Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 104

Memuat...

Tapi si orang kurus seperti jeri terhadap si imam.

"Baik, baik, aku mengaku salah. Tak apa, bukan?" katanya.

Melihat orang ngaku salah, justru waktu itu jongos datang dengan arak, si imam tidak menarik panjang, ia minum pula sendirian saja.

Si kurus berlalu, tapi tak lama ia sudah kembali.

Sin Cie dan kawan-kawannya, yang tidak jadi saksikan "keramaian", minum pula sendirinya.

Tiba-tiba saja ada angina menyambar, membawa bau keras yang menyampok hidung, hingga Ceng Ceng lekas sembat keluar saputangannya, untuk tekapi hidungnya. Sin Cie menoleh, atau segera ia tampak di mejanya si imam, di depannya, ada satu pispot, hingga Sin Cie tertawa dengan tak tertahan. Dia menoleh pada Ceng Ceng, akan bersenyum, lalu melirik ke arah si imam.

Ceng Ceng pun lihat pispot itu, tapi si imam seperti tak melihatnya, maka nona ini tertawa sendirinya.

Juga lain-lain tetamu tidak lihat pot tempat kotoran itu. "Bau! Bau!" kata beberapa orang kemudian.

"Wangi! Wangi!" sebaliknya si kurus kering, dengan suaranya yang nyaring.

"Itu pasti perbuatannya si kurus ini," Ceng Ceng bilang sambil bersenyum. "Dia sungguh sangat sebat! Kenapa aku tak lihat perbuatannya itu?"

Baru sekarang hidung si imam mencium bau busuk, tapi tanpa melihat lagi, ia ulur tangannya, akan jumput poci arak, akan tetapi kapan ia melihatnya, ia terperanjat. Ia bukan angkat poci arak hanya pispot dimana bertumpuk najis. Dengan tiba-tiba saja ia menjadi gusar, tangannya menyampok ke samping.

"Aduh!" menjerit si jongos, yang tubuhnya terpelanting rubuh, jauhnya setumbak lebih.

"Arak yang bagus, arak yang bagus! Wangi! Wangi!" kembali si kurus perdengarkan suaranya yang nyaring.

Sekarang si imam duga siapa yang main gila terhadapnya, dengan satu kali ayun saja, pispot itu menyambar kea rah si kurus. Tapi dia ini agaknya telah siap, dia berkelit dengan lincah, dengan nyelusup ke kolong meja, ketika ia muncul pula, tahu-tahu ia sudah berada di belakang si imam. Pispot mengenai meja dan hancur, kotorannya muncrat berhamburan, baunya berkesiur keras ke empat penjuru, hingga lain-lainnya tetamu lantas saja lekas-lekas menyingkir!

0o-d.w-o0

Murkanya si imam bukan kepalang, terutama kapan ia ketahui si kurus berada di belakangnya, sambil putar tubuh, ia menyambar dengan sebelah tangannya. Si kurus awas dan licin, dia berkelit sambil nyelusup pula ke kolong meja.

Dalam murkanya, imam itu dupak meja hingga terbalik.

Sedetik saja, ruang makan itu jadi kacau. Semua tetamu lainnya pada berdiri di kedua pinggiran.

Lincah luar biasa ada si kurus, ketika si imam serang pula padanya, dia berkelit, lalu dia loncat sana dan lompat sini, hingga tidak ada kepalan atau dupakan yang mengenai tubuhnya.

Meja-meja lainnya, berikut kursinya, turut terbalik-balik, karena disempar dan dibentur, poci arak, cawan dan sumpit, jatuh berhamburan. Si kurus membalas menyerang, tetapi dengan poci arak dan lainnya, yang ia jumput dari lantai. Si imam menjerit-jerit, ia berkelit, ia menanggapi, untuk balas menimpuk. Dengan begitu terlihatlah kepandaian mereka berdua.

Karena meja dan kursi pun disempar pergi datang, ruang itu lantas menjadi ruang kosong, hingga si kurus tak dapat jalan untuk main berkelit atau berlari lagi, maka ia terpaksa mesti layani si imam yang serang ia tak hentinya. Ia melayani sambil perlihatkan kesebatannya, kegesitan tubuhnya.

Si imam bertenaga besar. Segera kelihatan dia bersilat dengan ilmu silat "Tay Ang Kun" berasal dari Chong-ciu, atau Chong Ciu Pay. Sesuatu serangannya menerbitkan sambaran angin yang keras.

Si kurus sendiri bersilat tetap sebagai bermulanya, tubuhnya gesit, gerakannya sebat. Dia lebih banyak berkelit, dengan buang diri atau berlompat, atau kadang-kadang ia terhuyung-huyung, nampaknya lucu, hingga Ceng Ceng, yang menyaksikan dengan penuh perhatian, tak tahan untuk tidak tertawa geli.

"Inilah tak enak dilihat!" katanya. "Macam apa ilmu silat ini?"

Sin Cie juga tidak kenal ilmu silat itu, yang ia belum pernah lihat, ia melainkan saksikan kelincahan dan gerak- gerakan yang aneh. Rupanya itu ada ilmu kepandaian suatu golongan tersendiri.

"Inilah Ap Heng Kun," kata Thia Ceng Tiok, yang luas pengetahuannya. "Dalam kalangan kaum kangouw, tidak banyak orang yang mengerti ilmu silat ini."

Ceng Ceng tertawa pula. Nama ilmu silat itu, yang berarti "Kuntau Bebek", sungguh luar biasa. Tapi sekarang ia bisa lihat tegas, gerakan kaki dan tangan benar-benar seperti gerak-geriknya bebek gemuk....

Si imam, yang tak bisa rubuhkan si kurus, lalu menjadi sibuk sendirinya. Sia -sia saja pelbagai toyoran dan tendangannya. Maka akhir-akhirnya, tubuhnya jadi terhuyung-huyung, sempoyongan, bagaikan orang bertubuh limbung dan tak kuat berdiri. Tapi ini adalah ilmu silat "Lou Tie Cim Cui Pa San-bun" atau "Lou Tie Cim sedang mabuk arak pukul pintu kuil". Tubunya terumbang-ambing tidak keruan, kaki tangannya sambar sana-sini, ada kalanya dia rubuh terbanting sendirinya, lalu bergulingan, tapi serangannya ada hebat, terutama sehabis jatuh, apabila musuh hampirkan dia, dia bisa berlompat bangun dengan cepat sekali. Kali ini, Baru dia jalankan separuh dari ilmu silatnya itu, atau si kurus-kecil sudah repot sendirinya.

Oleh karena itu, ia sering jatuh dan bergulingan, tubuh si iman telah berlepotan nasi dan kuah sayuran, malah juga kotoran dari pispot, tapi ia tak perdulikan itu, untuk bisa kalahkan musuhnya, ia masih suka bergulingan.

Rupa-rupanya imam ini lihat ketikanya yang baik sudah datang, dengan sekonyong-konyong dia lompat mendesak, selagi kakinya sebelah maju, tangan kirinya menggertak, tangan kanannya menyerang dada, dengan tipu-pukulannya "Pay san to hay", atau "menggempur gunung untuk menguruk lautan".

Ini adalah satu serangan liehay. Si kurus juga insyaf itu, maka dia lekas-lekas empos semangatnya, kedua tangannya ditaruh di depan dada, selagi serangan datang, ia berseru keras: "Bagus!"

Tidak tempo lagi, kedua tangan serta satu kepalan bentrok satu dengan lain. Kepalannya si imam besar dan antap, kedua tangannya si kurus kecil dan kurus, tapi kedua tangan itu tepat menyambuti, sesudah mana, keduanya saling dorong.

Si imam menyerang dengan kepalan kanan, karena itu, kepalan kirinya merdeka, akan tetapi karena dia kumpul tenaga di tangan kanan, tangan kiri itu tak dapat dipakai membantu. Dia bertenaga besar, dia kerahkan semua tenaganya, tapi tak dapat ia tolak tubuh musuh, yang pertahankan diri dengan kokoh-teguh, hingga keduanya jadi berkutetan, tak ada yang dapat maju, tak ada yang bisa mundur. Sebab siapa berani mundur, celakalah dia.

Keduanya, si imam dan si kurus, menjadi menyesal sendirinya. Mereka tidak bermusuhan satu dengan lain, tidak keruan, mereka bertarung secara hebat itu, mereka seperti adu jiwa.

Tidak lama kemudian, mereka masing-masing menjadi mandi keringat, air keringat sebesar kacang kedele mengetel dari jidat mereka...

"Thia Lau-hia," kata See Thian Kong, setelah mereka menyaksikan sampai sebegitu jauh, "coba kau pakai tongkatnya si pengemis untuk pisahkan mereka, kalau tidak, lagi sedikit lama, mereka dua-dua bakal celaka..."

"Aku sendirian tidak sanggup, mari kita berdua," mengajak Ceng Tiok.

"Baik, marilah," jawab Thian Kong. "Jikalau kita tolak mereka mungkin mereka sama-sama terluka di dalam, cumalah tak sampai membahayakan jiwa..."

Belum sampai dua orang itu maju, Sin Cie sudah campur bicara.

"Mari aku yang mencoba!" katanya sambil berbangkit. Lalu, dengan tindakan pelahan, ia hampirkan dua jago itu, yang sudah mandi keringat. Ia berdiri di tengah, di samping mereka, lantas pentang kedua tangannya, akan buka kedua orang itu terpisah masing-masing tangannya, hanya karena mereka dipisahkan secara tiba-tiba, tubuh mereka maju ngusruk, tangan mereka maju ke depan tepat mengenai dada Sin Cie.

"Celaka!" berseru Ceng Tiok dan Thian Kong, sambil mereka lompat, dengan niat tolongi si anak muda. Tapi kapan mereka sudah datang dekat, mereka dapati si anak

721 muda tidak terluka, romannya tenang seperti biasa. Mereka tahu, Sin Cie sudah bersiap mengerahkan tenaga di dalam tubuhnya, untuk sambuti serangan yang tidak disengaja itu, hingga ia jadi tak kurang suatu apa.

Tidak demikian adalah si kurus dan si tautoo. Mereka telah kehabisan tenaga, setelah mereka dapat dipisahkan, saking lemasnya, dua-dua rubuh, mendeprok di lantai di tengah-tengah ruang itu.

Dengan seorang menolongi satu, Ceng Tiok dan Thian Kong pimpin bangun kedua jago itu, sedang jongos lantas diperintah untuk segera bebenah.

Sin Cie rogoh sakunya, akan serahkan dua-puluh tail perak pada kuasa hotel.

"Ini ada untuk ganti semua kerusakan," katanya. "Semua tetamu itu belum dahar cukup, silakan sajikan makanan untuk mereka, pembayarannya dimasuki atas namaku."

Tuan rumah menjadi girang, ia terima uang seraya mengucap terima kasih, kemudian ia perintah sekalian jongos bersihkan segala apa dan bebenah, untuk lekas sajikan barang hidangan baru untuk semua tetamunya.

Belum terlalu lama, dua-dua si imam dan si kurus telah dapat pulang tenaga mereka, maka keduanya hampirkan Sin Cie, untuk menghaturkan terima kasih, sebab si anak muda telah tolongi mereka.

Sin Cie tertawa.

"Tak usah, jiewie," katanya. "Aku mohon tanya she dan nama jiewie. Dengan kepandaian yang liehay, jiewie mesti ada orang-orang ternama."

"Aku adalah Gie Seng tetapi orang umumnya panggil aku Thie Lo Han," sahut si tautoo. "Aku ada Ou Kui Lam," jawab si kurus. "Aku mohon tanya she dan nama kau tuan, begitupun nama jiewie." Ia maksudkan Thian Kong dan Ceng Tiok.

Belum keburu Sin Cie perkenalkan diri, atau See Thian Kong dului ia.

"Kiranya tuan ada Seng-chiu Sin-tou Ou Toako!" katanya. Ia tahu julukan orang itu dan menyebutkannya. Seng-chiu Sin-tou berarti "Malaikat Copet".

Nampaknya Ou Kui Lam puas orang kenal dia, tapi ia lekas-lekas merendahkan diri. Lantas ia ulangi tanya nama See Thian Kong.

Thia Ceng Tiok jemput kipasnya orang she See itu dan sambil dibuka ia tunjuki kepada Kui Lam, hingga dia ini lihat lukisan tengkorak yang menyeramkan.

"Oh, kiranya Im-yang-sie See Ceecu!" kata Kui Lam. "Memang sudah lama aku dengar nama ceecu. Girang aku dengan pertemuan ini."

Sementara itu dengan matanya yang membelalak Kui Lam telah lihat juga ceng-tiok atau tongkat bambu orang yang disenderkan di samping meja, sebagai orang yang luas pengalamannya, ia tahu artinya senjata itu, malah ia kenal baik ruas atau bukunya tongkat itu, yang ada tiga-belas, tanda kedudukan paling tinggi. Maka lekas-lekas ia menjura kepada Ceng Tiok.

Post a Comment