Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 122

Memuat...

"Engkau mau tahu? Mari ikut bersamaku."

Setelah berkata demikian, Kakek itu membalikkan tubuh melangkah pergi menuju ke selatan. Han Han terpincang-pincang dibantu tongkatnya mengikuti dan Kim Cu cepat menggandeng lengan pemuda itu untuk membantunya. Han Han yang merasa sentuhan tangan Kim Cu menoleh. Mereka berpandangan sejenak dan Han Han melihat betapa sepasang mata gadis itu basah dengan air mata, air mata kebahagiaan bahwa mereka telah bebas daripada bencana. Betapa dengan kasih sayang yang mesra pandang mata gadis itu kepadanya.

Han Han terharu dan sejenak jari tangannya menggenggam tangan gadis itu. Akan tetapi mereka segera melanjutkan langkah agar tidak tertinggal oleh kakek yang berjalan terus tanpa pernah menengok kepada mereka. Kakek itu keluar dari hutan, melalui pantai sebuah telaga kecil dan memasuki hutan di sebelah telaga. Hutan ini amat sunyi dan kecil, pohon-pohon di situ jarang sekali. Tak lama kemudian tibalah kakek itu di depan sebuah gundukan tanah kuburan, mengeluarkan hio, menyalakannya dan bersembahyang. Bungkusan itu hanya terisi tiga batang dupa. Kakek itu mengacungkan dupa menyala di atas tadi, mulutnya berkemak-kemik seolah-olah ia sedang bercakap-cakap dengan bayangan orang yang dikubur di situ, kemudian menancapkan tiga batang dupa berasap itu di atas tanah, di depan batu nisan yang sederhana.

"Inilah kuburan Jai-hwa-sian,"

Katanya sambil melangkah mundur dan berdiri sambil termenung seolah-olah ia hendak merenungkan masa lalu ketika orang yang kini tinggal kuburannya saja itu masih hidup. Semenjak ia mendengar cerita encinya betapa jahatnya orang yang menjadi kakeknya dan berjuluk Jai-hwa-sian itu sehingga encinya sendiri mengakui bahwa di dalam tubuh mereka mengalir darah orang jahat, Han Han merasa tidak suka kepada kakeknya. Kini, melihat kuburannya, ia maju menghadapi batu nisan dan karena ia melihat ukiran-ukiran huruf yang sudah hampir tak terbaca pada batu itu, ia lalu duduk di atas tanah depan kuburan. Dengan teliti ia memandang ukiran huruf-huruf itu dan membaca:

MAKAM JAI-HWA-SIAN SUMA HOAT

Berdebar jantung Han Han membaca nama itu. Suma Hoat? Mengapa she-nya Suma, bukan Sie? Teringat ia akan arca di In-kok-san yang harus disembah-sembah para murid In-kok-san, arca guru Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee yang bernama Suma Kiat. Dan teringat pula ia akan dongeng yang dituturkan Kim Cu bahwa sukong mereka itu mempunyai seorang putera yang bernama Suma Hoat dan yang menghilang entah ke mana. Melihat wajah pemuda itu, Kim Cu cepat menghampiri dan ikut membaca tulisan itu. Tiba-tiba gadis itu meloncat mundur dan menoleh kepada Im-yang Seng-cu sambil berkata.

"Ahhh.... ini kuburan supek yang menjadi putera sukong Suma Kiat. Kiranya sudah meninggal dan dikubur di sini."

"Ini bukan kuburan Kakekku. Kakekku she Sie, bukan she Suma."

Kata Han Han, penasaran. Im-yang Seng-cu yang berdiri dengan tongkat di tangan kiri tersenyum, lalu menundingkan telunjuk kanannya kepada Han Han sambil berkata,

"Dan memang sesungguhnya engkau bukan she Sie, melainkan Suma. Engkau bukan Sie Han, akan tetapi Suma Han."

Wajah Han Han menjadi pucat. Dengan limbung ia bangkit berdiri, dibantu tongkatnya dan memandang kakek itu dengan mata tajam penuh selidik. Diam-diam Im-yang Seng-cu menaruh hati iba kepada pemuda ini.

"Marilah kita duduk dan dengarkan penuturanku, Suma Han."

Han Han dapat menekan gelora batinnya dan dengan muka masih pucat ia duduk di depan kuburan itu. Kim Cu yang memegang lengan Han Han duduk di sebelahnya sedangkan Im-yang Seng-cu duduk pula di atas batu, menghadapi mereka. Ia menarik napas panjang, mengangguk-angguk dan berkata.

"Benar, engkau adalah Suma Han. Ini adalah kuburan Kakekmu yang bernama Suma Hoat, putera tunggal Suma Kiat yang menjadi Guru Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee. Jadi Suma Kiat adalah Kakek Buyutmu, sedangkan Toat-beng Ciu-sian-li tadi, yang menjadi selir Suma Kiat, adalah Nenek Buyutmu."

Han Han mendengar kata-kata ini seperti dalam mimpi.

"Akan tetapi, locianpwe. Kalau benar aku keturunan Suma, mengapa Ayahku bernama keturunan Sie?"

Ia membantah, ragu-ragu.

"Hal itu tidak mengherankan dan mudah saja diduga. Suma Hoat, Jai-hwa-sian itu, semoga Tuhan mengampuni sahabatku itu, sungguhpun seorang jantan gagah perkasa, ditakuti lawan, memiliki kelemahan. Ia tidak dapat menahan nafsunya apabila bertemu wanita sehingga banyaklah ia mengganggu wanita, perbuatan sesat yang dilakukannya karena kesadarannya menjadi buta oleh nafsu berahi, sehingga ia dijuluki Jai-hwa-sian. Jangankan wanita biasa penduduk desa, biarpun puteri dalam istana kaisar tentu akan didatanginya kalau hatinya sudah tertarik. Mungkin sekali, dan hal ini aku tidak meragukan, Ayahmu terlahir dari seorang di antara wanita-wanita yang diganggunya. Karena Kakekmu yang she Suma itu banyak dimusuhi orang, dan mungkin karena keluarga Nenekmu tidak suka menggunakan she Suma, maka Ayahmu, putera Suma Hoat, diberi she Sie. Aku yakin akan kebenaran dugaanku ini, melihat betapa wajahmu mirip sekali dengan sahabatku, terutama pandang matamu. Dia tampan, banyak wanita jatuh hati kepadanya, akan tetapi dia hanya mengejar wanita yang menarik hatinya."

Kakek itu lalu bercerita tentang Jai-hwa-sian Suma Hoat.

Menurut Im-yang Seng-cu, Suma Hoat adalah seorang laki-laki yang gagah perkasa dan berilmu tinggi, karena seperti juga Im-yang Seng-cu sendiri, Suma Hoat merupakan seorang petualang dan perantau yang selalu memperdalam ilmu-ilmunya dan tidak segan-segan untuk mencangkok ilmu dari lain cabang. Mereka bersahabat ketika keduanya berusaha mencari kakek sakti Koai-lojin. Keduanya berhasil bertemu kakek sakti seperti dewa itu dan diberi petunjuk sehingga mereka menjadi makin lihai. Juga mereka berdua sering kali berjuang bahu-membahu menentang kejahatan-kejahatan. Sayang sekali, Suma Hoat tidak dapat mengendalikan nafsu berahinya seperti nafsu-nafsu lain yang sudah dapat ia kendalikan, bahkan ia menjadi hamba nafsu berahi ini yang sering kali menggelapkan pikirannya, membuat ia nekat mendapatkan wanita yang disukanya, baik wanita itu gadis, janda maupun isteri orang.

"Darah Suma yang mewariskan watak seperti itu,"

Kata pula Im-yang Seng-cu.

"Semenjak nenek moyangnya dahulu, Keluarga Suma ini selalu dimusuhi orang-orang gagah di dunia kang-ouw karena watak mereka yang tidak baik, semenjak Pangeran Suma Kong nenek moyangmu. Akan tetapi, di tubuh Kakekmu ini mengalir pula darah keluarga pendekar yang turun-temurun menggemparkan dunia, yaitu Keluarga Kam, keturunan dari Kam Si Ek, seorang Jenderal Kerajaan Hou-han yang gagah perkasa lahir batin dan yang menurunkan pendekar sakti Suling Emas. Engkau masih mempunyai darah Keluarga Kam ini pula, Han Han. Mudah-mudahan saja kalau terjadi pertempuran dalam sanubarimu antara kedua darah keturunan ini, watak Keluarga Kam yang akan menang."

Han Han tertegun, wajahnya pucat. Cerita ini terlalu hebat baginya. Kini dia tidak merasa heran lagi mengapa kadang-kadang ada dorongan dan rangsangan liar dalam hatinya, apalagi kalau dia mengerahkan sin-kang, seolah-olah ia menjadi buas kalau belum melihat musuh menggeletak tak bernyawa di depan kakinya. Agaknya itulah dorongan watak Suma. Terkutuk.

"Kalau dia begitu jahat, kenapa locianpwe bisa menjadi sahabatnya?"

"Kelemahannya hanya menghadapi wanita, kalau tidak sedang dikuasai nafsu berahinya, dia seorang pendekar yang gagah. Karena itu, sungguhpun banyak pendekar di dunia kang-ouw yang memusuhi, tidak sedikit pula yang menjadi sahabatnya, termasuk aku sendiri."

Han Han penasaran.

"Kalau begitu banyak sahabat baiknya seperti locianpwe sendiri, mengapa tidak ada yang menasihatinya seperti locianpwe sekarang menasihati saya?"

Im-yang Seng-cu mengerutkan alisnya, tergetar jantungnya ketika ia bertemu pandang dengan pemuda itu. Pandang mata itu "Mata setan, Mata iblis"

Belum pernah ia melihat mata orang seperti mata pemuda ini. Celaka, pikirnya, kalau sampai pemuda ini menyeleweng, tentu akan menjadi tokoh dunia yang terjahat di antara semua keturunan Suma yang pernah hidup, pikirnya.

"Siapa berani menasehatinya setelah apa yang ia lakukan terhadap Kian Ti Hosiang yang di waktu itu menjadi tokoh Siauw-lim-pai?"

Han Han teringat akan hwesio tua di Siauw-lim-pai yang amat mengesankan hatinya itu dan segera bertanya,

"Apakah yang telah dilakukannya terhadap hwesio Siauw-lim-pai itu?"

Im-yang Seng-cu menghela napas.

"Waktu itu sungguh ia sedang gelap mata. Kian Ti Hosiang adalah seorang berilmu tinggi, tidak hanya memiliki ilmu silat yang sukar dicari bandingnya, juga memiliki ilmu batin yang amat tinggi. Hwesio itu menemui Jai-hwa-sian yang hendak mengganggu puteri seorang pembesar yang terkenal bijaksana, memberinya wejangan-wejangan. Jai-hwa-sian marah dan menantang hwesio itu. Kian Ti Hosiang mempersilakan ia menyerang asal Jai-hwa-sian berjanji untuk menghentikan perbuatannya yang sesat. Dan Jai-hwa-sian menyerangnya, tanpa ada perlawanan sama sekali dari orang berilmu itu. Kian Ti Hosiang mengorbankan dirinya untuk menyadarkan Jai-hwa-sian dan hwesio itu dipukul sampai lumpuh kedua kakinya."

"Ahhh...., Jahat benar dia."

Han Han memaki dan mengepal tinjunya. Kiranya, hwesio tua yang mengesankan hatinya itu lumpuh kedua kakinya karena dipukul kakeknya sendiri, sengaja mengorbankan diri untuk menyadarkan kesesatan kakeknya yang jahat.

"Hemmm, dia adalah Kakekmu sendiri."

Im-yang Seng-cu memperingatkan sambil mengerutkan keningnya.

"Dia boleh seribu kali Kakekku, akan tetapi kalau dia melakukan perbuatan-perbuatan sesat seperti itu, aku tetap akan mengutuknya."

Kata Han Han yang marah sekali. Kemudian ia menggerakkan tongkat di tangannya, memukul ke arah batu nisan.

"Bresssss....."

Batu nisan itu hancur berkeping-keping terkena pukulan tongkat Han Han. Im-yang Seng-cu terbelalak menyaksikan betapa pemuda itu dengan senjata hanya sebatang ranting dapat menghancurkan batu nisan, padahal ia melihat sendiri bahwa ranting itu hampir tidak menyentuh batu nisan. Jelas bahwa pemuda itu telah menghancurkan batu nisan dengan tenaga sin-kang yang amat luar biasa kuatnya.

"Kenapa engkau merusak nisan Kakekmu sendiri yang kubuat dengan sengaja agar namanya tidak lenyap?"

Im-yang Seng-cu bertanya dengan suara dingin. Jelas terdengar dari suaranya bahwa ia marah. Dengan bersandar pada tongkatnya, Han Han menoleh kepadanya.

Post a Comment