Halo!

Mutiara Hitam Chapter 104

Memuat...
ID
ID
ID

"Untung kau datang tepat pada waktunya, Liong-twako."

Kata Siang Kui dengan suara terharu.

"Terima kasih, Twako. Mari sekarang kita hajar sampai mampus monyet-monyet gundul itu"

Seru Siang Hui penuh kemarahan. Kiang Liong menoleh menghadapi mereka. Mendengar ucapan mereka, melihat sikap dan keadaan mereka, hatinya lega. Ia maklum bahwa kedatangannya belum terlambat.

"Siauw-moi, jangan bicara tentang menghajar mereka. Jumlah mereka banyak sekali, yang paling penting sekarang, di mana adanya Han Ki adik kalian?"

Barulah enci adik itu teringat dan mereka menjadi bingung.

"Kami berdua begitu terculik, selalu dikeram ke dalam kamar ini dan tak seorang pun di antara pelayan ada yang mau membuka mulut memberi tahu di mana adanya Han Ki. Mari kita cari."

Kata Siang Kui penuh semangat.

Kiang Liong menggeleng kepala, lalu menarik tangan mereka keluar dari dalam kamar itu, terus ke ruang depan. Di ruangan ini terdapat rak senjata dan ia menyuruh kakak beradik itu memilih senjata. Siang Kui dan Siang Hui memilih sebatang pedang dan begitu tangan mereka memegang senjata, dua orang nona ini kelihatan bersemangat sekali. Mereka sudah gatal tangan untuk mengamuk dan mengadu nyawa dengan orang yang telah membasmi keluarga mereka dan bahkan telah menculik mereka, nyaris membunuh mereka. Melihat sikap ini, Kiang Liong berbisik.

"Lekas kalian lari dari sini, ambil jalan dari kiri bangunan ini. Di sana ada sebatang pohon, kalian loncati pagar tembok melalui pohon itu dan melarikan diri keluar. Aku akan mencari Han Ki baru menyusul kemudian.."

"Mana bisa begini?"

Siang Hui mencela.

"Aku tidak mau lari, aku akan mengadu nyawa dengan monyet-monyet gundul itu"

"Biarkan kami berdua membantumu, Twako."

Siang Kui juga berkata nadanya mendesak.

"Ji-wi Siauw-moi harap jangan salah mengerti. Keadaan di sini berbahaya sekali dan amat kuat. Kalau tidak kebetulan ada musuh menyerbu sehingga semua tokoh di sini terpancing keluar, aku sendiri agaknya belum tentu dapat menolong kalian dengan mudah. Kalau Han Ki sudah dapat kutolong tentu aku ikut melarikan diri bersama kalian. Akan tetapi sekarang aku harus mencari Han Ki lebih dulu."

"Justeru untuk adik kami itu kami harus bantu, kalau perlu dengan taruhan nyawa"

Kata Siang Hui. Kiang Liong habis sabar.

"Kalian harus mengerti, kepandaian mereka hebat, aku sendiri belum tentu dapat menang menandingi mereka, masih harus melindungi kalian, berarti kita semua berempat akan binasa semua."

"Kami tidak takut mati"

Siang Kui dan Siang Hui berseru saling mendahului. Kiang Liong melotot.

"Kalau aku bekerja sendirian, lebih besar harapan dapat menolong adikmu. Kalian hendak menggangguku? Ingin semua ditangkap dan semua mati sehingga tidak akan ada orang yang membalas kematian Ayah Bunda kalian? Masih tidak cepat-cepat pergi?"

Dua orang gadis itu seketika menjadi pucat wajahnya, saling pandang kemudian bagaikan dua ekor ayam digebah, mereka meloncat keluar dan menghilang di dalam gelap. Hanya terdengar mereka meninggalkan isak tertahan. Kiang Liong tersenyum geli.

"Dasar puteri-puteri Paman Bu Sin gagah perkasa dan berani mati."

Ia memuji, hatinya perih teringat akan kematian Kam Bu Sin dan Isterinya yang begitu menyedihkan. Segera ia teringat akan Kam Han Ki, maka cepat ia menyelinap keluar dari bangunan besar itu dan mendatangi para pelayan wanita yang berkumpul di sebuah ruangan dengan tubuh menggigil dan muka pucat.

"Aku tidak akan ganggu kalian. Akan tetapi kalian harap memberi tahu, di mana adanya Kam Han Ki, anak laki-laki kecil yang diculik dan dibawa ke sini sebagai tawanan"

Setelah ribut bicara sendiri akhirnya seorang pelayan berkata.

"Kami tidak tahu orang gagah. Yang menahannya adalah Siang-mou Sin-ni.."

"Di mana kamar Siang-mou Sin-ni?"

Pelayan itu hanya dapat menudingkan telunjuknya pada bangunan sebelah kanan bangunan besar itu. Tampak bayangan putih berkelebat dan pemuda baju putih itu sudah lenyap dari depan mata mereka. Para pelayan itu cepat berlutut dan saling peluk penuh rasa takut. Akan tetapi dua orang di antara mereka lalu berlari keluar, biarpun kaki mereka menggigil namun akhirnya mereka sampai juga ke tempat penjaga. Di sini dengan suara terputus-putus mereka lalu menceritakan tentang serbuan pemuda pakaian putih.

Ributlah para penjaga, dan para pendeta jubah merah lalu membunyikan tanda tiupan tanduk untuk memberi tahu para tokoh yang sedang turun puncak menghadapi lawan. Sebagian pula dengan senjata di tangan lalu menyerbu, lari ke arah bangunan yang menjadi tempat tinggal Siang-mou Sin-ni. Kiang Liong yang berhasil memasuki tempat tinggal Siang-mou Sin-ni, kaget mendengar suara tiupan tanduk itu. Ia maklum bahwa bahaya mengancamnya, bahwa suara itu merupakan tanda bahaya dan persiapan pihak lawan. Ia harus segera menemukan Han Ki. Rumah itu kosong, agaknya para pelayan sudah lari keluar. Ia cepat menuju ke belakang. Biasanya, tempat tawanan adalah di bagian belakang. Kamar-kamar di belakang dimasukinya, yang pintunya tertutup didobraknya, namun ia tidak dapat menemukan anak itu.

"Han Ki.., Kam Han Ki.."

Teriakan panggilan berkali-kali ini menggema di sekitar puncak karena suara Kiang Liong didorong oleh khi-kang yang amat kuat. Namun tidak ada jawaban. Tentu saja Han Ki tak dapat menjawab karena pada saat itu Han Ki menggeletak di dalam kamar Siang-mou Sin-ni dalam keadaan pingsan. Suara tapak kaki banyak orang menyatakan bahwa rumah itu telah terkurung. Ia lalu melayang keluar dari dalam rumah melalui jendela. Dalam sekejap mata, belasan buah senjata tajam menyambutnya seperti hujan.

"Trang-trang-trang.."

Suara pertemuan senjata nyaring ini disusul robohnya lima orang pengeroyok sekaligus. Ketika meloncat keluar tadi ia telah mencabut, keluar sepasang senjatanya yang aneh, yaitu sepasang pensil. Dengan tubuh masih melayang dapat menangkis dan sekaligus merobohkan lima orang pengeroyok, dapat dibayangkan betapa lihainya pemuda ini. Akan tetapi jumlah pengeroyok makin bertambah.

Orang-orang Hsi-hsia sungguh pun tidak memiliki ilmu silat yang tinggi, namun mereka adalah orang-orang peperangan yang ulet dan berani, lagi pula amat kuat sehingga robohnya banyak kawan tidak mengecilkan hati mereka yang terus mengamuk dan mengeroyok. Jumlah mereka yang puluhan orang banyaknya ini diperkuat oleh belasan orang hwesio jubah merah yang memiliki ilmu silat cukup lihai karena mereka ini adalah kaki tangan, juga murid Bouw Lek Couwsu. Hebat sekali amukan Kiang Liong. Dalam waktu setengah jam lebih, tidak kurang dari dua puluh orang Hsi-hsia roboh tak dapat bangun lagi ditambah tujuh orang pendeta jubah merah roboh terluka. Ia tidak akan melarikan diri sebelum dapat menolong Han Ki. Sepasang siang-pit (pensil) di tangannya menjadi dua gulungan sinar memanjang seperti dua ekor ular sakti saling belit dan melayang-layang di angkasa.

"Tahan senjata, mundur semua.."

Tiba-tiba terdengar suara yang amat nyaring berpengaruh, Kiang Liong tidak mengenal suara ini, akan tetapi semua pengeroyok seketika meloncat mundur sambil menarik senjata masing-masing, bahkan lalu mundur dan berdiri menjadi dua barisan dengan sikap menghormat.

Karena menduga bahwa kini yang muncul tentulah Bouw Lek Couwsu yang terkenal sakti bersama Siang-mou Sin-ni yang kesaktiannya pernah ia dengar dari suhunya, maka Kiang Liong memegang sepasang senjatanya erat-erat, pandang mata ditujukan ke depan, seluruh urat syarafnya siap menghadapi lawan tangguh. Di bawah sinar obor yang dipegang kedua barisan berjajar di kanan kiri, tampaklah kini seorang pendeta gundul berkaki satu yang berjubah merah. Biarpun kaki kirinya buntung, namun dengan bantuan tongkat, ia dapat berjalan dengan tegak dan cepat sekali. Di samping hwesio ini berjalan seorang wanita cantik yang berambut panjang.

"Bagus. Engkau tentulah Bouw Lek Couwsu dan Siang-mou Sin-ni, iblis tua jantan betina yang amat keji"

Kiang Liong membentak marah sekali. Bouw Lek Couwsu membelalakkan matanya. Kalau seorang tokoh benar seperti Siauw-bin Lo-mo yang terkenal sakti masih jerih terhadap dirinya, bagaimana ada seorang pemuda seperti ini berani memaki dia dan Siang-mou Sin-ni? Dan menyaksikan pengeroyokan tadi, Melihat banyaknya murid-murid dan orang-orang Hsi-hsia roboh, benar-benar pemuda ini luar blasa sekali. Keheranannya melampaui kemarahannya ketika ia bertanya.

"Orang muda yang tak takut mati, engkau siapakah?"

Dengan sikap tenang pemuda itu menjawab,

"Aku she Kiang bernama Liong. Karena engkau melakukan kebiadaban di kalangan Beng-kauw dan menculik wanita dan kanak-kanak, maka aku datang untuk menghadapimu. Bouw Lek Couwsu, hayo kau bebaskan Kam Han Ki, anak kecil itu tidak tahu apa-apa"

Bouw Lek Couwsu mengangguk-anggukkan kepala sambil meraba kepalanya yang gundul.

"Aih-aih.. pantas kau seberani ini. Kiranya engkau inikah yang bernama Kiang-kongcu, putera Pangeran Sung yang terkenal sebagai murid Suling Emas?"

Tiba-tiba Siang-mou Sin-ni melompat ke depan dan tertawa, suara ketawanya melengking tinggi menyeramkan, sungguhpun wajahnya menjadi menarik sekali ketika tertawa, karena tampak giginya berderet rapi dan putih berkilauan di balik bibir merah, cuping hidungnya berkembang kempis dan matanya menyinarkan api.

Post a Comment