Halo!

Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Chapter 26

Memuat...

Pengumuman itu disambut sorak-sorai yang ramai. Setelah sirap suara orang banyak itu, sang ketua lantas tanya Bun Siu bagaimana akalnya untuk membekuk semua penjahat

Bun Siu menuding kepada Goan Liong.

"Dialah si kepala penjahat!" sahutnya. "Coba geledah padanya, mungkin dia menyimpan peta bumi atau petanya istana ini.”

Tanpa diperintah lagi, Supu maju.

Hok Goan Liong sudah tidak berdaya akan tetapi dia murka sekali, dia mementang matanya dan membuka mulutnya mencaci.

Bangsa Kazakh menghormati orang bernyali besar, mereka kewalahan.

"Peta itu telah kita bakar!" kata Goan Liong nyaring. "Kamu, kawanan anjing Kazakh, jikalau nyalimu besar, kamu terjanglah istana ini! Mari kita bertempur! Untuk mendapatkan peta, jangan harap!"

Perkataan berandal ini benar. Supu menggeledah tanpa hasil.

"Sekarang begini," berkata Bun Siu. "Semua orang berdiam di sini, kita mendirikan tenda. Sejumlah orang harus pulang guna mengambil rangsum dan lainnya keperluan. Di depan istana kita menggali liang perangkap serta tambang-tambang kalakan. Kita menanti sampai kawanan penjahat kelaparan, mesti mereka keluar. Paling lama mereka dapat bertahan delapan atau sepuluh, hari. Jikalau mereka keluar, kita bekuk satu demi satu. Dengan begitu tidak usah kita menempuh bahaya dengan menyerbu ke dalam istana."

Pikiran ini baik, sang ketua menerimanya dengan girang. Bahkan ia lantas bekerja. Rombongan ketiga diperintah pulang, buat mengambil rangsum, dan yang lainnya terus bekerja, memasang tenda dan menggali liang jebakan yang lebar dan dalamnya rata-rata lima tombak, atasnya ditutup dengan rumput yang ditutup pula dengan salju. Mata-mata pun dipasang.

Selang lima hari, rombongan ketiga kembali dengan rangsum berikut kerbau dan kambing hidup.

Dugaannya Bun Siu tepat. Lagi dua hari, kawanan penjahat muncul saling susul. Benar-benar mereka tak tahan lapar. Mereka kelaparan hingga kepala mereka pusing, maka mereka kabur, tenaga mereka habis. Mereka terjeblos ke dalam liang perangkap di mana mereka dibekuk tanpa perlawanan. Hanyalah, ketika penjahat yang terakhir muncul, dia tidak diikuti Tan Tat Hian.

"Ke mana dia pergi?" tanya Bun Siu kepada setiap penjahat "Entahlah," dia mendapat jawaban. "Kita tak melihat dia selama beberapa hari yang paling belakang. Mungkin dia terbinasa di perangkap dalam istana."

Keterangan itu tidak lantas di percaya. Sang ketua masih bersabar menanti lagi dua hari. Habis itu barulah ia berlega hati

"Sekarang mari kita masuk ke istana," katanya, la mengajak orang untuk mengambil harta besar itu.

Bun Siu sendiri memikirkan Kee Loojin. Sudah beberapa kali ia memasuki istana, tidak juga ia dapat menemui orang tua itu. Ia jadi sangat berkuatir si orang tua telah roboh di tangan jahat dari Tat Hian. Tentu sekali sukar ia melupai budi orang tua itu, yang ia telah pandang sebagai kakeknya sendiri. Ia telah menanyakan beberapa penjahat, semua menerangkan tidak pernah melihat orang tua yang bertubuh bongkok bagaikan unta itu..

Yang aneh untuk nona Lie ini yang juga ia buat pikiran, ialah lenyapnya Hoa Hui, gurunya. Guru itu bilang tidak keruan paran. Pernah Bun Siu pergi ke tempat kediamannya, di sana dia tidak kedapatan. Pula tidak ada tanda-tanda bahwa guru itu pernah pulang.

Orang-orang Kazakh itu lebih dulu mengurus mayatnya orang-orang bangsanya serta mayat-mayat si penjabat, selesainya itu baru mereka mengangkut harta karun itu. Ketiga ketua mereka telah memutuskan, semua orang memperoleh hak sama rata. Artinya, mereka tidak boleh berebutan. Keluarga kurban jiwa mendapatkan bagian dua lipat

Selagi orang mengambil harta, Supu melihat Lie Bun Siu diam saja di pinggiran, la lantas membawa sekantung harta dan meletakinya di depan orang.

"Saudara Lie," katanya, "ketua kami membilang, tanpa pertolongan kau, kami semua pasti membuang jiwa di sini, maka itu ia mengatakan, kau boleh mengambil harta ini sesukamu, umpama kata kau tidak dapat mengangkutnya, nanti kami menolong kau membawanya."

Bun Siu menggelengkan kepala.

"Aku tidak menghendaki emas dan perak serta mutiara," sahutnya.

"Kau menginginkan apa, nanti aku pergi mengambilkan," berkata Supu.

"Yang aku kehendaki, itu tak terdapatkan. Yang aku dapatkan, aku tidak menghendakinya,” berkata Bun Siu. Dan ia menuntun kudanya. "Sekarang aku mau pergi...”

"Jangan, jangan, saudara Lie!” berkata Supu. "Kau mesti mengambil sesuatu! Barang apa itu yang kau tidak mendapatkannya?"

"Itulah kejadian yang telah lama. Yang aku kehendaki itu ialah sehelai kulit serigala." Tadinya Supu masgul, tetapi mendengar kata-kata orang, air mukanya menjadi terang.

"Kulit serigala?" katanya, gembira. "Itulah gampang sekali.

Nanti aku mengambilkan sepuluh helai untukmu!" "Hanya sekarang ini aku tidak menghendaki itu..."

Kembali orang Kazakh itu menjadi heran, hingga ia menggaruk-garuk kepala. Ia menganggap orang aneh sekali.

Mau, tidak mau-tidak mau, mau. Habis bagaimana? Maka ia membuka kantungnya, memperlihatkan isinya, semua mutiara bergemerlapan.

"Nah, ambillah apa saja!" bilangnya

Lie Bun Siu mengawasi harta besar itu, ia menjumput sepotong gelang kumala yang kecil.

"Biarlah aku ambil ini saja," bilangnya. Ia berhenti sebentar, untuk menambahkan: "Dulu juga aku mempunyai sepotong gelang semacam ini, gelang itu aku telah berikan kepada seorang, yang telah membikinnya pecah hancur, hingga sekarang ini lenyaplah!"

Ia masuki gelang itu ke lengannya, terus ia melarikan kudanya.

Supu heran. Ia menggaruk kepalanya pula. Ia bengong mengawasi punggung orang sampai orang tak nampak lagi.

Lewat beberapa hari, selesai sudah orang-orang Kazakh mengangkut harta karun, lantas mereka berangkat pulang. Mereka menyembelih kerbau dan kambing, untuk membikin pesta besar. Itu waktu salju sudah lumer, maka di padang rumput mereka menyalakan unggun. Terutama rombongan muda-mudi, gembiranya luar biasa. Cuma Aman yang berada bersendirian.

"Aman," kata si ketua, yang menghampirkannya, "kau sebatang kara, baiklah kau menikah sama Supu." "Apa, Supu?" Aman kata. "Dia telah membunuh ayahku!

Mana dapat aku menikah padanya?"

"Memang benar dia telah membunuh ayahmu akan tetapi kemudian dia telah menolong kau dan kita semua,” berkata si ketua, membujuk. "Kejadian itu ialah kehendak Allah junjungan kita dan sekarang permusuhan hendaknya dibikin habis.”

"Jadi bapak membilang itulah kehendak Junjungan kita?" Aman tanya.

"Benar.”

"Bapak... Sebenarnya aku menyukai Supu, tetapi, tetapi, dia telah membunuh ayahku, hatiku jadi... aku selalu penasaran terhadapnya... Kalau peristiwa benar ada kehendak Junjungan kita, kalau aku mesti menikah pada Supu, itu baru bisa terjadi setelah satu pertandingan besar dan tak ada orang lain yang dapat mengalahkannya. ..”

Ketua itu tertawa bergelak. "Jadi kau menghendaki diadakan satu pertandingan besar, untuk melihat siapa yang paling kosen?"

"Untuk itu aku hendak bersembahyang dahulu kepada Allah Yang Maha Kuasa," berkata Aman. "Jikalau Junjungan kita dapat mengampuni dia, dia bakat menjadi si pemenang, jikalau tidak, dia bakal kena dikalahkan, dengan begitu, tidak dapat aku menikah dengannya."

"Bagusi” memuji si ketua. "Kau percaya kepada Junjungan kita, itulah bagus sekail Pasti Junjungan kita akan memilihkanmu seorang suami jempolan."

Justeru orang-orang bangsanya itu lagi berkumpul, ketua ini berbangkit menghadap mereka, untuk menepuk tangan tiga kali.

Dengan serempak, semua orang berdiam, mengawasi dan mendengari. Ketua itu mengawasi semua orang, ia berkata: "Kita telah mendapatkan istana rahasia, kita berhasil mendapatkan harta besar serta membekuk juga musuh-musuh kita, dalam pada itu, orang yang paling berjasa ialah lima orang. Pertama-tama saudara Lie si orang Han. Sayang dia tidak ada di sini. Yang kedua ialah Suruke dan Cherku. Sayang sekali, mereka berdua telah menutup mata di dalam istana Yang dua lagi ialah Supu dan Aman. Jasa Supu sangat besar, sayang ia telah membunuh Cherku, hingga jasanya itu mesti dipakai menebus dosanya. Karena itu sekarang tinggal Aman satu orang. Bagaimana kita harus menghargai jasanya Aman ini?"

"Baiklah dia mendapatkan mutiara dua lipat!" seorang usulkan.

"Tambahkan dia dua puluh ekor kerbau serta seratus ekor kambing!" kata yang lain.

"Boleh kita memberikannya pula lima puluh pikul bulu kambing!" yang lainnya lagi memberi pikiran.

Si ketua menggoyangi tangan, ia tertawa riang,

"Tidak, tidak tepat!" katanya. "Aman tidak menghendaki kerbau dan kambing atau bulu kambing! Mutiara pun ia telah mempunyai banyak! Habis, dia membutuhkan apa? Dia masih belum menikah, maka perlulah kita mencarikan dia seorang suami!"

Semua orang girang sekali, semuanya bersorak.

"Akur! Akur!" seru mereka. "Mari kita mencarikan suami jempol untuk Aman!"

Hati Supu berdebaran. Semenjak mereka pulang, tidak pernah Aman bicara padanya. Ia telah menanya dia, dia tidak mau menyahut Kalau ia mendekati, dia menyingkir. Sekarang ada usul si ketua ini! Bagaimana akhirnya? Siapa yang si ketua pilih? Atau, siapa yang Aman telah pilih sendiri? Mungkinkah Sangszer? "Siapakah bakal jadi suami paling baik bagi Aman?" berkata si ketua. "Kami bangsa Kazakh, pria kami semuanya baik-baik sebagai penggembala, sebagai pemburu, sebagai penunggang kuda, sebagai orang kosen juga! Hanyalah, siapalah yang paling diberkahi Junjungan kita? Seharusnya saja, orang muda yang paling kosen dialah yang mesti mendapatkan isteri paling cantik!"

Post a Comment