Halo!

Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Chapter 25

Memuat...

Ketua itu melengak. Tidak dapat ia mengusir orang yang membantuinya.

"Bapak ketua, inilah tempat perangkap!** Supu berkata. "Benarkah?" tanya ketua itu singkat, ragu-ragu.

Melihat ketuanya menyangsikan ia, Supu mengangkat tubuh si penjahat dan melemparkannya ke tengah ruang. Tubuh itu terbanting dan menerbitkan suara, lantai lantas menjeblak, memperlihatkan sebuah liang besar. Ke dalam situ tubuh si penjahat kecemplung seraya penjahatnya berteriak menyayatkan hati, lalu suaranya sirap.

Semua orang Kazakh itu berdiri menjublak.

"Supu, syukur kau menolongi kami!" kata si ketua kemudian.

"Istana rahasia ini banyak perangkapnya," berkata Supu. "Mungkin tiga rombongan yang lainnya telah terjebak kawanan penjahat, yang pada menyembunyikan diri di sini."

Ketua itu sadar, dia kaget "Benar!" serunya. "Mari kita lihat!"

Tanpa banyak bicara, Supu lantas membuka'jalan.

"Aduh!" mereka mendengar sesudah melewati beberapa pengkolan.

Mereka kaget, semua lantas memburu. Lantas terlihat di depan mereka tubuhnya seorang Kazakh yang mandi darah, waktu diperiksa, dia telah putus jiwa. Hal ini membangkitkan hawa amarah mereka itu.

Tengah mereka itu bergusar, di atasan kepala mereka terdengar suara berkeresek, lalu tertampak turunnya perangkap terali besi

"Lekas lari!" Supu berteriak. Dialah yang paling dulu melihatnya, dia pun terus lompat ke luar kamar.

Empat pemuda turut berlompat yang lainnya kena terkurung. Terali itu turun sangat cepat

Di dalam kaget dan takutnya, orang-orang Kazakh itu menyerang terali itu. Sia-sia saja usaha mereka. Terali besi tidak mempan senjata, bahkan senjata yang menjadi gompal.

Selagi orang tidak berdaya, dari luar pintu muncul lima orang, yang jalan di muka ialah Tan Tat Hian. Dia ini lantas menghampirkan pesawat rahasia, untuk dikerjakan, maka dari lelangit kamar lantas meluruk turun pasir dalam jumlah besar.

Kembali orang kaget, semua menjerit.

Supu dan empat pemuda, yang berada di luar, maju menerjang Tat Hian serta rombongannya itu. Mereka lantas bertarung seru. Selama itu, pasir masih meluruk turun, hingga sebentar saja sudah naik tinggi sebatas dengkul..

Supu bingung bukan main. Kalau kawanan penjahat ini tidak dapat dipukul mundur, pasir itu bakal meluruk terus dan akan memendam mati semua orang bangsanya itu, sedang di antaranya ada Aman. Tat Hian dan keempat kawannya itu Iihay, terutama Tat Hian sendiri. Sebentar saja, dua pemuda telah roboh binasa dan yang ketiga roboh terluka. Tinggallah Supu serta satu pemuda lainnya. Di dalam terali, parir sudah lantas sampai di dada, hingga orang sukar menggeraki tubuhnya.

Supu menjadi lebih bingung lagi ketika kawannya yang terakhir pun roboh di tangannya Tat Hian, hingga lantas ia dikepung berlima. Tat Hian juga lantas dapat memukul terlepas goloknya Supu, hingga di lain saat dia ini mesti berdiri diam saja di bawah ancaman pedangnya penjahat itu.

Mendadak saja di situ muncul seorang lain, yang bersenjatakan bandring. Belum sempat Tat Hian berdaya, pedangnya sudah terhajar bandring itu dan jatuh ke lantai. Empat penjahat kaget tapi mereka maju menyerang. Atas itu Tat Hian bisa menjumput pula pedangnya, guna membantu mengepung.

Supu sadar, ia lantas lari ke pesawat rahasia, maka di lain saat, berhentilah meluruknya pasir.

Semua orang Kazakh itu bernapas lega. Ketika mereka memandang ke arah penjahat serta orang yang baru datang itu, mereka heran. Orang itu satu pemuda yang tampan, dengan dandanan Tionghoa mirip si kawanan penjahat. Entah kenapa, mereka itu telah bertempur satu dengan lain.

Pemuda itu pandai menggunai bandringnya, setelah belasan jurus, dia berhasil merobohkan saling susul pada empat konconya Tat Hian, melihat mana, dia ini lantas kabur mengangkat kaki.

Supu lantas mencari pesawat rahasia lainnya, guna mengangkat naik terali besi itu. Maka sekarang semua orang baru benar-benar bernapas lega. Dengan susah payah mereka membebaskan diri dari urukan pasir itu.

Orang hendak membilang terima kasih pada si pemuda penolong, tapi orang sudah tidak ada, entah ke mana perginya.

Semua orang bersyukur berbareng heran. "Tanpa dia, celakalah kita," kata yang satu. "Ke mana perginya dia ? Ah, kiranya di antara orang-orang Han ada juga yang baik..."

"Bapak ketua," kata Supu tanpa mempedulikan suara Orang banyak itu, "istana ini berbahaya, baiklah lekas rhengumpuli semua orang bangsa kita, supaya mereka tidak terjebak penjahat"

Ketua itu setuju. "Mari kita bekerja!" katanya. Ia menitahkan semua orang mengambil jalan mundur menuruti jalan dari mana tadi mereka masuk. Mereka pun bunyikan terompet, tanda memanggil berkumpul tiga rombongan lainnya, untuk berkumpul di luar istana.

Rombongan ini tiba di luar, lantas mereka menantikan. Mulanya muncul rombongan ketiga, kemudian rombongan kesatu. Rombongan kedua dinantikan dengan sia-sia.

Kembali terompet ditiup nyaring dan riuh. Istana tetap sunyi

"Jangan-jangan mereka terjebak," kata si ketua kemudian. "Mari kita masuk bersama untuk melihat mereka." Usul ini disetujui Lantas mereka berbaris rapi. Belum lagi mereka bergerak, dari dalam terlihat munculnya orang-orang dari rombongan yang kedua itu. Mereka ini muncul saling susul, dalam rombongan dari dua tiga orang, dengan roman mereka tidak keruan. Dua orang pun menggotong satu orang, yang tubuhnya terpanah, yang mandi darah. Yang muncul paling belakang ialah Sangszer, goloknya di tangan, mukanya berlepotan darah.

"Bagaimana?" tanya si ketua, kaget dan berkuatir.

"Hampir kita tidak dapat bertemu lagi," menjawab pemuda itu. "Kami telah masuk dalam perangkap penjahat. Di dalam sebuah kamar, mendadak kami diserang banyak anak panah, yang datangnya dari empat penjuru. Syukur ada satu anak muda kosen, yang membantu kami Dia telah menggagalkan bekerjanya pesawat rahasia."

Baru mereka bicara sampai di situ, di situ muncul si anak muda yang disebutkan Sangszer ini. Anak muda itu menggusur satu penjahat, ialah Hok Goan Liong, yang dia lantas lempar roboh ke tanah.

Semua orang Kazakh bergarang "Terima kasih! Terima kasih!" mereka mengucap: Si ketua menghampirkan anak muda itu, guna menghaturkan terima kasihnya yang hangat seraya menanyakan she dan nama orang.

"Aku she Lie," menyahut si anak muda. "Namaku tidak ada, panggil saja aku Lie Pek Ma."

Di antara mereka itu. Aman dan Supu segera mengenali si anak muda.

"Dia toh nona Kang," pikirnya. "Kenapa sekarang dia menjadi seorang muda bangsa Han? Bagaimana sebenarnya, apa dulu itu dia menyamar jadi wanita atau sekarang dia menyaru menjadi pria? Atau mungkin si nona Kang hanya lain orang dan orang itu melainkan mirip romannya?" Supu tidak dapat menahan hati. "Kau... kau toh nona Kang?" ia menanya.

Lie Bun Siu tertawa lebar. "Tadinya aku menyamar menjadi nona Kazakh, kamu tidak mengenali aku" katanya. "Aku tahu kamu membenci orang Han, aku tidak berani berdandan seperti orang bangsaku."

Si ketua nampak likat.

"Baru hari ini kami ketahui, orang Han juga ada yang baik hatinya," kata ia, mengaku. "Tanpa pertolongan kau, tuan Lie, hari ini kami semua pasti bakal mati terpendam di dalam istana rahasia ini."

Bun Siu tidak menyahuti, ia hanya menoleh kepada Supu. "Sayang ayahmu telah menutup mata," pikirnya, "maka ia

menjadi tidak ketahui, di antara orang Han pun ada yang baik..." Kemudian ia kata, tawar "Di antara bangsa Han ada orang-orang jahat dan orang baik pula, si jahat biasa mencelakai si baik. Tapi si jahat pun tidak bisa hidup selamat!"

Semua orang Kazakh itu berdiam. Mereka pikir pemuda ini benar.

"Tuan Lie, tolong kau menunjuki kami jalan," berkata si ketua kemudian. "Kami mau masuk untuk menyerang kawanan penjahat itu!"

"Ya, kita menyerbu, kita membalaskan sakit hatinya saudara-saudara kita yang terbinasa!" berseru orang-orang Kazakh itu.

"Istana rahasia ini banyak perangkapnya, tanpa peta, tidak dapat kita lancang memasukinya," berkata Lie Bun Siu. "Kalau kita memaksa masuk, kita bisa menjadi kurban. Kalau disetujui, aku mempunyai suatu pikiran. Ini hanya meminta tempo." "Silahkan berikan petunjukmu, tuan Lie!" kata si ketua. Bun Siu bersenyum. "Aku ingin mengajukan satu permintaan, maukah bapak ketua meluluskannya?" katanya.

"Tuan adalah penolong kami, titahkan saja, pasti kami akan kerjakan," menyahut ketua itu.

Bun Siu lantas menunjuk kepada Supu.

"Kakak Supu ini telah diusir dari kaumnya," ia berkata, "barusan dia telah bertempur dengan orang jahat, dia menolongi semua saudara dari perangkap musuh, dari itu aku pikir baiklah jasanya ini dipakai menebus dosanya, supaya bapak ketua menarik pulang hukuman kepadanya, agar dia dapat berkumpul pula dengan sesama bangsanya. Inilah permintaan yang kecil sekail Dapatkah bapak ketua menerimanya?"

Ketua itu berdiam untuk berpikir, terus ia berdamai sama dua pembantunya. Tidak lama, ia menghampirkan Bun Siu, untuk memberikan jawabannya.

"Mengingat budi tuan serta dia benar telah membelai kami, kami suka meluluskan permintaanmu, tuan," berkata dia "Sekarang Supu dapat kembali kepada bangsanya."

Supu menjudi girang sekali. Ia pun mengucap terima kasih kepada Bun Siu.

Ketua itu lantas bicara kepada orang-orang bangsanya, untuk mengumumkan bahwa hukuman buang Supu telah dihapus, karena mana pemuda itu dapat kembali di antara mereka. Sebagai alasan dikemukakan permintaan Lie Bun Siu, penolong mereka, dan bahwa Supu telah berjasa sudah memperingati adanya ancaman bahaya dan tadi Supu juga telah mengadu jiwa menolongi mereka.

Post a Comment