Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 106

Memuat...

Kapan tuan rumah lihat tiga nama - Wan Sin Cie, Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong - ia sendiri yang keluar menyambut, akan tetapi kapan ia telah saksikan Sin Cie hanya seorang muda, ia menjadi sedikit melengak. Inilah ia tak sangka, dengan sendirinya ia menjadi tak puas.

"Kenapa orang-orang gagah dari tujuh propinsi jadi begini angot," pikirnya, "Kenapa mereka pilih bocah semacam ini menjadi bengcu?"

Sebagai seorang yang gemar bergaul, biar bagaimana, Beng Pek Hui layani juga tetamu-tetamunya itu; ia dibantu oleh kedua anaknya, Beng Ceng dan Beng Siu. Ia menghaturkan terima kasih, ia utarakan penghargaannya kepada semua tetamu itu, lantas ia undang mereka masuk, untuk duduk.

Sin Cie lihat tuan rumah bertubuh kekar, rambut dan kumis-jenggotnya telah putih semua, tindakannya masih tetap, suatu tanda bahwa dia mengerti baik ilmu silat, sementara kedua puteranya sedang mudanya dan romannya gagah.

Kapan kemudian kedua pihak telah bicara lama juga, segera ternyata Beng Pek Hui kurang setuju dengan rapat besar di Tay San, selagi Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong omongkan itu, dia seperti tak memperhatikan, dia tidak campur bicara atau menanyakannya.

Selang tidak lama, datang lain tetamu, dengan memohon maaf, Pek Hui tinggalkan rombongan Sin Cie, untuk sambut tetamu Baru itu.

"Dia dijuluki Kay Beng Siang,mengapa dia layani tetamunya begini adem?" pikir Ceng Ceng. "Mestinya dia kesohor namanya saja. "

Habis minum teh, Beng Siu temani rombongan Sin Cie ini pergi ke ruang belakang, untuk saksikan pelbagai barang antaran atau tanda mata dari sekalian tetamu. Di sana mengitari sebuah meja berada Pek Hui bersama sejumlah tetamu lainnya. Rata-rata tetamu itu memberikan pujiannya.

Melihat pada Sin Cie beramai, Pek Hui lekas-lekas menghampirkan.

"Saudara Wan, tak sanggup aku terima budi kebaikanmu ini!" katanya. "Sumbangan saudara berharga sangat besar. "

"Untuk hari ulang tahun locianpwee, barang itu tidak berharga," sahut Sin Cie.

Thian Kong beramai dekati meja, hingga mereka bisa lihat banyaknya barang tanda mata, yang indah-indah, sedang tanda mata dari Sin Cie ada dua-puluh empat butir mutiara serta kuda-kudaan kumala, dan sumbangan Ceng Ceng ada semangka-semangkaan dari batu huicui. Mencolok adalah tanda mata dari Ou Kui Lam, itu batu bunga-karang.

Beng Pek Hui tidak puas Sin Cie yang muda diangkat sebagai bengcu, tapi sekarang menyaksikan sikap sopan santun dan manis budi pemuda itu, dia dipanggil dengan

731 sebutan locianpwee serta barang sumbangannya demikian indah dan mahal, berubahlah perasaannya, dia mulai menjadi suka. Dia pun heran untuk kelakuan hormat dan halus dari anak muda ini.

Kapan kemudian telah selesai orang memberi selamat kepada tuan rumah, pada malamnya tuan rumah undang semua tetamu untuk dijamu. Itulah suatu pesta besar sekali. Telah hadir lebih daripada tiga-ribu tetamu, sebab Pek Hui adalah orang paling kenamaan di Po-teng, dia kaya raya dan sangat gemar bergaul. Di dalam pesta, tuan rumah ini berlaku sangat ramah-tamah, ia saban-saban menghaturkan terima kasih.

Di thia telah diatur kira-kira delapan-puluh meja, untuk semua tetamu yang ternama, dan untuk tetamu lainnya, mereka berpesta di ruang belakang.

Sin Cie bertiga Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong diundang duduk di meja pertama, Beng Pek Hui sendiri yang menemani. Di sini ada duduk juga - malah di kursi pertama - Wan-yho-tan Thio Jiak Kok, seorang umur tujuh- puluh-delapan tahun, yang tersohor gagah. Pek Hui perkenalkan dia ini pada Sin Cie bertiga.

Thio Jiak Kok juga heran mengapa rapat di Tay San pilih satu bengcu seorang muda dan tak beroman luar biasa sebagai pemuda ini, dari heran, ia merasa lucu, tetapi ia tidak bilang suatu apa.

Duduk bersama di meja pertama itu ada satu orang she Phang bekas congpeng, yang masih dipanngil Phang Congpeng, begitupun Tang Kay San, piausu kepala dari Eng Seng Piau Kiok, serta beberapa orang kenamaan lain.

Habis beri selamat pula dengan secawan arak pada tuan rumah, sekalian tetamu ini lantas dahar dan minum dengan gembira, dengan main bade-badean tangan juga. Selagi pesta berjalan, satu chungteng datang masuk dengan tangannya membawa satu barang hadiah, dia dekati Beng Ceng, untuk bicara di kupingnya majikan muda ini dengan pelahan, atas mana dia ini berbangkit, akan hampirkan ayahnya.

"Ayah, sungguh terang muka ayah," katanya. "Sin-kun Bu-tek Kwie Sin Sie suami-isteri serta murid-muridnya telah datang untuk memberi selamat!"

Tapi Pek Hui heran, hingga ia melengak.

"Sebenarnya aku tak punya hubungan dengan mereka," katanya.

Kapan dos barang antaran dibuka, di situ kedapatan selembar kertas merah yang memuat huruf-huruf besar menyebutkan nama Kwie Sin Sie suami isteri serta murid- muridnya, yang memberi selamat, serta di bawahan itu, dengan huruf kecil, ada tambahan mohon suka diterima sumbangan uang emas sepuluh tail, uang emas mana, dalam rupa sepotong goanpo kecil, terletak di dalam dos itu.

"Lekas menyambur!" kata tuan rumah, yang lantas bilang pada Thio Jiak Kok beramai, "Maaf." Bersama dua anaknya, segera ia pergi keluar. Tapi lekas juga ia telah kembali, dengan air muka riang-gembira, bersama dia ada Kwie Sin Sie suami-isteri bersama Bwee Kiam Hoo, Lau Pwee Seng dan Sun Tiong Kun.

Sin Cie sudah lantas berbangkit untuk berdiri di pinggiran, terus ia menjura seraya berkata: "Jie suko, jie- suso, baik?"

Kwie Sin Sie manggut.

"Oh, kau pun ada di sini. " sahut suko yang kedua itu. "Ehm," terdengar Kwie Jie-nio, yang tak perdulikan sutee itu.

"Silakan duduk di atas, suko," kata Sin Cie pula. "Aku nanti duduk bersama Kiam Hoo beramai."

Mendengar bahwa mereka adalah suheng dan sutee, Beng Pek Hui tertawa.

"Bagus, bagus!" katanya. "Ada suko yang begini terkenal yang menjadi tulang punggung, jangan kata Baru menjadi bengcu dari tujuh propinsi, walaupun dari empat-belas propinsi masih tepat!"

Dengan kata-katanya itu, Pek Hui beranggapan Sin Cie menjadi bengcu karena andalan suhengnya itu.

Sin Cie dengar itu, ia melainkan bersenyum, ia tak bilang suatu apa.

"Kau omong tentang bengcu, apa itu?" tanya Sin Sie dengan heran.

"Ah, aku bicara seenaknya saja, harap Kwie Jieko tak buat pikiran," sahut tuan rumah, yang terus silakan tetamunya ini duduk bersama Thio Jiak Kok beramai, karena mana, Sin Cie pindah akan duduk bersama Kiam Hoo.

Di dalam pesta ini, wanita dan pria duduk bersama, tidak ada pemisahan.

Kwie Sin Sie dan nyonya bersama tuan rumah lantas saling memberi selamat, yang satu untuk selamat panjang umur, yang lain untuk kedatangannya tetamu, kepada siapa pun dihaturkan terima kasih buat antaran barang tanda matanya. Habis minum tiga edaran, Tang Kay San berbangkit, untuk mohon undurkan diri, katanya tak kuat ia minum banyak, ingin ia beristirahat.

Beng Pek Hui tidak mencegah, malah ia suruh satu chungteng untuk antar tetamu ini ke balai istirahat.

Tiba-tiba Kwie Sin Sie kata dengan tawar: "Kami telah pergi kemana-mana untuk cari Tang Piausu, kami tidak berhasil, maka kami sangka, piautau mesti ada di sini, buktinya sekarang benar dugaan kami itu!"

Tang Kay San berubah wajahnya, dia likat agaknya. "Aku dengan Kwie jie-ya tidak punya dendaman atau

permusuhan, dahulu tidak, sekarang pun tidak," katanya.

"Maka kenapa Kwie Jie-ya bergitu mendesak mencari aku?"

Orang banyak heran, hingga mereka menunda cawan arak mereka. Semua orang mengawasi kedua tetamu ini.

Beng Pek Hui tertawa.

"Di antara jiewie ada sangkutan apa?" tanyanya. "Aku minta jiewie suka memandang aku, biarlah aku dapat mendamaikannya."

"Sudah lama aku kagumi nama Kwie Jie-ya," berkata Tang Kay San. "Dengan dia aku belum pernah berkenalan, maka aku pun tidak mengerti kenapa Kwie Jie-ya cari aku kemana-mana. "

Mendengar ini, Pek Hui lantas saja mengerti. Di dalam hatinya, ia kata: "Bagus benar! Kamu berdua jadi bukan dengan setulus-tulusnya hati datang untuk memberi selamat kepada aku! Yang satu adalah untuk menyingkirkan diri, yang lain untuk menyusul! Si orang she Tang ini menghargai aku, dia telah memasuki rumahku, biar bagaimana, tak dapat aku ijinkan dia mendapat susah." Karena memikir begini, ia terus kata kepada tetamunya yang baru: "Kwie Jie-ya, apabila kau ada punya urusan, baik kita bicarakan itu selewatnya hari ini. Kita semua ada sahabat-sahabat baik, urusan apa juga dapat didamaikan."

Kwie Sin Sie tak pandai bicara, maka isterinya yang wakilkan dia.

"Ini adalah anak tunggal dari Jie-ya," berkata nyonya ini sambil ia tunjuk puteranya, yang senantiasa berada dalam empoannya. "Anak ini telah mendapat sakit berat, dia tinggal matinya saja, karena itu kami hendak mohon Tang Piautau berbuat kebaikan kepada kami dengan berikan beberapa butir obat pulungnya kepada kami, untuk tolongi jiwanya anak kami ini. Tentu saja itu ada satu budi yang besar sekali."

"Itu adalah hal yang selayaknya," kata Beng Pek Hui, yang terus berpaling kepada piausu she Tang itu, akan kata: "Tuan Tang, menolongi satu jiwa manusia ada lebih berjasa daripada mendirikan sebuah menara tujuh tingkat, maka itu, tolong kau berikan obat kepada anak ini. Inilah permintaan dari Kwie Jie-ya, satu enghiong yang kenamaan."

"Coba hok-leng dan ho-siu-ou itu ada kepunyaanku sendiri, tidak usah Kwie Jie-ya capaikan hati akan cari aku, pasti siang-siang aku sudah menghaturkannya dengan kedua tanganku," sahut Tang Kay San. "Akan tetapi obat itu ada kepunyaan Ma Tayjin, congtok dari Hongyang - itu ada upeti untuk kotaraja, maka itu, bagaimana dapat aku menyerahkannya? Barang telah diserahkan dalam pertanggungan-jawab dari Eng Seng Piau Kiok, apabila aku membuat gagal, di belakang hari, cara bagaimana kami dapat hidup di dalam kalangan kangouw ini?" Tang Piausu telah memberikan alasan kuat, orang menjadi serba salah.

Phang Congpeng dengar halnya barang upeti, lantas saja dia campur bicara.

"Barang upeti berarti barangnya Sri Baginda, siapa bernyali besar berani ganggu itu?" katanya dengan nyaring.

"Hm!" Kwie Jie-nio menyambuti. "Walaupun itu ada barangnya Giok Hong Tay Tee, mesti aku mengambilnya!"

Phang Congpeng jadi gusar, hingga dia keluarkan lagak pembesarnya.

"Bagus!" serunya. "Orang perempuan, kau hendak berontak?"

Post a Comment