Seperti babi disembelih.
Kalau tadi Sian Eng dan Bu Sin menghabiskan waktu satu jam untuk menuruni bukit itu, bagi Suling Emas hanya membutuhkan belasan menit saja. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat banyak sekali orang menghadangnya di tepi Sungai Kan-kiang. Ia kaget melihat It-gan Kai-ong sudah berada di situ, dan ia heran menyaksikan puluhan orang yang ia kenal sebagai tamu-tamu yang tadinya berkumpul di Nan-cao dan yang sudah meninggalkan Nan-cao dua tiga hari yang lalu. Ada tokoh-tokoh besar wakil dari partai-partai persilatan besar, ada pula hwesio-hwesio Siauw-lim, ada pendeta-pendeta tosu dari Go-bi-pai dan Kong-thong-pai. Dan mereka ini semua rata-rata bersikap keren dan bermusuh.
"Para sahabatku, itulah dia putera tunggal Tok-siauw-kwi"
Kalau bukan dia yang harus membayar hutang mendiang ibu kandungnya, siapa lagi?"
Terdengar It-gan Kai-ong berseru sembil tertawa mengejek. Kini Suling Emas sudah berhadapan dengan mereka. Melihat semua orang itu siap mengeroyoknya, Suling Emas cepat mengangkat tangan ke atas sambil berkata.
"Saudara-saudara sekalian ini bukankah tadinya menjadi tamu-tamu terhormat di Nan-cao? Mengapa tidak lekas kembali ke tempat masing-masing dan menghadangku di sini? Ada urusan apakah?"
Orang banyak itu melangkah maju, dan seperti seribu burung berkicau mereka menjawab dengan ucapan masing-masing. Akan tetapi rata-rata mereka itu marah dan Suling Emas masih sempat mendengar betapa mereka itu menaruh dendam atas perbuatan-perbuatan mendiang ibunya. Ia menjadi bingung, kemudian melihat seorang hwesio tua dari Siauw-lim-pai yang dikenalnya baik ia cepat menegur hwesio itu.
"Cheng San Hwesio, kau mengenal baik padaku dan kiranya cukup maklum bahwa aku selamanya tidak memusuhi Siauw-lim-pai dan lain-lain golongan. Mengapa sekarang terjadi pencegatan ini mengapa pula kau ikut-ikutan hendak memusuhiku? Apakah salahku terhadap Siauw-lim-pai?"
"Hemmm, Suling Emas, memang kau tak pernah memusuhi kami, bahkan kau selalu berbaik dengan Siauw-lim-pai. Akan tetapi kebaikanmu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kejahatan ibu kandungmu. Tiga orang suhengku tewas dua puluh tahun yang lalu dan seorang suteku diculik ibumu, kemudian tewas pula tidak tentu kuburnya setelah dijadikan barang permainan ibu kandungmu. Dosa itu tak berampun, dan karena ibumu sudah tewas, kaulah yang harus membayar hutangnya. Harap saja kau suka menyerahkan agar pinceng (aku) bawa kau menghadap ketua kami di Siauw-lim"
"Mana bisa, Cheng San Hwesio"
Bantah seorang tosu yang dikenal pula oleh Suling Emas sebagai seorang tokoh Hoa-san bernama Kok Seng Cu.
"Pinto (aku) juga mempunyai urusan dengan Suling Emas karena ibunya, Tok-siauw-kui pada puluhan tahun yang lalu mengobrak-obrik Hoa-san, membunuh lima orang suhengku, mencuri pedang pusaka dan menghina ketua. Kami berusaha mencarinya selama ini, akan tetapi ia bersembunyi dan sekarang begitu keluar lalu binasa. Perhitungan lama belum dilunaskan, tahun yang lalu di Thai-san, seorang sute pinto bernama Kok Ceng Cu tewas oleh Siang-mou Sin-ni yang ternyata juga murid Tok-siauw-kui. Hemmm, siapa lagi kalau bukan Suling Emas yang harus mempertanggungjawabkan? Suling Emas, hayo kau ikut dengan pinto ke Hoa-san"
"Tidak bisa"
Kata seorang hwesio lain yang bermuka hitam bernama Hek Bin Hosiang tokoh Go-bi-pai.
"Tok-siau-kui mencuri kitab pusaka Go-bi-pai, tentu diberikan kepada puteranya. Suling Emas, kau kembalikan kitab itu, baru pinceng mau pergi"
Sambil berkata demikian, hwesio muka hitam ini seperti yang lain-lain lalu melangkah maju sambil melintangkan toya baja di tangannya.
Masih banyak yang bicara dan rata-rata mereka itu mengemukakan perbuatan-perbuatan Tok-siauw-kui dan menuntut balas pada Suling Emas. Pendekar ini menjadi kaget, menyesal, sedih dan juga bingung. Tak disangkanya bahwa ibunya yang selama ini menjadi kenangan yang dibela sehingga ia rela meninggalkan ayahnya, hidup terlunta-lunta, ternyata adalah seorang tokoh yang begini banyak musuhnya dan yang telah melakukan banyak perbuatan jahat. Rasa sesal di hatinya membuat ia ingin menebus dosa itu dengan nyawanya, ingin membiarkan dirinya dikeroyok dan dibunuh, ingin menebus dosa ibunya dengan cucuran darah dan melayangnya nyawa. Akan tetapi, ia masih mempunyai banyak tugas di dunia ini. Apalagi ia telah berdosa kepada ayah kandungnya, mengira ayahnya yang jahat terhadap ibunya.
Kini ibunya yang banyak dosa telah tewas, ayahnya yang agaknya menjadi korban ibunya, yang ditinggal pergi ibunya telah tewas pula. Akan tetapi anak-anak ayahnya masih ada. Bu Sin dan Sian Eng dan juga Lin Lin, ia harus melindungi mereka untuk menebus dosanya sendiri terhadap ayahnya. Pula semua tuduhan terhadap ibunya itu harus ia selidiki dulu. Dengan sudut matanya Suling Emas melihat orang-orang yang menghadapinya. Ada dua puluh empat orang, belum terhitung It-gan Kai-ong. Mereka itu rata-rata berilmu tinggi dan selain di situ ada It-gan Kai-ong yang tangguh, di sebelah belakang masih datang pula Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong. Kalau mereka semua maju, biarpun ia tumbuh sepasang sayap, kiranya ia takkan mungkin dapat menandingi mereka.
"Kalian terburu nafsu. Andaikata mendiang ibuku melakukan semua itu, apa hubungannya dengan aku? Aku tidak ada waktu untuk melayani kalian yang sedang mabuk dendam"
Setelah berkata demikian, Suling Emas memutar sulingnya dan melompat jauh, lalu melarikan diri.
Tentu saja ia tidak mau lari ke hilir karena hal itu tentu akan membawa ia ke tempat adik-adiknya dan kalau hal ini terjadi akan berbahayalah bagi adik-adiknya. Maka ia sengaja mengambil jalan yang sebaliknya. Yaitu ke hulu sungai, berlawanan dengan aliran air. Dengan suara gemuruh orang-orang itu melakukan pengejaran sambil mengacung-acungkan senjata masing-masing. Suling Emas menjadi makin gelisah. Tentu saja ia bisa melawan mereka, dan dengan ilmu silatnya yang tinggi, agaknya tidak akan mudah bagi mereka untuk menangkapnya. Akan tetapi, menghadapi pengeroyokan begitu banyak orang berilmu tinggi tentu saja ia akan terpaksa untuk mengeluarkan ilmu kepandaiannya dan hal ini tentu akan mengakibatkan banyak korban jatuh.
Hanya dengan jalan merobohkan dan membunuh ia akan dapat membuka jalan darah dan membebaskan diri, dan hal ini justeru sama sekali tidak dikehendakinya. Kalau ia melakukan pembunuhan, berarti ia menambah dosa-dosa ibunya. Berpikir demikian, Suling Emas mempercepat larinya. Akan tetapi, para pengejarnya adalah tokoh-tokoh pilihan dari pelbagai partai persilatan besar yang tentu saja pandai mempergunakan ilmu lari cepat sehingga mereka ini dapat terus melakukan pengejaran den tidak tertinggal terlalu jauh oleh Suling Emas. Malah tiba-tiba pendekar itu mendengar bentakan tepat di belakangnya, bentakan yang amat nyaring dari seorang wanita.
"Kau harus menebus nyawa ayah yang terbunuh oleh ibumu. Lihat pedang"
Suling Emas kaget sekali, cepat ia menghindar dengan langkah nyerong. Sinar pedang yang putih seperti perak meluncur lewat di atas pundaknya dan alangkah kagetnya ketika ia melihat seorang wanita cantik berpakaian serba hijau yang menyerangnya itu. Wanita ini cantik dan berwajah keren, pakaiannya sederhana dari sutera warna hijau, usianya sekitar tiga puluh tahun. Melihat cara pedang bersinat putih perak itu tadi menusuk, Suling Emas menduga bahwa wanita ini tentulah seorang anak murid pilihan dari seorang ahli pedang dan ahli Sin-kang yang sakti. Gerakan wanita itu ringan bukan main, seakan-akan pandai terbang, dan gerakan pedangnya pun cepat dan seperti kilat menyambar. Hati Suling Emas terkesiap, cepat ia mencabut kipasnya dan menggunakan kebutan kipas untuk mengebut pedang itu tiap kali sinarnya menyambar.
"Kau siapa, Nona?"
"Aku Bu-eng-sin-kiam (Pedang Sakti Tanpa Bayangan) Tan Lien dari pantai timur. Mendiang ayahku, Tan Hui, tewas di tangan ibu kandungmu yang jahat setelah ia mengelabuhi ayah sehingga berhasil mewarisi gin-kang dari ayah. Ibumu jahat dan palsu, kau harus menebus dosanya"
Bentak wanita itu sambil menyerang lagi. Suling Emas kaget. Ia ingat akan nama basar Tan Hui, jago pedang di pantai timur.
"Ayahmu yang berjuluk Hui-kiam-eng (Pendekar Pedang Terbang)?"
"Betul dan sekarang menanti di akhirat untuk menunggu nyawamu"
Diam-diam Suling Emas mengeluh. Apalagi setelah melihat para pengejar yang lain sudah datang dekat. Ia tidak tega merobohkan wanita ini. Nama besar Hui-kiam-eng terkenal sebagai pendekar yang berbudi, kalau pendekar itu tewas di tangan ibu kandungnya dan sekarang anaknya berusaha membalas, bagaimana ia dapat tega merobohkan Tan Lian ini?
"Ibuku yang berbuat, aku tidak tahu apa-apa,"
Katanya sambil mengebut pergi pedang yang kembali telah menusuknya dengan cepat.
"Agaknya kau haus darah, biarlah kuberi sedikit darahku"
Sambil berkata demikian, ketika pedang lawan membacok, Suling Emas sengaja membiarkan ujung bahunya yang kiri terserempet pedang sehingga baju serta kulit dan sedikit daging bahunya robek. Darahnya mengalir membasahi baju, akan tetapi pada saat itu Tan Lian menjadi lumpuh lengan kanannya karena secara lihai sekali Suling Emas membarengi dengan totokan ujung gagang kipas pada jalan darah di dekat siku.
"Maafkan aku"
Setelah berkata demiklan, kembali Suling Emas membalikkan tubuh dan lari secepatnya sebelum para pengejarnya datang dekat.