"Aih, hampir saja aku pun celaka menjadi korban kelihaian Yo Han, Nona.
Mari kita bicara di dalam dan akan kuceritakan semua." Kepada anak buahnya dia memesan agar sumur itu ditutup sampai tidak nampak lagi lubangnya.
Kemudian dia mengajak Kim Giok kem-bali ke bangunan induk pusat perkampung-an Thian-li-pang.
Setelah mereka duduk berdua di da-lam kamar belakang, Kim Giok dengan hati tegang bertanya, "Ceritakan, Pangcu.
Apakah yang telah terjadi dan di mana adanya Sin-ciang Taihiap Yo Han?" Seng Bu menghela napas dan tiba--tiba dia mengeluh, wajahnya berubah pusat dan napasnya terengah.
"Aduhhh...." Dia memejamkan matanya dan tangan kirinya menekan ke arah dada kanannya.
Tentu saja Kim Giok terkejut bukan main, cepat bangkit dan menghampiri pe-muda itu.
"Ouw-pangcu, ada apakah" Engkau....
terluka....?" Sambil menekan dada kanan dengan telapak tangannya, wajahnya menyeringai kesakitan, napasnya sesak, dia menjawab terengah-engah, "Dia memang....
lihai....
sekali, dan....
jahat kejam.
Dia....
dia tadi tiba-tiba memukulku, di dekat su-mur....
aku nyaris terjungkal, akan tetapi....
aku mampu bertahan, aku me-lawan....
dibantu oleh saudarasaudara-ku....
akhirnya kami berhasil....
dia ter-jatuh ke dalam sumur akan tetapi aku....
aku terkena pukulannya...." "Ahhh!" Kim Giok terbelalak.
"Dan kalian....
tadi menimbun sumur itu de-ngan batu" Dia terkubur hidup-hidup....
?" Gadis itu memandang ngeri.
"Aih, Nona, kau tidak tahu....
dia amat kejam dan lihai....
kalau berhasil lolos....kami semua tentu akan di-bunuhnya.
Lihat, lihat bekas tangannya ini...." Seng Bu merobek baju di dada-nya dan mata yang indah itu semakin terbelalak kaget.
Dada Seng Bu, di bagian kanan, terdapat bekas telapak tangan dengan lima jarinya, menghitam! "Ohhhhh....!" Dia menahan teriakan-nya.
"Ini....
pukulan....
mautnya....
untung aku sudah berjaga diri...., tapi nyeri bukan main....
auhhh....!" Seng Bu ter-kulai dan dia tentu akan terjatuh dari kursinya kalau saja Kim Giok tidak ce-pat-cepat merangkulnya.
Melihat Seng Bu pingsan, Kim Giok memondongnya dan merebahkannya di atas lantai.
Ia mengurut kedua pundak dan tengkuk, dan pe-muda itu membuka mata kembali.
242 "Aduhhh....!" "Bagai mana rasanya, Pangcu?" "Nona, pukulan itu beracun, harus cepat dibersihkan hawa beracun itu de-ngan pengerehan sin-kang.
Maukah....
maukah engkau membantuku, Nona" Aku lemah sekali....!" "Tentu saja, Pangcu.
Bagaimana aku dapat membantumu?" "Tempelkan kedua telapak tanganmu di punggungku dan kerahkan sin-kang, agar kekuatan kita dapat bersatu men-dorong keluar hawa beracun itu." "Baik, Pangcu." Melihat dengan susah payah Seng Bu bangkit duduk, tanpa ragu Kim Giok membantunya duduk bersila.
Ia membantu pula Seng Bu membuka baju-nya sehingga punggungnya nampak dan ia pun bersila di belakang pemuda itu, me-nempelkan kedua telapak tangan di pung-gung itu dan memejamkan mata, me-ngerahkan sin-kang membantu pemuda itu "mengusir" hawa beracun.
Diam-diam Seng Bu menggunakan tangan kiri meng-usap dan menekan dada yang ada tanda, telapak tangan menghitam.
Perlahan--lahan, tanda menghitam itu pun lenyap, Kim Giok yang kurang pengalaman sama sekali tidak menyangka bahwa noda hi-tam itu dibuat oleh Seng Bu sendiri ke-tika dia menekan dada kanannya tadi.
Dengan kepandaiannya yang aneh, dia mampu membuat kulit dadanya kehitam-an seperti terkena pukulan beracun.
"Perlahan-lahan, pernapasan Seng Bu menjadi normal kembali dan dia pun memutar tubuhnya, memegang kedua ta-ngan gadis itu dan menatapnya dengan pandang mata penuh kasih sayang.
Kim Giok juga menatapnya dan gadis itu me-nunduk malu.
"Giok-moi (adik Giok), terima ka-sih....engkau telah menyelamatkan nya-waku...." Dengan tersipu Kim Giok menarik kedua tangannya, lalu bangkit berdiri dan memutar tubuh membelakangi pemuda itu agar tidak kelihatan bahwa ia merasa malu sekali.
"Ihhhhh, Pangcu...." "Kim Giok, setelah apa yang kaulaku-kan kepadaku tadi masihkah kita harus bersungkansungkan" Jangan menyebut pangcu kepadaku, sebutan itu terlampau kaku, Giok-moi, aku merasa engkau bu-kan seperti seorang sahabat baru, me-lainkan seperti sudah bertahun-tahun kukenal.
Jangan sebut aku pangcu, aku akan merasa, bahagia kalau engkau me-nyebut aku koko (kanda)." "Bu-koko, engkau terlalu berkelebih-an.
Apa yang kulakukan tadi hanya se-kedar membantumu mengusir hawa be-racun.
Apakah sekarang engkau sudah sembuh, sudah sehat kembali?""Lihatlah, Giok-moi.
Tidak ada bekas-nya lagi.
Lihatlah!" Kim Giok membalikkan tubuhnya dan sekilas memandang ke arah dada yang telanjang itu, dada yang bersih kulitnya, tidak lagi nampak tanda telapak tangan menghitam seperti tadi.
Ia merasa lega dan girang, akan tetapi juga malu dan ia tersipu, menundukkan muka tidak mau memandang lagi.
"Bu-ko, pakailah pakaianmu.
Engkau membuat aku merasa malu." Seng Bu tertawa.
"Ha-ha-ha, setelah kita menjadi sahabat baik seperti ini, perlukah kita merasa sungkan dan malu, Moi-moi" Entah mengapa, aku sudah tidak merasa malu sama sekali terhadap dirimu, seolah-olah kita telah akrab se-lama bertahun-tahun." Seng Bu membetulkan bajunya yang robek di bagian dada dan dia nampak senang sekali.
Me-mang hatinya gembira, Yo Han, orang yang paling ditakutinya, telah tiada, dan kini dia melihat tanda-tanda bahwa Cu Kim Giok gadis yang dicintanya, jelas memperlihatkan tanda-tanda suka kepada-nya.
Setidaknya, gadis ini tadi amat mengkhawatirkan keadaannya dan tanpa malu-malu suka membantu mengobati dirinya.
Kini mereka duduk berhadapan, hanya terhalang meja kecil.
Beberapa kali pan-dang mata mereka bertemu dan dalam pandangan mata itu saja sudah terpancar perasaan hati masingmasing, biarpun terkandang Kim Giok menundukkan muka-nya yang menjadi kemerahan.
"Giok-moi, kenapa engkau menunduk dan kelihatan malu-malu?" "Habis, engkau memandangku seperti itu!" "Seperti apa?" Seng Bu menggoda.
"Pandang matamu membuat aku me-rasa canggung dan malu, Bu-ko." Tiba-tiba Seng Bu memegang kedua tangan gadis itu yang berada di atas meja dan menggenggam tangan itu! "Giok--moi, perlukah aku jelaskan lagi apa arti-nya pandang mataku itu" Aku meman-dangmu penuh kasih sayang.
Aku cinta padamu, Giok-moi." Kim Giok menundukkan mukanya yang kini menjadi merah sekali.
"Bagaimana, Giok-moi" Marahkah engkau akan kelan-canganku ini?" Kim Giok menggeleng kepala, tetap menunduk.
"Lalu, kenapa engkau diam saja" Apa-kah engkau tidak sudi menerima perasaan cintaku?" Kini gadis itu mengangkat mukanya yang kemerahan.
"Bu-ko, aku pun kagum dan suka padamu.
Akan tetapi, kita tidak perlu tergesa-gesa membicarakan perasa-an kita itu.
Kita baru saja berkenalan dan kalau kita sudah menjadi sahabat baik, itu sudah menyenangkan sekali, bukan?" Seng Bu seorang yang cerdik.
Ia me-mang benar-benar mencinta Kim Giok sepenuh hatinya.
Dia tidak ingin membuat gadis itu tidak senang atau menjadi rikuh.
Dia bahkan rela melakukan apa saja untuk gadis yang dicintanya itu.
"Baiklah, Giok-moi.
Maafkan aku.
Kita memang telah menjadi sahabat baik ,dan biarlah urusan antara kita itu kita bicarakan kelak seperti yang kaukehendaki.