Halo!

Mutiara Hitam Chapter 128

Memuat...

Melihat sinar mata dari mata kakek itu, Bouw Lek Couwsu cepat berkata.

"Ingat, Lo-mo. Aku tidak menghendaki dia mati"

Siauw-bin Lo-mo mengangguk-angguk. Tentu ia ingat akan hal itu. Kini ia melangkah maju, perlahan-lahan seperti seekor singa menghampiri calon mangsanya.

Talibu yang merasa betapa kedua pundaknya berdenyut-denyut dan membuat kedua lengannya hampir lumpuh menahan nyeri, sudah siap menanti penyerbuannya. Ia maklum bahwa dia bukanlah lawan kakek kurus itu dan bahwa ia harus nekat dan melawan mati-matian untuk mempertaruhkan namanya sebagai putera Ratu Khitan yang terkenal. Apalagi setelah teringat bahwa dia adalah putera kandung Ratu Khitan dan pendekar sakti Suling Emas, keangkuhannya timbul dan ia akan melawan terus sampai titik darah terakhir"

Maka begitu lawannya sudah dekat, Talibu menggigit gigi menghilangkan semua rasa nyeri dan melompat maju, menerjang dengan ketangkasannya yang mengagumkan. Kini Talibu menekuk sebelah lututnya, tangan kiri dikepal menghantam pusar, tangan kanan menghantam disusul cengkeraman ke arah anggauta rahasia lawan. Serangan hebat ini tak mungkin dielakkan lagi, karena pada saat itu tubuh Siauw-bin Lo-mo sudah meloncat maju.

Kakek itu tidak gentar melihat serangan aneh ini. Ia cepat menggerakkan tangannya, menangkis tangan kanan Talibu dan menangkap pergelangan tangan kiri lawan. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba kedua tangan pemuda itu terbuka jari-jarinya dan memapaki tangkisannya dengan totokan-totokan ke arah pergelangan tangan dan ke arah telapak tangannya yang hendak menangkap. Inilah hebat dan berbahaya"

Kakek itu secara tergesa-gesa merobah gerakannya, membatalkan niatnya menangkis dan menangkap, akan tetapi agaknya pemuda itu pun sudah menduga akan hal ini, atau memang jurus ilmu silatnya ini sudah diatur sedemikian rupa sehingga semua perhitungannya tidak meleset. Kiranya totokan-totokan itu pun tidak dilanjutkan, di tengah jalan membalik dan menotok kedua lutut Siauw-bin Lo-mo. Untuk keperluan inilah agaknya maka pemuda itu memasang kuda-kuda sambil berlutut sebelah kaki.

"Haya.."

Siauw-bin Lo-mo berteriak kaget. Ia dapat menyelamatkan kaki kanannya akan tetapi kaki kirinya tetap saja kena ditotok lututnya sehingga lumpuh seketika. Baiknya ia amat lihai sehingga dengan sebelah kaki ia dapat meloncat mundur sampai tiga meter jauhnya. Di dalam hati ia harus mengakui bahwa selama hidupnya baru sekali ini ia bertemu jurus-jurus ilmu silat yang amat luar biasa. Tiga kali pemuda itu menggunakan jurus-jurus itu, dan tiga kali pula ia "termakan."

Kalau pemuda ini lebih mahir dan menyempurnakan ilmu itu selama lima sampai sepuluh tahun saja, tentu ia akan terpukul roboh. Kekagetannya mendatangkan kemarahan yang berkobar.

Talibu yang melihat bahwa jurusnya berhasil melukai kaki kiri lawan, menjadi besar hati dan menyerbu dengan hati girang. Dengan sebelah kaki tertotok lumpuh, kelihaian Siauw-bin Lo-mo tidak banyak berkurang. Inilah kesalahan Talibu yang mengira bahwa lawannya sudah tak berdaya lalu maju menyerbu dengan terjangan ganas, tidak lagi menggunakan jurus-jurus Cap-sha-sin-kun yang sama sekali belum dikenal lawan. Kini ia menerjang dengan pukulan-pukulan keras susul-menyusul. Akan tetapi tiba-tiba Siauw-bin Lo-mo tertawa, tubuhnya merendah dan sebelum Talibu dapat mencegahnya, sebuah tamparan mengenai

"Plakk.., Aduuuuuhhh.."

Tubuh Talibu terguling, lambungnya sakit sekali rasanya, seakan-akan isi perutnya dibakar. Ia berusaha meloncat bangun akan tetapi kembali tangan Siauw-bin Lo-mo menampar yang tepat mengenai sebelah kanan lehernya. Seketika pandang matanya berkunang-kunang, kepalanya pening, kemudian pandang matanya menjadi merah gelap. Telinganya masih dapat menangkap suara Bouw Lek Couwsu.

"Lo-mo, jangan bunuh dia.."

"Jangan khawatir, Couwsu"

Jawab Siauw-bin Lo-mo yang kembali menampar, kali ini mengenai tengkuk Talibu. Pangeran ini masih mendengar suara ketawa lawannya yang amat menusuk perasaan sebelum tamparan itu datang dan dunia menjadi hitam di sekelilingnya.

Kota raja Kerajaan Sung kelihatan aman tenteram. Para pedagang dan pelancong dari luar kota memenuhi kota raja. Rumah-rumah para pembesar dan bangsawan selalu kelihatan gembira dan megah. Pesta-pesta diramaikan bermacam kesenian silih berganti diadakan di halaman gedung-gedung yang luas. Di setiap taman bunga yang terawat indah selalu dihias arca-arca batu dengan ukir-ukiran yang amat indah dan semua ruangan tamu dalam gedung-gedung itu penuh lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan hias melukiskan sajak-sajak indah. Banyak pemuda-pemuda dengan pakaian pelajar berjalan hilir-mudik memenuhi jalan-jalan raya. Pendeknya sepintas lalu melihat keadaan kota raja ini orang akan mendapat kesan bahwa penduduknya menikmati hidup aman tenteram dan bersuka ria, berlumba dalam keindahan dan kemajuan seni budaya.

Memang demikianlah yang dikehendaki Kaisar. Pada waktu itu, Kaisar Kerajaan Sung lebih mengutamakan kesenangan untuk diri pribadi dan untuk semua rakyatnya, lebih condong untuk memajukan kebudayaan, sedapat mungkin menjauhi perang karena Kaisar pribadi tidak suka akan kekerasan. Memang niatnya baik sekali, akan tetapi sayangnya Sang Kaisar lupa bahwa untuk menjamin semua keamanan dan ketenteraman ini amatlah diperlukan penjagaan dan untuk menjamin penjagaan yang dapat diandalkan mutlak diperlukan bala tentara yang kuat. Apalagi kalau diingat bahwa Kerajaan Sung dikelilingi bangsa lain yang selalu mengincar untuk mencaploknya. Para bangsawan yang kaya raya itu seakan berlumba mengadakan pesta terbuka di mana siapa saja boleh datang menikmati hidangan dan menonton pertunjukan kesenian. Mereka berlumba melakukan derma dan perbuatan baik, karena Kaisar menganjurkan perbuatan amal dan kebaikan.

Hanya mereka sendirilah yang tahu bahwa amal ini bukan keluar dari lubuk hati sendiri, melainkan merupakan siasat untuk membedaki muka mereka yang hitam, oleh korupsi agar menjadi putih bersih. Dan memang siasat seperti ini banyak berhasil. Bukan saja atasan dan Kaisar senang dengan kedermawanan mereka, juga rakyat kecil yang diberi kesempatan ikut berpesta dan makan serta menonton gratis itu banyak yang merasa bersyukur atas kedermawanan pembesar-pembesar dan bangsawan-bangsawan kota raja. Bahkan pandang mata orang-orang kang-ouw yang biasanya tajam dapat pula dikelabuhi karena terlampau sering mereka ini minum arak wangi dan hidangan-hidangan lezat. Pagi hari itu, pagi hari yang cerah, sebuah pesta diadakan di sebuah taman bunga gedung Pangeran Kiang.

Gedung besar dengan taman bunga yang luas dan indah ini adalah sebuah di antara gedung-gedung besar yang paling terkenal di kota raja. Siapakah yang tidak mengenal keluarga Kiang ini? Bukan Pangeran Kiang yang kaya raya ini yang banyak dikenal orang, melainkan puteranya, yaitu Kiang-kongcu (Tuan Muda Kiang), sebutan untuk Kiang Liong. Semua orang mengenal Kiang-kongcu. Orang-orang gagah di dunia kang-ouw mengenalnya karena sepak terjangnya yang gagah dan lihai, apalagi karena dia adalah murid pendekar sakti Suling Emas. Penjahat-penjahat mengenalnya karena takut. Penjilat-penjilat mengenalnya karena tangannya selalu terbuka. Pemuda-pemuda mengenalnya karena ia ramah dan pandai bergaul. Bahkan wanita-wanita mengenalnya karena ketampanannya dan sifatnya yang romantis sehingga banyak yang jatuh hati kepadanya.

Dan pagi hari itu, pesta meriah diadakan di taman bunga rumah keluarga Pangeran Kiang ini. Untuk keperluan apa? Kiang-kongcu tidak tampak berada di rumah. Juga Pangeran Kiang dan isterinya yang sudah berusia lanjut dan tidak bernafsu lagi untuk main pesta-pestaan, tidak hadir. Sebagai wakil tuan rumah adalah seorang pemuda yang pakaiannya mewah dan indah dan memang pesta ini diadakan untuk menyambut kedatangannya di gedung itu. Dia bernama Suma Kiat dan kepada para tamu ia diperkenalkan oleh Pangeran Kiang sebagai anak keponakan Nyonya Kiang yang baru datang berkunjung setelah berpisah belasan tahun. Padahal sesungguhnya baru pertama kali itu selama hidupnya pemuda ini muncul dan mengaku sebagai putera tunggal mendiang Suma Boan, kakak dari Nyonya Kiang. Muncul begitu saja, akan tetapi isterinya, yaitu Nyonya Kiang, tidak ragu-ragu lagi bahwa pemuda yang mengaku bernama Suma Kiat ini benar-benar putera mendiang kakaknya, karena mempunyai persamaan wajah yang tidak dapat diragukan lagi.

"Engkau benar, keponakanku.., engkau tentu putera mendiang Kakakku.., ah, melihatmu seperti melihat dia dahulu.."

Demikianlah Suma Ceng, isteri Pangeran Kiang, merangkul dan menangis. Dan demikianlah, pesta meriah di taman bunga diadakan untuk menghormat kedatangan pemuda ini dan untuk memperkenalkannya kepada semua orang. Seperti biasanya, jika ada kesempatan baik seperti ini, banyak pula para anggauta kai-pang (perkumpulan pengemis) yang datang dan mereka duduk berkelompok menyendiri, menikmati hidangan lezat dan arak wangi.

Banyak di antara para tokoh kai-pang ini adalah kenalan baik Kiang-kongcu karena mereka ini sesungguhnya bukanlah orang-orang jembel biasa, melainkan ahli-ahli silat yang berkeliaran di dunia kang-ouw sebagai pengemis. Bahkan dalam pesta di kebun kembang Pangeran Kiang ini, banyak orang-orang aneh sahabat Kiang-kongcu muncul sehingga tidak mengherankan apabila tempat pesta itu didatangi orang-orang yang tidak semestinya ikut berpesta, yaitu beberapa orang hwesio gundul dan tosu-tosu pertapa"

Semua orang aneh ini datang hanya karena pesta diadakan di kebun Kiang-kongcu. Dan bukan hal yang aneh lagi kalau ada pula beberapa orang wanita cantik muncul dalam pesta. Bukan wanita-wanita cantik sembarangan, melainkan ahli-ahli silat pula yang menjadi sahabat Kiang-kongcu. Dua orang enci adik Chi, dan tiga orang murid perguruan Ang-lian (Teratai Merah) yang amat terkenal di kota raja.

Lima orang wanita ini berusia antara dua puluh sampai tiga puluh tahun, berpakaian ringkas, tampak gagah namun tidak melenyapkan kecantikan mereka. Semua sahabat wanita Kiang-kongcu sudah dapat dipastikan cantik-cantik. Tentu saja mereka berlima memilih sebuah meja dan menjadi sekelompok, akan tetapi alangkah kecewa hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa Kiang-kongcu tidak hadir. Sebetulnya mereka hendak mempergunakan kesempatan ini untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan orang yang selama ini menjadi buah mimpi, ingin melepaskan rindu. Kekecewaan mereka hanya sebentar karena sebagai pengganti Kiang-kongcu, di situ terdapat Suma-kongcu atau Suma Kiat yang ternyata dalam hal keramahan dan kepandaian bermanis muka dan memikat hati wanita tidak kalah lihai daripada Kiang-kongcu.

Suma-kongcu ini segera duduk di meja kelompok gadis-gadis ini dan terjadilah percakapan yang asyik dan gembira. Apalagi ketika lima orang gadis itu mendengar bahwa Kongcu ini juga seorang ahli silat yang pandai sekali. Ternganga mulut mereka menyaksikan ketika Suma Kiat menggenggam cawan arak, mengerahkan sinkang dan membuat arak di dalam cawan itu panas beruap dan mendidih"

Biarpun wajah Suma Kiat tidak setampan Kiang-kongcu, namun harus diakui bahwa dia termasuk seorang pemuda yang berlagak dan tidak berwajah buruk. Adapun delapan orang pengemis yang menduduki sekitar meja di sudut adalah para pengemis yang tergolong gagah perkasa. Pengemis golongan sesat tidak berniat mendekati Kiang-kongcu yang mereka anggap sebagai seorang musuh.

Bukankah Kiang-kongcu murid Suling Emas yang menjadi musuh besar pengemis golongan sesat? Delapan orang pengemis yang kini berkumpul di situ adalah pengemis-pengemis golongan baju butut, bahkan di antara mereka terdapat seorang pengemis muda yang memegang sebuah topi butut berhias kembang. Pengemis muda belia yang tampan dan gagah. Dia ini bukan lain adalah Yu Siang Ki, atau Yu-pangcu (Ketua Yu) yang dihormati tujuh orang pengemis lainnya karena dikenal sebagai ketua baru perkumpulan Khong-sim Kai-pang. Yu Siang Ki yang datang bersama Kwi Lan di kota raja segera berpisah dari dara yang dianggap sebagai adik angkatnya ini, kemudian ia menemui tokoh-tokoh pengemis di kota raja. Ketika mendengar bahwa Ketua Khong-sim Kai-pang ini berniat mencari Suling Emas, para tokoh pengemis segera berunding.

"Yu-pangcu, pendekar sakti Suling Emas adalah seorang sahabat dan semenjak dahulu kami menghormat dan mencintanya. Akan tetapi sayang sekali, tak seorang pun dapat mengatakan di mana dapat bertemu dengan pendekar itu. Dia datang dan pergi seperti dewa, tak pernah meninggalkan jejak. Bahkan sudah bertahun-tahun tidak pernah orang melihatnya. Akan tetapi, yang sudah nyata di kota raja ini terdapat seorang muridnya yang lihai."

Kata Pek-tung Lo-kai (Pengemis Tongkat Putih).

"Apakah Lo-kai maksudkan Kiang-kongcu?"

"Ha-ha, nama besar Kiang-kongcu sudah terkenal sampai jauh."

"Bukan hanya mengenal namanya, Lokai malah secara kebetulan sekali saya sudah mendapat kehormatan berjumpa dengan Kiang-kongcu."

"Ah, begitukah? Kebetulan sekali. Kami mendengar bahwa di taman bunga Pangeran Kiang akan mengadakan pesta umum. Marilah Yu-pangcu ikut bersama kami hadir di pesta itu. Kalau ada jodoh bertemu Kiang-kongcu, agaknya dia akan dapat menerangkan di mana Pangcu dapat bertemu dengan Suling Emas."

Demikianlah, pagi hari itu, Yu Siang Ki hadir bersama tujuh orang tokoh pengemis kota raja. Akan tetapi alangkah kecewa hatinya ketika ia tidak melihat Kiang Liong dan mendengar bahwa pesta itu sengaja diadakan oleh keluarga Pangeran Kiang untuk menyambut kedatangan seorang keponakan mereka yang bersama Suma Kiat. Makin besar rasa kecewa dan ketidaksenangan hati Yu Siang Ki ketika ia menyaksikan lagak Suma-kongcu itu, yang duduk menjamu kelompok wanita-wanita cantik yang genit-genit dan mendemonstrasikan kepandaiannya, seperti main sulap membuat arak dalam cawan bergolak, melihat pemuda berpakaian indah itu petantang-petenteng dengan sombongnya ketika dipuji-puji tamu.

Post a Comment