Tung-hai Cin-jin terkejut dan cepat memutar pedangnya untuk membabat tongkat yang hanya terbuat dari dahan pohon itu agar patah-patah. Namun, gerakan tongkat itu aneh sekali dan selain dapat menghindarkan setiap bacokan untuk disusul dengan pukulan atau totokan tongkat. Tung-hai Cin-jin merasa penasaran dan dia memutar pedang semakin cepat sehingga nampaklah gulungan sinar pedang yang putih kemilauan, menyambar-nyambar dengan bunyi berdesing-desing Namun, Han Beng selalu dapat mengelak dan tongkatnya yang sederhana berubah menjadi gulungan sinar hijau. Tadinya, pada dahan itu masih menempel beberapa lembar daun. Kini, daun-daun itu sudah rontok, akan tetapi sebelum rontok, sudah berkesempatan untuk lebih dulu menyambar kearah tubuh Tung-hai Cin-|in. Dua helai daun tadi telah menyambar dan menampar kedua pipi kakek itu. Hanya daun terbang, akan tetapi karena mengandung tenaga kuat, maka kedua pipi itu menjadi merah sekali!
Kakek itu memang amat hebat dengan pedang samurainya.
Namun, dia sudah terlalu tua untuk berkelahi dalam waktu lama. Sebentar saja, tubuhnya sudah basah dengan keringat dan napasnya mulai terengah-engah. Melihat keadaan pembantunya itu, diam-diam Cui-beng Sai-kong terkejut juga. Dia mengenal kepandaian kakek pendek itu yang cukup lihai. Akan tetapi melawan pemuda ini, belum juga dua puluh jurus lamanya, Tung-hai Cin-jin sudah terdesak dan terengah- engah.
"Bocah sombong, lihat seranganku!"
Dia membentak dan kakek tinggi besar hitam seperti raksasa itu sudah meloncat kedalam medan pertempuran, kedua lengannya diayun dan angin menyambar ke arah Han Beng yang pada saat itu sedang menahan pedang samurai lawan dengan tongkatnya. Cepat dia melepaskan pedang itu dari tempelan tongkatnya sambil melompat kebelakang. Namun, angin pukulan itu tetap saja masih membuat dia terhuyung kebelakang. Dari belakang, ada beberapa orang pembantu beng-cu itu menyambutnya dengan serangan golok dan tombak. Akan tetapi Han Beng melempar tubuh ke bawah menggelinding ke arah mereka dan begitu tongkatnya bergerak, dua orang pengeroyok telah roboh tertotok sambungan lutut mereka! Dia meloncat bangun kembali dan kini bersikap hati-hati, karena dia maklum betapa lihainya beng-cu itu.
Cui-beng Sai-kong yang melihat betapa pemuda itu bukan saja berhasil menghindarkan diri dari serangannya, bahkan sambil menggelundung tadi tadi merobohkan pula dua orang pembantunya yang cukup lihai, menjadi marah dan penasaran. Kalau dia tidak cepat merobohkan pemuda itu, tentu kebesarannya akan tercemar! Sekali menggerakkan tubuhnya, dia telah meloncat ke depan Han Beng. Dan mulailah dia menyerang dengan gerakan aneh dan cepat, juga kedua tangannya yang menyambar-nyambar itu mengeluarkan suara berkerotokan seolah-olah semua tulangnya Itu saling beradu, dibarengi menyambarnya angin dahsyat. Serangkaian serangan terdiri dari sembilan pukulan dan cengkeraman yang bertubi-tubi datangnya dapat dihindarkan oleh Han Beng dengan elakan dan loncatan kesana-kemari. Gerakan tubuhnya lincah sekali sehingga dia berhasil lolos. Namun, kembali dia terhuyung karena serangan-serangan itu mendatangkan angin pukulan yang mendorong dengan kuatnya. Sebagai balasan, ketika dia melihat kesempatan setelah lewatnya serangkaian serangan itu, ujung tongkatnya bergerak lengan ujungnya berputaran kedepan muka lawan. Kalau lawannya tidak lihai sekali, tentu akan bingung dan pandang matanya kabur melihat ujung torgkat berputaran didepan mata seperti itu. Namun tidak demikian dengan Cui- ben Sai-kong yang selain memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga memiliki pengalaman yang matang dalam soal perkelahian. Sudah banyak dia menghadapi lawan-lawan tangguh, maka biarpun ilmu tong kat yang dimainkan pemuda itu aneh dan membingungkan, namun dia tidak menjadi gentar dan tiba-tiba saja tangan kanannya menyambar kedepan, mencengkeram ke arah pusar lawan sedangkan tangan kirinya diputar sedemikian rupa untuk menangkap ujung tongkat itu! Tentu saja Han Beng tidak mau tongkatnya tertangkap lawan. Dia menarik tongkatnya dan menghindarkan cengkeraman itu dengan memiringkan tubuh ke kanan. Akan tetapi, dari atas, tangan kiri yang diputar tadi telah menyambar, mencengkeram ke arah ubun-ubun kepalanya dan tangan kanan yang luput mencengkeram tadi pun sudah menyambar dari samping dengan pukulan tangan terbuka yang dasyat sekali!
Han Beng terkejut, cepat dia mengelak lagi sambil melompat ke atas, kini menggunakan gerakan dari Hui-tiauw Sin-kun (Silat Sakti Rajawali Terbang) yang dipelajarinya dari Sin-tiauw Liu Bhok Ki. Gerakannya cepat dan tubuhnya bagaikan bersayap saja. Dari atas, tongkatnya kembali menyambar ke bawah, kearah tengah kepala lawan. Kini kakek itu yang terkejut.
"Aihhhhh. !" Dia mendengus, akan tetapi biarpun dia
sudah mengelak sambil menggunakan kedua tangan untuk melindungi kepala, berusaha menangkap tongkat, namun tongkat itu menyeleweng ke samping dan berhasil mencium pundaknya.
"Tukkk!" Pundak itu dilindungi kekebalan yang luar biasa sehingga ujung tongkat terpental. Keduanya terkejut. Han Beng terkejut karena hampir saja tongkat yang berhasil menotok pundak Itu patah, sudah melengkung, dan sebaliknya kakek itupun terkejut karena biarpun dia mampu menyelamatkan pundaknya dengan perlindungan kekebalan, namun tetap saja pundaknya terasa nyeri, tanda bahwa tenaga di dalam tongkat itu sungguh amat kuatnya! Mau tidak mau, Cui-beng Sai-kong terhuyung. Akan tetapi pada saat itu, Tung-hai Cin-jin sudah menyerang lagi dengan samurainya disabetkan dari kanan ke kiri membabat pinggang Han Beng. Kalau mengenai sasaran, agaknya pemuda itu akan sukar menyelamatkan diri dan tubuhnya tentu akan buntung menjadi dua potong! Dia melempar tubuh ke belakang, tongkatnya diputar di sebelah kirinya menyambut pedang itu yang begitu bertemu tongkat Ialu ikut terputar dan hampir terlepas dari tangan kakek tua renta itu. Tung-hai-Cin-jin terkejut, cepat menarik kembali samurainya dan melompat ke belakang dengan muka pucat. Akan tetapi, kini Cui-beng Sai-kong sudah mengerahkan tenaga dalam dan menggunakan ilmu hitamnya. Dia mengeluarkan suara menggereng seperti auman singa marah dan se galanya tergetar hebat oleh auman itu. Inilah semacam ilmu Sai-cu Ho-kang (Tenaga Auman Singa) yang amat ampuh dapat menggetarkan dan melumpuhkan lawan. Ilmu ini memang diambil pengaruh dari auman singa. Seekor singa harimau atau binatang buas lain, serta mempergunakan kekuatan auman ini untuk melumpuhkan lawan.
Han Beng terkejut sekali. Banyak orang di situ roboh bergelimpangan, pemuda itu pun merasa betapa kedua kakinya lemas! Pada saat itu, Cui-Sai-kong sudah menubruk dengan kedua lengannya mencengkeram ke arah leher dan dada!
Han Beng teringat akan nasihat kedua orang gurunya kalau menghadapi serangan yang mengandalkan kekuatan suara atau ilmu hitam. Dia mengerahkan Sin-kang di tubuhnya, dihalau ke seluruh tubuh sampai menembus ke otak pada saat serangan datang, dia sudah pulih kembali, tidak lagi merasa Iumpuh dan dia dapat membuang tubuhnya kiri sehingga cengkeraman kedua tangan lawan itu luput dan dari kiri, Han Beng sudah mengirim tusukan dengan tongkatnya ke arah lambung lawan!
“Tukkk!" Totokan itu tak mengenai sasaran, meleset dan pada saat itu, dalam keadaan terhuyung, Cui-beng Sai-kong yang lihai itu telah mengirim tendangan dengan kakinya yang panjang dan besar.
"Desss. !" Tendangan itu mengenai paha Han Beng dan
tubuh pemuda ini terlempar jauh ke atas! Dan tubuh itu tidak turun kembali! Semua orang terbalak memandang ke atas. Kiranya, Tubuh pemuda itu disambar oleh seorang kakek yang pakaiannya serba putih. Kakek itu menarik tubuh Han Beng melalui atap yang sudah berlubang dan mereka pun lenyap. ”Kejar!" teriak Cui-beng Sai-kong sambil bersama Tung-hai Cin-jin mendahului melompat ke atas genteng. Namun sia-sia. Kakek itu bersama Han Beng telah lenyap entah ke mana. Kakek yang melarikan Han Beng itu bukan lain adalah Pek I Tojin! Han Beng tidak terluka. Tadi ketika terkena tendangan, karena sudah tidak mampu menghindarkannya lagi, dia melindungi tubuh dengan sin-kang, bahkan membiarkan tubuhnya ringan sehingga ketika terkena tendangan yang amat kuat itu, tubuhnya seperti sebutir bola melambung ke atas. Tahu-tahu ada orang menyambarnya. Beng hendak meronta, akan tetapi ketika mengenal kakek yang pernah dilihatnya ketika melerai pertikaian antara para hwesio dan tosu, dia pun diam saja, bahkan membiarkan dirinya dibawa lari sampai jauh.
Di dalam hutan yang sunyi Pek I Tojin melepaskan tubuh Han Beng dia memandang heran melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak terluka dan berlutut di depannya memberi homat.
"Eh, kau tidak. terluka ?"
"Tidak, Lo-cian-pwe."
Kakek itu mengangguk-angguk. "Bagus! Kiranya engkau telah menerima gemblengan orang pandai. Tidak tahu siapakah gurumu ?"
"Teecu (Murid) pernah dibimbing Suhu Sin-tiauw Liu Bhok Ki dan kemudian oleh Suhu Sin-ciang Kai-ong."
"Siancai ! Pantas kalau begitu. Dan Engkau telah
mewarisi ilmu-ilmu mereka dengan baik. Akan tetapi engkau masih terlalu hijau, tidak mengukur kekuatan lawan. Ketahuilah bahwa Cui-beng Sai-kong itu selain lihai sekali, juga memiliki banyak anak buah. Untung engkau tadi belum dikeroyok oleh seluruh anak Buahnya. Hemmm, kenapa engkau dapat berada di sarang mereka itu?"
Han Beng menceritakan tentang penyerbuan tosu-tosu palsu yang diatur oleh gerombolan itu untuk mengadu domba antara para hwesio dan tosu. Mendengar ini, Pek I Tojin tersenyum. "Sudah pinto duga begitu. Pinto juga melihat dua puluh orang hwesio palsu menyergap para tosu, maka pinto juga membayangi paru hwesio palsu itu dan tiba di sarang mereka."
“Ah, kalau begitu, usaha Lo-cian-pwe melerai dan mendamaikan para tosu dan para hwesio akan menjadi sia-sia saja mereka tentu sudah terpengaruh oleh siasat busuk mengadu domba itu."
"Tidak, orang muda. Bahkan pinto melihat jalan yang baik untuk mendamaikan antara mereka, mungkin untuk selamanya. Mari kita membagi pekerjaan. Kau pergilah ke barat. Di luar hutan terdapat sebuah kuil tua dan pinto kira disana engkau akan dapat menemukan sepuluh hwesio pimpinan itu. Ceritakan apa yang kau lihat tentang tosu tosu palsu itu, kemudian ajak mereka ke sini. Katakan bahwa pinto menanti disini bersama para tosu pimpinan. Kemudian kita bersama-sama menyerbu sarang Cui-be Sai-kong dan anak buahnya. Dengan terbongkarnya kepalsuan dan fitnah adu domba itu, kiranya para hwesio dan tosu akan benar-benar insaf betapa bodohnya sikap mereka selama ini dan bahwa permusuhan hanya akan memancing datangnya malapetaka bagi diri sendiri."
Han Beng dapat mengerti apa yang dimaksudkan kakek itu. Dia lalu berlari cepat menuju ke barat sedangkan kakek itu pun berkelebat menuju ke timur.