Kwie Jie-nio jadi tambah murka. Dengan sumpitnya dia jemput sepotong bakso, selagi si congpeng belum sempat tutup rapat mulutnya, dia menimpuk, tepat masuk ke dalam mulut, sedangkan si congpeng lagi kaget, lain-lain potongan bakso beruntun menyambar mulutnya jadi penuh, hingga dia jadi kelabakan.
Jago tua Thio Jiak Kok menjadi tidak senang.
"Ini hari ada hari ulang tahun Beng Toaya, mengapa kau mengacau?" pikirnya.
Lantas dia jumput para-para sumpit mirip goanpo, ia menepuk dengan keras, hingga para-para itu nancap di atas meja.
"Kau pertontonkan tenaga lweekang, siapa jeri padamu?" kata Sin Sie dalam hatinya. Lantas dia letaki tangannya di atas menja, diam-diam ia kerahkan tenaganya, di mata orang kebanyakan, dia tidak berbuat suatu apa, akan tetapi tahu-tahu para-para sumpit itu meletik sendirinya, seperti tercabut dengan ilmu dewa. Mukanya Thio Jiak Kok menjadi merah, dia jengah sendirinya. Lagi dia keprak meja, lantas dia menoleh kepada tuan rumah, akan kata: "Beng Lautee, saudaramu telah mendapat malu di rumahmu ini...." Lantas dia bertindak keluar, tindakannya lebar.
"Jangan kesusu, Thio Loyacu," kata dua pelayan, sambil menyusul. "Silakan loyacu minum teh di ruang belakang. "
Jiak Kok tidak perdulikan cegahan itu, malah dengan buka kedua tangannya, ia bikin kedua pelayan sempoyongan dan jatuh terpental. Ia jalan terus.
Beng Pek Hui menjadi tidak senang. Ia anggap pestanya yang berjalan dengan gembira itu telah dikacau oleh Kwie Sin Sie suami-isteri. Tapi, belum sampai dia bicara, Phang Congpeng sudah berteriak kelabakan. Dia ini bisa keluarkan semua bakso dari mulutnya, kecuali sepotong yang pertama, yang nyerobot terus lewat tenggorokannya, masuk ke dalam perutnya!
"Berontak! Berontak!" Demikian suaranya yang nyaring. "Apakah masih ada undang-undang raja? Mari!"
Dia memanggil orangnya. Lantas dua pengikutnya muncul. Mereka ini menantikan di luar, mereka tidak tahu apa-apa, mereka masuk sambil berlari-lari.
"Lekas gotong Tay-Kwan-too-ku!" kata Phang Congpeng itu, yang bersenjatakan Tay-kwan-too itu - golok Kwan Kong.
Ketika ia peroleh pangkat, Phang Congpeng dapati itu karena andalkan pengaruh isterinya, bugeenya masih rendah, akan tetapi dia aksi, dia perintah tukang besi bikin golok Kwan Kong yang besar tapi di dalamnya, besinya dikosongkan. Kalau dia tunggang kuda, dia cekal goloknya itu, sengaja dia perlihatkan sebagai dia lagi pegang senjata berat, hingga orang kagumi dia karena tenaganya yang besar. Goloknya itu pun mesti selalu digotong dua pengiringnya. Sekarang dia gusar dengan mendadak, kumat penyakit tekeburnya, sampai dia lupa dirinya lagi berada di tempat apa, dia beraksi. Tentu saja dua pengiringnya jadi melengak. Mereka datang ke pesta, mereka tak bawa-bawa gegaman berat itu. Karena itu, satu pengiring loloskan saja golok di pinggangnya, dan angsurkan itu kepada majikannya.
Beng Pek Hui kenal bekas congpeng ini, menampak aksinya dia geli berbareng mendelu.
"Jangan!" tuan rumah ini segera menyela.
Tapi Phang congpeng biasa anggap jiwa manusia bagaikan rumput saja, goloknya telah menyambar ke arah Kwie Jie-nio!
Nyonya Kwie Sin Sie empo anaknya, dengan tangan kanan, maka itu, atas serangan, dia ulur tangannya yang kiri; dengan dua jari telunjuk dan tengahnya, ia sambuti, menjapit golok yang dipakai membacok dia.
"Toaloya, kau hendak apa?" dia menegur.
Congpeng pensiunan itu tarik goloknya, ia tidak berhasil. Bagaikan dijepit dengan sepit besi, demikian golok itu diam di antara jepitan kedua jarinya si nyonya, tak sanggup ia untuk membuat bergeming saja, hingga ia jadi penasaran. Lantas ia cekal gagang golok dengan kedua tangannya, ia menarik dengan sekuat tenaganya!
Dengan tiba-tiba saja Kwie Jie-nio lepaskan jepitannya, maka tidak ampun lagi, bekas congpeng itu rubuh terjengkang ke belakang tanpa dia bisa pertahankan tubuhnya, dia rubuh terbanting, belakang golok jatuh menimpa jidatnya, hingga bengkak-benjutlah jidat itu sebesar telur ayam!
Kedua pengiring lekas menghampirkan majikannya, untuk dibangunkan.
Malu bekas congpeng ini, tanpa bilang suatu apa lagi, bersama dua pengiringnya itu dia ngeloyor pergi, meninggalkan ruang pesta, selagi lewati pintu, dia damprat dua pengiring itu, yang dikatakan sudah tak gotong golok besarnya....
Dalam waktu kalut itu, Tang Kay San memikir untuk menyingkir, tapi Kwie Sin Sie bisa terka maksudnya.
"Tang Piausu, tinggalkan obatmu!" kata jago ini. "Aku tidak akan bikin susah padamu. "
Kay San jadi sangat terdesak, maka ia berdiri diam di tengah ruangan.
"Aku tahu aku Tang Kay San bukan tandingan kau, Sin- kun Bu-tek," kata dia. "Jiwaku ada di sini, jikalau kau hendak ambil, nah, ambillah!"
"Siapa inginkan jiwamu?" kata Kwie Jie-nio. "Kau keluarkan obatmu!"
Beng Ceng, putera sulung dari Beng Pek Hui, menjadi habis sabar. Ia maju ke depan Tang Piausu.
"Orang she Kwie," berkata dia, "hari ini ada hari ulang tahun ayahku, jikalau ada urusan di antara kamu, silakan urus itu di luar!"
"Baik!" sahut Kwie Sin Sie. "Tang Piautau, mari kita pergi keluar!"
Tapi piausu itu tak sudi ikuti orang. Kwie Sin Sie menjadi habis sabar, ia ulur sebelah tangannya, untuk menjambak.
Tang Kay San mundur setindak untuk tidak mengenai tangan itu.
Sin Sie telah ulur tangannya, tak pernah itu ditarik pualng dengan tangan kosong. Tang Kay San ada piausu kepala dari satu piau-kiok kesohor. Bugeenya pun bukan bugee sembarangan, akan tetapi tangan Sin Sie cepat luar biasa, tak perduli dia undurkan diri, bajunya kena juga terjambak hingga robek!
Kembali Beng Ceng menghalangi diri.
"Tang Piausu ada tetamu, yang sengaja datang untuk memberi selamat kepada ayahku, kami tidak dapat ijinkan dia diperhina orang di tempat kami," katanya.
"Habis apa kau kehendaki?" tanya Kwie Jie-nio. "Kau dengan sendiri bukankah suamiku telah perintah dia pergi keluar?"
"Kamu mempunyai urusan penting dengan Tang Piausu, apakah tak dapat kamu pergi cari dia di Eng Seng Piaukiok?" tanya Beng Ceng. "Kenapa kamu justeru datang mengacau di sini?"
Dalam sengitnya, anak muda ini jadi tak sungkan- sungkan lagi bicaranya.
"Kami mengacau, habis bagaimana?" berseru Kwie Jie- nio.
Mukanya Beng Pek Hui jadi guram-suram. Dia lantas berbangkit.
"Baiklah!" katanya. "Jikalau Kwie Jie-ya memandang aku, aku si orang tua suka terima pengajaran daripadamu."
Saking habis sabar, jago tua ini terpaksa menantang.
741 "Ayah, hari ini ada hari ulang tahunmu, biarkan anakmu saja," Beng Ceng bilang.
Tuan rumah yang muda ini lantas panggil orang- orangnya untuk mereka singkirkan kursi-meja, untuk memberi satu ruangan terbuka, hingga karenanya, pesta jadi terganggu.
"Jikalau benar kau hendak mengacau, mari maju!" kemudian Beng Ceng menantang.
"Jikalau benar kau hendak turun tangan terhadap suamiku, baik kau belajar silat lagi dua puluh tahun!" peringati Kwie Jie-nio dengan tekebur. "Sekalipun begitu, aku sangsikan kau bakal berhasil!..."
Beng Ceng telah dapat warisan banyak dari ilmu silat ayahnya, dia pun sedang muda dan gagahnya, sampai sebegitu jauh, belum pernah ia menemui tandingan, maka meskipun ia pernah dengar nama kesohor dari Kwie Sin Sie suami-isteri, dalam kejadian seperti ini, tak dapat ia menahan sabar lebih jauh.
"Kwie Lo-jie, kau mahluk apa maka kau berani mengacau di sini?" ia berseru. "Jikalau Beng Siauya kalah daripadamu, nanti aku antap apa kau suka perbuat terhadap Tang Piautau, selanjutnya kami keluarga Beng tak akan campur tahu pula. Umpama kata aku yang menang, bagaimana denganmu?"
Kwie Sin Sie tak suka omong banyak, maka dengan pelahan, dia jawab: "Asal kau sanggup sambut tiga jurus dari aku, aku nanti menjura terhadapmu!"
Orang banyak tidak dapat dengar suara itu, mereka saling tanya satu pada lain.
Beng Ceng tertawa besar. "Tuan-tuan dengar, dia jumawa atau tidak?" kata dia kepada sekalian tetamunya.
"Dia bilang, asal aku sanggup sambut tiga jurus serangannya, dia bakal menjura kepadaku! Benarkah begitu, Kwie Lo-jie?"
"Tidak salah!" sahut Kwie Sin Sie. "Kau sambutlah!"
Dengan sekonyong-konyong saja kepalan kanan jago ini menyambar, dengan gerakannya "Tay San ap teng" atau "Gunung Tay San menindih batok kepala".
"Lihat, sukomu telah menelad contohmu!" kata Ceng Ceng pada Sin Cie.
"Kau maksudkan apa?" Sin Cie tegasi.
"Ketika kau layani murid sukomu itu, bukankah kau pun menyebutkan seranganmu berapa jurus?" si nona balik tanya.
"Orang she Beng ini tidak tahu selatan, dia mana tahu liehaynya suko," kata Sin Cie, yang tidak jawab si nona.
Beng Ceng lihat serangan datang, ia hendak lawan keras dengan keras, ia menangkis dengan tangan kanan, tangan kirinya dibarengi dipakai menyerang. Maka kedua lengannya bergerak dengan berbareng.
"Dia jumawa, dia rupanya punya kepandaian yang berarti," pikir Sin Sie, yang lihat sikap pemuda itu dan merasakan juga bentroknya kedua tangan. Tapi ia tidak mau memberi hati. Justeru ia diserang dengan tangan kiri, tangan kirinya mendahului, menyambar lengan atas orang, diteruskan disampok.
Beng Ceng telah wariskan ilmu "Koay wah Sam-sip- ciang" dari ayahnya, ilmu silat itu sangat utamakan beh-sie, atau kuda-kuda maka kedudukannya jadi kuat sekali, dia tak kena disempar lawannya.
"Celaka!" kata Sin Cie dengan pelahan. "Pukulan pertama ini tak membuat dia bergeming..."
Kwie Sin Sie sudah lantas ulangi serangannya.
Beng Ceng dapat ketika, karena ia tahu lawannya tangguh, ia menyambut dengan dua-dua tangannya, tapi tanpa ia menduga suatu apa, tahu-tahu ia rasakan dorongan keras sekali, otaknya menjadi butek, pusing sekejab saja dia rubuh terjengkang, dengan tak sadar akan dirinya.
Semua orang menjadi kaget.