? Kalau terjadi penyerbuan."
"Jangan khawatir, bukankah sudah sepuluh hari ini tidak terjadi sesuatu ? Dan sekali ini, biar kita beritahukan bahaya itu kepada Kwa-toanio agar ia ikut pula melakukan penjagaan terhadap diri puterinya."
Selama beberapa hari tinggal di tempat terpen-cil itu, wanita berpakaian serba putih telah memperkenalkan diri. "Sebetulnya, kami selalu mera-hasiakan nama dan keadaan kami, akan tetapi me-lihat pertolongan cu - wi yang demikian penuh pe-ngorbanan, kami akan meniadakan kebiasaan itu dan perkenalkanlah, saya adalah isteri dari Kwa Eng Ki, seorang di antara tokoh Tai - bong - pai. Dan anak ini adalah puteri tunggal kami bernama Kwa Siok Eng. Penyakit yang diderita oleh Siok Eng ini sebetulnya adalah karena kelancangannya. sendiri. Diambilnya kitab pusaka partai kami dan diam - diam ia mempelajarinya tanpa memberi tahu kepada kami, sedangkan tingkatnya masih terlampau rendah untuk mempelajari ilmu simpanan partai kami itu, maka beginilah jadinya. Nah, setelah saya memperkenalkan diri, maka mulai seka-rang kita telah menjadi sahabat - sahabat karib."
Tentu saja bagi pihak tuan rumah, cerita itu sama sekali bukan pembukaan rahasia, dan hanya memperkenalkan sedikit saja, yaitu hanya nama ibu dan anak itu sehingga keadaan mereka masih tetap diliputi rahasia. Akan tetapi mereka tidak mau bertanya lebih banyak, karena merekapun sebe-narnya tidak mempunyai minat untuk bersahabat dengan Tai-bong-pai yang terkenal sebagai per-kumpulan golongan hitam yang disamakan dengan iblis - iblis yang kejam sekali.
Setelah diberi tahu bahwa hari itu pihak tuan rumah akan mengadakan pengobatan terakhir yang besar - besaran dengan penggabungan tenaga, nyonya Kwa merasa tegang dan iapun segera menyatakan siap sedia untuk melakukan penjagaan dengan kuat di luar rumah. Pek Lian dan kedua orang gurunya juga melakukan penjagaan di luar. Mereka bertiga maklum akan bahayanya keadaan mereka ketika fihak tuan rumah sekeluarga sedang melakukan pengobatan dengan penggabungan tenaga itu. Pengobatan dengan pengerahan sinkang membuat orang yang melakukan pengobatan itu sama sekali tidak berdaya terhadap serangan dari luar, karena kalau dia melawan, berarti membahayakan nyawa yang diobati. Dan kini, menurut keterangan Bu Seng Kun terhadap mereka, pemuda itu bersama ayah dan ibunya akan menggabungkan tenaga sehingga kalau sewaktu mereka mengadakan pengobatan itu datang. musuh, mereka bertiga takkan berdaya untuk membela diri. Dengan demikian, maka penjagaan seluruhnya hanya berada di tangan mereka bertiga, dan orang - orang Tai - bong - pai.
Bahkan nona Bu sendiripun membantu pengobatan itu dengan tusukan - tusukan jarum.
Pagi itu mereka sudah besiap - siap. Yang ber-ada di kamar pengobatan, selain si sakit, juga empat orang keluarga Bu lengkap. Kwa Siok Eng te-lah direbahkan di atas meja panjang dengan mene-lungkup. Kulit tubuhnya yang putih mulus itu tidak begitu pucat lagi, akan tetapi masih belum dapat bergerak sama sekali. Ibunya, nyonya Kwa, menjaga di dekat pintu, sepasang matanya hampir tidak pernah berkedip memandang kepada puterinya dan kadang - kadang saja beralih kepada empat orang yang sedang mengobati puterinya itu. Hatinya terharu. Nampak jelas olehnya betapa ke-luarga itu berusaha sungguh - sungguh. Tadi sebelum melakukan pengobatan, Bu Kek Siang telah memberi penjelasan kepadanya sekedarnya sehingga dia tahu bahwa mereka berempat itu, sungguh-sungguh berusaha untuk menolong puterinya, terutama sekali kakek Bu sendiri bersama Bu Seng Kun, pemuda itu. Mereka berdua ini akan mengerahkan sinkang sekuatnya untuk menembus jalan darah gadis itu yang belum pulih, dan sebagai seorang ahli silat tinggi, tentu saja nyonya itu tahu apa artinya ini. Pengerahan sinkang untuk meno-long orang seperti itu amatlah berbahaya karena tenaganya dikerahkan terus - menerus, kalau keliru sedikit saja tentu dapat membunuh si sakit atau membunuh diri sendiri!
Memang amat menegangkan keadaan dalam ruangan itu. Bu Seng Kun bertelanjang dada, karena dia mempergunakan dadanya itu untuk menempel pada kedua telapak kaki Kwa Siok Eng dan dengan penyaluran tenaga sinkang sepenuhnya dia menya-lurkan hawa murni melalui kedua telapak kaki gadis itu. Pemuda ini memejamkan kedua matanya dan dadanya nampak membesar, wajahnya menjadi merah dan kedua tangannya mencengkeram belakang lutut gadis itu. Di seberangnya, ayahnya berdiri dan menempelkan tangan kirinya di ubun-ubun kepala gadis itu.
Seperti juga puteranya, Bu Kek Siang, kakek ini mengerahkan sinkangnya disalurkan melalui ubun
- ubun kepala gadis itu, kedua matanya juga dipejamkan. Isterinya, nenek yang masih nampak cantik itu, berdiri di tepi meja, kedua tangannya ditaruh di atas pinggang telanjang itu dan nenek inilah yang menjadi semacam peng-hubung atau penampung saluran tenaga dari atas dan bawah itu untuk kemudian, setelah dapat bertemu dan bersatu, dipergunakan untuk membobol semua jalan darah dalam tubuh. Dan di tepi meja seberangnya, Bu Bwee Hong sibuk mempergunakan jarum-jarum emas untuk menusuki bagian-bagian yang penting untuk mengurangi hambatan - hambatan penyaluran tenaga ayahnya dan kakaknya. Dan memang, dalam hal ilmu pengobatan, gadis inilah yang telah mewarisi kepandaian ayahnya dan dibandingkan dengan ibunya dan kakaknya, ia memang lebih pandai dalam hal tusuk jarum. Peker-jaan gadis ini, seperti juga ibunya, tak dapat dikatakan ringan, bahkan mengharuskan adanya ketelitian yang luar biasa.
Empat orang itu sungguh mengerahkan dan mengeluarkan semua kepandaian mereka untuk menolong gadis itu. Hal ini nampak jelas sehingga seorang seperti nenek Kwa yang se-lamanya berkecimpung dalam dunia hitam itu merasa terharu.
Matahari telah naik tinggi. Setengah hari telah lewat dan suasana dalam ruangan pengobatan itu menjadi semakin tegang. Empat orang keluarga Bu itu bermandi peluh, namun agaknya usaha mereka itu sia - sia belaka karena seluruh tenaga ayah dan anak itu belum juga dapat dipertemukan ! Seng Kun yang telah mengerahkan seluruh tenaganya itu hanya bisa mendorong sampai ke pangkal paha dan dia telah menemui rintangan - rintangan di sepanjang kedua kaki itu yang seolah - olah telah membeku. Ayahnya lebih sukar lagi, hanya dapat mendorong sampai di bawah pundak. Bwee Hong sibuk menusuk sana - sini sehingga tubuh belakang gadis yang diobati itu penuh dengan jarum kecil kecil, perak dan emas. Dan nyonya Bu juga sibuk sekali, menggunakan sinkang seperti hendak menyedot hawa murni dari atas bawah, namun belum juga terasa olehnya datangnya sinkang yang disalurkan oleh suaminya dan puteranya itu.
"Cepat, tambah lagi tenaganya ...!" Ibu ini mendorong dan mengerutkan alisnya. "....ahhh..tidak...tidak bisa lagi ... ibu, aku tidak kuat lagi ...ahhhh !" Seng Kun mendesah
dan tiba - tiba dari sudut bibirnya mengalir darah segar. "Koko ...!" Bwee Hong berseru khawatir.
Akan tetapi pemuda itu tidak memperdulikan dirinya. "Moi - moi, cepat kaubantu ayah. !"
Bwee Hong menoleh memandang ayahnya dan semakin gelisah ia melihat betapa ayahnya juga payah sekali keadaannya, wajahnya pucat pasi dan dari lubang hidungnya juga mengalir darah.
"Ibu ..., ayah itu ..."
Akan tetapi, ibunya hanya menggeleng kepala dengan sikap tenang karena ibu ini percaya bahwa suaminya dan puteranya masih akan dapat menolong diri sendiri. Kalau sudah ada darah keluar dari mulut atau hidung, berarti bahwa tenaga mereka sudah sampai di puncaknya, dan tentu mereka akan mengendurkan tenaga karena kalau dilanjutkan berarti mencari mati sendiri.
Ibu gadis yang sakit itu sejak tadi melihat ini. Wajahnya pucat dan beberapa kali ia memejamkan mata, mengepal tinju dan membanting – banting kakinya. Akhirnya iapun berseru, "Sudahlah !
Sudahlah !!" Ia melihat betapa usaha keluarga Bu yang mati-matian itu telah menemui
kegagalan.
Keadaan yang amat menegangkan itu membuat mereka semua tidak sadar bahwa di luar ramah telah terjadi penyerbuan! Ada beberapa orang yang luar biasa datang menyerang dan tentu saja serbuan itu disambut oleh para penjaga yang berada di luar rumah, yaitu Ho Pek Lian dan dua orang gurunya, dan delapan orang anggauta perkumpulan Tai - bong - pai. Akan tetapi, para penyerang itu-pun lihai bukan main. Dua orang di antara mereka adalah orang - orang yang berambut riap - riapan dengan pakaian berwarna coklat! Masih ada lagi teman - teman mereka, yaitu empat orang berjubah biru dan delapan orang berjubah hijau ! Tentu saja pihak penyerbu menjadi jauh lebih kuat. Seperti telah kita ketahui, seorang yang berjubah biru saja kepandaiannya sudah sedemikian hebatnya sehingga ketika dikeroyok oleh Kim - suipoa dan Pek - bin - houw, dua orang pendekar inipun kewalahan. Apa lagi kini terdapat dua orang yang berjubah coklat, ditambah empat orang murid mereka dan delapan cucu murid. Sebentar saja delapan orang anak buah Tai - bong - pai sudah terpukul roboh dan Pek Lian sendiri bersama dua orang gurunya juga hanya mampu menangkis saja ketika dikeroyok oleh orang - orang berjubah biru dan hijau.
Dua orang yang berjubah coklat itu sudah me-nerjang pintu ruangan dan dengan mengeluarkah suara hiruk-pikuk pintu itu pun jebol! Tentu saja Bwee Hong dan Kwa - toanio terkejut bukan main.
"Awas musuh. !!" Kwa-toanio berseru dan Bwee Hong sudah meloncat dan memapaki
kedua orang itu dengan sambitan jarum - jarumnya, jarum perak dan emas yang tadinya dipergunakan untuk menusuk dan mengobati Siok Eng. Akan tetapi, dengan amat mudahnya kedua orang yang berjubah coklat itu meruntuhkan semua jarum dengan kebutan lengan baju mereka. Dan di belakangnya masih bermunculan orang - orang berjubah hijau. Mereka ini segera mengeroyok Kwa - toanio yang merobohkan dua orang di antara mereka. Ketika melihat betapa jarum - jarumnya tidak ada gunanya, Bwee Hong menerjang ke depan sambil mencabut pedangnya, menyerang seorang di antara dua orang berjubah coklat itu. Akan tetapi orang itu mengelak dan dari belakangnya, Bwee Hong merasakan sambaran angin pukulan dahsyat. Dia mengelak dan membalik, dan ternyata yang menyerangnya telah tidak ada lagi dan juga orang berjubah coklat yang pertama yang diserangnya tadi sudah tidak ada. Mereka berdua itu telah meloncat dengan gerakan yang amat cepatnya, seorang berada di belakang ayahnya dan seorang pula di belakang kakaknya!
Kwa-toanio sendiri sibuk dikeroyok oleh orang-orang baju biru sebanyak empat orang.
Ternyata bahwa Pek Lian dan dua orang gurunya juga sudah terluka dan kini hanya dikeroyok oleh orang - orang jubah hijau, sedangkan empat orang berjubah biru sudah menyerbu ke dalam dan mengurung Kwa-toanio, membuatnya tidak berdaya.