Halo!

Naga Beracun Chapter 79

Memuat...

Ayah, maafkan aku.

Akan te tapi di dalam hatinya, te tap saja anak ini merasa penas aran dan tidak senang karena dianggapnya perbuatan ayahnya itu te rlalu kejam, mudah saja membunuh orang walaupun dengan dalih demi keselamatan keluarga mereka

Bahaya itu kan belum datang mengancam

Ayahnya amat tidak menghargai nyawa ocang lain! Betapapun juga, te pat seperti dikatakan Cian Bu

Setelah dua orang itu tewas tanpa ada orang lain mengetahui sebabnya, perjalanan mereka tidak mendapat gangguan lagi

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cian Bu dan keluarganya sudah meninggalkan kota Wuhan, melanjutkan perjalanan menuju ke dusun Mo-kim-cung yang merupakan sebuah dusun kecil di kaki Bukit Ular

Sim Lan Ci segera mengajak keluarganya menuju ke rumahnya yang tujuh tahun yang lalu ia tinggalkan dalam pengawasan seorang pembantu wanita yang sudah lama bekerja pada mereka

Tentu saja ia juga memesan kepada ibunya, yaitu Lo Nikouw di kuil Thian-ho-tang di luar dusun agar mengamat-amati rumahnya selama ia dan suaminya pergi

Ketika pada senja hari itu mereka tiba depan rumah Lan Ci, mereka melihat sebuah rumah yang kotor tidak te rawat, jendela dan daun pintunya te rtutup rapat-rapat, bahkan gelangan daun pintu dirantai dari luar, tanda bahwa rumah itu kosong

Lan Ci te rmangu-mangu melihat betapa pekarangan yang dahulu dirawatnya baik-baik dan penuh bunga itu kini menjadi kotor dan buruk

Juga rumah itu kotor dan banyak genteng yang pecah dan te mboknya sudah penuh jamur kehijauan

Seperti rumah hantu!

Thian Ki juga berdiri te rmangu di depan rumah itu

Terbayanglah dalam ingatannya ketika tujuh tahun yang lalu dia hidup di tempat ini

Masih te ringat semua keadaan di luar dan di dalam rumah

Betapa senangnya dia dahulu memanjat pohon di samping rumah itu atau berlari-larian dan bermain dengan teman-teman sedusun

Dia pernah jatuh di sebelah kanan rumah itu, di selokan kecil yang dibuat ayahnya untuk mengalirkan air ke taman bunga

Dan sekarang, keadaan di pekarangan dan taman itu amat menyedihkan

Juga rumah itu nampak demikian tua dan kotor

Semua ini membuat dia teringat kepada ayahnya

Ayahnya demikian le mbut dan baik dan tak te rasa ke dua mata Thian Ki menjadi basah

Sim Lan Ci sudah menghampiri rumah tetangga te rdekat

Suami isteri petani tua itu menyambutnya di depan pintu dan mereka segera mengenal Sim Lan Ci yang bersama suaminya memang amat dikenal di dusun itu sebagai orangorang yang suka menolong

Dari tetangganya ini Lan Ci mendengar betapa pembantu yang diserahi tugas menjaga rumah telah pulang ke dusunnya sendiri karena te rlalu lama majikannya tidak pulang

Rumah beserta isinya oleh pelayan itu diserahkan kepada Lo Nikouw yang menutup rumah itu

Apakah Lo Nikouw masih tinggal di kuil Thianho-tang?

tanya Lan Ci dengan hati terharu

Suami isteri itu mengangguk

Sim Lan Ci lalu mengucapkan te rima kasih dan bersama keluarganya ia lalu pergi ke luar dusun, ke kuil Thian-ho-tang itu

Senja telah lewat dan cuaca sudah remang ketika mereka tiba di luar kuil Thian-ho-tang

Kuil ini kecil saja, berdiri terpencil di te mpat yang sunyi

Akan tetapi dari luar nampak bahwa kuil itu sudah dipasangi lampu-lampu dan bahkan meja sembahyang di ruangan depan juga dipasangi lilin

Namun suasana di kuil itu nampak sunyi sekali seolah tidak ada penghuninya

Agaknya ibu masih juga tinggal menyendiri di kuil ini, pikir Sim Lan Ci dan iapun berjalan paling depan ketika mereka memasuki kuil

Berhenti!

Tiba-tiba terdengar suara lembut dari dalam kuil

Suara itu le mbut namun berwibawa dan Lan Ci menahan langkahnya, diikuti oleh suaminya dan dua orang anak mereka

Mereka berhenti di ruangan depan, di depan meja sembahyang

Siapakah tamu yang memasuki kuil ini

Beritahukan dulu nama kalian dan apa perlunya datang berkunjung.

Suara itu kembali te rdengar lembut berwibawa dan biarpun singkat, tidak terdengar galak

I bu, aku Lan Ci, anakmu datang berkunjung,

kata Sim Lan Ci dan betapapun keras hati wanita ini, tetap saja ia terharu dan suaranya agak gemetar

Hening sejenak di dalam kuil

Kemudian suara itu terdengar lagi, masih lembut berwibawa

Omitohud......semoga hamba dibebaskan daripada keterikatan! Pin-ni (aku) tidak mempunyai anak

Anak tunggal pin-ni sudah bertahun-tahun meninggalkan pin-ni tanpa kabar, pin-ni menganggap ia sudah mati.......

Nenek...........!

Thian Ki berseru

Omitohud......kau......kau........Thian Ki cucuku!?

Dari dalam muncullah seorang nenek

Ia sudah tua, sedikitnya tujuhpuluh lima tahun usianya, dan mukanya sudah te rhias keriput, terutama di kanan kiri kedua matanya dan di s ekitar mulutnya

Akan te tapi tubuhnya masih te gak dan gesit, sinar matanya masih tajam, pakaiannya bersih dan tangan kanannya memegang sebuah kebutan, tangan kiri memegang seuntai tas beh

Sepasang mata itu ditujukan ke arah Thian Ki, lalu ia menyelipkan kebutan di pinggang, mengantungi tas behnya dan mengembangkan kedua lengannya

Thian Ki cucuku............!

Nenek..........!

Thian Ki lari menghampiri dan nenek itu merangkulnya

Biarpun usianya baru duabelas tahun, tubuh Thian Ki sudah hampir sama dengan neneknya

Dan Nikouw yang kepalanya gundul licin itu menangis, lalu berulang-ulang menyebut nama Sang Buddha

Cucuku.......ah

Thian Ki, betapa rinduku kepadamu

Omitohud......

semoga diampuni kelemahanku ini.....

Kemudian ia te ringat dan mengangkat muka, memandang kepada Sim Lan Ci yang berdiri tak jauh di depannya

Sejenak pandang mata nenek itu mengamati Lan Ci, kemudian te rdengar suaranya yang lembut namun kering dan tegas

Betapa kejamnya engkau! Engkau memisahkan Thian Ki dari pin-ni., pergi tanpa memberi kabar lama sekali sampai bertahun-tahun

Engkau menyiksa hati pin-ni

Begitukah cara seorang anak membalas budi orang tua.!

I bu, ibu tidak tahu apa yang te lah terjadi menimpa diri kami

Ibu sendiri amat te ga, membuat Thian Ki menjadi seorang tok-tong

Ibu telah merusak hidupnya, dan ibu masih dapat mencela aku kejam.?

Omitohud.....siapa bilang aku kejam

Pin-ni menggemble ngnya menjadi tok-tong agar kelak tidak ada orang yang berani mengganggunya, agar dia dapat menjadi orang gagah yang tak te rkalahkan kelak, agar dia merajai di dunia persilatan dan mengangkat nama besar orangorang yang menurunkannya

Neneknya pernah menjadi Ban-tok Mo-li, sudah sepantasnya kalau dia menjadi tok-tong.

Tapi, ibu

Biar pun tidak disengaja, dalam usianya yang baru lima enam tahun dia sudah membunuh banyak orang dengan racun yang berada di tubuhnya!

te riak Lan Ci yang kini menjadi marah karena teringat akan keadaan pute ranya

Lihat, dia sampai tidak berani sembarangan menyentuh orang lain, takut kalau sampai membunuhnya

Bukankah ini berarti ibu menyiksanya!?

Omitohud, semua itu salahmu sendiri, Lan Ci

Kenapa engkau memisahkannya dari pin-ni

Pin-ni belum selesai dengan cucuku ini

Akan pin-ni bimbing dia dan latih dia sehingga racun di tubuhnya hanya akan menjadi senjata kalau diperlukan.

Bagus sekali kalau begitu

Sudah kukatakan bahwa hanya yang membuat dia menjadi tok-tong sajalah yang akan mampu membimbing dia menguasai dirinya.

kata Cian Bu dengan girang mendengar ucapan nenek itu

Lo Nikouw mengangkat muka memandang kepada Cian Bu

Sepasang matanya mencorong ketika ia mengamati pria itu penuh selidik, lalu ia bertanya

Siapa orang ini?

Thian Ki yang menjawab cepat

Nenek, dia adalah guruku, juga a yahku!.

Kini pandang mata nenek itu terbelalak dan ketika ia menoleh ke arah puterinya yang tadi merasa canggung untuk menjawab

Ayahmu......

Apa artinya ini?

Kini Lan Ci sudah dapat menenangkan hatinya dan iapun menghampiri ibunya dan berkata dengan suara tenang

Ibu, dengarlah baik-baik

Ketika kami pergi ke Ta-bun-cung tujuh tahun yang lalu dan berada di markas Hek-houw-pang, di sana terjadi penyerbuan.........musuh-musuh Hekhouw-pang

Tentu saja kami membela dan dalam perte mpuran itu, Coa Siang Lee tewas, di samping ketua He k houw-pang dan banyak tokohnya

Pihak musuh amat kuatnya

Aku sendiri bersama Thian Ki te rtawan musuh dan tentu kami berdua akan celaka atau setidaknya akan menderita kesengsaraan kalau saja kami tidak ditolong oleh...........dia yang kemudian menjadi suamiku! Dia sendiri......seluruh keluarganya, is terinya, semua juga tewas di tangan pasukan pemerintah, dia sendirian, dan aku........kemudian kami menikah.

Lo Nikouw mengerutkan alisnya

Yang membuat ia tidak suka bukan karena pute rinya menikah dengan laki-laki tinggi besar bermuka merah ini

Baginya, tidak perduli ia siapa yang menjadi suami Lan Ci

Akan tetapi ia tidak senang mendengar bahwa Thian Ki menjadi murid pria ini!

Tidak perduli dia menjadi suamimu, akan tetapi bagaimana dia berani lancang menjadi guru Thian Ki

Harus pin-ni lihat dulu apakah pantas dia menjadi guru cucuku!

Berkata demikian nenek itu melepaskan Thian Ki dan sekali kakinya bergerak, seperti memakai sepatu roda saja dengan ringan ia telah bergeser ke depan Cian Bu dan tangannya sudah mencabut kebutannya

Sambutlah ini.!

Tangannya bergerak, te rdengar suaara angin menyambar bersiut dan nampak sinar putih bergulung-gulung ketika kebutan berbulu putih itu menyambar ke arah tubuh Cian Bu dan ujungnya telah mematuk-matuk, merupakan totokan totokan yang amat cepat dan kuat sehingga berbahaya sekali bagi yang diserang

Sim Lan Ci te rkejut bukan main, akan te tapi ia percaya sepenuhnya kepada suaminya

Dia tahu bahwa tingkat kepandaian suaminya tidak kalah dibandingkan ibunya, dan ia sudah menceritakan kepada suaminya tentang keadaan ibunya, tentang ilmu-ilmu yang mengandung racun berbahaya sehingga suaminya tentu akan berhati-hati dan mampu menjaga diri

Dan ia percaya pula bahwa suaminya te ntu tidak akan mencelakai ibunya

Sementara itu, Thian Ki dan Kui Eng hanya menonton

Akan tetapi, kalau Thian Ki hanya bingung melihat ayahnya dan neneknya bertanding, Kui Eng berdiri dengan muka berubah pucat dan bukan dua orang yang bertanding itu yang dipandang, melainkan pandang matanya bergantian menatap wajah Sim Lan Ci dan Thian Ki

Ketika ibu kandungnya te was di tangan pasukan yang mengeroyok, ia masih te rlalu kecil untuk mengingatnya

Yang diingatnya adalah bahwa ibunya adalah Sim Lan Ci, ayahnya adalah Cian Bu dan Thian Ki adalah kakaknya

Itu saja

Akan te tapi percakapan tadi membuat ia pusing tujuh keliling! Agaknya ayahnya berte mu dengan ibunya setelah ibunya menjadi janda dan telah mempunyai anak, yaitu Thian Ki

Dan se perti yang didengarnya tadi, ayahnya juga kematian isterinya

Lalu ia sendiri siapa

Post a Comment