Ketika menengok, dia melihat betapa wanita itu kini mulai mendesak si muka putih! Dan melihat betapa kedua orang itu berkelahi dengan mati-matian, timbul pula niatnya yang terdorong ketamakan dan kecerdikan. Diam-diam diapun melarikan diri, kini membawa dua buntalan itu, buntalan madat dan buntalan Giok-liong-kiam!
“Keparat, kau hendak lari kemana?”
Tiba-tiba terdengar bentakan suara tokoh Ang-hong-pai itu. Hek-wan terkejut dan menengok. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia melihat wanita baju merah dan laki-laki muka putih itu telah berloncatan mengejarnya. Kiranya mereka itu, biarpun sedang berkelahi, tidak pernah melepaskan perhatian mereka terhadap benda yang diperebutkan, yaitu Giok-liong-kiam! Tadi, ketika Hek-wan membantu tokoh Ang-hong-pai menyerang Pek-bin Tiat- ciang, Si Tangan Besi itu terpaksa menghentikan serangannya terhadap lawannya yang tangguh dan menangkis serangan Hek-wan. Akan tetapi pada saat itu, si wanita yang memiliki gerakan amat cepatnya telah meloncat ke atas, seperti terbang ia turun menerjang dengan amat hebatnya, tangannya menyerang dengan totokan-totokan berbahaya. Tentu saja Pek-bin Tiat-ciang cepat mengelak dan menangkis, akan tetapi sebuah tendangan kaki wanita itu yang dilakukan dari belakang, seperti seekor tawon menyengat, telah mengenai pangkal pahanya, membuat Tiat-ciang terhuyung dan selanjutnya wanita itu menyerangnya dengan bertubi-tubi, membuatnya nampak terdesak.
Pada saat itulah Hek-wan melarikan diri. Dua orang yang sedang berkelahi itu tentu saja tidak dapat membiarkan hal ini terjadi. Mereka berkelahi justeru untuk memperebutkan Giok-liong-kiam yang berada di tangan Hek-wan. Kalau Hekwan berhasil melarikan diri membawa Giok-liong-kiam, perlu apa mereka saling serang lagi? Demikianlah, bagaikan berlumba, keduanya kini melakukan pengejaran.
Dapat dibayangkan betapa cemas rasa hati Hek-wan melihat betapa dua orang itu kini mengejarnya! Baru melawan seorang di antara mereka saja dia tidak akan mampu menang, apalagi kini dikejar oleh mereka berdua! Akan tetapi dia tidak kekurangan akal. Otaknya bekerja dan tahulah dia bahwa satu- satunya cara untuk menyelamatkan diri dan menahan pengejaran mereka adalah memancing mereka dengan Giok-liong-kiam. Maka diapun lalu berseru keras.
“Lihiap, ini Giok-liong-kiam itu, terimalah!”
Dan diapun melemparkan buntalan peti panjang berisi Giok-liong-kiam itu ke arah dua orang yang mengejar di belakangnya.
Akalnya berhasil dengan baik. Melihat benda yang amat diinginkan itu kini dilemparkan, dua orang itu tentu saja lalu berlumba untuk lebih dahulu memperolehnya. Benda itu oleh Hek-wan dilemparkan ke arah tokoh Ang-hong- pai, maka wanita itulah yang lebih dulu menyambar peti.
“Brakkk...!”
Si Tangan Besi menghantamkan tangannya ke arah peti dan peti itupun pecah, isinya yaitu pedang naga kemala itu terlempar dari dalam peti dan jatuh ke atas tanah! Keduanya kini berebutan, berlumba untuk menubruk, dan akibatnya mereka saling bertumbukan. Tentu saja keduanya marah dan tahu bahwa sebelum merobohkan lawan, tak mungkin mereka bisa mendapatkan pedang pusaka itu, maka kini mereka membiarkan pedang itu menggeletak di atas tanah dan keduanya sudah saling terjang lagi dalam perkelahian mati- matian yang lebih sengit dari pada tadi.
Dengan hati girang, Tai-lek Hek-wan melanjutkan larinya, membawa buntalan madat. Lumayan, pikirnya, tidak terlalu mengecewakanlah memperoleh modal kekayaan berupa tiga puluh kati madat ini walaupun gagal mendapatkan Giok-liong-kiam, pikirnya, yakin bahwa dua orang itu tentu lebih mementingkan Giok-liong-kiam yang diperebutkannya dari pada mengejar dia yang melarikan madat. Dan dugaannya ini memang betul. Dua orang pandai itu sama sekali tidak memperdulikannya lagi karena kini mereka sudah saling serang mati-matian untuk memperebutkan pedang pusaka yang menggeletak di atas tanah.
Ketika dengan hati girang sekali Tai-lek Hek-wan yang melarikan diri itu hampir tiba di tepi hutan, mendadak ada angin dari kiri yang menerjangnya. Hek-wan terkejut dan cepat mengelak, namun percuma saja karena tiba-tiba saja ada tenaga raksasa yang membuatnya terpelanting. Dia berusaha bangkit, akan tetapi mendadak muncul seorang laki-laki raksasa bermuka hitam yang tertawa-tawa dan kaki orang tinggi besar ini menyambar, Hek-wan melompat sambil menangkis dengan lengannya ketika kaki yang besar itu menendang ke arah tubuhnya.
“Ehhh...!”
Tai-lek Hek-wan meloncat bangun dan memandang marah ketika dia melihat betapa buntalan madat itu kini berada di tangan seorang laki-laki berusia limapuluh tahun yang bertubuh tinggi besar. Laki-laki itu mengenakan pakaian kasar, sikapnya kasar dan wajahnya yang penuh berewok itu menakutkan. Matanya lebar dan mulutnya menyeringai girang ketika dia membuka buntalan dan melihat isi buntalan.
“Ha-ha-ha, kiranya engkau pemadatan besar! Pantas saja begini lemah, tertiup angin saja roboh. Itulah kalau terlalu banyak menghisap madat, hua-ha- ha!” Dia tertawa bergelak, perutnya bergoyang-goyang karena ketika tertawa, dia menengadah dan mengangkat kedua lengannya ke atas.
Tai-lek Hek-wan melihat kesempatan yang amat baik ini dan diapun meloncat ke depan dan menendang ke arah perut yang bergoyang-goyang itu sekuat tenaganya.
“Klekk...!”
Tendangannya tepat mengenai perut, akan tetapi bukan orang itu yang roboh, bahkan tubuhnya sendiri terjengkang dan dia terbanting untuk ke tiga kalinya, dan tanpa malu-malu lagi dia mengaduh-aduh sambil memegang kaki kanannya karena tulang-tulang kakinya itu seperti remuk rasanya. Dia tadi seperti menendang sebuah gentong besi saja, keras dan amat kuat sehingga kakinya sendiri yang mengeluarkan bunyi seolah-olah semua tulangnya patah. Akan tetapi karena marah dan kecewa melihat hasil rampasannya kini di tangan orang, dia memaksa diri meloncat bangun lagi.
“Kembalikan barangku...!”
Hampir dia menangis ketika mengeluarkan tuntutan ini. Akan tetapi orang tinggi besar itu masih terus tertawa.
“Ha-ha-ha, engkau tentu penyelundup candu, engkau meracuni banyak orang. Orang seperti engkau ini harus dihukum berat, akan tetapi aku tidak mempunyai banyak waktu untuk mengurusmu. Engkau tidak mengaku dosa malah hendak minta kembali racun ini? Sungguh tak tahu diri!”
Hek-wan mengerutkan alisnya dan memandang orang itu penuh perhatian. Orang ini berpakaian kasar, terlalu kasar, maka sepantasnya orang ini melakukan penyamaran. Sikapnya begitu angkuh dan pandang matanya berwibawa, pantasnya seorang pembesar militer. Apakah seorang perwira yang menyamar? Dia mendengar bahwa di antara orang-orang yang sibuk menyelidiki dan mencari Giok-liong-kiam terdapat pula jagoan-jagoan dari istana. Apakah orang ini juga seorang di antara mereka? Diam-diam dia bergidik dan menjadi ragu-ragu.
“Nanti dulu!”
Tiba-tiba raksasa itu membentak.
“Aku bilang tidak mempunyai waktu untuk mengurusmu bukan berarti melepaskanmu begitu saja. Orang macam engkau ini terlalu berbahaya dibiarkan terlepas begitu saja. Hayo ke sini kau!”
Tai-lek Hek-wan membalik dan menghadapi orang itu dengan sinar mata marah.
“Barangku sudah kau rampas, mau apalagi memanggil aku?” katanya ketus.
Raksasa itu menuding ke arah sepatunya yang besar dan kotor.
“Aku sudah melakukan perjalanan jauh dan tidak mengajak para pengawalku untuk membersihkan sepatuku yang kotor. Hayo kau bersihkan sepatuku, baru aku akan membiarkanmu pergi.”
Wajah Lutung Hitam itu berobah semakin hitam. Dia bukan sembarang orang dan banyak orang yang takut dan taat kepadanya. Kini orang menghina sampai di luar batas!
“Ha-ha, orang macam engkau ini masih bisa bicara tentang kehormatan dan penghinaan? Hidupmu sudah di dalam lumpur kehinaan. Aku hanya ingin menukar nyawamu yang rendah itu dengan pekerjaan membersihkan sepatu dan kau banyak cakap lagi? Hayo bersihkan sepatuku, atau aku mewakili pemerintah melaksanakan hukuman mampus kepadamu. Pilih saja!”
Kini yakinlah hati Hek-wan bahwa dia berhadapan dengan seorang petugas pemerintah yang menyamar. Dan jelas pula bahwa orang ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan dia tidak akan mampu mengalahkannya. Di situ tidak terdapat orang lain, mengapa harus meributkan tentang kehormatan.
“Baiklah...!”
Katanya dan diapun berlutut di depan orang itu, menggunakan ujung lengan bajunya untuk membersihkan kedua sepatu yang penuh debu itu. Kalau saja ada orang yang melihat peristiwa ini. Betapa akan malunya dan akan hancur nama besarnya. Dia terkenal sebagai orang yang paling ditakuti di seluruh daerah Nan-leng, dan kini dia membersihkan sepatu orang, berlutut di depan orang itu. Kemarahannya tak dapat ditahannya lagi dan otaknya yang cerdik itu bekerja. Orang yang menghinanya berdiri begitu dekat, tidak ada yang akan dapat menghalanginya lagi. Diam-diam dia mengerahkan tenaganya dan tiba-tiba saja dia menghantam ke arah pusar orang itu, dari jarak yang amat dekat.
“Krakk... aughhhh...!”