Bu Seng Kun lalu mempersilahkan tamu-tamunya masuk. Dia mendahului sebagai penunjuk, jalan sedangkan di belakang rombongan itu berjalan Pek-bin-houw. Ketika mereka semua memasuki ruangan tamu, ternyata di situ Bu Kek Siang telah menanti bersama isterinya, puterinya, dan juga Kim-suipoa telah siap sedia dan berada di situ Ketika delapan orang itu memasuki ruangan tamu, bau dupa menyerang hidung. Keranjang bambu diturunkan perlahan- lahan dan delapan orang itu lalu menjura dengan hormatnya.
"Cu-wi jauh-jauh datang ke sini malam-malam, tidak tahu ada urusan apakah dengan kami
?" Bu Kek Siang bertanya dengan sikap tenang dan dialah yang dapat menduga bahwa isi keranjang itu tentulah seorang manusia, mungkin yang sedang menderita sakit, karena kalau tidak begitu, apa perlunya mereka ini datang ? Selama hidupnya dia belum pernah berurusan dengan pihak Tai-bong-pai.
Akan tetapi delapan orang itu tidak menjawab Tiba-tiba terdengar suara melengking halus dan tinggi sekali, seperti suara beberapa ekor nyamuk beterbangan dalam ruangan tamu itu, makin lama semakin kuat dan nyaring menyakitkan telinga Kemudian, tahu-tahu di ambang pintu telah berdiri seorang wanita berusia kira-kira limapuluh tahun, membungkuk dan menjura dengan sikap hormat sekali kepada pihak tuan rumah. Bau dupa kini luar biasa kerasnya, mengalahkan bau dupa yang dibawa oleh delapan orang pertama tadi!
Wanita itupun memakai pakaian serba putih dan walaupun kainnya terbuat dari bahan yang lebih baik dari pada delapan orang tadi, namun tetap saja potongannya sederhana sekali.
Wajahnya masih membayangkan kecantikan walaupun sudah mulai keriputan, sepasang matanya yang bersinar tajam itu kini nampak diliputi kegelisahan dan kedukaan.
"Maafkan kami," katanya dengan suara halus. "Kami datang dari seberang Gurun Go-bi, untuk minta pertolongan keturunan dari Raja Tabib Sakti yang kami hormati. Puteri kami sedang menderita sakit hebat akibat kesalahan mempelajari ilmu perguruan kami sehingga lumpuh kaki tangannya. Sudah setahun ia menderita dan segala usaha kami sia-sia berlaka. Kemudian kami teringat bahwa di jaman dahulu, Raja Tabib Sakti merupakan satu-satunya orang yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit yang ada di dunia ini. Maka kami mencari keturunannya yang mewarisi kepandaian beliau dan mendengar bahwa Bu- taihiap adalah keturunan itu, maka kami datang untuk minta tolong. Harap dimaafkan bahwa kami datang di tengah malam, maklumlah karena kami tidak biasa melakukan perjalanan pada siang hari."
Setelah berkata demikian, wanita itu mengham-piri keranjang bambu lalu membuka tutupnya dengan hati-hati sekali. Nampaklah seorang gadis yang berwajah cantik rebah di situ. Namun gadis itu kurus sekali dan wajahnya, lehernya, kedua tangan yang tidak tertutup itu nampak pucat kebiruan seperti membeku. Bahkan bibirnyapun nampak kebiruan sehingga dipandang sepintas lalu saja orang tentu akan mengira bahwa yang rebah di dalam keranjang itu tentu telah menjadi mayat Wanita itu berusaha untuk menahan perasaannya, namun tidak urung air matanya berlinang dan menuruni pipinya yang keriputan. Agaknya karena kedukaan maka wanita ini menjadi kurus keriputan.
"Anakku. " bisiknya menahan isak.
Bu Kek Siang mengerling ke arah puterinya sendiri yang berdiri di dekat Bu Seng Kun. Dia dapat membayangkan betapa akan sedih hatinya sebagai seorang tua kalau melihat puterinya, Bu Bwee Hong mengalami penderitaan seperti gadis dalam keranjang bambu itu. Selain itu, diapun mempunyai watak sebagai seorang ahli pengobatan tulen, selalu merasa kasihan kepada yang sedang menderita sakit dan setiap macam penyakit merupakan musuh atau tantangan yang harus ditanggulanginya dan dikalahkannya. Makin berat penyakit itu, makin besar pula gairah di dalam batinya untuk mengalahkannya.
"Bu-taihiap, tolonglah anakku. " Nyonya itu meratap.
"Baiklah, toanio. Biarkan aku memeriksanya." Bu Kek Siang lalu bangkit dari tempat duduknya, menghampiri keranjang itu lalu melakukan peme-riksaan. Diperiksanya nadi pergelangan tangan gadis itu, dibukanya pelupuk mata itu, dan setelah dia mengetuk sana-sini dengan penuh ketelitian, pendekar itu lalu kembali ke tempat duduknya, menarik napas panjang berkali-kali dan setiap gerak-geriknya diikuti oleh pandang mata nyonya itu dengan penuh kegelisahan.
"Bagaimana, Bu-taihiap. ?" Akhirnya dia bertanya dengan gelisah, akan tetapi penuh
harap-harap cemas.
"Keadaan puterimu memang parah, toanio. Kami suka membantu, walaupun aku tidak dapat menjamin apakah kami akan berhasil. Untuk menyembuhkan puterimu, selain pengobatan berupa obat minum dan tusuk jarum, juga dibutuhkan sinkang yang kuat dari aliran persilatan kami.
Tenaga sinkangku sendiri terbatas, maka terpaksa aku harus minta bantuan anak isteriku. Kalau kami semua turun tangan, kiranya baru berhasil, walaupun aku belum yakin apakah kekuatan kami itu sudah cukup untuk menembus semua pembuluh darah dan urat-urat syaraf dalam tubuh puterimu yang seperti sudah membeku itu. Kami dengan segala senang hati akan berusaha menolongnya, akan tetapi ..... "
"Akan tetapi, bagaimana, taihiap. ?" sang ibu bertanya penuh kegelisahan.
"Ketahuilah, toanio, pada saat ini keluargaku sedang mengalami gangguan dan ancaman dari musuh-musuh kami!"
Bu Kek Siang menarik napas panjang dan merasa berduka sekali. Alangkah akan baiknya kalau ji-susioknya itu membantunya mengobati gadis ini, bukannya memusuhinya untuk merampas kitab pusaka seperti sekarang ini. Dengan tenaga sin-kang dari ji-susioknya yang amat hebat, yang lebih tinggi dari pada ilmunya sendiri, apa lagi kalau, dibantu pula oleh sinkang dari sam- susioknya, dan dia sendiri turun tangan mengobati, pasti gadis ini akan dapat disembuhkan dengan cepat.
Mendengar keterangan tuan rumah yang amat diharapkan akan dapat menyelamatkan nyawa puterinya, wanita itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bu Kek Siang. "Bu-taihiap, kalau taihiap bersama keluarga taihiap sudi menolong puteriku maka kami yang akan menjaga rumah ini dari gangguan siapapun juga. Kami anak murid dari Partai Kuburan Besar, biarpun bukan orang-orang yang disukai oleh kaum persilatan, akan tetapi kami tahu membalas budi kebaikan orang lain. Selama hidup turun- temurun, anak murid kami akan menjunjung tinggi budi kecintaan keluarga Bu sampai turun-temurun."
Bu Kek Siang tersenyum. "Toanio salah sangka. Melawan penyakit mengobati orang merupakan kewajiban seorang ahli pengobatan. Bukan hanya kewajiban, juga merupakan suatu pekerjaan yang kucinta. Siapapun yang datang minta tolong kepadaku untuk diobati tentu akan kutolong tanpa pandang bulu, tanpa minta imbalan jasa, tanpa pamrih. Sekarang, baiklah kita mengadakan pembagian kerja. Aku bersama isteri dan kedua orang anakku akan mencoba untuk mengobati puterimu. Tiga orang tamu kami dapat membantu kalau mereka suka. " Bu Kek
Siang memandang ke arah Pek-bin-houw, Kim-suipoa, dan Pek Lian. Sebenarnya, Bu Kek Siang tidak mengharapkan bantuan mereka untuk mengobati gadis itu, mela-inkan mengharapkan bantuan mereka untuk menghadapi lawan kalau mereka muncul. Karena, selagi melakukan pengobatan, kalau musuh-musuh itu datang sungguh amat berbahaya sekali, dan diapun belum tahu bagaimana nanti sikap orang-orang Tai-bong-pai.
"Jangan khawatir, locianpwe. Saya akan mem-bantu keluarga locianpwe!" kata Pek Lian yang menghampiri Bwee Hong, gadis cantik jelita yang telah menjadi sahabat baiknya itu.
"Benar, kami berduapun siap untuk membantu," kata Kim- suipoa sedangkan Pek-bin-houw juga mengangguk menyetujui.
Diam-diam Bu Kek Siang merasa girang, akan tetapi dia masih mencoba lagi, "Akan tetapi, pengobatan ini akan memakan waktu yang cukup lama, mungkin sampai belasan hari lamanya ! Apakah sam-wi akan dapat membantu terus ?"
Dua orang pendekar dari Puncak Awan Biru itu menjadi ragu- ragu mendengar ini, akan tetapi mereka telah didahului oleh Pek Lian yang berkata dengan nada suara tetap dan nyaring, "Tentu saja kami akan terus membantu sampai pengobatan itu berhasil baik!"
Wanita berpakaian putih itu cepat menghadap kepada Pek Lian dan dua orang gurunya, lalu menjura dengan hormat. "Tak tahu bagaimana kau harus berterima kasih kepada sam-wi, dan kami sungguh merasa malu sekali bahwa murid kami pernah menyerang penolong kami." Tiba- tiba wanita itu menoleh ke arah anak buahnya yang tadi berkelahi dengan Pek-bin-houw dan membentak, "A-jui, hayo maju dan serahkan nyawamu!"
Orang yang disebut A-jui itu terbelalak, tubuhnya menggigil akan tetapi dia lalu maju berlutut di depan wanita itu. Semua orang merasa terkejut sekali, akan tetapi ketika wanita itu mengangkat tangannya, tiba-tiba Pek-bin-houw meloncat ke depan dan berseru, "Tahan !!"
Wanita itu tidak jadi menurunkan pukulan mautnya dan menoleh kepada Pek-bin-houw. "Apakah saudara hendak turun tangan sendiri ? Lakukanlah, dia sudah menyerahkan nyawanya untuk menebus dosa tadi."
"Tidak !" bentak Pek-bin-houw, bergidik menyaksikan kekejian ini. "Aku sama sekali tidak ingin melihat dia dibunuh hanya karena tadi berkelahi denganku. Kami berkelahi karena salah paham. Toanio, jangan bunuh dia!"
Bu Kek Siang juga melangkah maju. "Siancai ! Aku disuruh menyelamatkan nyawa