Hong Bu menjura kepada paman dan bibinya.
"Suhu mengusir teecu pergi karena teecu bertahan hendak mendidik Bi Eng. Teecu memilih pergi daripada harus mengingkari janji yang telah teecu ikat bersama Kam-taihiap. Sam-susiok, bibi dan engkau Pek In, harap diketahui bahwa aku sama sekali tidak memihak musuh, bahwa aku sama sekali tidak menentang keluarga Cu. Kalau aku terpaksa pergi dan tidak mentaati suhu, hanyalah karena aku sudah mengikat janji, dan semua ini kulakukan demi kebaikan anakku Sim Houw. Aku tidak ingin Sim Houw terseret dalam permusuhan antar keluarga yang tidak ada gunanya ini. Kalau pendirianku ini benar, semoga Thian melindungiku, dan kalau aku bersalah, biarlah aku terhukum karena kesalahanku. Selamat tinggal!!
Sim Hong Bu bergegas pergi sambil menggandeng tangan Bi Eng yang sejak tadi diam saja. Cu Kang Bu dengan kakinya yang panjang melangkah lebar mendampingi Hong Bu, mengantarnya sampai di tepi jurang.
"Aku harus melihatmu sendiri menyeberang dengan selamat,! katanya lirih. Diam-diam Hong Bu bersyukur dan berterima kasih. Agaknya pamannya yang dikenalnya amat jujur dan gagah ini meragukan kalau-kalau dua orang kakaknya akan berbuat curang dan karena dendam lalu berusaha melenyapkan Hong Bu dan Bi Eng dengan misalnya membuat mereka terjatuh ke dalam jurang selagi melakukan penyeberangan melalui tali.
"Terima kasih, susiok, terutama akan sikap susiok yang tidak marah kepada teecu.!
Pendekar tinggi besar itu tersenyum dan menghela napas.
"Tak tahulah, Hong Bu. Aku menghargai sikapmu yang memegang teguh perjanjian, akan tetapi kalau sudah menyangkut nama dan kehormatan, orang dapat berbuat apa saja dan aku tidak tahu lagi mana benar mana salah. Kalau dipikir, bukankah mati-matian memegang janji juga merupakan usaha mempertahankan nama dan kehormatan? Nah, selamat jalan, mudah-mudahan segalanya akan dapat berakhir dengan baik kelak.!
"Selamat tinggal, susiok.! Sim Hong Bu lalu mengajak muridnya meloncat ke atas jembatan tambang yang sudah direntang. Mereka berlarian menuju ke seberang, dan pada saat itu, dari balik batang pohon muncul dua bayangan orang yang bukan lain adalah Cu Han Bu dan Cu Seng Bu. Mereka melihat adik mereka Cu Kang Bu, berdiri di tepi jurang dan keduanya menyelinap pergi lagi tanpa mengeluarkan kata-kata.
"Ayah, bagaimanapun juga, aku tidak rela kalau Houw-ji menjadi murid orang she Kam itu! Kalau ayah tidak mau pergi mengambilnya, biarlah aku sendiri yang akan pergi ke sana untuk mengajaknya pulang!! Pek In berkata. Wanita ini berwajah pucat sekali dan matanya merah karena banyak menangis. Ia menghadap ayahnya di guha pertapaannya.
Ia pula yang kemarin dulu mendahului suaminya, menghadap ayahnya dan melaporkan tentang tindakan suaminya yang amat tidak disetujuinya itu. Ayahnya dan pamannya terpengaruh sehingga begitu Hong Bu dan Bi Eng muncul, kedua orang tua ini sudah menghadapinya dengan hati dicekam kemarahan. Dan kini, setelah Hong Bu pergi bersama Bi Eng, Pek In menghadap ayahnya lagi dan merengek, minta agar ayahnya suka pergi mengambil Sim Houw dari tangan keluarga Kam yang dibencinya.
"Baiklah, memang aku sendiripun berpikir bahwa Sim Houw harus diajak pulang. Kami ingin menggemblengnya dan dia akan menjadi seorang yang lebih lihai daripada ayahnya. Dialah kelak yang akan membersihkan nama keluarga kita.! jawab kakek itu dengan suara mengandung kekerasan dan ketegasan.
"Panggil pamanmu Cu Kang Bu ke sini.!
Ketika Cu Kang Bu datang menghadap kedua orang kakaknya, Cu Han Bu berkata bahwa dia dan Cu Seng Bu hendak pergi menyusul Sim Houw dan mengajak pulang anak itu, dan dia memesan agar Cu Kang Bu menjaga lembah baik-baik.
"Akan tetapi, toako. Bukankah Houw-ji telah diserahkan kepada Kam Hong dan yang menyerahkannya adalah ayahnya sendiri?! Cu Kang Bu membantah, maklum bahwa kepergian kakaknya itu berarti hanya akan memperdalam permusuhannya dengan keluarga Kam saja.
"Akan tetapi, aku adalah ibu kandungnya, paman! Aku berhak memintanya kembali dan dalam hal ini aku diwakili ayah. Sebagai kakeknya, ayah berhak mewakili aku untuk minta kembali Houw-ji!! Pek In berseru dengan nada suara penuh kemarahan. Iapun tahu bahwa watak paman ke tiga ini lain, dan dalam banyak hal, Cu Kang Bu condong kepada suaminya.
Cu Kang Bu menggerakkan kedua pundaknya.
"Terserah kepadamu. Tentu saja sebagai ibunya, engkau berhak mengaturnya. Akan tetapi kalau yang menyerahkan ayahnya, dan yang meminta ibunya, hal itu sama saja dengan membuka borok di muka umum, membuat orang mengerti bahwa ada ketidakcocokan antara suami isteri,! kata Cu Kang Bu.
"Sudahlah, sam-te. Kami sendiri tidak mempersoalkan itu, yang kami ingat hanyalah bahwa kalau kita menyerahkan Houw-ji kepada keluarga Kam, sama saja artinya bahwa kita telah merasa jerih dan merasa tidak mampu menandinginya. Penyerahan Houw-ji sama saja dengan tanda takluk. Karena itulah maka aku dan ji-te akan pergi ke sana untuk memintanya kembali.!
Cu Kang Bu tidak dapat membantah, hanya merasa prihatin sekali ketika kedua orang kakaknya berangkat meninggalkan Lembah Naga Siluman untuk pergi menyusul Sim Houw dan mengajak anak itu kembali ke lembah. Dia dapat menduga bahwa tentu akan terjadi ketegangan di sana dan dia hanya mengharapkan saja agar kedua orang kakaknya yang sudah belasan tahun bertapa dan berlatih siu-lian itu kini memiliki cukup kesabaran untuk menjauhkan pertikaian baru.
Dua orang tokoh Lembah Naga Siluman itu melakukan perjalanan secepatnya. Mereka memiliki cukup bekal untuk membeli kuda yang baik dan melakukan perjalanan dengan membalapkan kuda mereka, ditukar di setiap tempat setelah kuda mereka kelelahan. Karena mereka hanya merupakan dua orang laki-laki setengah tua berpakaian pendeta, tidak ada gangguan di perjalanan dan akhirnya, pada suatu siang, tibalah mereka di Puncak Bukit Nelayan, di sebelah selatan kota Pao-ting.
Mereka langsung mendaki bukit itu dengan jalan kaki, meninggalkan kuda mereka di dusun sebelah bawah dan ketika mereka tiba di gedung tua tempat tinggal keluarga Kam, kebetulan sekali saat itu Kam Hong dan isterinya sedang melihat murid mereka berlatih silat yang baru pada taraf gerakan dan geseran kaki membentuk dan merobah kuda-kuda yang dipergunakan dalam Kim-siauw Kiam-sut.
Melihat munculnya dua orang laki-laki setengah tua berpakaian pertapa, Kam Hong dan isterinya memandang penuh kecurigaan, teringat akan malapetaka yang baru saja menimpa keluarganya.
Tentu saja mereka merasa curiga karena mereka tidak mengenal siapa adanya dua orang ini yang melihat sinar mata mereka tentu sedang berada dalam keadaan marah.
"Kong-kong....!! Sim Houw menghentikan latihannya, lari menghampiri dan berlutut di depan seorang di antara dua kakek itu dan seketika teringatlah Kam Hong dan Ci Sian siapa adanya dua orang kakek itu. Kiranya dua orang tokoh Lembah Naga Siluman yang dahulu disebut Lembah Suling Emas!
"Aih, kiranya ji-wi locianpwe Kim-kong-sian Cu Han Bu dan Bu-eng-sian Cu Seng Bu yang datang berkunjung!! kata Kam Hong sambil menjura dengan hormat, diturut oleh isterinya.
Dua orang pertapa itu membalas penghormatan Kam Hong dengan sikap kaku, hanya mengangkat dan merangkap kedua tangan di depan dada sebentar saja, kemudian Cu Han Bu berkata dengan lantang.
"Kam-sicu, kami datang untuk menjemput cucu kami Sim Houw dan mengajaknya pulang!!
Suami isteri itu saling pandang dan bersikap waspada. Dari sikap dan nada suara kakek itu saja mereka berdua maklum bahwa dua orang itu datang bukan membawa iktikad baik, melainkan didorong oleh hawa permusuhan yang panas.
"Locianpwe, Sim Houw adalah murid saya dan dia datang dibawa oleh ayahnya sendiri.!
"Kam Hong!! kini Cu Han Bu tidak lagi berpura-pura sopan melainkan menurutkan kata hatinya yang panas.
"Mana mungkin ada keganjilan seperti ini? Mana mungkin keturunan keluarga Cu berguru kepada orang she Kam? Apakah kau kira kami sudah takluk dan tunduk kepadamu, sudah menganggap kepandaianmu paling hebat di dunia sehingga cucu kami harus menjadi muridmu?!
Ucapan itu sudah bernada menyerang. Kam Hong masih tenang saja, akan tetapi Bu Ci Sian yang memang memiliki watak keras, melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke arah muka tamunya.
"Orang she Cu, dengarkan baik-baik! Bukan kami yang membujuk Sim Hong Bu datang ke sini. Dia datang sendiri bersama puteranya dan mengajukan pinangan kepada puteri kami. Dan adanya puteranya di sini adalah atas persetujuan kedua pihak untuk saling menurunkan ilmu kepada anak kita masing-masing. Kalau kalian datang mencari perkara dan mengajak berkelahi, bilang saja terus terang, jangan memakai kata-kata yang memutar!!
"Eh, siapa takut kepadamu?! Cu Seng Bu juga membentak dan meloncat ke depan. Dia dan nyonya rumah sudah saling berhadapan, seperti dua ekor ayam yang berlagak hendak saling terjang. Akan tetapi Kam Hong maju memegang lengan isterinya dan dengan lembut menariknya mundur, sedangkan Cu Han Bu juga menyentuh lengan adiknya agar adiknya bersabar.
"Kami bukan datang untuk mengajak berkelahi walaupun kami tidak pernah akan mundur apabila ditantang. Kami adalah kakek Sim Houw, dan kami datang mewakili ibu kandung anak itu untuk mengajaknya pulang. Hanya itu saja keperluan kami dan terserah bagaimana kalian menyambut dan menanggapinya!!
Ci Sian hendak menerjang dengan kata-kata lagi, akan tetapi suaminya menyentuh tangannya dan Kam Hong mendahuluinya.
"
Maaf Cu-locianpwe. Sebagai tuan rumah, tentu saja kami menyambut kunjungan ji-wi locianpwe sebagai tamu dengan hormat dan senang hati. Mari, silahkan ji-wi duduk di sebelah dalam dan kita bicara dengan leluasa.!