Bagaimana Ban Siong Tojin tak menjadi kaget, sebab dalam kuil itu ada berdiam tak kurang dari delapan puluh hweshio.
dikatakan oleh si pengemis beracun semuanya sudah di kirim ketempatnya raja akherat (Giam-lo-ong).
Ho Tiong Jong pun kesima mendengar pembunuhan yang besar-besaran itu.
Diamdiam dalam hatinya mengutuk: Tok-kay ini benar-benar kejam.
hweshio yang sebegitu banyaknya yang tak bersalah telah dibunuhnya, Betul-betul kekejamannya sudah melewati takaran-Tidak ada obatnya untuk orang sekejam ini kecuali dibunuh mati.
Meskipun hatinya gusar bukan main, tapi ia tidak kentarakan diwajahnya.
ia terus mendengarkan apa yang dikatakan lebih jauh oleh dua jagoan ulung itu.
Ban Siong Tojin meluap-luap amarahnya ia berteriak-teriak kalap.
Meskipun binatang, pengemis keji.
Seumur hidupmu kerjanya hanya membunuhbunuhi orang saja.
Sekujur badanmu sudah jadi bau amisnya darah manusia.
Dosamu sudah bertumpuk-tumpuk.
Nah, malam ini aku Ban Siong pasti akan mengirim jiwamu ke akherat untuk kau bikin perhitungan dengan korban-korbanmu didepannya Giam-loong.
Ban Siong Tojin hampir tak dapat melampiaskan kata-katanya saking marahnya.
Si pengemis tua hanya ganda ketawa nyengir saja, seolah-olah yang mengejek.
pada Ban siong Tojin yang sedang kalap.
ia seperti mau membikin tosu itu mati berdiri di sebabkan kegusarannya.
Kemudian terdengar ia menyindir.
Hidung kerbau, kau jangan coba-coba mempertaruhkan jiwamu berlaku nekad.
Aku masih ada perkataan untuk disampaikan padamu Pengemis iblis, jangan banyak rewel.
Katakanlah Aku ingin mengatakan padamu.
Kenapa kau berhenti, teruskan, kau mau mengatakan apa" Tok-kay Kang ciong tertawa nyengir.
Hidung kerbau, katanya kemudian, apa yang aku katakan, aku merasa malu melihat kau pura-pura jadi orang budiman.
Kuanjurkan kau jangan lama-lama hidup di dunia ini, lekas kau bunuh diri ada lebih baik, sebab.
Mukanya Ban Siong Tojin berubah menyeramkan.
Kalau orang wajahnya merah dalam keadaan marah, adalah si tosu wajahnya menjadi hitam dan menakutkan.
Sebelum ia menegur lawannya.
Tok kay Kang ciong sudah meneruskan kata katanya, , ,sebab, kalau tidak ada kau yang timbulkan huru-hara menghina dua muridku, mana ada kejadian semua hweshio penghuni kuil ini melayang jiwanya, coba kau pikir saja sendiri.
Tutup bacotmu, pengemis kejam Kau boleh rasakan senjata Berbareng ia kerjakan kebutannya menghajar musuhnya.
Tok-kay Kang ciong angkat tangannya, telapakan tangan kirinya yang merah membara di dorongkan darimana telah menghembus angin dahsyat menangkis serangan musuh.
Tangan kanannya meloloskan bandringan dipinggangnya, itulah ada senjata bandringan istimewa berupa sebuah bola-bola sebesar buah beligo.
Setelah siap ia tidak terus menyerang hanya berkata lagi pada lawannya.
Hidung kerbau, aku mau bertanya dahulu padamu.
Kau mau bertanya apa" Hm bertanya kalau sudah mati bangkaimu harus di tanam dimana" Hmm.
Jangan kuatir, aku nanti carikan tempat yang baik.
Hidung kerbau, Tok-kay memotong, bukan demikian maksudku.
Aku ingin menanya padamu, katanya dalam agama yang kau anut dikatakan ada semacam ilmu untuk menolong roh manusia yang sudah mati yang disebut emas kayu, api, air, tanah dan entah apa lagi.
Betul, kau mau apa" bentak Ban Siong Tojin tidak sabaran Tok kay Kang ciong perdengerkan tertawanya yang aneh^ Hidung kerbau sekarang aku hendak menanya padamu, kalau sebentar kau binasa oleh senjata bandringan itu, rokhmu akan termasuk dalam salah satu yang mana " Ban Siong Tojin mendelik matanya.
Sementara Ho Tiong Jong yang mendengarnya sipengemis seperti yang berkelakar dan memancing kegusaran lawannya secara yang lucu sekali, diam-diam telah tertawa geli.
Anak muda itu melihat Ban Siong Tojin wajahnya sudah menjadi hitam legam.
layang meyakinkan ilmu hitam, jika sedang mengerahkan tenaga dalamnya membuat sekujur badannya berubah hitam.
Wajahnya benar benar sangat bengis dan menakutkan.
Tok kay Kang ciong dilain pihak wajahnya memerah seperti arang membara, menyiarkan bau amis yang membuat orang yang mengendusnya mual dan mau muntah.
Dua jago dari kelas tinggi berhadapan, tentu saja tidak sembarangan mengukur tenaganya.
Mereka tak bertanding rapat, tapi dari jarak jauh.
Masing-masing menggunakan tenaga dalamnya.
Mereka menyerang dengan angin telapakan tangannya yang dahsyat.
Telapakan tangannya Ban Siong Tojin hitam, sedang Tok-kay merah membara.
Beberapa gebrakan sudah lewat, ternyata masih belum kelihatan siapa yang bakal menjadi pecundangnya.
Kelihatan mereka masing-masing mundur beberapa tindak, lalu mengerahkan tenaga dalamnya yang istimewa dari latihan puluhan tahun.
Tampak diudara ada dua sinar hijau dan merah saling gempur, itulah sinar-sinar yang dikendalikan oleh tenaga dalamnya Ban siong dan Tok-kay.
Dua sinar itu indah sekali, kelihatannya tampaknya seperti yang menari-nari, tapi sebenarnya saling gempur dengan hebat.
Kekuatan Iweekang (tenaga dalam) yang demikian tingginya, jarang sekali terdapat di antara pendekar-pendekar, meskipun yang sudah dapat dikatakan ulung.
Ho Tiong Jong berdiri bengong menonton pertempuran yang langka itu.
Diam-diam ia sudah mengambil keuntungan, ialah memperhatikan jalannya pertempuran dengan seksama.
Ia coba asah otaknya untuk dapat memecahkan kelemahannya, dua jago kuat itu, tapi sia-sia saja.
Sayang pikirnya kalau ia tahu kelemahannya Tok kay Kang ciong, saat itu ia bisa turun tangan untuk menyingkirkan jiwanya dari dunia ini.
la menghela napas bila ia ingat dirinya masih belum mampu bertanding melawan Ban Siong Tojin yang tinggi ilmu kepandaiannya.
Matanya terus diarahkan pada jalannya pertandingan, ia mengharap dapat memiliki keandalan dari dua orang kuat itu, untuk kelak ia dapat gunakan melawan musuh.
Lama mereka berkutat dengan sikapnya masing-masing kemudian keputusan dicari dengan pertandingan menggunakan senjatanya masing-masing.
Sekarang tampak bandringan lawan kebutan yang dimainkan oleh dua jago kelas wahid, tentu saja pertandingan ini disaksikan oleh Ho Tiong Jong dengan hati terpesona.
Diam-diam ia sangat girang sekali, sebab dari pertandingan itu ia bisa menarik pelajaran untuk dirinya yang berkepandaian masih banyak kurang.
Serangan-serangan Tok kay ada lebih lihay, hingga tidak lama kemudian Ban Siong Tojin terdesak.
Satu kali ia sedikit lengah, topinya berikut rambut kepalanya kena kesabet bandringan Tok-kay.
Bukan saja Ban Siong Tojin sendiri sangat kaget, tapi Ho Tiong Jong yang melihatnya berdebaran hatinya.
Pikirnya, ia tidak boleh tinggal diam saja, ia harus turun tangan untuk membantu pada Ban Siong Tojin menyingkirkan si kejam.
Tapi ketika ia mau menyeburkan dirinya Tok-kay berteriak.
Bocah, kau mundur.
Aku tidak perlu dengan bantuanmu.
Demikian dengan Ban Siong Tojin juga berkata, supaya Ho Tiong Jong mundur jangan turut campur, sebab jiwanya bisa melayang.
Ho Tiong Jong mundur lagi dan berdiri dengan pikiran.
Bagaimana sebenarnya pandangan dari kedua orang tua itu terhadap dirinya.
Tengah pertempuran dilakukan dalam detik-detik yang menentukan tiba-tiba terdengar suara orang ketawa dari atap rumah, kemudian berkata.
Hei Ban Siong Tojin, kau ini sudah puluhan tahun mengasingkan diri, tapi tabiatmu yang sombong masih seperti dahulu kala saja.
Dan ini si pengemis tua Kang ciong, dosamu sudah bertumpuk-tumpuk apa masih belum mau menyerahkan kepalamu untuk di penggal" Tok kay Kang ciong mendengar orang memaki padanya sudah menjadi sangat gusar.
Dengan suara bengis ia menjawab.
Dari mana datangnya manusia liar tidak tahu malu " Kau berani menghina aku" Lekas turun dan boleh mengerubuti aku seorang diri.
Aku tanggung dalam beberapa gebrakan jiwamu akan sudah melayang menghadap Giam-lo-ong.
Terdengar orang di atas atap rumah tertawa dingin.
Hm.
Ia menggeram.
Lohu sudah sampai begini tua, belum tahu ada orang mengatakan manusia liar , baru kali ini ia mendengarnya.
Tok-kay alih kan pandangannya kearah suara tadi, hatinya tiba-tiba sangat terkejut.
Kiranya yang datang itu ada Pocu dari Seng-kee-po yang namanya terkenal dalam rimba persilatan, ialah Seng Eng.
Lalu Tok-kay melihat pada Ho Tiong Jong anak muda ini tinggal tenang tenang saja.
Hatinya Tok-kay memuji ketabahannya, akan tetapi ia tidak tahu kalau Ho Tiong Jong tidak kenal pada orang yang baru datang itu.
Hei, bocah, lekas kau naik keatas.
Lihat, masih ada beberapa orang lagi yang menyembunyikan dirinya.
Ho Tiong Jong tanpa disuruh untuk kedua kalinya sudah lantas enjot tubuhnya melesat keatas atap rumah.
Seng Eng menyaksikan lompatan Ho Tiong Jong yang bagus, diam-diam dalam hatinya menanya, sejak kapan pengemis kejam ita mendapat murid yang begitu pandai ilmu mengentengi tubuhnya" Ho Tiong Jong sendiri heran, kenapa waktu itu telah menuruti saja perintahnya Tokkay tadi.
Tapi sekarang ia sudah berada di atas rumah, terpaksa ia harus memeriksa keadaan disekelilingnya.
Tiba-tiba ia mendapat lihat diluar tembok peka rangan ada berkelebat bayangan orang.
Pikirannya sangsi apakah ia kasih tahu pada Tok-kay atau jangan" Saat itu tiba-tiba terdengar suaranya Seng Eng lagi.
Hei, pengemis tua, biasanya kau sangat sombong, memandang aku sangat rendah.
Nah, sekarang aku datang hendak membuat perhitungan dengan jiwa anjingmu.
Tentang penyimpanan harta bendamu yang besar itu, lebih baik kau angkat pemuda itu sebagai akhli warismu" Ha ha ha Ho Tiong Jong mendengar kata-kata seng Eng menjadi marah.
Semula ia mengira Seng Eng ada satu pendekar budiman mencari Tok kay untuk membasmi kejahatan.
Tidak tahunya bahkan mereka berdua iiu ada setali tiga uang.
Dua-dua ada satu kwalitet, apa yang mereka pertengkarkan hanya berkisar pada kejahatan.
Ia jadi ingat akan kata-katanya Kho Kie, bahwa benggolan-benggolan dari Seng kee-po seharusnya digantung mati.
Diam-diam hatinya pemuda itu tidak puas.
Apa yang dikatakan oleh Kho Kie itu memang beralasan, setelah ia menyaksikannya dengan mata kepala sendiri sekarang.