Halo!

Suling Naga Chapter 81

Memuat...

"Wah, sedikit amat kau cerita tentang dirimu!"

"Habis, tidak ada apa-apa lagi yang patut diceri- takan, Bi Lan."

Orang ini sungguh tidak ingin menonjolkan diri, pikir Bi Lan yang merasa semakin suka kepada Kun Tek.

"Dan perbuatanmu di dusun ketika menolong sepasang pengantin dusun itu kau anggap tidak patut diceritakan?"

Kun Tek membelalakkan matanya memandang gadis itu.

"Eh? Kau tahu tentang peristiwa itu?"

"Tentu saja, dari awal sampai akhir. Sejak kau memasuki ruangan itu, menghajar Phoa Wan-gwe dan para tukang pukulnya, sampai engkau meninggalkan ruangan tanpa memperkenalkan diri."

Bi Lan tersenyum.

"Engkau sungguh gagah, Kun Tek."

Kun Tek menundukkan mukanya, agak tersipu.

"Ah, perbuatan seperti itu kan sudah seharusnya kita lakukan? Kalau tidak kita lakukan, lalu untuk apa kita bersusah payah mempelajari ilmu dan memiliki kepandaian silat? Nah, aku siap mendengarkan ceritamu, Bi Lan."

"Pertama-tama, aku sudah tidak punya ayah ibu lagi."

"Aduh kasihan! Apa yang terjadi dengan mereka?"

"Mereka telah meninggal dunia, tewas terbunuh orang-orang jahat ketika aku masih kecil."

"Ah! Siapakah orang-orang jahat itu, Bi Lan Aku akan membantumu menghukum mereka itu!"

Bi Lan tersenyum.

"Eh, bagaimana engkau begitu sembrono, Kun Tek? Bagaimana kalau keluargaku yang jahat, lalu mereka yang membunuh ayah ibuku itu yang benar dan baik?"

"Mana mungkin. Bukankah engkau tadi yang mengatakan sendiri bahwa ayah ibumu dibunuh orang jahat?"

"Itu kan aku yang mengatakan karena mereka membunuh orang tuaku. Siapa tahu mereka itu juga mengatakan bahwa kami orang jahat. Bagaimana engkau berani mempercayai aku begitu saja?"

Kun Tek tersenyum.

"Memang benar kata-katamu, Bi Lan. Semua orang, baik atau buruk, tentu akan mengatakan jahat kepada musuhnya. Akan tetapi aku kan sudah berhadapan denganmu dan aku yakin bahwa orang seperti engkau ini tidak mungkin jahat."

"Kenapa engkau begitu yakin?"

Kun Tek menatap wajah gadis itu.

"Karena sikapmu, karena wajahmu, matamu dan mulutmu.... ah, sudahlah, Bi Lan, kau lanjutkan ceritamu. Kenapa orang tuamu dibunuh orang jahat?"

"Ketika aku masih kecil, berusia sepuluh tahun, bersama ayah ibu aku pergi meninggalkan kampung halaman kami di Yunan Selatan karena di sana dilanda perang. Di tengah jalan, kami dihadang sepasukan orang Birma. Ayah ibu terbunuh oleh mereka dan aku sendiri ditolong oleh tiga orang sakti yang kemudian mengambil aku sebagai murid dan mereka bertiga telah membasmi semua orang yang telah membunuh orang tuaku itu."

"Ah, syukurlah kalau musuh-musuhmu sudah terbasmi. Siapakah tiga orang sakti yang menjadi gurumu itu?"

"Mereka berjuluk Sam Kwi."

Kun Tek tidak menyembu-nyikan kekagetannya mendengar nama itu. Dia pernah mendengar dari ayahnya tentang tokoh-tokoh kaum sesat dan di antaranya yang menonjol adalah nama Sam Kwi.

"Kau maksudkan.... Sam Kwi.... para datuk kaum sesat itu?"

Tanyanya ragu sambil memandang wajah Bi Lan. Bi Lan ter-senyum mengangguk.

"Benar sekali. Nah, engkau tentu mulai meragukan pendapatmu bahwa aku orang-orang baik sekarang."

Kun Tek menggeleng kepala.

"Aku tidak percaya! Sungguh tidak mungkin seorang gadis seperti engkau ini menjadi murid tiga orang datuk sesat yang jahat."

Dia berhenti sebentar tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah gadis itu, lalu melanjutkan,

"Seorang gadis yang berwatak gagah dan memiliki sifat baik seperti engkau tentu tidak akan mau menjadi murid datuk-datuk sesat yang kabarnya amat jahat seperti iblis itu. Aku tidak percaya."

Bi Lan tersenyum.

"Kun Tek, coba bayangkan ini. Andaikata engkau sendiri menjadi aku, dalam usia sepuluh tahun, melihat ayah ibu dibunuh orang-orang jahat, kemudian engkau sendiri diselamatkan oleh tiga orang datuk itu, yang juga membalaskan sakit hatimu dengan membasmi semua penjahat itu, dan kemudian tiga orang itu memeliharamu, mendidikmu dengan ilmu silat, apakah engkau akan menolaknya?"

Dia memandang tajam.

"Boleh jadi Sam Kwi amat jahat terhadap orang-orang lain, akan tetapi terhadap diriku mereka itu baik sekali."

Bi Lan masih merasa berhutang budi kepada tiga orang kakek itu, maka kepada siapapun juga ia tidak sudi menceritakan usaha mereka untuk memperkosanya. Kun Tek mengangguk-angguk, dapat membayangkan keadaan gadis itu dan diapun tidak dapat menyalahkannya, bahkan kini dapat mengerti mengapa seorang gadis seperti Bi Lan ini menjadi murid Sam Kwi yang terkenal jahat. Makin heranlah hatinya. Kalau Bi Lan menjadi murid tiga orang datuk sesat, kenapa gadis ini tidak mengikuti jejak guru-gurunya dan bahkan menjadi seorang gadis yang berwatak gagah dan begini baik budi?

"Aku mengerti sekarang. Bi Lan dan maafkan kata-kataku tadi. Dan sekarang, ceritakan kenapa engkau dikeroyok oleh orang-orang lihai itu? Siapakah mereka?"

"Laki-laki yang lihai sekali itu, yang telah menendang pinggangku, masih terhitung seorang suhengku sendiri...."

"Ehh....?"

Kembali Kun Tek terkejut, akan tetapi dia segera teringat siapa adanya guru-guru gadis ini, maka diapun tidak begitu heran lagi.

"Siapa dia?"

"Namanya Bhok Gun, dia cucu murid mendiang Pek-bin Lo-Sian, paman guru dari Sam Kwi. Dia memang memusuhiku dan tadi dia ingin menangkapku, dibantu oleh anak buahnya, yaitu para anggauta Ang-i Mo-pang, dan dibantu lagi oleh para perwira yang aku sendiri tidak tahu siapa dan dari mana datangnya."

"Sungguh mengherankan keadaanmu, Bi Lan. Engkau, seorang gadis perkasa yang baik budi, bukan saja menjadi murid orang-orang seperti Sam Kwi, akan tetapi juga dimusuhi oleh seorang suheng sen-diri! Kenapa dia memusuhimu?"

"Karena dia cinta padaku."

"Wah? Apa lagi ini? Dia cinta padamu maka dia memusuhimu? Aku tidak mengerti."

"Dia cinta padaku, itu menurut pengakuannya dan dia hendak memaksa aku menjadi isterinya, sekutunya untuk bekerja sama membantu seorang pembesar di kota raja. Aku menolak dan dia lalu memusuhiku."

"Hemmm, dan itu dia katakan mencinta? Mana ada cinta macam itu?"

Kun Tek berseru marah. Melihat kemarahan pemuda itu, Bi Lan tersenyum dan tertarik untuk membicarakan soal cinta yang juga tidak dimengertinya itu dengan pemuda ini.

"Kun Tek, engkau lebih tua dariku dua tahun, tentu engkau lebih berpengalaman dan tahu tentang cinta. Apa sih sebenarnya cinta itu? Dan bagaimana seharusnya cinta itu?"

Kun Tek seringkali bicara tentang kehidupan, tentang cinta dan sebagainya dengan ibunya. Kini dia mengerutkan alisnya, sikapnya seperti seorang guru besar sedang memikirkan persoalan yang amat rumit, kemudian berkata,

"Cinta itu sesuatu yang suci, mencinta berarti tidak akan memusuhi orang yang dicinta. Mencinta orang berarti ingin melihat yang dicintanya itu hidup berbahagia."

"Bagaimana kalau orang yang dicinta tidak membalas?"

Dara ini teringat akan Hong Beng yang mengaku cinta kepadanya dan yang tidak dibalasnya.

"Apakah dia tidak akan merasa kecewa dan marah seperti halnya Bhok Gun itu?"

"Hemm, tentu saja kecewa dan patah hati, akan tetapi tidak marah dan tidak membenci orang yang menolak cintanya. Mungkin yang ada hanya duka dan kecewa. Kalau dia marah-marah lalu memusuhi orang yang dicintanya seperti yang dilakukan Bhok Gun itu, jelas dia itu tidak mencinta dan dia jahat sekali!"

Bi Lan menahan ketawanya melihat betapa pemuda itu menarik muka seperti seorang guru besar memberi kuliah.

"Dan bagaimana kalau engkau sendiri yang jatuh cinta? Bagaimana kalau engkau mencinta orang? Apa yang akan kau lakukan kalau orang yang kau cinta itu tidak membalas cintamu, Kun Tek?"

"Aku tidak akan jatuh cinta!"

Jawab Kun Tek dengan singkat dan tegas, dan mukanya berubah merah.

"Begitukah? Akan tetapi seandainya engkau yang jatuh cinta, bagaimana sikapmu terhadap orang yang kau cinta itu kalau ia tidak membalas cintamu?"

"Aku akan tetap mencintanya, melindunginya dengan taruhan nyawa, aku ingin melihat ia berbahagia."

"Biarpun ia tidak menjadi isterimu dan biarpun ia hidup di samping laki-laki lain?"

Post a Comment