melihat perubahan dirinya. Mengapa kini ia mudah terharu, mudah berduka? Padahal dahulu ia tidak pernah selemah ini. Dan ketika ia marah-marah tadi, menghancurkan batu nisan kakeknya tidak timbul kebuasan untuk membinasakan orang. Kemarahannya tadi masih terkendali dan ia menghancurkan batu nisan dengan sadar. Ia menunduk, memandang kakinya yang buntung. Karena kebutungan kakinya itulah maka terjadi perubahan pada dirinya? Dia tidak tahu. Melihat pemuda itu memandang kakinya yang buntung, Kim Cu salah menduga dan berkata,

"Jangan khawatir, Han Han. Jalan ke puncak yang kumaksudkan itu memang sukar. Akan tetapi di bagian yang paling sukar, aku bisa menggendongmu."

Han Han tersenyum.

"Apa kau kira aku anak kecil? Betapapun sukarnya, dengan bantuan tongkatku ini dan dengan bantuanmu, tentu akan dapat kulalui."

Kim Cu tiba-tiba menari kegirangan mengelilingi Han Han, membuat pemuda itu makin heran.

"Eh, eh, apa-apaan engkau ini? Apa kau sudah gila?"

"Hi-hik, memang aku gila. Gila karena girang melihat perubahanmu. Engkau tidak putus asa lagi dan semangatmu telah bangkit kembali. Bagus! Bukankah hal itu amat menggirangkan hati?"

Han Han memegang kedua tangan gadis itu, tongkatnya ia kempit.

"Kim Cu...."

Katanya penuh keharuan.

"Engkau seorang gadis yang baik sekali. Dengan engkau di sampingku, aku merasa seolah-olah mendapatkan Adikku Lulu yang hilang itu kembali. Memang, aku tidak akan putus asa, Kim Cu. Aku akan membuktikan kepada dunia, kepada Im-yang Seng-cu, dan tokoh-tokoh kang-ouw lainnya bahwa biarpun aku keturunan Keluarga Suma yang terkutuk, akan tetapi aku tidak jahat seperti mereka, dan aku akan membuktikan bahwa seorang buntung, seperti katamu, masih dapat melakukan hal yang berguna bagi manusia dan dunia."

"Bagus! Dan aku yakin bahwa engkau kelak tentu akan menjadi orang yang amat berguna, jauh melebihi mereka yang kakinya utuh, dan akan dapat membersihkan nama keturunan Suma yang berlepotan noda yang diperbuat oleh nenek moyangmu."

Han Han mengangguk-angguk.

"Mudah-mudahan, Kim Cu."

Berangkatlah kedua orang muda itu mendaki puncak yang dimaksudkan Kim Cu. Menjelang malam mereka tiba di goa yang dimaksudkan, sebuah goa yang berada di puncak. Kim Cu membuat obor dari kayu kering dan mereka memasuki goa yang merupakan mulut terowongan itu. Perjalanan itu amat melelahkan, terutama sekali bagi Han Han yang kesehatannya belum pulih sama sekali.

"Sebelum gelap, aku akan keluar mencari daun-daun obat untuk lukamu. Lukamu perlu dicuci, diobati dan diganti kain pembalutnya."

Han Han mengerutkan kening.

"Eh, aku membuatmu repot sekali, Kim Cu. Daun obat dan air pencuci bisa dicari di puncak, akan tetapi kain pembalut....?"

Kim Cu memandang pakaiannya.

"Pakaianku masih utuh, diambil sedikit-sedikit untuk pembalut masih lebih daripada cukup."

Han Han hanya menggeleng kepala dan menghela napas melihat gadis itu sambil tertawa sudah berlari keluar goa. Dia duduk bersandar pada dinding goa, diam-diam ia merasa gelisah memikirkan Kim Cu. Gadis itu dengan jelas membuktikan cinta kasihnya yang amat mendalam kepadanya.

Ia berhutang budi, dan ia suka sekali kepada Kim Cu. Akan tetapi cinta? Ah, bagaimana kalau dia tidak dapat membalas cintanya? Dia merasa gelisah kalau-kalau harus membuat gadis itu berduka kelak karena tidak mampu membalas cinta kasihnya yang demikian murni. Pula, dia seorang pemuda buntung, keturunan keluarga jahat. Dia terlalu kotor dan tidak berharga bagi seorang gadis semulia Kim Cu. Malam itu Kim Cu datang membawa daun obat, air dan buah-buahan. Dengan tekun di bawah penerangan api unggun, gadis ini membuka balut kaki buntung Han Han, sedikit pun tidak kelihatan jijik, mencuci paha yang buntung, menaruh obat, dan membalutnya lagi menggunakan sabuk suteranya. Setelah selesai, mereka makan buah-buahan lalu mengaso dan tertidur di dekat api unggun.

Sampai jauh malam Han Han tidak dapat tidur. Terlalu banyak hal-hal memenuhi otaknya, dari memikirkan Lulu sampai pengalamannya di Pulau Es, memikirkan keadaan nenek moyangnya, dan akhirnya memikirkan Kim Cu. Gadis itu tertidur nyenyak sekali di dekat api unggun, tidur miring dengan muka menghadap ke arahnya. Wajah yang cantik itu tampak pucat di bawah sinar api unggun, rambutnya kusut karena tidak disisir. Bibirnya agak terbuka memperlihatkan deretan ujung gigi yang putih. Han Han mendekati api unggun, menambah kayu kering yang tadi dikumpulkan gadis itu. Sampai hampir pagi barulah Han Han dapat tidur, sambil bersandar pada dinding goa setelah tadi ia duduk bersila dengan kaki yang tinggal satu untuk memulihkan tenaga dan mengatur pernapasannya. Han Han terkejut dan bangun dari tidurnya ketika lengannya diguncang-guncang Kim Cu.

"Han Han...., Han Han.... bangunlah....."

Han Han memandang gadis itu yang mukanya pucat sekali. Segera kewaspadaannya timbul.

"Ada apakah, Kim Cu?"

"Ada orang di luar.... kulihat bayangannya berkelebat...."

"Hemmm, mengapa bingung. Biarkan saja."

"Tidak, siapa tahu dia subo. Bayangannya berkelebat cepat sekali. Mari kita sembunyi."

Gadis itu menarik-narik tangan Han Han. Pemuda ini menurut, bangkit dan jalan terpincang-pincang dengan tongkatnya, tangannya ditarik Kim Cu yang memasuki terowongan. Kiranya matahari telah naik tinggi dan sinarnya menerobos memasuki terowongan itu sehingga keadaan dalam goa tidak terlalu gelap. Tiba-tiba terdengar suara yang amat mereka kenal, datangnya dari luar goa,

"Hi-hi-hik, Kalian hendak lari ke mana? Biar ada Im-yang Seng-cu aku harus mengambil nyawamu, murid murtad."

"Celaka.... dia subo....."

Kim Cu berbisik dan menarik tangan Han Han sambil melangkah maju lebih cepat lagi. Tak lama kemudian mereka tiba di ujung terowongan dan Han Han melihat bahwa mereka berada di pinggir sebuah jurang yang amat luas. Ketika ia menjenguk ke bawah, matanya berkunang. Demikian tinggi dan curamnya jurang ini sehingga dasarnya tidak tampak, terhalang oleh embun pagi dan awan. Mereka berhenti dan membalikkan tubuh memandang ke arah terowongan, menanti munculnya Toat-beng Ciu-sian-li yang tadi mereka dengar suaranya dengan hati berdebar-debar. Melihat betapa tubuh gadis itu menggigil dan wajahnya pucat sekali, Han Han berkata halus,

"Jangan takut, Kim Cu. Aku akan selalu mendampingimu."

"Jangan.... jangan mencampuri.... biar aku menghadapi subo,"

Post a Comment