seseorang dari ancaman maut, akan tetapi sekarang ada orang hendak dibunuh begitu saja. Sama sekali tidak boleh hal ini dilakukan. Toanio, kalau engkau hendak membunuh orangmu, terpaksa aku tidak akan sanggup mengobati puterimu."
Wanita itu nampak terkejut dan matanya terbe-lalak, seperti orang keheranan, lalu iapun berkata kepada tuan rumah, "Ah, maafkan, Bu-taihiap, akan tetapi sudah menjadi kebiasaan kami untuk menghukum anak buah kami yang bersalah. Biarpun demikian, melihat betapa para tuan penolong kami telah mintakan ampun, terpaksa kamipun akan mentaati. A-jui, tidak lekas menghaturkan terima kasih kepada tuan-tuan ini yang telah mengembalikan nyawamu ?"
A-jui, laki-laki yang di tengah dahinya ada benjolan merah itu, cepat menghaturkan terima kasih kepada Bu Kek Siang dan Pek- bin-houw sambil berlutut. Tentu saja pihak tuan rumah dan tamu- tamunya merasa heran sekali melihat sikap luar biasa ini.
"Nah, kulanjutkan pembagian tugas," kata Bu Kek Siang. "Ho- siocia dan kedua saudara Kim- suipoa dan Pek-bin-houw membantu kami dalam ruangan ini, juga sambil menjaga keamanan kami yang sedang mengobati, dan toanio bersama anak buan toanio harap menjaga di sekitar rumah, dan mencegah masuknya orang luar yang nendak meng-ganggu kami."
"Baik, sekarang juga kami melakukan tugas itu !" kata wanita itu sambil melangkah keluar diikuti oleh delapan orang anak buahnya, setelah ia melempar pandangnya ke arah puterinya dengan pandang mata penun harapan. Pek Lian dan dua orang gurunya lalu membantu keluarga itu mengadakan persiapan. Sebuah meja panjang diangkat ke dalam ruangan itu, juga sebuah perapian dengan alat-alat menggodok obat dipersiapkan di situ. Kemudian mereka semua beristirahat karena menurut Bu Kek Siang, pengobatan baru akan dimulai besok paginya.
Malam itu ternyata tidak terjadi sesuatu, tidak ada penyerbuan dari orang-orang yang rambutnya riap-riapan itu. Hati mereka menjadi lapang dan merasa dapat beristirahat untuk menghimpun tenaga. Baru pada keesokan harinya, setelah sarapan, keluarga Bu mulai dengan pengobatannya atas diri gadis yang nampaknya seperti sudah mati itu. Pek Lian dan kedua orang gurunya menyaksikan cara pengobatan yang amat aneh, yang mula-mula dilakukan oleh Bu Kek Siang sendiri, yaitu melakukan totokan- totokan pada beberapa jalan darah rahasia yang merupakan cara pengobatan sukar dan berbahaya sekali. Totokan-totokan pada jalan darah rahasia itu kalau kurang tepat dilakukan, akibatnya malah akan mencelakakan pasien, dapat membunuhnya ! Apa lagi totokan-totokan di bagian leher dan kepala. Selain sukar dan harus tepat, juga membutuhkan pengerahan tenaga yang amat besar sehingga tampak pucat seperti tanpa darah sama sekali.
Bu Kek Siang, Kim-suipoa dan Pek-bin-houw adalah pria-pria yang sudah tua, akan tetapi Bu Seng Kun adalah seorang pemuda, sehingga kalau menurut kebiasaan umum, tidak pantaslah bagi seorang pemuda untuk melihat tubuh seorang wanita muda yang telanjang. Akan tetapi, Bu Seng Kun tidak danat disamakan dengan orang-orang muda biasa. Seiak kecil dia sudah mempelajari ilmu pengobatan dari ayahnya dan dialah yang merupakan ahli waris terakhir dari Raja Tabib Sakti. Sejak muda sekali Seng Kun telah membantu ayahnya mengobati bermacam-macam orang dengan bermacam-macam penyakit sehingga baginya, tidak merupakan hal aneh untuk melihat wanita bertelanjang bulat ketika diobati. Apa lagi pengobatan yang harus mempergunakan totokan atau penusukan jarum di bagian-bagian yang penting, haruslah bagian itu dibuka agar penusukan dapat dilakukan dengan tepat sekali. Maka, kini melihat keadaan nona yang kadang-kadang harus telanjang sama sekali itu, dia dapat memandang tanpa bayangan-bayangan cabul sama sekali, yang dilihatnya hanyalah sebatang tubuh yang menderita dan harus diobati sampai sembuh!
Meruanglah, kecabulan atau yang dinamakan porno merupakan hal yang amat relatip sekali.
Apa dan bagaimanakah porno itu? Apakah porno itu identik dengan tubuh telanjang ? Apakah porno itu berarti terbukanya tanpa ditutupi anggauta rahasia pria atau wanita, termasuk buah dada wanita? Itukah porno ? Ataukah juga penulisan tentang hal-hal seksuil, hubungan sanggama dan yang menyangkut dengan hal itu ? Lalu sampai di manakah batas-batas kepornoannya ? Hal ini agaknya menjadi masalah yang selalu diributkan karena memang tidak mungkin orang menemukan batas-batas tertentu, tidak mungkin menggariskan antara porno dan tidak, seperti juga menggariskan tentang kegilaan dan kewarasan seseorang.
Kecabulan bukan terletak dalam kenyataan di luar. Kecabulan terletak di dalam batin masing-masing. Cabulkah atau pornokah kalau ada seorang wanita mandi di sungai bertelanjang bulat ? Pornokah wanita itu dan pornokah yang melihatnya ? Tergantung dari si wanita dan si pemandang sen-diri. Wanita mandi telanjang di sungai itu adalah suatu kenyataan, dan kalau si wanita mandi karena tidak ada tempat lain baginya untuk mandi, kalau ia mandi karena kebutuhan akan mandi tanpa mempunyai dasar untuk memamerkan tubuh telanjangnya itu untuk menarik perhatian orang, untuk menimbulkan gairah pria yang memandangnya, maka ia sama sekali tidak porno ! Sebaliknya kalau ia mandi telanjang itu dengan kesengajaan untuk menimbulkan gairah pada pria yang melihatnya, maka jelaslah bahwa perbuatannya itu porno! Di lain fihak, kalau ada pria yang melihat ia mandi, melihat tanpa adanya pikiran yang membayang-bayangkan hal lain dari pada yang ada, maka diapun sama sekali tidak porno walaupun boleh jadi dia akan melihat wanita mandi itu. Sebaliknya kalau di waktu dia memandang tubuh wanita telanjang itu dia membayangkan kemesraan-kemesraan seperti misalnya dia bermain cinta dengan wanita itu sehingga timbullah napsu berahi, maka tentu saja dia itu porno! Contoh ini dapat saja ditrapkan dengan pelukis dan penonton lukisan, pengarang dan pembaca karangan, dan sebagainya. Bukan gambar atau cerita yang menentukan porno tidaknya, melainkan batin si pelaku itu sendirilah, baik dia itu pencipta keadaan itu maupun si pemandang keadaan. Dan tentu saja, kalau diteliti mudah saja terasa apakah si pencipta keadaan itu menciptakan sesuatu dengan dasar batin porno ataukah tidak. Seorang wanita mandi telanjang bulat belum tentu porno, akan tetapi kalau wanita in dengan pakaian lengkap bersikap memancing gairah dengan menyingkap sedikit gaun memperlihatkan betis saja, ia sudah porno.
Wanita berpakaian putih bersama delapan orang anak buahnya menjaga dengan tertib dan dengan teliti, bergiliran siang malam dan mereka itu menyediakan keperluan makan mereka sendiri, tanpa mengganggu keluarga tuan rumah. Hanya beberapa kali sehari saja wanita itu menjenguk ke dalam kamar tamu yang menjadi kamar pengobatan itu untuk melihat keadaan puterinya.
Pengobatan itupun tidak dilakukan terus-menerus. Bermacam- macam cara pengobatan dilakukan oleh Bu Kek Siang. Tubuh gadis itu telah digosok seluruhnya oleh arak obat, totokan - totokan dan tusukan - tusukan jarum telah dilakukan. Semua berjalan dengan baik dan lancar, hanya satu hal yang membuat keluarga itu kewalahan. Mereka belum berhasil menembus pembuluh - pembuluh darah dan urat-urat syaraf yang seperti membeku itu. Bagaimanapun juga, lewat lima hari pengobat-an, keadaan gadis itu sudah mengalami banyak sekali perobahan.
Tubuhnya yang tadinya pucat kebiruan seperti tubuh mayat itu kini sudah mulai
memerah. Pemapasannya yang tadinya seperti te-lah hampir terhenti itu kini nampak lebih lancar dan longgar. Bahkan ada senyum membayang di bibir yang mulai agak merah itu, cuping hidungnya sudah dapat berkembang - kempis kalau bernapas, hanya gadis itu masih lumpuh sama sekali.
Ibu gadis itu kelihatan gembira bukan main. Biarpun gadisnya masih lumpuh, akan tetapi jelas nampak perobahan - perobahan yang menggembirakan, tanda - tanda bahwa usaha pengobatan sekali ini akan berhasil baik. Dan keluarga Bu juga merasa lega bahwa selama beberapa hari itu tidak ada gangguan pihak musuh sama sekali. Hal ini tentu saja menggirangkan hati mereka dan menimbulkan dugaan bahwa agaknya pihak musuh merasa segan mengganggu karena di situ terdapat orang - orang Tai - bong - pai!
Akhirnya, pengobatan itu mencapai puncaknya pada hari ke sepuluh. "Hari ini bagaimanapun juga kita harus berhasil menembus jalan darah gadis itu," kata Bu Kek Siang. "Sebetulnya, melihat keadaannya, nona Kwa sudah berada di ambang pintu kematian. Maka, perjumpaannya dengan kita dapat dikatakan jodoh, dan kita harus berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkannya."
"Akan tetapi, ayah," kata Seng Kun. "Kalau ayah masih hendak melaksanakan penggabungan tenaga, bukankah hal itu amat berbahaya sekali bagi kita dan juga bagi nona Kwa