Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 75

Memuat...

Cui-beng Sai-kong tertawa. "Serahkan saja kepada kami, Ciangkun. Asal Ciangkun tidak lupa memberi laporan yang baik buat kami ke atasan Ciang-kun.”

Perwira itu tertawa pula. "Jangan khawatir, Bengcu. Bukankah selama ini kami dari pihak pasukan pemerintah telah bekerja sama dengan baik sekali denganmu? Bukankah kami juga mengakui kedaulatan dan kekuasaanmu di antara para tokoh kang-ouw?"

Para pelayan wanita datang membawa hidangan dan mereka pun makan minnum dengan gembira. Tak lama kemudian, muncullah tiga orang hwesio palsu, kepala mereka memang tidak berambut, akan tetapi pakaian mereka telah menjadi pakaian yang ringkas karena mereka telah menanggalkan jubah pendeta mereka seperti yang dilakukan para tosu tadi sebelum mereka memasuki ruangi itu. Setelah memberi hormat kepada pimpinan mereka dan orang-orang lain dan dipersilakan duduk, seorang di antara tiga orang "hwesio" ini lalu membuat laporan.

Seperti juga rombongan tosu palsu yang menghadang para hwesio, juga tiga orang hwesio palsu itu melaporkan tapa mereka dengan rombongan hwesio palsu telah berhasil menghadang dan menyerang para tosu yang meninggal puncak Bukit Kijang. Mereka pun dipukul mundur, akan tetapi mereka berhasil membuat para tosu yang mereka serang itu tentu saja menjadi marah dan permusuhan di antara kedua pihak kobar lagi

"Ha-ha-ha, bagus sekali! Beng-cu kami akan melaporkan hasil ini kepa atasan kami dan tentu Bengcu dan kawan-kawan akan menerima balas jas kata perwira itu.

Han Beng sejak tadi mendengarku mengepal tinju. Sungguh licik dan jahat orang-orang ini, pikirnya. Kini, tanpa ragu lagi dia dapat membayangkan mengapa permusuhan antara para tosu dan para hwesio semakin meluas sejak Siauw-lim-si dibakar. Tentu juga atas usaha orang-orang seperti inilah maka kedua pihak itu semakin mendendam dan saling membenci.Tentu ada di antara mereka ini yang membunuh tosu dengan menyamar sebagai hwesio atau sebaliknya. Dia bergidik membayangkan betapa luasnya akibat yang disebabkan oleh usaha yang amat jahat itu. Tentu para hwesio dan para tosu menjadi semakin saling membenci. Apalagi dilandasi perbeda agama, maka permusuhan itu akan jadi malapetaka yang mengerikan.

"Sungguh keji sekali kalian ini orang-orang jahat!" bentaknya dan di lain saat, tubuhnya sudah melayang turun ke dalam ruangan itu. Tentu saja semua yang menjadi terkejut bukan main ketika melihat seorang pemuda bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah telah berdiri disitu, menentang mereka dengan pandangan mata mencorong penuh kemarahan.

Cui-beng Sai-kong adalah seorang datuk besar yang sadar akan kemampuannya, maka biarpun diam-diam dia terkejut melihat munculnya seorang pemuda tanpa dia ketahui kehadirannya tadi, namun dia bersikap tenang saja.

Perwira itulah yang terkejut dan marah. "Wah, ada mata- mata musuh kesini! Dia harus ditangkap!" Perwira itu mengeluarkan teriakannya sebagai aba-aba dan dari luar ruangan yang luas iti berhamburan masuk dua lusin perajurit pengawalnya! Atas isarat yang diberikan oleh perwira itu sendiri yang sudah mencabut pedang dan memimpim langsung pasukannya, Han Beng segera dikepung.

"Hemmm, mata-mata keparat! Menyerahlah engkau sebelum kami melakukan kekerasan! Menyerahlah untuk kami tangkap!"

Han Beng bersikap tenang. "Ciangkun, aku tidak dapat menyalahkan engkau karena bagaimanapun juga, engkau adalah seorang perwira yang melaksanakan tugas untuk atasanmu. Akan tetapi, mereka ini adalah orang-orang jahat yang ingin mengadu domba dan mencelakakan orang lain hanya untuk mendapatkan imbalan jasa. Merekalah yang kutentang bukan engkau, Ciangkun!" Akan tetapi perwira itu tidak peduli dan memberi aba-aba untuk menyerang pemuda itu. "Tangkap dia dan bunuh kalau melawan!" bentaknya. Dua lusin perajurit itu bergerak dan banyak sekali tangan dijulurkan untuk mencengkeram dan menangkap Han Beng. Akan tetapi pemuda ini meloncat dan mereka semua hanya mencengkeram udara kosang. Tahu- tahu pemuda itu telah berada di luar kepungan. Mereka membalik dan kembali mengepung, sekali ini mereka mempergunakan senjata untuk menyerang. Han Beng menggerakkan kaki tangannya dan segera terdengar para pengepungnya berrteriak kesakitan, pedang, dan golok beterbangan dan lima orang roboh susul-menyusul oleh dorongan tangan, tamparan atau tendangan kakinya. Namun, Han Keng membatasi tenaganya karena dia tidak ingin membunuh orang.

Perwira itu marah sekali. Dia meloncat, menubruk dengan pedangnya yang menyambar ganas kearah leher Han Beng. "Aku tidak mau bermusuhan dengan pasukan pemerintah!" kata Han Beng dan tangan kirinya menyambar, menangkap pedang itu. Perwira itu membetot sekuat tenaga, namun pedang seperti terjepit jari-jari baja saja. mengerahkan tenaga sekuatnya, menarik lagi dan tiba-tiba saja dia terjengkang dengan pedang yang tinggal sepotong karena yang sepotong lagi tertinggal tangan Han Beng!

Melihat kehebatan pemuda ini, yang begitu saja menangkap pedang telanjang komandan mereka, apalagi kemudian mematahkannya, para perajurit menjadi gentar dan ragu-ragu untuk melanjutkan pengeroyokan mereka. Sebelum perwira itu dapat memberi aba-aba baru karena dia sendiri masih terkejut melihat kelihaian pemuda itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

oooOOooo

"Saudara-saudara mundurlah semua. Biarkan pinto yang menghadapi bocah sombong ini!" Yang berteriak ini adalah Tung-hai Sin-jin, tosu tua renta yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih itu. Melihat majunya pembantu utama dari Bengcu, perwira itu yang merasa jerih kepada Han Beng memberi isarat kepada anak buahnya dan pasukan itu pun memundurkan diri dan keluar dari ruangan itu. Kini,kakek pendek itu sudah berhadapan dengan Han Beng. Melihat kakek ini, Han Beng merasa seperti sudah pernah melihatnya, akan tetapi dia lupa lagi entah

kapan dan di mana.

"Orang muda," kata Tung-hai Cin-Jin dengan sikap penuh wibawa. "Engkau ini orang yang masih muda sekali akan tetapi berani lancang mencampuri urusan orang lain! Siapakah namamu dan siapa yang menyuruhmu menjadi mata-mata di sini?"

"Totiang, sungguh aku merasa heran sekali. Engkau juga seorang tosu, tetapi setidaknya berpakaian sebagai seorang tosu. Akan tetapi mengapa engkau ikut pula mengotorkan tanganmu mengatur rencana permusuhan antara para hwesio dan para tosu sendiri? Tidak ada yang menyuruh aku, akan tetapi aku tadi melihat ketika para tosu palsu menghadang para hwesio, maka aku mengikuti tosu-tosu palsu itu kesini.”

"Siancai, pemuda yang besar mulut. Engkau tidak tahu bahwa engkau berhadapan dengan Tung-hai Cin-jin! Hayo cepat engkau berlutut dan minta ampun baru mungkin aku dapat mintakan ampun untukmu kepada Beng-cu!"

Kini Han Beng teringat. Pernah gurunya yang pertama, yaitu Sin-tiauw Liu Bhok Ki, menceritakan kepadanya siapa- siapa saja para tokoh kang-ouw yang ikut memperebutkan anak naga di kedung maut Sungai Huang-ho, bahkan kemudian memperebutkan dia dan Giok Cu karena dia dan Giok Cu telah menghisap darah anak naga. Dan menurut guru yang pertama itu, di antara para to kang-ouw itu terdapat yang bernama Tung-hai Cin-jin dan kini dia pun teringat. "Ah, kiranya Totiang adalah petualang yang dimana pun selalu mengejar keuntungan itu! Pernah kita saling bertemu, Totiang, kurang lebih sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, di tepi pusaran maut Sungai Huang-ho!"

Tosu itu mengerutkan alisnya dan ia memandang dengan sinar mata penuh perhatian. Lalu dia menuding dengan telunjuk kirinya, sedangkan tangan kanan meraba gagang samurainya. "Bagus! Kiranya engkau bocah penghisap darah naga Ho-ho, sungguh kebetulan sekali, pinto semakin tua dan membutuhkan sekali darahmu untuk obat kuat dan panjang umur!"

"Aha, jadi itukah bocah yang pernah kau ceritakan kepadaku, Tung-hai Cin-jin? Kalau begitu, tangkaplah dia untukku!" tiba-tiba Cui-beng Sai-kong berseru gembira. Dia sudah mendengar cerita pembantunya itu tentang perebutan mustika dan darah naga di Sungai Huang-ho, maka mendengar bahwa pemuda itu adalah anak yang menghisap darah naga, tentu saja dia tertarik sekali.

Tung-hai Cin-jin mengerutkan alisnya dan ingin dia menampar mulut sendiri. Kenapa dia membuka rahasia itu di depan bengcu! "Beng-cu, pin-to. pinto sudah tua dan

loyo, amat membutuhkan darahnya "

"Bodoh! Darah itu kini telah menjadi banyak setelah dia dewasa, lebih dari cukup untuk kita berdua!"

Tung-hai Cin-jin merasa terhibur juga. Ucapan itu menyatakan bahwa dia tentu akan mendapat bagian dari darah pemuda ini yang amat dia butuhkan. Maka terdengar suara berdesing dibarengi sinar berkilat menyilaukan mata ketika dia mencabut pedang samurai dari belakang punggungnya. Han Beng melihat i ni maklum bahwa tosu tua itu ahli bermain pedang dan bahwa pedang yang panjang melengkung itu tajam bukan main. Dia sejak tadi sudah menyadari sepenuhnya bahwa dia memasuki tempat berbahaya, gua harimau dan akan menghadapi orang-orang berbahaya. Oleh karena itu, ketika dia masuk tadi, dia sudah mematahkan sepotong dahan pohon sebagai tongkat untuk dipakai sebagai senjata.

Kini, dengan potongan kayu sebesar lengan itu di tangan, dia bersikap tenang. "Hemmm, kiranya engkau pun hanya seorang tosu yang palsu saja, Tung-Hai Cin-jin. Seorang tosu yang tulen tentu telah dapat menguasai nafsu-nafsunya dan hidup selaras dengan To, tidak seperti engkau yang masih diperbudak oleh nafsu-nafsu sendiri."

"Bocah sombong, pinto membutuhkan darahmu!" Berkata demikian, kakek itu lalu menggerakkan pedangnya. Pedang itu panjang dan melengkung, berat dan Tung-Hai Cin-jin mempergunakan kedua tangan untuk memegang gagangnya dan menyerang. Serangannya itu cepat dan kuat bukan main. Sungguh aneh permainan pedangnya itu, menggunakan kedua tangan! Akan tetapi, ketika Han Beng mengelak, pedang itu sudah datang lagi menyambar dari arah yang berlawanan! Ternyata biarpun dia mempergunakan dua tangan, namun gerakan pedang itu tidak kalah cepatnya seperti kalau digerakkan oleh satu tangan saja.

Han Beng segera mengelak lagi sambil mulai memainkan tongkatnya. Dia telah mempelajari ilmu tongkat dari Sin-ciang Kay-ong, ilmu tongkat yang menjadi andalan guru ke dua itu, yang dinamakan "Tongkat Dewa Mabuk"! Tongkat di tangannya menyambar kacau, ringan gerakan miring dan kadang-kadang seperti tidak akan mengenai sasaran akan tetapi dengan gerakan menyerong itu ujung tongkat mengancam jalan darah yang berbahaya di tubuh lawan!

Post a Comment