Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 94

Memuat...

"Ah, dia mengenal baik orang tuaku!!

"Tentu saja karena dia mata-mata Nepal yang diselundupkan di sini. Engkau tenang-tenang saja dan jaga kesehatanmu baik-baik. Makan dan minumlah agar engkau tidak jatuh sakit. Aku akan mencari jalan bagaimana baiknya untuk menolongmu. Percayalah bahwa biarpun aku murid Phang-sinshe, akan tetapi aku tidak sudi bersekongkol dan melakukan kejahatan. Akan tetapi, untuk menentang dengan kekerasan tentu saja aku tidak berani.!

"Ceng Liong, tolong engkau beritahukan ayah, tentu mereka akan dihajar dan aku akan dibebaskan.!

"Hemm, tidak semudah itu, Hong Bwee. Kita berhadapan dengan orang-orang yang sudah nekat dan mereka itu akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuan mereka. Engkau dijadikan sandera, maka kalau ayahmu datang menyerbu, mungkin sekali keselamatanmu terancam. Kita harus pakai siasat. Aku akan mencari akal itu agar mereka dapat dihancurkan akan tetapi engkau pun harus dapat diselamatkan. Sementara ini, engkau bersikaplah tenang, tidur dan makan minum secukupnya agar jangan sampai jatuh sakit. Aku akan mencari akal agar dapat membawamu keluar dari sini dan mengabarkan kepada ayahmu tentang semua ini. Aku harus hati-hati agar guruku dan persekutuan itu tidak menaruh curiga kepadaku. Maka, di depan mereka, kalau aku bersikap kasar terhadap dirimu, harap engkau tidak salah sangka.!

Anak perempuan itu mengangguk-angguk dan memandang ke atas meja di mana terdapat hidangan yang belum dijamahnya. Memang perutnya lapar sekali dan tenggorokannya haus, akan tetapi dengan keras hati ia tidak mau menyentuh makanan dan minuman yang dihidangkan kepadanya. Kini, mendengar omongan Ceng Liong, dan setelah hatinya merasa lega karena di situ terdapat Ceng Liong yang akan menolongnya, iapun baru merasakan kelaparan dan kehausan itu. Diraihnya cangkir teh dan diminumnya sedikit.

"Nah, kau makanlah, aku harus keluar dulu. Tak baik berlama-lama di sini,! kata Ceng Liong sambil bangkit berdiri.

"Jangan terlalu lama meninggalkan aku sendirian saja di sini,! kata anak perempuan itu dengan suara sedih.

"Tentu saja tidak, aku akan sering menengokmu dan memberi kabar tentang perkembangan selanjutnya.! Ceng Liong lalu keluar, diikuti pandang mata Hong Bwee yang hanya mengharapkan bantuannya untuk dapat keluar dengan selamat dari dalam kamar tahanan itu. Oleh para pengawal, pintu dibuka dan setelah pemuda itu keluar, daun pintu ditutup dan dikunci lagi dari luar. Wajah dua orang penjaga nampak di luar jeruji besi, memandang kepada Hong Bwee yang sedang makan itu sambil menyeringai menakutkan. Hong Bwee membuang muka, tidak sudi bertemu pandang dengan mereka dan terdengar mereka itu tertawa mengejek.

Para pengawal itu menyampaikan keadaan anak perempuan yang ditawan kepada Brahmani, bahwa anak itu sudah mau makan minum dan tidur nyenyak semenjak Ceng Liong masuk ke situ dan bercakap-cakap cukup lama. Hal ini menggirangkan hati Brahmani dan dia mulai percaya penuh kepada murid Hek-i Mo-ong yang tadinya dicurigainya itu.

Dan dia makin kagum akan kecerdikan Hek-i Mo-ong yang menyuruh muridnya itu pura-pura melindungi puteri Pangeran Wan itu sehingga memperoleh kepercayaan dari si anak perempuan. Karena, kalau sampai puteri itu mogok makan minum dan jatuh sakit, rencana siasat mereka akan menjadi rusak dan mereka bahkan dalam keadaan berbahaya. Seorang sandera harus berada dalam keadaan segar bugar, baru ada harganya, karena kalau sampai mati, sandera itu tidak ada artinya lagi.

Hek-i Mo-ong sendiri sangat girang dengan hasil pendekatan muridnya ini dan semenjak itu, Ceng Liong memperoleh kepercayaan besar untuk menghibur dan menemani Hong Bwee. Dia sering datang bercakap-cakap di dalam kamar tahanan Hong Bwee, dan diceritakannya semua perkembangan di luar tempat tahanan itu kepada gadis cilik ini.

Ternyata siasat yang diatur oleh persekutuan itu berjalan dengan lancar dan berhasil baik sekali. Sepucuk surat diterima oleh Wan Tek Hoat yang mengerahkan semua pasukan mencari puterinya dengan sia-sia. Tentu saja dia sama sekali tidak pernah menduga bahwa puterinya berada tidak jauh dari istana, dalam gedung seorang perwira tinggi! Maka ketika dia menerima sepucuk surat dari Siwananda, Koksu Nepal, dia hanya dapat membaca dengan muka kemerahan saking marahnya. Bagaimanapun juga ini menyangkut keselamatan puterinya, dan juga kewibawaan Kerajaan Bhutan, dua hal yang saling bertentangan. Maka dibawanyalah surat itu menghadap raja, bersama isterinya.

Raja Badur Syah mengerutkan alisnya ketika Wan Tek Hoat memperlihatkan surat dari Siwananda itu. Isinya ringkas saja, yaitu bahwa Nepal tidak bermaksud memusuhi Bhutan, hanya minta agar diperbolehkan melewati daerah Bhutan sebelah utara untuk pasukan Nepal yang mengadakan penyerbuan ke Tibet. Agar Bhutan tidak mencampuri urusan itu dan sebagai tanda terima kasih, Nepal akan menjaga Puteri Gangga Dewi baik-baik dan akan mengantarkannya kembali dalam keadaan sehat dan selamat.

"Keparat!! Raja Badur Syah membentak marah.

"Tak kusangka Kerajaan Nepal akan mempergunakan kecurangan yang begini tidak tahu malu! Menculik anak kecil untuk memaksakan kehendaknya kepada kerajaan kita!!

"Bagaimana baiknya, rakanda?! tanya Syanti Dewi sambil meremas-remas tangan sendiri.

"Kami ayah dan ibu dihadapkan kepada dua masalah yang sama pentingnya bagi kami. Di satu pihak, masalah keselamatan anak tunggal kami dan di lain pihak masalah wibawa kerajaan yang terancam!!

Raja Badur Syah mengangguk-angguk dan diapun tahu bahwa suami isteri di depannya ini merupakan tulang punggung pemerintahannya. Tak mungkin kiranya membiarkan Gangga Dewi terancam bahaya maut. Akan tetapi, kalau dia membiarkan pasakan Nepal menyerbu Tibet dengan mengambil jalan lewat Bhutan, hal inipun akan besar akibatnya. Pertama, Bhutan akan dianggap musuh oleh Tibet, dan terutama sekali, Kerajaan Ceng-tiauw tentu akan menganggap Bhutan bersekutu dengan Nepal. Akibat ini lebih hebat lagi bagi kerajaaanya.

"Serba salah.... serba salah memang.! akhirnya raja itu berkata.

"Memang, bagi Nepal, jalan satu-satunya menuju ke Tibet hanya melalui daerah kita sebelah utara. Menurut catatan, dahulu pernah Nepal menyerang ke Tibet melalui daerah mereka sendiri di utara, akan tetapi Nepal kehilangan banyak perajurit yang tewas dalam perjalanan karena perjalanan itu melalui puncak-puncak yang tinggi dan jurang-jurang yang curam, amat sukar dilalui manusia. Kita berdiri di tengah-tengah, antara dua negara yang sedang bermusuhan. Kalau kita membiarkan Nepal melewati daerah kita, kita dapat dianggap bersekongkol dan menentang Kerajaan Ceng. Sebaliknya kalau kita menolak permintaan Nepal, kita dapat dianggap menentangnya. Serba salah, serba susah!!

"Menurut surat itu, kita masih mempunyai waktu dua pekan. Selama dua pekan ini kami akan mencari jejak anak kami, kalau perlu, kami atau saya sendiri akan memasuki Nepal, mencari di mana anak kami itu ditawan,! Tek Hoat berkata sambil mengepai tinju.

"Kami amat mencinta anak kami dan tentu saja mengutamakan keselamatannya, akan tetapi, rakanda, kami juga tahu bahwa kewibawaan Kerajaan Bhutan tidak mungkin dibiarkan untuk diinjak-injak secara begitu saja oleh Nepal. Suamiku berkata benar, masih ada waktu dua pekan sebelum pasukan Nepal mempergunakan daerah kita untuk lewat menyerbu Tibet. Kalau dalam waktu itu kita sudah berhasil menemukan Gangga Dewi dengan selamat, maka kita akan menolak permintaan itu! Kalau andaikata kami tidak....berhasil terserah saja kepada keputusan rakanda!!

Raja Badur Syah mengangguk-angguk. Memang tidak ada pilihan lain. Raja ini lalu melepas kepergian suami isteri itu sambil berulang kali menghela napas panjang. Tak disangkanya bahwa kerajaannya yang makmur dan tenteram itu kini dilanda ancaman malapetaka, bahkan yang langsung terkena adalah adik tirinya, Puteri Syanti Dewi.

Sepekan lagi hari yang disebutkan oleh pihak Nepal untuk menyeberang ke Tibet melalui Bhutan tiba. Dan selama itu, Tek Hoat belum juga berhasil menemukan puterinya yang hilang. Dia dan isterinya sudah mengambil keputusan untuk berdua pergi ke Nepal dengan cara menyelundup karena merasa yakin bahwa anak mereka tentu ditawan di kerajaan itu. Akan tetapi, sebelum mereka berangkat yang menurut rencana akan mereka lakukan pada keesokan harinya pagi-pagi benar, malam itu Ceng Liong menghadap mereka.

"Locianpwe, saya mau bicara penting sekali!! kata anak itu sambil celingukan ke kanan kiri. Melihat sikap anak itu yaag telah mereka kenal kecerdikannya, Tek Hoat lalu menarik tangannya diajak masuk ke ruangan dalam. Syanti Dewi cepat mengikuti setelah puteri ini merasa yakin bahwa tidak ada orang lain melihat anak laki-laki itu memasuki istana.

"Apa yang hendak kau bicarakan, Ceng Liong? Di mana Phang-sinshe?! tanya Tek Hoat sambil memandang tajam penuh selidik.

"Locianpwe, ada persekutuan yang hendak mengacau malam ini. Mereka bahkan berusaha untuk menduduki istana sri baginda!!

"Apa?! Tak Hoat terkejut sekali sambil memegang pundak anak itu, lupa akan tenaganya sendiri dan terkejutlah Tek Hoat ketika dari pundak anak itu keluar tenaga penolak yang hebat. Dia cepat menarik kembali tangannya dan memandang anak itu dengan mata terbelalak. Tak pernah disangkanya bahwa anak ini memiliki tenaga sin-kang yang sedemikian hebatnya. Ceng Liong tahu bahwa sumber tenaganya itu kembali telah bergerak otomatis, maka dia merasa tidak enak sekali.

"Apa yang terjadi?! tanya Tek Hoat, lebih ingin tahu tentang persekutuan itu daripada tentang kekuatan tersembunyi di tubuh Ceng Liong.

"Locianpwe, bebarapa orang pembesar dan panglima telah bersekongkol dengan orang Nepal, malam ini akan melakukan pengacauan dan penyerbuan ke istana untuk memancing perhatian, agar semua kekuatan ditujukan untuk menghadapi kekacauan itu sehingga tentara Nepal dapat melewati daerah utara dengan aman.!

Tek Hoat semakin terkejut. Teringatlah dia akan pemberontakan yang duhulu dilakukan oleh Mohinta, putera mendiang Panglima Tua Sangita yang berhasil dia hancurkan ketika dia membela Bhutan (bacaKisah Jodoh Rajawali). Apakah kini terulang lagi peristiwa pemberontakan itu? Panglima Jayin telah tiada, telah meninggal dunia karena usia tua, dan kini para panglima Bhutan adalah muka-muka baru, walaupun mereka itu sejak muda sudah mengabdi kepada kerajaan.

"Hemm, ceritakan semua apa yang kau ketahui dan bagaimana engkau bisa tahu!! bentak Tek Hoat, belum mau percaya begitu saja keterangan anak itu.

"Saya mendengar sendiri percakapan mereka dalam rapat sore tadi locianpwe, bahkan saya hadir pula bersama guru saya....!

"Phang-sinshe? Dia ikut batsekongkol?!

Ceng Liong menarik napas panjang. Tidak ada gunanya lagi menyembunyikan kenyataan itu.

"Benar, locianpwe. Dia bersekongkol dengan perwira Brahmani dan yang lain-lain.!

"Brahmani orang Nepal itu? Keparat! Dan engkau sendiri? Engkau kan murid Phang-sinshe?!

"Memang saya muridnya, akan tetapi murid untuk mempelajari ilmu kepandaian, bukan murid untuk mempelajari kejahatan.!

"Biarkan dia bercerita terus. Ceng Liong, ceritakanlah sejelasnya dan apakah engkau tahu pula di mana Gangga Dewi anakku?!

"Di mana ia?! Tek Hoat membentak dan sudah mcncengkeram lagi ke arah pundak Ceng Liong. Akan tetapi dari samping, isterinya memegang pergelangan tangan suamimya.

"Sabar dulu, mungkin dialah yang akan dapat menyelamatkan anak kita.! tegurnya.

"Harap locianpwe berdua jangan khawatir. Selema ini saya telah menghibur dan menemaninya.!

Post a Comment