"Lalu bagaimana, Cui-ma? Bagaimana dengan Ibuku?"
Suma Kian Bu mendesah, masih terus bersandiwara melayani si gila itu yang menyangka dia adalah Ang Tek Hoat putera dari Ang Siok Bi.
"Karena tidak berani membantah, sore hari itu aku meninggalkan rumah, akan tetapi aku tidak pergi jauh dan pada keesokan harinya, aku kembali ke pondok. Aku tidak berani membuka pintu atau jendela yang dipasangi senjata rahasia, maka aku mengintai dan aku melihat nyonya majikan.... Ibumu itu hu....huuukkk.... dia telah tewas...."
Kian Bu terkejut juga, terkejut dan marah walaupun dia tahu bahwa yang diceritakan itu bukanlah ibunya sendiri.
"Celaka!"
Serunya sambil mengepal tinju.
"Siapa yang membunuhnya, Cui-ma? Siapa?"
"Tadinya aku pun tidak tahu siapa.... hu-hukkk.... akan tetapi tiba-tiba mereka itu muncul dan menangkapku.
"Mereka siapa?"
"Orang-orang Bhutan itu, yang dipimpin oleh Mohinta, seperti diceritakan Toanio kepadaku. Mereka menangkapku, membawaku dengan paksa ke sungai dan melemparkan aku ke pusaran air maut di Huang-ho...."
"Pusaran maut?"
"Ya, aku tidak berdaya. Aku dilempar di air dan pusaran air menyedot dan menarikku. Aku tidak tahu apa-apa lagi dan ketika aku sadar, ternyata aku telah berada di sini....di tepi sungai yang memasuki terowongan itu...."
Kembali dia menangis. Suma Kian Bu tertegun dan terheran-heran. Kiranya di samping hwesio yang tergelincir ke dalam jurang dan menemukan tempat ini secara aneh, juga dia yang dapat turun dibantu oleh gadis yang memiliki burung garuda, ada seorang lain yang dapat tiba di sini secara lebih aneh lagi, yaitu Cui-ma ini. Melalui pusaran air dan sungai yang memasuki terowongan! Kemudian dia teringat akan keperlu-annya sendiri. Mungkin Cui-ma ini mengetahui tentang jamur panca warna!
"Cui-ma, setelah mendengarkan ceritamu, maukah engkau menolongku?"
"Tentu saja, Kongcu. Akan tetapi engkau harus membalaskan kematian Ibumu."
"Sudah pasti akan kulakukan itu, Cui-ma. Sekarang katakanlah, apa engkau tahu di mana adanya jamur panca warna yang berada di dalam satu di antara gua-gua ini?"
Tanya Kian Bu sambil me-mandang wanita itu penuh harapan.
"Jamur panca warna....?"
Wanita itu memandang kepada Kian Bu dengan sinar mata tidak seliar tadi. Agaknya pertemuannya dengan pemuda yang disangka putera majikannya itu, dan cerita yang dituturkan sambil menangis, telah banyak mengurangi tekanan batinnya.
"Ya, jamur panca warna untuk obat."
Kemudian Kian Bu teringat bahwa mungkin Cui-ma tidak mengenal nama jamur itu.
"Jamur itu kalau siang biasa saja, akan tetapi kalau malam mengeluarkan sinar lima macam seperti pelangi dan berada di dalam satu di antara gua-gua itu."
Tiba-tiba Cui-ma nampak ketakutan dan bergidik seperti melihat sesuatu yang mengerikan. Dia memandang ke kiri, ke arah sebuah gua besar dan berkata,
"Kau.... kau maksudkan.... ihhhhh.... mata-mata iblis itu, mata setan yang kalau malam mengejar-ngejarku.... hiiihhhhh, sungguh mengerikan, di gua tengkorak itu penuh tengkorak bayi dan anak kecil, di situ terdapat pula mata iblis yang hidup kalau malam aku takut, Kongcu, aku takut....!"
Wanita yang mengalami banyak tekanan dan penderitaan batin itu menjerit dan melompat hendak lari. Akan tetapi Kian Bu lebih cepat lagi dan sudah memegang lengannya.
"Tenanglah, Cui-ma, tidak ada apa-apa dan jangan takut. Ada aku di sini. Yang kau maksudkan dengan gua tengkorak itu yang mana? Yang besar itu? Yang di depannya ada tumpukan tiga buah batu besar itu?"
Dia menuding ke arah kiri di mana terdapat sebuah gua yang agak besar. Wanita itu menoleh dan memandang ke arah gua itu dan matanya makin terbelalak berputaran. Gilanya kumat lagi.
"Benar.... benar.... aku takut.... takuttt....!"
Dan dia menangis terisak-isak dalam pelukan Kian Bu yang merasa kasihan sekali kepada wanita ini.
"Hemmm, katanya mencari jamur, kiranya hanya mencari perempuan untuk dicumbu-rayu. Huh, dasar laki-laki cabul!"
Kian Bu terkejut bukan main. Dia menoleh dan kiranya dara cantik jelita itu telah berdiri di atas batu dan burung garudanya hinggap di pohon yang tumbuh tinggi di dinding tebing. Tentu saja sukar mendengarkan suara halus dari gerakan sayap yang menahan peluncuran mereka tadi dan tahu-tahu gadis itu telah berada di situ, mengeluarkan kata-kata yang mengejek dan dengan pandang mata yang marah dan mengandung hinaan pula.
"Ah, jangan sembarangan bicara!"
Bentaknya marah, akan tetapi tentu saja dengan perasaan tidak enak dia melepaskan pelukannya yang tadi dilakukan untuk mencegah Cui-ma lari dan membiarkan wanita itu menangis. Tiba-tiba Cui-ma menjerit nyaring sekali.
"Siluman.... datang hendak mencabut nyawaku....!"
Dia menoleh ke arah dara itu, lalu melarikan diri dengan cepat berloncatan ke atas batu-batu yang besar-besar dan berserakan di tempat itu.
"Cui-ma....!"
Kian Bu berteriak mengejar. Akan tetapi seperti orang nekat Cui-ma telah lari cepat berloncatan membabi-buta. Tiba-tiba dia tergelincir dan terbanting jatuh ke depan. Terdengar suara "prakkk"
Dan tubuhnya terguling, tidak bergerak lagi.
"Cui-ma....!"
Kian Bu melompat dan cepat berlutut di atas batu di mana Cui-ma roboh tadi. Dia memeriksa dan menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah dara cantik yang masih berdiri itu.
"Dia telah mati...."
Katanya seperti orang mengeluh.
"Mati....?"
Gadis itu cepat berlari menghampiri dan terbelalak memandang wanita setengah tua yang kini kepalanya pecah berlumuran darah. Kiranya ketika terjatuh tadi, kepalanya menimpa batu keras dan pecah sehingga dia tewas seketika! Dan baru sekarang Hwee Li mendapat kenyataan bahwa wanita yang dipeluk oleh Kian Bu tadi ternyata adalah seorang wanita setengah tua yang mukanya kotor menjijikkan dan yang agaknya adalah seorang wanita yang tidak waras otaknya.
"Dia siapa? Kenapa?"
Tanyanya sambil memandang kepada Kian Bu. Akan tetapi Kian Bu masih merasa marah, sedih dan kecewa melihat nasib Cui-ma sehingga dia tidak menjawab pertanyaan gadis itu, malah tidak mempedulikannya lagi dan dia memondong mayat Cui-ma, dibawanya ke tempat yang ada tanahnya. Dia menggali lubang tanpa bicara sepatah kata pun, kemudian mengubur mayat Cui-ma di situ, di depan sebuah gua. Akhirnya dia membersihkan kedua tangannya sambil menghela napas.
"Suma Kian Bu, kau menganggap dirimu ini siapa sih? Sikapmu begitu sombong!"
Hwee Li yang sejak tadi diam saja dan menonton semaa yang dilakukan Kian Bu sambil duduk di atas batu besar, kini menegur dengan wajah cemberut karena dia merasa sama sekali tidak diacuhkan oleh pemuda itu. Kian Bu menengok dengan alis berkerut.
"Engkau telah membuat dia ketakutan dan menjadi sebab kematiannya, dan kau sama sekali tidak menyesal?"
"Eh, eh! Siluman Kecil, ngawur saja bicaramu! Bagaimana duduk perkaranya maka kau katakan bahwa aku menjadi sebab kematiannya? Hwee Li berseru sambil bangkit berdiri dan bertolak pinggang, wajahnya merah karena marahnya. Hemmm, pemarah benar gadis ini, pikir Kian Bu. Akan tetapi dia tidak mau kalah karena memang dia merasa kasihan sekali kepada Cui-ma dan mendongkol melihat kedatangan gadis itu yang mengejutkan Cui-ma.
"Kau telah mengejutkan dia, mengira engkau siluman maka dia lari lalu terjatuh. Apa kau tidak melihat itu?"
"Huh, kalau dia menganggap aku siluman, apakah itu kesalahan-ku? Kalau dia takut melihat aku lalu lari seperti gila, apakah itu juga kesalahanku? Kalau kau yang dekat dengan dia tidak mampu mencegah dia lari, apakah itu pun kesalahanku? Kalau memang wajahku jelek sekali seperti siluman sehingga membikin dia takut, apakah itu juga kesalahanku?"
Diberondong oleh ucapan yang nadanya menantang dan mengejek, namun tak dapat dibantah kebenarannya itu membuat Kian Bu merasa tidak enak dan serba salah. Memang kalau dipikir benar-benar, tentu saja munculnya gadis itu tidak salah dan tidak sengaja hendak mengaget-kan Cui-ma.
"Kau tidak berwajah jelek...."
Saking bingungnya dia membantah kalimat terakhir itu.
"Sudah jelas dia menyangka aku siluman sehingga dia ketakutan! Wajahku jelek seperti siluman, dan apa dayaku?"
Kalau dia diserang dengan kata yang mengandung kemarahan, agaknya Kian Bu akan dapat membalas karena dia pun terhitung seorang yang pandai bicara, bahkan dulu sebelum dia menjadi Siluman Kecil, dia adalah seorang pemuda yang lincah jenaka dan pandai menggoda orang lain dengan kata-kata, akan tetapi kini melihat dara itu memburuk-burukkan diri sendiri, dia menjadi makin tidak enak.
"Tidak, tidak...., sebaliknya malah, kau cantik sekali...."
"Huh, sudah keluar pula sifat cabulnya!"
Hwee Li mengejek. Kian Bu makin bingung. Celaka, gadis ini benar-benar membikin orang menjadi kewalahan dan mendongkol sekali!
"Maksudku, kau tidak jelek dan karena cantik itu agaknya dia menyangka kau siluman. Tentu saja bukan salahmu, akan tetapi, ah, aku kasihan sekali padanya. Nasibnya demikian Buruk sampai matinya...."
Dan pemuda itu memandang ke arah gundukan tanah campur batu yang menjadi kuburan Cui-ma itu. Melihat sikap yang sungguh-sungguh dari pemuda itu, Hwee Li juga mereda rasa penasarannya dan dia bertanya sambil memandang ke arah kuburan itu,
"Siapakah dia itu?"
"Namanya Cui-ma, dia pelayan dari Ang Siok Bi yang telah menjadi gila karena tekanan batin yang hebat dan dia sampai di sini karena dilempar ke Sungai Huang-ho dan hanyut oleh pusaran air."
"Ihhh....! Siapa yang melakukannya dan kenapa? Siapa pula itu Ang Siok Bi?
"Dia adalah ibu Ang Tek Hoat."
"Tek Hoat....? Tek Hoat? Serasa pernah aku mendengar nama itu!"
Hwee Li mengerutkan alisnya sambil mengingat-ingat.
"Mungkin saja. Dia pernah terlibat dalam urusan pemberontakan Pangeran Liong Bin Ong. Dia terkenal dengan julukannya si Jari Maut, Ang Tek Hoat."
"Ahhh....! Benar! Wah, dia terkenal sekali dan orang itu amat menarik. Kau bilang bahwa wanita tadi adalah pelayan ibu si Jari Maut?"
Melihat betapa Hwee Li amat tertarik, maka dengan singkat Kian Bu lalu menuturkan tentang pertemuannya dengan Cui-ma dan tentang cerita Cui-ma bahwa ibu dari Tek Hoat telah dibunuh oleh orang-orang Bhutan yang dipimpin oleh orang yang bernama Mohinta, seorang panglima dari Bhutan yang lihai. Hwee Li mendengarkan dengan penuh perhatian dan dia kembali memandang ke arah kuburan itu.
"Maafkan aku, tadinya kusangka...."
"Kau sangka apa?"
"Dari atas kulihat engkau memeluk seorang wanita, kelihatan kalian seperti sedang bercinta-cintaan dan bermesra-mesraan."
Kian Bu sudah mendapatkan kembali sifatnya yang nakal dan suka menggoda orang.