Pria tinggi bes ar itu adalah bekas Pangeran Cian Bu Ong! Selama beberapa tahun ini, semenjak Kerajaan Sui jatuh diganti Kerajaan Tang, kurang le bih sembilan tahun yang lalu, Cian Bu Ong berusaha untuk menegakkan kembali Kerajaan Sui yang te lah jatuh
Namun semua usahanya gagal, bahkan dia yang oleh Kerajaan Tang dianggap pemberontak, menjadi orang buruan
Hidupnya tidak aman, karena dia dikejar-kejar oleh pasukan Tang
Terutama sekali karena yang menjadi panglima adalah pute ra mahkota sendiri, yaitu Pangeran Li Si Bin yang amat cerdik dan pandai, Cian Bu Ong harus menjadi pelarian yang tidak dapat tinggal terlalu lama di suatu tempat
Setelah dia berte mu dengan Sim Lan Ci yang kemudian menjadi isterinya, barulah dia menghentikan usahanya untuk memberontak
Namun, bersama Sim Lan Ci dan putera janda itu, Coa Thian Ki, dan juga pute rinya sendiri, Cian Kui Eng, dia harus selalu berpindah-pindah tempat tinggal, khawatir kalau je jaknya ditemukan para penyelidik Ke rajaan Tang
Cian Bu Ong menganggap Thian Ki sebagai pute ranya sendiri
Dia amat mencinta Sim Lan Ci yang te lah menjadi isterinya dan dia sayang pula kepada Thian Ki karena dia tidak mempunyai anak laki-laki
Anaknya yang tunggal dengan isteri pertama yang te was oleh pasukan Tang adalah seorang perempuan, yaitu Cian Kui Eng yang kini berusia sebelas tahun
Cian Bu Ong menggemble ng kedua orang anak itu, bahkan dia lebih te kun mengajarkan ilmu-ilmunya kepada Thian Ki, karena selain anak ini memiliki bakat yang lebih besar dibandingkan Kui Eng, akan tetapi juga bekas pangeran itu memiliki cita-cita tinggi te rhadap Thia Ki
Dia mengharapkan anak tiri yang sudah dianggap anaknya sendiri itu kelak dapat menjadi orang besar, kalau mungkin di kalangan pemerintahan, kalau tidakpun menjadi tokoh besar di dunia persilatan, agar dapat mengangkat kembali namanya yang te lah jatuh bersama runtuhnya Kerajaan Sui
Baru setelah panglima besar dan pute ra mahkota, yaitu Pangeran Li Si Bin yang menjadi tokoh utama Kerajaan Tang menggantikan ayahnya dan menjadi kaisar (tahun 627) Cian Bu Ong dapat hidup te nang bersama is terinya dan kedua orang anaknya, di sebuah dusun kecil yang te rletak di te mpat yang amat indah pemandangan alamnya, yaitu di te pi Sungai Huang-ho, di kaki Kim San (Bukit Emas)
Setelah Pangeran Li Si Bin menjadi kaisar dan berjuluk Tang Tai Cung, kais ar ini lebih banyak memperhatikan urusan pemerintahan, tidak lagi memikirkan pemberontak-pemberontak buronan yang sudah kehilangan pasukan, seperti halnya Cian Bu Ong yang dianggap tidak berbahaya lagi
Di dusun Ke-cung itu, yang penduduknya hanya puluhan keluarga saja dan semua adalah petani dan nelayan sederhana, Cian Bu Ong mendirikan sebuah rumah besar dan hidup te nang dan tenteram bersama Sim Lan Ci dan kedua orang anak mereka, yaitu Thian Ki dan Kui Eng
Pada pagi hari itu, Thian Ki sudah berlatih silat di bawah pengawasan Cian Bu Ong, ayah tirinya, juga gurunya
Dulu, ketika dia masih hidup bersama ayah kandungnya, mendiang Coa Siang Lee, ayah dan ibunya selalu menekankan perasaan tidak suka akan ilmu silat dan penggunaan kekerasan sehingga biarpun dia menjadi anak suami isteri yang pandai ilmu silat, Thian Ki sendiri tidak pernah mempelajari ilmu silat
Akan tetapi, tanpa diketahui ayah ibunya, neneknya, yaitu Lo Nikouw yang dahulu terkenal dengan julukan Ban-tok Mo-li, telah menggemble ng tubuhnya dengan ramuan racun, sehingga tanpa disadarinya sendiri, Thian Ki telah menjadi seorang tok-tong (anak beracun)
Di luar kehe ndaknya sendiri, dia telah melakukan hal-hal yang akan menggemparkan dunia kangouw kalau diketahui orang, yaitu dia te lah membunuh atau le bih te pat lagi menyebabkan kematian tokoh-tokoh kangouw yang amat lihai seperti Kui bwe Houw Gan Lui, si golok gergaji Thio Ki Lok, pegulat Turki Gulana
Mereka semua te was keracunan karena berani menyerang dan menyentuh tubuh Thian Ki yang sudah penuh dengan hawa beracun yang amat kuat itu! Semula, karena melihat tok-tong inilah maka Cian Bu Ong tertarik
Dia ingin memiliki anak beracun itu untuk membantu gerakannya dan usahanya menegakkan kembali Kerajaan Sui
Akan tetapi setelah dia menikah dengan ibu anak itu, dan melihat bahwa cita-citanya itu tidak akan mungkin te rlaksana karena Kerajaan Tang yang baru semakin kuat, dan untuk berjuang menumbangkan pemerintahan dia harus mempunyai pasukan yang besar sekali, hal yang tidak mungkin dimilikinya, maka diapun membuang cita-cita itu
Kini dia menggemble ng Thian Ki dengan cita-cita lain
Dia ingin anak tirinya yang juga muridnya itu kelak menjadi orang penting, berkedudukan tinggi atau menjadi seorang jagoan nomor satu di dunia kangouw, pendeknya dia ingin agar Thian Ki kelak dapat menjadi te rkenal dan karenanya akan mengangkat tinggi nama besar Pangeran Cian Bu Ong
Oleh karena itu, maka dia menggemble ng Thian Ki dengan amat te kunnya
Anak itu sendiri sekarang juga rajin berlatih dan suka sekali mempelajari ilmu silat
Hal ini merupakan perubahan yang amat besar
Selain ibunya, Sim Lan Ci sekarang tidak lagi melarangnya belajar silat, bahkan ibu inipun mengajarkan ilmu-ilmunya sendiri, juga karena pengalaman-pengalaman yang sudah-sudah merupakan pelajaran bagi Thian Ki, bahwa memiliki kekuatan dan kepandaian silat amat perlu baginya, untuk dapat membela diri dalam hidup ini
Terlalu banyak orang jahat berkeliaran di bumi ini dan amat sukarlah mengharapkan perlindungan dari orang lain
Dalam usia duabelas tahun, Thian Ki sudah mampu berlatih silat di atas bambu-bambu runcing
Hal ini sungguh mengagumkan sekali
Tanpa memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi, sungguh amat berbahaya latihan seperti itu
Namun, Thian Ki sudah dapat berloncatan dengan cekatan di atas bambu-bambu runcing itu
Tentu saja hal ini amat menggembirakan hati Pangeran Cian Bu Ong
Dia sendiri mengakui bahwa dalam usia semuda itu, dia tidak dapat mencapai tingkat seperti yang dimiliki Thian Ki sekarang ini
Dia merasa bangga dan girang sekali melihat kemajuan Thian Ki
Puterinya sendiri, Kui Eng
juga tekun dan cerdas, akan te tapi dibandingkan Thian Ki, anak itu kalah jauh
Apalagi kalau diingat bahwa tubuh Thian Ki beracun, dan keadaan ini saja sudah amat berbahaya bagi lawannya
Lawan yang amat lihai sekalipun akan dapat te was sendiri kalau berani menyentuh tubuh tok-tong, si anak beracun itu
Cian Bu Ong yang bercita-cita tinggi itu bahkan telah memilihkan sebuah nama julukan bagi anak tiri dan muridnya, yaitu Tok-liong (Naga Beracun)!
Thian Ki.
kata bekas pangeran itu berulang kali,
Namamu yang biasa adalah Thian Ki, Cian Thian Ki,
dia memberi tekanan kepada nama keluarga Cian itu
Dia mengakui Thian Ki sebagai anak sendiri, maka dia menekankan kepada anak itu dan ibunya agar menggunakan she (nama keluarga) Cian!
Akan tetapi, di dunia kangouw, tidak perlu engkau memperkenalkan diri sebagai Cian Thian Ki, melainkan Tok-liong-eng (Pendekar Naga Beracun), ha-ha ha.!
Karena ucapan itu berulang-ulang dikatakan gurunya yang juga ayahnya karena dia menyebut ayah kepada gurunya itu, maka sebutan Tok-liong (Naga Beracun) itu mendatangkan kesan di hati Thian Ki dan setelah beberapa tahun dia menganggap Tok-liong sebagai namanya yang ke dua
Apalagi ayah tiri dan ibunya sendiri sering menyebut Tok-liong kepadanya
Baru beberapa bulan Cian Bu Ong tinggal di dusun Ke-cung itu
Setelah mendengar bahwa Kaisar Tang Kao Cu diganti oleh Pangeran Li Si Bin yang kini menjadi Kaisar Tang Tai Cung, baru ia merasa aman dan tinggal di dusun le mbah sungai yang indah itu
Penduduk dusun menyambut keluarga ini dengan gembira
Mereka tidak mengenal siapa keluarga ini dan Cian Bu Ong sudah mengubah namanya menjadi Cian Bu saja
Penduduk hanya menduga bahwa Cian Bu adalah seorang hartawan atau pejabat yang te lah mengundurkan diri dan mencari tempat tinggal yang tenang di dusun itu
Karena keluarga baru ini selain kaya juga ringan tangaa membantu penduduk, maka keluarga ini disambut dengan baik dan Cian Bu dikenal sebagai hartawan Cian, bahkan beberapa bulan kemudian, melihat dia seorang yang kaya dan pandai, luas pengetahuannya dan suka menolong penduduk, puluhan keluarga penghuni dusun Ke-cung segera mengangkatnya menjadi ketua dusun
De mi keamanan, Cian Bu menerima pengangkatan itu, walaupun dalam hatinya dia te rsenyum pahit
Dia, pangeran adik kaisar te rakhir Kerajaan Sui yang bercita-cita menegakkan kembali Kerajaan Sui dimana dia yang akan menjadi kaisar barunya, kini hanya diangkat menjadi ketua dusun.! Inipun dusun yang kecil sekali dan pengangkatan itupun tidak res mi dari pemerintahan
Karena rumah dan pekarangan berikut sebuah kebun dan taman yang luas milik keluarga Cian itu dikelilingi pagar dinding yang tinggi, maka tak seorangpun pernah melihat kalau keluarga itu berlatih silat
Tiga orang pelayan keluarga ini adalah bekas anak buah yang setia dari bekas pangeran itu, dan mereka maklum bahwa mereka tidak boleh membuka rahasia majikan mereka kepada siapapun juga
Selagi Thian Ki berlatih, kini tidak lagi di atas bambu- bambu runcing melainkan di atas tanah di mana dia bersilat dengan amat cepat dan kuatnya, tiba-tiba seorang anak perempuan berusia sebelas tahun datang berlari-lari
Melihat Thian Ki masih bersilat dengan tangan kosong, dengan baju dilepas sehingga tubuh atasnya telanjang dan berkilauan karena keringat, anak perempuan itu mengeluarkan bentakan nyaring dan iapun melompat dengan sigapnya mendekati Thian Ki dan langsung saja menyerangnya dengan jari tangan menotok ke arah tubuh Thian Ki, menyerang jalan-jalan darah secara cepat sekali.! Thian Ki cepat mengelak ke sana sini, lalu meloncat jauh ke belakang
Ketika anak itu yang bukan lain adalah Cian Kui Eng, hendak mengejar dan mendesak, ayahnya membentak
Kui Eng, berhenti!
Anak perempuan itu berhenti menyerang, menoleh kepada ayahnya dan iapun membantingbanting kaki dan merajuk
Aihhh, ayah, aku ingin berlatih dengan kakak Thian Ki, selalu tidak boleh.!
Anak berusia sebelas tahun itu berwajah manis dan bertubuh ramping
Matanya tajam dan galak, mulutnya yang cemberut itu menjadi pemanis yang utama dari wajahnya yang bulat telur
Rambutnya agak keriting, membuat rambut itu nampak tebal
Kui Eng, sudah berulang kali kukatakan kepadamu
Engkau tidak boleh berlatih dengan kakakmu
Itu berbahaya sekali!
kata Cian Bu Ong, atau yang nama barunya Cian Bu saja itu