Halo!

Darah Pendekar Chapter 40

Memuat...

Tiga orang pembantunya hendak membantah karena perbuatan itu tentu saja amat berbahaya bagi keselamatan pemuda itu. "Sam-lo, ini adalah keputusanku sebagai ketua lembah!" katanya de-ngan tegas dan tiga orang itu tentu saja tidak dapat membantah lagi. Ho Pek Lian melihat betapa pemuda yang biasanya bersikap lembut itu kini nam-pak keras, bersemangat dan penuh wibawa sehing-ga hatinya merasa tergetar. Pemuda ini merupa-kan seorang jantan yang gagah perkasa, memba-yangkan kepribadian seorang pemimpin yang he-bat, membuat hati Pek Lian menjadi kagum sekali.

"Siancai. , saat kematian merupakan rahasia yang tak pernah terbuka oleh manusia. Siapa

sangka aku bermaksud menolong mereka, tidak tahunya karena perbuatanku, malah mereka mengalami pembasmian di sini" kata kakek Kam dengan suara menyesal. Mendengar ini, Kwee Tiong Li cepat menghadapi kakek itu.

"Harap locianpwe jangan beranggapan demiki-an karena locianpwe sama sekali tidak bersalah dalam hal ini."

"Aku tahu, orang muda... akan tetapi membuat hatiku terasa tidak enak......" tiba-tiba kakek itu berhenti dan cepat menoleh ke belakang. Pada saat itu terdengar bunyi terompet bersahut-sahutan, diiringi sorak - sorai para perajurit dan ternyata dusun itu telah dikepung!

Mendengar ini, para penghuni berlari - larian kembali ke rumah masing-masing dan yang tertinggal di dusun itu, di luar rumah, hanya tinggal delapan orang itu saja. Semua penghuni dusun telah bersembunyi ! Delapan orang itu, yang merasa sudah terkepung, tidak mau ikut bersembunyi karena mereka maklum bahwa bersembunyi di dusun kecil itu tidak ada artinya malah - malah akan mencelakakan semua penghuni dusun. Maka, sambil menanti, mereka semua mencabut senjata, siap untuk melawan.

Dengan teriakan yang berisik sekali, bermunculanlah pasukan itu dari segenap penjuru dan mereka segera diserbu dan dikeroyok. Pek Lian telah mencabut pedangnya, Kim - suipoa Tan Sun mengeluarkan senjata suipoanya sedang-kan Pek - bin - houw juga sudah melintangkan pi-kulan bajanya. Begitu para perajurit menyerbu, mereka bertiga mengamuk bagaikan harimau - ha-rimau kelaparan. Sementara itu, Kwee Tiong Li, biarpun tenaganya belum pulih seluruhnya, juga sudah mengamuk dan menggerakkan pedangnya dengan dahsyat. Tiga orang Yang - ce Sam - lo juga sudah menyambut pengeroyokan musuh de-ngan senjata golok tipis mereka. Tujuh orang pen- dekar itu mengamuk dengan penuh semangat, terutama sekali Tiong Li dan Yang - ce Sam-lo yang seolah - olah memperoleh kesempatan un-tuk membalas dendam atas terbasminya seluruh kawan mereka itu. Empat orang ini merobohkan banyak sekali perajurit. Adapun kakek Kam Song Ki sendiri hanya melindungi dirinya, menggerak-kan tongkatnya untuk merobohkan semua orang yang menyerangnya, akan tetapi jelaslah bahwa kakek ini merobohkan orang tanpa bermaksud membunuh. Biarpun demikian, tidak ada perajurit yang dapat mendekatinya karena belum juga dekat mereka itu sudah roboh berpelantingan.

Akan tetapi, tiba - tiba muncul dua orang berpakaian preman yang menjadi pengawal pribadi, juga sute - sute dari Jenderal Beng Tian yang amat lihai itu! Bukan hanya kedua orang pengawal ini saja, melainkan juga belasan orang perwira yang memiliki gerakan - gerakan gesit sekali, tanda bahwa mereka adalah orang - orang yang pandai ilmu silat. Pengepungan semakin ketat, pengeroyokan semakin rapat dan dengan munculnya dua orang pengawal bersama para perwira itu, delapan orang yang dikeroyok menjadi kewalahan juga. Betapapun juga, mereka terus mengamuk dengan hebatnya dan sudah puluhan orang banyaknya roboh, tewas atau terluka sehingga mayat - mayat mulai bertumpuk dan berserakan, suara orang - orang mengaduh dan mengerang kesakitan amat mengerikan.

Sore semakin gelap. Satu jam lebih mereka mengamuk, akan tetapi jumlah para perajurit amat banyaknya. Ada ratusan orang! Dan akhirnya, apa yang mereka khawatirkanpun tibalah dengan munculnya Jenderal Beng Tian sendiri! Tadinya, dua orang pengawal pribadi jenderal itu masih me-nemukan kesulitan ketika mereka dihadang dan dibendung oleh tongkat butut kakek Kam, membuat mereka terheran - heran, penasaran dan juga marah karena ternyata tongkat itu membuat mereka tidak mampu banyak bergerak. Akan tetapi sebaliknya kakek Kam yang tidak ingin membunuh, tidak mudah pula merobohkan dua orang pengawal lihai ini seperti yang dilakukannya kepada para pera-jurit. Sedangkan tujuh orang pendekar itu dikero-yok oleh belasan orang perwira yang dibantu oleh puluhan orang perajurit pula. Sampai berdesakan dan sukar sekali untuk bergerak dalam pengepung-an yang ketat itu. Dan kini, jenderal itu sendiri muncul.

Tadinya, panglima ini tidak ikut memim-pin anak buahnya. Bukankah menurut penyelidik, yang berada di dusun itu hanya delapan orang pim-pinan pemberontak ? Cukup diwakilkan kepada dua orang pengawal atau sutenya saja, para perwi-ra dan pasukan. Akan tetapi, dia memperoleh beri- ta yang mengejutkan bahwa di antara delapan orang itu terdapat seorang kakek yang amat sakti yang membuat kedua orang sutenya tidak berdaya Tentu saja dia menjadi terkejut sekali dan jenderal itupun bergegas menuju ke medan pertempuran. Pada saat dia tiba di tempat, itu, dia masih sempat melihat betapa dua orang sutenya mengeroyok seorang lawan yang tidak nampak bayangannya !

Seolah - olah dua orang sutenya itu mengeroyok setan saja. Tahulah dia bahwa lawan dua orang pembantunya itu adalah seorang ahli ginkang yang amat luar biasa.

Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, jenderal itu lalu menyerbu dan dua orang sutenya girang bukan main melihat munculnya jenderal yang selain menjadi atasan, juga menjadi suheng mereka itu. Dan pukulan yang dilancarkan jenderal itu terhadap kakek Kam membuat kakek itu mengeluarkan seman kaget. Namun, gerakan kakek itu terlampau cepat sehingga empat serangan yang merupakan rangkaian susul-menyusul dari jenderal itu semua hanya mengenai tempat kosong saja. Dia menduga-duga siapa gerangan orang ini dan diam-diam terkejut bukan main.

Kalau pihak pemberontak terdapat orang - orang selihai ini, sungguh amat berbahaya, pikirnya. Bersama dua orang sutenya, dia mengeroyok. Namun tetap saja mereka bertiga menjadi kewalahan karena jauh kalah cepat gerakan mereka. Kadang-kadang kakek itu seperti lenyap saja dan tahu - tahu muncul di atas mereka, di belakang mereka atau di kanan kiri. Dan ma-lampun tibalah. Para perajurit memasang obor sehingga keadaan di situ semakin menyeramkan.

Betapapun lihainya, tujuh orang pendekar yang dikeroyok oleh banyak sekali lawan yang tiada habisnya dan tak kunjung berkurang itu, menjadi repot. Mereka kelelahan, mandi peluh setelah mengamuk selama hampir dua jam lamanya! Dan akhirnya, tak dapat tertolong lagi, Pek- bin-houw roboh terkena tusukan tombak seorang perwira dari belakang. Tombak itu menancap di punggung dan tembus ke dadanya, darah muncrat dan dia berteriak seperti harimau terluka, membalik dan senjata pikulannya menghantam kepala penyerang-nya sampai pecah. Kemudian dia menubruk ke kiri, merobohkan seorang perajurit, akan tetapi dia sendiripun roboh karena sebatang golok membuat lehernya hampir putus, disabetkan oleh perwira lain. Robohlah Pek - bin

- houw Liem Tat sebagai seorang pendekar dan patriot. Melihat ini, Kim-suipoa berteriak marah dan menyerang dengan nekat, menubruk ke arah perwira yang membacok golok tadi. Perwira itu menangkis, akan tetapi go-loknya terpental oleh hantaman suipoa dan ke-pala perwira itupun remuk terkena pukulan suipoa baja. Akan tetapi, pada saat yang sama, dua ba--tang pedang menembus lambung dan dada Kim-suipoa

***[All2Txt: Unregistered Filter ONLY Convert Part Of File! Read Help To Know How To Register.]***

Tg Li dan kakek yang masih dikeroyok tiga oleh Jenderal Beng Tian bersama dua orang sutenya itu.

Tiong Li dan Pek Lian masih mengamuk dan keduanya maklum bahwa nyawa merekapun tidak akan tertolong lagi. "Nona Ho, selamat berpisah di sini !" kata Tiong Li sambil memutar pedangnya.

Pek Lian terharu sekali, akan tetapi juga bangkit semangatnya melihat pemuda yang gagah perkasa itu! "Selamat berpisah, saudara Kwee. Akan tetapi aku tidak mau mati sebelum membasmi anjing - anjing ini sebanyak mungkin !"

Keduanya mengamuk lagi penuh semangat. Kakek Kam mendengarkan semua ini dan hatinya tergerak. Kalau dia menghendaki, tentu dia sudah dapat membunuh tiga orang lawannya. Akan tetapi dia tidak tega untuk membunuh. Kalau dia mau melarikan diripun tidak sukar baginya, akan tetapi dia merasa kasihan kepada dua orang muda itu. Diam - diam dia merasa kagum sekali melihat, gerak-gerik Tiong Li dan Pek Lian. Terutama pemuda itu sungguh membuat hatinya yang tua merasa terharu. Seorang pemuda gagah perkasa yang penuh setia kawan! Sungguh seorang eng-hiong (pendekar) sejati! Dan melihat betapa Pek Lian terhuyung oleh pukulan rayung lawan yang mengenai punggungnya, cepat dia menggerakkan kakinya dan tahu-tahu tiga orang pengeroyoknya sudah kehilangan kakek itu yang kini telah menyambar tubuh Pek Lian sebelum dara itu terguling ro-boh. Dipanggulnya tubuh Pek Lian dan diapun berseru kepada Tiong Li,

"Kwee - sicu, mari kita pergi !'"

Memang mudah saja bagi kakek sakti yang me-miliki ginkang istimewa itu untuk mengatakan de-mikian, bahkan mudah pula baginya untuk me-loloskah diri dari kepungan ketat dan penge-royokan itu, akan tetapi amat sukarlah bagi Tiong Li untuk melaksanakannya. Pula, dia telah dibakar kemarahan meluap - luap dan sudah diambilnya keputusan untuk mengamuk sampai mati, membela kematian tiga orang pembantunya dan juga dua orang guru Pek Lian itu. Melihat betapa pemuda itu mengamuk makin hebat dan seperti tidak memperdulikan ajakannya, kakek itu berseru lagi,

"Orang muda, perlu apa mengorbankan nyawa dengan konyol ? Ingat, kelak engkau harus membuat perhitungan dan membalas semua dendam. Kalau mati sekarang, siapa yang akan membalas dendam kelak ?" Ucapan ini sengaja dikeluarkan hanya untuk membakar semangat pemuda itu agar mau meloloskan diri, bukan ucapan yang keluar dari lubuk hatinya.

Post a Comment