Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 103

Memuat...

Katanya, suaranya agak gemetar.

"Kau pergilah, aku tidak apa-apa, percayalah. Kelak kita dapat bertemu kembali. Aku minta dengan sangat, jangan kau kembali ke perahu"

Bok Liong meragu, akan tetapi mendengar suara yang gemetar itu dan melihat wajah Lin Lin yang ketakutan mengkhawatirkan keadaan dan keselamatan dirinya, diam- diam ia merasa bahagia sekali.

"Baiklah, Lin-moi, asal kau selamat, aku menurut segala kehendakmu. Tapi, aku akan selalu membayangimu. Awas mereka yang berani mengganggu, aku pasti akan menjungkir balikkan bumi langit untuk mengadu jiwa"

Setelah berkata demikian, pemuda itu berenang ke pinggir.

Setelah mendarat, barulah ia merasa betapa tubuhnya sakit-sakit semua dan ia menggigil kedinginan. Akan tetapi melihat perahu itu meluncur maju menurutkan aliran sungai, ia pun cepat-cepat mengikuti dari tepi sungai. Pemuda ini sudah mengambil keputusan untuk terus mengikuti jejak Lin Lin yang menjadi tawanan orang-orang Khitan. Ia bersikeras untuk membayangi terus, biarpun ia harus berjalan sampai ke Khitan, atau kalau perlu, ia akan terus membayangi sampai ke neraka. Dapat dibayangkan betapa sengsaranya perjalanan ini. Yang dibayangi naik perahu, karena perahu itu menurutkan aliran air, maka tidak pernah berhenti. Bok Liong harus mengikuti terus siang malam, dan ia harus menyaksikan dengan tubuh letih betapa para penumpang perahu enak-enakan duduk melengggut, atau harus menyaksikan dengan perut lapar betapa para penumpang perahu makan minum di atas dek.

Adapun Lin Lin selalu berada di dalam bilik perahu. Hanya kadang-kadang saja gadis itu keluar dan dengan hati pedih melihat bayangan Bok Liong bergerak di tepi sungai. Hatinya makin terharu dan kasihan melihat pemuda itu, bukan hanya karena kesetiaan dan cinta kasih pemuda itu, melainkan terutama sekali kasihan karena hatinya sendiri tidak akan dapat membalas cinta kasih Bok Liong. Hatinya sendiri, sudah tersangkut oleh.. sebuah suling yang terbuat daripada emas. Kita tinggalkan dulu Lie Bok Liong yang dengan sengsara membayangi jejak orang-orang Khitan yang menawan Lin Lin sebagai seorang tawanan terhormat karena gadis ini, biarpun hakekatnya amat dibenci oleh Hek-giam-lo, namun sesungguhnya adalah calon ratu yang akan diperisteri oleh Kaisar Khitan. Mari kita mengikuti perjalanan Suling Emas bersama dua orang adiknya, Sian Eng dan Bu Sin.

"Twako, kenapa kau tadi tidak mencegah Lin-moi dibawa pergi orang-orang Khitan? Bagaimana kalau sampai dia mengalami celaka?"

Di tengah perjalanan Sian Eng menegur Suling Emas. Suling Emas diam saja, hanya menarik napas panjang. Mereka bertiga berjalan seenaknya, Suling Emas sebagai petunjuk jalan di depan, di belakangnya berjalan Sian Eng dan Bu Sin berjalan di belakang.

"Eng-moi, bagaimana kau bisa menegur Twako seperti itu? Kau tahu sendiri betapa peristiwa hebat susul-menyusul yang menyedihkan hati Twako,"

Kata Bu Sin. Terang bahwa Suling Emas menghadapi hal-hal hebat, pertemuan dengan ibunya yang ternyata seorang iblis betina, kemudian kejadian-kejadian berikutnya yang hebat. Tentu saja Suling Emas kurang memperhatikan keadaan Lin Lin.

"Kalian tidak usah khawatir. Lin Lin berada di tangan suku bangsanya sendiri, takkan diganggu. Melihat gelagatnya, apalagi mengingat akan pengalaman Adik Sian Eng ketika diculik orang-orang Khitan, agaknya Lin Lin adalah Puteri Khitan yang dahulu dipungut ayah kita. Betapapun juga, kita akan pergi ke Khitan, merampas kembali tongkat Beng-kauw, sekalian mencari Lin Lin. Menurut pendapatku, sebaiknya kalian pulang dulu ke Cin-ling-san, biar aku mencari Lin Lin, kalau sudah jumpa, akan kuajak dia menyusul ke Cin-ling-san, tentu saja kalau dia mau."

"Kalau ia mau? Apa maksudmu, Twako?"

Tanya Sian Eng heran.

"Bukankah dia itu Puteri Khitan? Kalau dia sudah kembali kepada bangsanya dan merasa berhak berada di sana dan tidak mau kembali ke Cin-ling-san, tentu saja kita tidak dapat memaksanya bukan?"

"Aku ikut, Twako. Aku akan membujuknya. Tidak boleh dia tinggal bersama suku bangsa liar itu"

Seru Sian Eng yang sudah pernah dibawa kepada suku bangsa Khitan itu.

"Betul, Twako. Aku dan Eng-moi akan ikut, sekalian untuk meluaskan pengalaman."

Kembali Suling Emas menarik napas panjang. Baru saja kedua orang adiknya ini mengetahui rahasia bahwa dia sebenarnya adalah Kam Bu Song, dan baru saja mereka berkumpul. Tidak tegalah hatinya untuk mengusir mereka.

"Baiklah, akan tetapi perjalanan amat sukar dan jauh. Pula aku menghadapi banyak rintangan. Setelah keadaanku diketahui semua tokoh kang-ouw, bahwa mendiang Tok-siauw-kui adalah ibuku, agaknya perjalananku tidak akan aman lagi."

"Mengapa, Twako?"

Suling Emas menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara mengeluh.

"Mendiang ibuku.. ah tak perlu dibicarakan lagi."

Ia tidak melanjutkan kata-katanya dan ketika Sian Eng hendak bertanya dari belakang Bu Sin menyentuh lengannya dan memberi tanda supaya adiknya ini tidak banyak bertanya.

"Orang-orang Khitan itu tentu berangkat ke utara melalui jalan sungai. Satu-satunya jalan tercepat ke utara hanya melalui Sungai Kan-kiang. Mereka sudah menang dulu tiga hari. Aku tahu jalan tercepat menuju ke Kan-kiang, melalui anak Bukit Pek-kee-san (Bukit Ayam Putih). Akan tetapi perjalanannya amat sukar dan jalan turunnya sebelah sana hanya dapat ditempuh melalui sebuah jurang. Jurang ini tidak lebar, hanya sepuluh tombak lebih (dua puluh meter kurang lebih), akan tetapi amat dalam. Dahulu aku memasang sehelai tambang untuk penyeberangan di atas jurang itu. Mari kita melalui jalan itu agar dapat melakukan perjalanan cepat."

Dua orang adiknya menurut dan mulailah mereka mendaki Bukit Pek-kee-san. Memang betul seperti yang dikatakan Suling Emas, perjalanan ini amat sukar. Bukit itu tidak terlalu tinggi, akan tetapi jalan pendakiannya melalui daerah yang sukar sekali. Mereka harus melompati banyak jurang-jurang kecil, melalui daerah batu karang yang tandus dan panas, dengan jalan penuh batu-batu kecil yang bergerak-gerak kalau diinjak, melalui jalan yang licin dan berbahaya. Akan tetapi, karena mereka bertiga adalah orang-orang muda yang berilmu tinggi, maka mereka dapat melakukan perjalanan cepat. Hanya Sian Eng yang kadang-kadang harus berpegang pada lengan Suling Emas, karena di antara mereka, hanya Sian Eng yang paling rendah tingkat kepandaiannya. Bu Sin telah mendapatkan kemajuan hebat sekali semenjak ia digembleng oleh kakek sakti di air terjun.

Matahari telah condong ke barat ketika mereka bertiga tiba di tepi jurang yang dimaksudkan, jurang satu-satunya yang akan membawa mereka ke tepi Sungai Kan-kiang setelah mereka berhasil menyeberanginya dan tiba di bukit kecil di seberang. Ngeri keadaan di situ, karena tepi jurang itu membuka lubang menganga seakan-akan tak berdasar di bawah kaki mereka. Akan tetapi bukan hal inilah yang membuat Sian Eng memandang dengan muka pucat dan membuat Bu Sin tertegun. Bahkan Suling Emas sendiri mengerutkan keningnya dan mengeluarkan suara seperti kutukan di dalam tenggorokannya.

Memang tambang besar dan kuat itu masih melintang di atas jurang, menjadi sehelai jembatan yang luar biasa. Akan tetapi "jembatan"

Ini tidak kosong. Di tengahnya, antara lima tombak dari tepi, tampak seorang kakek tinggi kurus gundul dan buruk menyeramkan berdiri di atas kepalanya di atas tambang. Posisi yang amat sukar dan luar biasa. Bukanlah mudah untuk "berdiri"

Jungkir-balik dengan kepala di atas tambang, kedua lengan bersedakap dan kedua kaki menjulang ke atas, dan lagi kalau tambang itu melintang di atas jurang yang dalamnya ratusan meter. Tapi kakek itu tampak enak-enak saja melenggut, meram melek dan dari mulutnya yang terbuka dan kelihatan gigi kecil-kecil ompong itu keluar dengkur yang keras.

"Hemmm, tak kusangka gangguan dimulai sepagi ini"

Gumam Suling Emas dan dengan kaki kirinya ia menginjak tambang di tepi jurang, lalu bentaknya keras.

"Lo-tong (Anak Tua)"

Apakah kehendakmu menghadang aku di sini dan menjual kepandaian secara tengik begini? Hayo pergi, kalau tidak, jangan salahkan aku kalau aku menendang tubuhmu yang reyot itu ke dasar jurang"

Bu Sin dan Sian Eng berdiri di belakang Suling Emas dan memandang penuh kengerian. Kalau terjadi pertandingan di atas tambang antara Suling Emas dan kakek yang bukan lain adaleh Tok-sim Lo-tong, seorang di antara Enam Iblis itu, alangkah mengerikan. Mereka maklum dan percaya penuh akan kesaktian kakak mereka, akan tetapi pertandingan dilakukan di atas tambang yang melintang di atas jurang seperti itu, benar-benar amatlah berbahaya, baik bagi yang kalah maupun bagi yang menang. Sekali saja keseimbangan badan kacau, atau sekali saja kaki terpeleset dan jatuh, jangan harap akan dapat menyelamatkan nyawa, kecuali kalau orang itu mempunyai sayap seperti burung.

"Heh-heh, Kim-siauw-eng, kiranya kau anak dari si wanita cabul Tok-siauw-kui, heh-heh-heh"

Merah wajah Suling Emas. Begitu cepatnya cerita itu tersiar, pikirnya.

"Tok-sim Lo-tong tak perlu kau bersusah payah membakar hatiku. Kalau kau berniat menantangku, mari kulayani kau. Untuk apa bertingkah seperti anak-anak padahal kau sudah tua bangka begini?"

"Heh-heh, berani kau melawanku? Di atas tambang ini?"

"Takut apa?"

Suling Emas meloncat ke atas tambang dengan gerakan seringan burung walet, lalu menoleh dan berkata kepada kedua orang adiknya,

"Jangan kalian menyeberang sebelum aku beri isyarat dari sana."

Sehabis memberi peringatan kepada adik-adiknya Suling Emas melangkah maju sambil mengeluarkan senjatanya, yaitu sulingnya. Ia maklum bahwa biarpun kelihatan seperti orang tolol, kekanak-kanakan, namun Tok-sim Lo-tong adalah seorang sakti dan jahat sehingga ia dianggap cukup berharga untuk menjadi seorang di antara Thian-te Liok-koai. Maka ia tidak berani memandang rendah dan sengaja ia mengeluarkan sulingnya.

"Heh-heh-heh"

Tok-sim Lo-tong terkekeh dan tubuhnya bergerak seperti baling-baling berputaran beberapa kali di udara lalu tahu-tahu ia telah berdiri di atas tambang. Hebat sekali demonstrasinya ini, seakan-akan tambang itu merupakan tanah keras biasa baginya. Begitu kedua kakinya yang telanjang itu menginjak tambang, ia lalu lari ke tengah dan tiba-tiba tubuhnya bergoyang-goyang ke kanan kiri. Jari-jari kakinya mencengkeram tambang dan guncangan-guncangan yang dibuat pada tambang itu membuat tubuh Suling Emas bergoyang-goyang pula, makin lama makin hebat sampai tubuh pendekar ini menjadi miring ke kanan kiri.

Bu Sin dan Sian Eng memandang pucat. Kakek sinting itu berbahaya sekali dan karena kedua kakinya telanjang, tentu saja ia lebih leluasa "main-main"

Post a Comment