Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 78

Memuat...

Dia berkata dengan suara lantang: "Aku kira ong-ya menghargai kepandaian orang sehingga mengundang aku datang kemari, Siapa sangka kami dipandang sebagai orang kangouw yang suka menjual silat di depan umum .

Kalau para hadirin sekalian ingin menonton pertunjukan topeng monyet, mengapa tuan-tuan tidak pergi ke Tiankio saja" Maaf, ijinkanlah aku yang rendah memohon diri!" Selesai berkata, orang itu meng angkat tangan kirinya dan terdengarlah suara "Plok!", hancurlah bagian belakang kursinya, kemudian dia melangkah lebar-lebar keluar dari ruangan pesta itu .

Melihat keadaan itu, para hadirin jadi tertegun Seorang laki-laki tua yang bertubuh kurus bangkit dari tempat duduknya dan mencegah busu setengah tua yang hendak berlalu itu dengan berkat "Long suhu, kata-katamu itu tidak memakai aturan .

Ongya sangat menghargai kepandaian kita .

Ongya ingin menyaksikan kepandaian kita, sebenarnyalah kita menyambut dengan baik .

Andaika Long suhu tidak setuju, tidak mungkin ong-ya memaksamu, Tapi kenapa kau harus menghancurkan kursi di tempat pesta ini" Seumpamanya ong-ya sangat bijaksana dan tidak menyalahkan kau, tapi kami semua, di mana kami harus meletakkan muka ini?" Orang she Long itu langsung tertawa dingin .

"Setiap orang mempunyai pendirian tersendiri, To suhu, kalau kau suka menunjukkan kepandaianmu, silahkan, Tapi, maaf, aku tidak dapat menemani kalian lebih lama!" katanya sambil berjalan pula .

Terdengar orang tua she To berkata: "Kalau kau memang hendak pergi juga, seharusnya kau memberi hormat kepada ongya dengan menyembah dan mengangguk Apabila ongya sudah menyatakan persetujuannya, baru kau boleh meninggalkan tempat ini!" Kembali orang she Long itu tertawa dingin .

"Aku toh tidak menjual diriku menjadi budak onghu!" katanya sengit "Bukankah sepasang kakiku ini menempel di tubuhku sendiri" Kalau aku ingin pergi, aku bebas untuk berjalan .

Siapa yang berani melarang aku?" Selesai berkata, dia berjalan lagi .

Tampaknya si orang tua she To masih tidak mau mengalah, Ketika melihat orang she Long itu hampir menubruknya, dia langsung mencekal lengan kiri orang itu sambil membentak dengan suara keras .

"Tidak bisa tidak! Aku memang hendak melarangmu!" Orang she Long ingin menghindarkan diri dari cekalan orang she To .

Tubuhnya berputar dan tinjunya meluncur ke pinggang orang she To, Dan lawannya mendahuluinya dengan mengirimkan sebuah tendangan ke arah dada .

Long suhu ternyata lincah sekali, Dia mengangkat tangan kanannya dan menyambut tendangan itu .

Karena gerakannya yang cepat, dia berhasil menyanggah bagian dalam lutut lawannya kemudian dia mengerahkan tenaganya untuk mendorong dari bawah ke atas .

Orang she To tidak dapat melepaskan diri dari cekalan itu .

Tubuhnya kena dipentalkan ke belakang .

Namun dia juga cukup gesit, dia sempat membuang diri sehingga tidak sampai terjatuh .

Namun dia sudah kalah angin sehingga wajahnya menjadi merah padam saking malunya .

Orang she Long juga tidak menunda waktu, dia segera menghambur ke pintu ruangan .

Tiba-tiba muncullah rintangan yang lain, seseorang yang bertubuh kurus tahutahu sudah menghadang di-depannya .

Orang itu tidak menyerang, hanya merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat seraya berkata: "Long toako, harap kau kembali ke dalam ruangan!" Orang she Long itu sedang menghambur ke depan, sulit baginya untuk mengendalikan gerakan tubuhnya, Namun si orang bertubuh kurus juga tidak mau menyingkir Karena itu keduanya jadi beradu, Lebih tepat lagi bila mengatakan orang she Long itu menubruk tubuh si kurus .

Kesudahannya sungguh luar biasa, Bukannya orang yang bertubuh kurus itu terdorong atau terpental ke belakang .

Namun malah si orang she Long yang tersurut mundur sejauh tiga langkah .

Tubuhnya terhuyung-huyung, sulit baginya untuk menjaga keseimbangan .

Dia limbung ke kanan, bukannya berhenti atau berdiam diri, dia terus berlari menuju jendela, jelas dia tidak sudi berdiam lebih lama dalam ruangan itu .

Si kurus itu ternyata hebat sekali, Tahu-tahu dia sudah ada di depan jendela dan menghadang kepergian si orang she Long .

Busu setengah baya itu sadar bahwa lawannya lihay sekali, Benturan tadi membuatnya insaf dan dia tidak ingin kejadian itu terulang kembali .

Dia menahan gerakan tubuhnya sedemikian rupa sehingga ketika luncurannya terhenti jarak mereka hanya tinggal dua dim saja .

Si kurus berdiam diri, sepasang matanya menatap si orang she Long tanpa berkedip sekali pun .

Orang she Long itu tetap berusaha mencapai luar ruangan agar dapat melarikan diri, namun si kurus tampaknya tidak sudi memberinya kesempatan sama sekali .

Ketika si orang she Long mengirimkan tinjunya ke depan, dia hanya mengangkat tangannya dan mendorong dengan asal-asalan, namun akibatnya sekali lagi si orang she Long terhuyung mundur ke belakang .

"Hebat!" seru beberapa tamu yang memuji kepandaian si kurus .

Si Long berdiam diri, wajahnya pucat dan merah secara bergantian, dia merasa terkejut juga bingung .

Tampaknya sulit baginya untuk keluar dari istana tersebut, akhirnya terpaksa dia berdiam diri saja .

Si orang kurus memberi hormat kepadanya .

"Saudara Long, silahkan duduk! Ongya mengharapkan kita menunjukkan sedikit kepandaian bukankah kita sudah melakukannya?" Kali ini, selesai berkata, si kurus kembali ke tempat duduknya semula .

Dengan perasaan malu, si orang she Long terpaksa kembali ke tempat duduknya dengan kepala tertunduk Dia masih merasa kesal juga gundah .

Para hadirin bersorak menyaksikan peristiwa itu, yang memang merupakan sebuah pertunjukan .

Kongcin ong sendiri sebetulnya merasa tidak enak hati, karena orang she Long menentangnya di depan umum, tapi perbuatan si kurus juga mengembalikan pamornya .

Karena itu dia segera menitahkan pelayannya mengambil uang sebesar lima puluh tail perak .

"llmu silat suhu itu hebat sekali." kata Go Eng-him .

"Siapakah namanya" Mudah saja dia menghadang kepergian orang." Pangeran itu tidak langsung menjawab, Dia juga tidak kenal siapa adanya orang bertubuh kurus itu .

Dia juga tidak tahu kapan orang itu datang .

Tapi tentunya tidak baik baginya untuk mengatakan terus-terang .

"Siau ong sungguh pelupa, tidak ingat lagi siapa namanya!" sahut Kongcin-ong asalasalan, Pelayan yang disuruh tadi sudah kembali lagi dalam waktu singkat, dia membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat uang goanpo masing-masing senilai dua puluh lima tail .

Kong Cin-ong tertawa sambil berkata: "Para busu telah memperlihatkan kepandaiannya .

Karena itu harus ada orang yang pertama-tama menerima hadiah, Sahabat, silahkan kemari, Ambillah sepotong goanpo ini!" Yang dipanggil adalah orang yang bertubuh kurus tadi .

Dia segera menghampiri si pangeran dan menyambut sepotong goanpo yang disodorkan kepadanya .

"Sahabat," panggil Siau Po .

"Siapakah she dan namamu yang mulia?" "Aku yang rendah bernama Ci Goan-kay," sahut orang itu, "Terima kasih tuan besar telah sudi menanyakannya!" "Memang lihay kepandaian busu Ongya," kata To Lung kemudian "Sekarang aku ingin sekali menyaksikan kepandaian para pengawal Siau tianhe Siau ong-ya, tolong tunjuk salah seorang pengawalmu untuk bermain-main sejenak dengan Ci suhu ini!" Go Eng-him tidak segera menjawab, tampaknya dia sedang merenung .

Melihat keadaan itu, To Lung berkata kembali: "lni hanya pertunjukan saja, batasnya saling menowel .

Juga tidak perlu hadiah segala macam .

Dengan demikian persahabatan kita tidak akan terganggu .

Siapa yang menang atau kalah tidak menjadi masalah!" "Pikiran Te tok baik sekali!" Kongcing ong yang suka keramaian ikut berbicara, Tapi sebaiknya para busu semua mendapat sesuatu, Aku akan menghadiahkan goanpo bernilai besar pada yang menang namun yang kalah juga mendapat bagian, hanya nilainya lebih kecil sebagai tanda penghargaan, Kong Cin ong menoleh kepada pelayannya tadi, "Ambillah lagi sejumlah goanpo bernilai dua puluh lima tail." Pelayan tadi masuk ke dalam ruangan, tidak lama kemudian dia sudah keluar lagi dengan membawa dua nampan besar uang goanpo yang berkilauan .

"Pihak kami mengajukan Ci Goan-kay," kata Kongcin ong .

"Busu manakah yang mula-mula akan mewakili pihak Peng-si ong?" Para hadirin senang mendengar kata-kata si tuan rumah, perhatian mereka segera beralih pada keenam belas orang yang mengawal kedatangan Go Eng-him .

Mereka tahu, meskipun pertandingan ini hanya pertandingan persahabatan tetapi kedua pihak itu justru Kongcin ong dan Peng-si ong, Rata-rata mereka mengharap pihak tuan rumahlah yang akan meraih kemenangan .

Di saat Go Eng-him masih memikirkan jalan keluar terbaik, salah seorang pengawalnya segera melangkah ke depan kemudian memberi hormat kepada pihak tuan rumah seraya berkata: "Harap ong-ya ketahui, ketika mengikuti sicu berangkat ke kotaraja, Kami telah dipesan untuk menjaga dan merawat sicu sebaik-baiknya, Peng Si-ong juga telah memesan berulang kali bahwa selama di kotaraja kami dilarang berbentrokan dengan siapa pun .

Pesan beliau sama sekali tidak boleh dilanggar." Kongcin ong tertawa: "Peng-si ong sungguh teliti dan waspada!" puji-nya, "Tapi ini bukan bentrokan, hanya pertandingan bermain-main, anggaplah kalian sedang berlatih .

Apabila Peng-si ong sampai menanyakan katakan saja aku yang memintanya!" Orang itu menjura sekali lagi .

"Maaf, ong-ya," sahutnya, "Dengan sesungguhnya kami tidak berani menerima perintah ong-ya ini!" Kongcin ong menjadi kurang senang, hatinya mulai marah, diam-diam dia berpikir: "Kau selalu menyebut Peng-si ong, seakan-akan aku tidak dipandang sebelah mata olehmu! Mungkin perintah Sri Baginda sekalipun akan kau abaikan!" Saking sengitnya, dia segera berkata: "Tidak mungkin kalau kau akan diam saja apabila orang menghajarmu!" Orang itu menjura kembali .

"Sewaktu kami berada di Inlam, kami sudah mendengar bahwa semua pembesar negeri, tentara bahkan rakyat di kotaraja sangat tahu aturan .

Kalau kita tidak melakukan kesalahan terhadap orang lain, tidak mungkin orang sengaja mencari perkara dengan kita!" Pengawal Go Eng-him itu bertubuh tinggi besar, tampaknya cerdik, suaranya tajam .

Post a Comment