Halo!

Suling Naga Chapter 84

Memuat...

"Sudah cukup, Kun Tek, sekarang tidak terasa nyeri lagi. Terima kasih."

Ada dua macam perasaan menyelinap di hati pemuda itu ketika Bi Lan berkata demikian. Ada rasa lega karena dia seperti terbebas dari ketegangan yang membuat dia berpeluh dan gemetar, akan tetapi ada rasa kecewa pula bahwa jari-jari tangannya harus meninggalkan buah pinggang yang ramping, gempal, lunak, halus dan hangat itu.

"Tidak perlu berterima kasih, Bi Lan. Bukankah kita sudah menjadi sahabat baik dan sudah sepatutnya kalau kita saling menolong?"

Bi Lan mau melanjutkan siasatnya untuk mencoba dan menjatuhkan Kun Tek agar ia dapat memberi pelajaran kepada laki-laki yang sombong ini. Ia lalu bangkit dan mengemasi buntalan pakaiannya, menggendongnya di punggung kembali.

"Sekarang tiba saatnya aku melanjutkan perjalananku. Selamat berpisah, Kun Tek. Engkau baik sekali dan terima kasih."

Berkata demikian, Bi Lan lalu meloncat pergi.

"Eh, Bi Lan, nanti dulu...."

Kun Tek berseru dengan kaget. Keputusan Bi Lan yang tiba-tiba untuk meninggalkannya itu sungguh mengejutkan hatinya.

"Engkau hendak ke mana?"

"Aku hendak melanjutkan perjalananku."

"Kita dapat melakukan perjalanan bersama...."

"Tidak, aku mempunyai urusan penting sekali!"

"Aku akan membantumu, Bi Lan, sampai engkau berhasil dalam urusan itu!"

Bi Lan tersenyum manis.

"Engkau memang seorang yang baik budi, Kun Tek. Akan tetapi, aku merasa tidak enak kalau harus mengganggumu selalu. Di antara kita tidak ada hubungan apa-apa...."

"Kita sahabat baik!"

Bi Lan mempermanis senyumnya sehingga nampak lesung pipit di kanan kiri. Manis sekali.

"Memang, engkau seorang sahabatku yang baik sekali. Akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa engkau harus bersusah payah selalu untukku. Nah, selamat tinggal!"

"Bi Lan....!"

Kun Tek berseru akan tetapi gadis itu tidak menoleh lagi dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.

"Bi Lan....! "

Kun Tek berteriak lagi dan diapun cepat mengumpulkan barang-barangnya, berkemas sambil kadang-kadang menengok ke depan, ke arah perginya Bi Lan yang kini sudah tidak nampak lagi bayangannya itu. Hati Kun Tek terasa panik dan khawatir sekali kalau-kalau dia akan kehilangan gadis itu dan tidak akan bertemu lagi dengannya. Akan tetapi sebelum dia berlari untuk melakukan pengejaran, tiba-tiba berkelebat bayangan yang agaknya sejak tadi bersembunyi di balik semak-semak di seberang ladang itu dan bayangan ini membentak,

"Manusia tak tahu malu, berhenti dulu aku mau bicara!"

Kun Tek terkejut, tidak menyangka di tempat sunyi itu ada orang bersembunyi di belakang semak-semak. Ketika dia membalikkan tubuhnya, ternyata orang itu adalah seorang pemuda yang usianya sebaya dengan dia, seorang pemuda bermuka bersih cerah, berkulit kuning. Seorang pemuda yang tampan walaupun pakaiannya yang berwarna biru itu amat sederhana. Dengan alis berkerut, Kun Tek memandang tajam dan menegur,

"Siapakah engkau dan ada urusan apa dengan aku maka engkau datang-datang mengatakan aku tidak tahu malu?"

Pemuda ini bukan lain adalah Gu Hong Beng! Pemuda ini merana sejak ditinggal pergi Bi Lan. Sakit sekali rasa hatinya oleh penolakan Bi Lan terhadap cintanya. Dia merasa hidupnya seakan-akan menjadi kosong dan sunyi. Dia melanjutkan perjalanan untuk memenuhi perintah gurunya, menuju ke kota raja, namun semangatnya sudah menipis sekali.

Malam tadi dia secara kebetulan sekali mengambil jalan yang sama dengan Bi Lan sehingga ketika Bi Lan yang ditolong oleh Kun Tek berhenti di tempat mereka melewatkan malam, dari jauh Hong Beng melihat api unggun mereka. Pemuda ini menjadi curiga melihat api unggun dan dengan hati-hati dia mendekati. Dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika dia melihat Bi Lan sedang tidur dan rebah miring di dekat api unggun, dan hati yang tadinya menjadi girang itu tiba-tiba berubah panas penuh rasa cemburu ketika dia melihat seorang pemuda tinggi besar menggunakan kain untuk menyelimuti tubuh Bi Lan yang tidur pulas! Dan diapun segera mengenal pemuda tinggi besar itu sebagai pemuda yang dipuji-puji oleh Bi Lan, pemuda yang turun tangan menghajar Phoa Wan-gwe dan tukang-tukang pukulnya.

Dengan hati panas penuh rasa cemburu, Hong Beng lalu bersembunyi dan melakukan pengintaian. Dia merasa tidak enak kalau harus muncul menemui Bi Lan pada saat itu, apa lagi melihat gadis itu sedang tidur nyenyak. Dia ingin sekali melihat apa yang akan dilakukan dua orang muda itu, ingin melihat sampai sejauh mana hubungan di antara mereka yang nampaknya sudah akrab itu. Panas sekali hatinya. Tak disangkanya Bi Lan yang baru saja meninggalkannya, kini sudah bersahabat dengan seorang pria lain, dan mengingat betapa Bi Lan memuji-muji pemuda tinggi besar itu, hatinya penuh rasa iri dan cemburu. Dia melihat segala yang terjadi dari tempat sembunyinya. Dia memang tidak melihat pemuda itu melakukan sesuatu, kecuali menyelimuti tubuh Bi Lan dengan kain, akan tetapi itupun dilakukannya dengan sikap sopan.

Kemudian melihat betapa mereka berdua itu bercakap-cakap yang tak dapat didengar sua-ranya karena tempat sembunyinya cukup jauh. Dan hatinya semakin panas melihat betapa mereka berdua itu makan bersama dengan sikap yang demikian gembira. Akan tetapi, ketika dia melihat betapa pemuda itu mengobati pinggang Bi Lan dengan jalan meraba dan memijat pinggang yang telanjang itu, hampir dia tidak dapat menahan diri yang dibakar oleh api cemburu! Dia dapat menduga bahwa tentu pemuda itu melakukan semacam pengobatan, akan tetapi caranya yang membuat dia tidak kuat menahan kemarahan hatinya. Pemuda itu begitu saja, dengan tangan telanjang, meraba dan memijat pinggang yang tidak tertutup itu. Kenapa Bi Lan membiarkan tubuhnya dipegang-pegang? Dan pemuda itu, betapa kurang ajar dan tidak sopan sekali!

Ketika dia melihat Bi Lan pergi meninggalkan pemuda itu dan melihat pemuda itu agaknya hendak mengejar, memanggil-manggil nama Bi Lan begitu saja, diapun cepat meloncat keluar dari tempat persembunyiannya dan lari menghampiri Kun Tek. Tibalah saatnya untuk turun tangan menghajar pemuda tak sopan itu, karena kalau Bi Lan masih berada di situ, tentu saja dia merasa malu untuk mencampuri urusan pribadi mereka. Kini Bi Lan tidak ada dan dia boleh menumpahkan semua perasaan hatinya yang panas dan penuh cemburu kepada pemuda itu. Sejenak dua orang itu berdiri saling berhadapan dan saling memperhatikan dengan sinar mata tajam. Dua orang pemuda yang sebaya dan sama-sama tampan dan gagah. Hanya bedanya, kalau wajah Hong Beng diliputi kemarahan dan kebencian, sebaliknya wajah Kun Tek mengandung keheranan dan penasaran.

"Gadis yang baru pergi tadi, apamukah ia? Isterimukah?"

Hong Beng bertanya, suaranya ketus. Kerut merut di antara alis yang tebal di wajah Kun Tek makin mendalam dan sinar matanya menyambar marah ke arah penanya itu.

"Hemm, apa sangkut-pautnya hal itu denganmu?"

"Sangkut-pautnya dekat sekali!"

Kata Hong Beng semakin marah.

"Gadis itu, Can Bi Lan, adalah seorang sahabatku!"

Kun Tek terbelalak dan memandang penuh selidik. Kalau pemuda ini sahabat baik Bi Lan, kenapa mengambil sikap bermusuh dengannya?

"Begitukah? Akupun sahabat Bi Lan, sahabat baiknya."

"Tak perlu engkau mengelabuhi aku. Engkau baru saja bertemu dengannya, karena ketika kami berdua melihat engkau turun tangan terhadap Phoa Wan-gwe, ia belum mengenalmu."

"Ah, kiranya engkaupun bersama Bi Lan ketika melihat aku melawan anak buah Phoa Wan-gwe? Kalau begitu tentu benar seorang sahabat. Siapakah engkau, sobat?"

"Aku Gu Hong Beng."

"Namaku Cu Kun Tek."

"Engkau seorang pemuda yang tidak sopan dan kurang ajar! Engkau sangat tidak tahu malu!"

Tentu saja Kun Tek kembali terbelalak dan dia mulai marah.

"Saudara Gu Hong Beng, seingatku, baru sekarang kita saling berhadapan. Aku belum pernah mengganggumu, akan tetapi mengapa engkau datang-datang memaki-maki aku? Jelaskan, apa kesalahanku maka engkau memaki aku?"

"Engkau masih pura-pura tidak tahu? Apa yang kau lakukan terhadap nona Can Bi Lan tadi? Kau kira aku tidak tahu? Sejak semalam aku sudah berada tak jauh dari sini dan menyaksikan semua perbutanmu yang tidak senonoh."

"Eh-eh-eh, apakah engkau ini orang gila? Aku tidak melakukan sesuatu yang tidak baik, kenapa mulutmu kotor sekali memaki-maki orang?"

"Hemm, dasar muka tebal! Engkau tadi meraba-raba dan memijati pinggang Bi Lan begitu saja, tanpa kain penutup, apakah kau kira perbuatan itu pantas dan patut dilakukan oleh seorang yang sopan? Engkau memang laki-laki ceriwis dan keji, mempergunakan kelemahan seorang gadis yang masih hijau untuk merayu. Orang macam engkau ini harus dihajar!"

Berkata demikian, Hong Beng yang menjadi semakin marah karena membayangkan apa yang terjadi tadi, sudah menerjang dengan dahsyatnya.

"Ah, manusia tolol!"

Kun Tek mengelak dengan lompatan ke samping. Diam-diam dia terkejut sekali karena serangan Hong Beng tadi benar-benar amat dahsyat dan berbahaya. Baru angin pukulan saja menyambar sedemikian kuatnya.

"Aku mengobatinya karena pinggangnya terkilir, dan kau menuduh yang bukan-bukan!"

"Aku bukan anak kecil,"

Kata pula Hong Beng marah.

"aku tahu bahwa engkau melakukan pengobatan, akan tetapi itu hanya dalih agar engkau dapat meraba-raba tubuhnya. Keparat, apakah engkau pura-pura tidak tahu bahwa yang boleh melakukan seperti itu hanya antara suami isteri saja? Engkau memang berwatak cabul. Jai-hwa-cat!"

Dimaki jai-hwa-cat atau penjahat pemetik bunga, sebutan bagi penjahat yang suka memperkosa wanita, Kun Tek marah bukan main.

"Jahanam bermulut kotor, kau kira aku takut padamu?"

Dan diapun maju menyerang, membalas serangan Hong Beng tadi. Hong Beng sudah tahu akan kelihaian lawan, maka diapun cepat menangkis sambil mengerahkan tenaga Hui-yang Sin-kang.

"Dukk....!"

Keduanya terpental ke belakang dan Kun Tek terkejut bukan main ketika merasa betapa lengannya dijalari hawa yang amat panas. Cepat dia mengerahkan tenaga sin-kang untuk melawan. Di lain pihak, Hong Beng juga terkejut karena lawannya memiliki tenaga yang amat kuat sehingga diapun terdorong mundur. Segera dua orang pemuda ini terlibat dalam perkelahian seru.

Mereka berdua sama sekali tidak sadar bahwa perkelahian yang seru dan mati-matian itu hanya disebabkan oleh hal yang sepele saja! Karena cemburu! Mereka berkelahi seolah-olah saling memperebutkan Bi Lan. Setelah Hong Beng mengeluarkan ilmu-ilmu silat dari Pulau Es, Kun Tek terkejut dan terdesak. Dia tidak mengenal ilmu silat itu, hanya merasa betapa ilmu silat lawannya itu makin lama semakin kuat. Karena maklum betapa lihainya lawan, Cu Kun Tek yang kini menjadi penasaran dan marah sekali, sudan mencabut senjatanya, yaitu sebatang pedang yang mengeluarkan sinar berkilauan dan hawa yang menyeramkan. Begitu dia mengelebatkan pedang itu, terdengar suara mengaum keras yang amat mengejutkan hati Hong Beng. Pemuda ini segera tahu bahwa lawannya memiliki sebatang pedang pusaka yang amat ampuh. Dia tidak merasa jerih, akan tetapi bersikap hati-hati sekali.

"Tahan senjata....!"

Terdengar bentakan halus dan tiba-tiba saja muncullah Bi Lan di situ. Melihat gadis yang sesungguhnya menjadi penyebab perkelahian mereka, dua orang pemuda itu menjadi terkejut. Muka mereka berubah merah dan keduanya tidak tahu harus berkata apa. Bi Lan berdiri diantara mereka, memandang ke kanan kiri, bergantian, kemudian menatap wajah Kun Tek. Dipandang seperti itu, Kun Tek menjadi gugup dan untuk menenangkan perasaannya yang bingung, dia menyarungkan kembali pedang pusakanya dan disimpannya ke dalam buntalan pakaiannya.

"Kun Tek, apa artinya semua ini? Baru sebentar kau kutinggalkan, tahu tahu sudah berkelahi mati-matian!"

Bi Lan menegur.

"Bukan aku yang mencari permusuhan, akan tetapi dia ini datang-datang seperti orang gila menuduh aku yang bukan-bukan dan menyerangku. Tentu saja aku membela diri, tidak sudi mati konyol dalam serangan tangan yang keji."

Bi Lan menghadapi Hong Beng yang menunduk dengan muka sebentar pucat sebentar merah.

"Dan apa artinya perbuatanmu ini, Hong Beng? Engkau datang-datang menyerang Kun Tek, padahal engkau sendiri sudah tahu bahwa dia bukan orang jahat ketika dia membantu keluarga mempelai yang diganggu oleh Phoa Wan-gwe? Apa maksudmu?"

"Bi Lan, aku.... aku melihat betapa dia tidak sopan ketika mengobatimu.... dan aku.... aku tidak tahan. Dia terlalu kurang ajar, maka setelah engkau pergi, aku segera keluar dan menyerangnya."

Bi Lan mengerutkan alisnya. Hatinya merasa tidak senang kepada Hong Beng. Pertama, bahwa Hong Beng diam-diam mengintai mereka, dan ke dua, ia menganggap Hong Beng hendak mencampuri urusan pribadinya!

"Hong Beng, engkau sungguh lancang tangan. Aku tidak minta perlindunganmu, dan Kun Tek ini sama sekali tidak kurang ajar, melainkan mengobati pinggangku dan apa yang dilakukannya itu atas persetujuanku. Apa sangkut-pautnya dengan dirimu?"

Melihat betapa gadis yang dicintanya itu marah-marah dan memarahinya di depan pemuda lain itu, Hong Beng makin menundukkan mukanya. Hatinya terasa seperti disayat-sayat dan diapun sadar bahwa tindakannya tadi sebenarnya terburu nafsu, terdorong oleh cemburu yang berkobar-kobar.

"Bi Lan, memang seharusnya aku tahu diri... saudara Kun Tek, kau maafkanlah aku. Selamat tinggal!"

Hong Beng lalu melompat dan berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu agar tidak tampak oleh mereka bahwa kedua matanya menjadi panas dan basah. Kun Tek memandang kagum.

"Hebat, dia seorang pemuda yang hebat, ilmu silatnya luar biasa, jauh lebih tinggi dariku dan lihat betapa hebat gin-kangnya ketika dia lari."

"Tentu saja, dia adalah murid keluarga para pendekar Pulau Es."

"Ahhh....!"

Kun Tek terbelalak dan mengangguk-angguk,

Post a Comment