Kami adalah pejuang! Kami adalah pah-lawan bangsa, pembela rakyat dan tanah air! Masa hanya mengeluarkan sedikit makanan dan minuman saja bagi kami engkau tidak rela" Kami berjuang dengan taruhan nyawa dan engkau tidak mau menjamu makan minum kepada kami?" Seorang di antara dua orang tosu Pat-kwa-pai menggebrak meja dan de-ngan sikap bengis berkata, "Hayo cepat keluarkan hidangan untuk kami atau eng-kau ingin kedaimu ini kami hancurkan?" "Kalian sungguh kejam!" Pemilik kedai itu membantah dan mempertahankan miliknya.
"Kalau hanya dua tiga orang saja yang datang minta makan minum, kami rela, akan tetapi kalau setiap hari datang dan jumlah kalian sampai puluhan orang selalu minta makan dan minum dengan gratis, kami dapat bangkrut! Ka-mi pun mempunyai keluarga yang harus hidup dari hasil usaha kami yang kecil ini." "Jahanam, masih banyak cakap" Eng-kau memang perlu dihajar!" bentak se-orang anggauta Thian-li-pang bermuka kuning tadi dan sekali kaki kanannya terayun menendang, pemilik kedai itu terpelanting keras.
"Penuhi permintaan kami tanpa ba-nyak cakap lagi atau engkau akan ku-hajar sampai mampus!" bentaknya.
"Ayah....!" Dari dalam berlari keluar seorang gadis berusia tujuh belas tahun dan ia segera menubruk ayahnya yang sudah bangkit duduk sambil menyeringai kesakitan.
Melihat gadis itu, yang cukup manis, seorang di antara dua orang anggauta Pat-kwa-pai tersenyum menyeringai dan segera menangkap lengan gadis itu dan menariknya lalu memaksanya duduk di sebuah bangku dekat meja mereka.
"Ha-ha-ha, tukang warung.
Cepat keluarkan hidangan itu atau kami akan membawa pergi gadismu.
Nona, kautemani kami makan minum di dini dan cepat suruh pelayan mengeluarkan hidangan dan arak terbaik." katanya.
Gadis itu tidak berani meronta, bahkan membujuk ayahnya yang sudah bangkit berdiri.
"Ayah, turuti saja permintaan me-reka." Empat orang itu tertawa bergelak melihat pemilik kedai dengan terhuyung memasuki dapur untuk menyediakan hi-dangan bagi empat orang itu.
"Manis, engkau lebih bijaksana dari-pada ayahmu.
Untung engkau muncul, kalau tidak tentu ayahmu telah menjadi mayat." kata si muka kuning sambil men-colek dagu gadis itu.
Gadis itu membuang muka dan ber-kata, "Kami telah memenuhi permintaan kalian, menyuguhkan hidangan, harap jangan ganggu aku lagi." Gadis itu bang-kit berdiri.
"Duduk saja, engkau tidak boleh per-gi." kata seorang tosu Pat-kwa-pai.
"Aku akan membantu ayah memper-siapkan hidangan untuk kalian." bantah gadis itu.
"Dan menaruh racun dalam hidangan-nya, ya" Ha-ha-ha, kami tidak sebodoh itu, Manis.
Kami berempat makan mi-num dan engkau harus menemani kami, ikut pula makan minum sehingga kalau hidangan itu beracun, engkau yang akan lebih dulu keracunan!" Si muka kuning menekan pundak gadis itu sehingga ia terduduk kembali.
Tiba-tiba terdengar suara lembut namun nadanya mengejek.
"Ini rumah makan macam apa, membiarkan empat ekor buaya darat mengotorinya! Sungguh mendatangkan bau busuk sekali, empat orang maling kecil mengaku pejuang seperti empat ekor tikus mengaku hari-mau!" Jelas sekali makna ucapan itu dan empat orang tadi tentu saja mengerti bahwa merekalah yang dimaki tikus dan maling! Hampir mereka tidak percaya ada orang berani memaki mereka seperti itu.
Mengatakan mereka maling kecil dan tikus.
Tentu saja mereka terbelalak dan muka mereka berubah kemerahan ketika mereka menoleh dan memandang ke arah meja di sudut kanan, di mana duduk seorang laki-laki yang mengenakan se-buah caping lebar sehingga muka dan kepala orang itu tertutup sama sekali.
Akan tetapi tidak dapat diragukan lagi.
Orang bercaping itulah yang mengeluar-kan ucapan menghina tadi karena ucap-annya datang dari arah itu dan di sudut itu tidak ada orang lain kecuali dia.
Serentak empat orang itu meninggalkan gadis puteri pemilik kedai dan dengan langkah lebar mereka menghampiri meja di mana Yo Han duduk.
Yo Han bersikap tenang saja, bahkan kini menuangkan arak ke dalam cawannya yang telah kosong.
"Heiii, kaukah yang tadi mengeluarkan ucapan menghina kami!" bentak seorang di antara mereka.
Yo Han mengangkat cawan araknya dan membawanya ke mulut.
"Heiii, apa-kah engkau tuli" Kalau benar engkau yang tadi bicara, coba ulangi ucapanmu kalau engkau berani!" kata si muka ku-ning yang ingin mendapat kepastian bah-wa orang bercaping ini yang tadi bicara.
Apalagi melihat orang bercaping itu ter-nyata masih muda, maka dia agak me-rasa ragu apakah benar pemuda itu be-rani mengeluarkan ucapan seperti itu.
"Kalian berempat memang maling kecil dan tikus-tikus busuk.
Pergilah!" kata Yo Han, menahan kemarahannya mengingat bahwa dua di antara mereka adalah termasuk anak buahnya sendiri, anggauta Thian-li-pang! "Jahanam!" "Keparat!" Empat orang itu marah sekali dan menggerakkan tangan memukul dari de-pan belakang dan kanan kiri.
Yo Han menggerakkan tangan yang memegang cawan arak ke sekelilingnya dan empat orang itu berteriak dan terhuyung mun-dur karena muka mereka disiram arak.
Biapun hanya arak, dan tidak banyak pula karena isi cawan itu dibagi empat, namun ketika mengenai muka, terutama mata, membuat mereka sejenak tidak mampu membuka mata dan kulit muka terasa perih.
Setelah menggosok-gosok mata dan dapat melihat lagi, empat orang itu men-cabut golok mereka dan serentak menyerang sambil memaki dengan kamarah-an memuncak.
Orang-orang yang sedang makan minum di situ menjadi ketakutan dan berhamburan lari keluar, juga pemilik kedai dan puterinya, beserta para pelayan, sudah bersembunyi di balik meja dengan tubuh gemetar ketakutan.
Yo Han masih tetap duduk, akan tetapi kedua tangan mengambil sepasang sumpit dan juga dua buah mangkok yang kosong.
Begitu empat orang dengan golok mereka menyerbu dekat, kembali kedua tangan Yo Han bergerak.
Dua sumpit menembus pundak kanan dua orang tosu sehingga golok mereka terlepas dan me-reka mengaduh-aduh, sedangkan dua buah mangkok menghantam muka dua orang anggauta Thian-li-pang dengan keres.
Dua orang Thian-li-pang itu terjengkang ro-boh dengan muka berdarah karena mang-kok yang menghantam muka mereka tadi pecah-pecah dan melukai mereka.
Tidak sampai membunuh mereka, akan tetapi mereka terjengkang roboh dengan muka berlumuran darah dan pingsan! Dua orang tosu terbelalak dan tidak berani melawan lagi, bahkan melarikan diri keluar dari rumah makan itu ketika Yo Han dengan sikap sembarangan saja mencengkeram baju di punggung kedua orang anggauta Thian-li-pang itu dan melempar tubuh mereka yang pingsan ke sudut ruangan itu di mana mereka rebah bertumpuk.
Kemudian, dia melanjutkan makan minum seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.
Pemilik rumah makan tadi bersama puterinya segera menghampiri Yo Han dan membungkuk-bungkuk.
"Terima kasih atas pertolongan Tai-hiap, akan tetapi....
ah, bagaimana dengan nasib kami" Tentu mereka akan datang dan akan menghan-curkan rumah kami, bahkan mungkin kami akan mereka bunuh...." "Benar apa yang dikatakan Ayah, Tai--hiap," kata gadis itu sambil menangis.
"Harap Tai hiap suka melepaskan dua orang itu, karena sudah pasti kami yang menderita karena pembalasan mereka.?" Paman dan Nona, jangan khawatir.
Aku akan menanti di sini sampai mereka semua datang.
Aku yang akan menang-gung bahwa kalian tidak akan diganggu lagi oleh mereka.
Tenang sajalah.
Nanti akan kuganti semua kerugian karena ke-rusakan yang diakibatkan karena keribut-an ini.
Sekarang, tolong tambahkan arak seguci untukku.
Aku akan menanti me-reka datang semua." Biarpun khawatir sekali ayah anak itu tidak berani membantah lagi.
Mereka tadi sudah melihat betapa mudahnya pemuda bercaping ini mengalahkan empat orang pengacau, akan tetapi me-reka tahu belaka betapa kuatnya Thian--li-pang dan kalau mereka semua itu da-tang, apakah pemuda itu akan mampu menghadapi mereka seorang diri saja" Dua orang tosu Pat-kwa-pai yang sedang bermain-main ke Thian-li-pang tadi, tentu saja tidak mau tinggal diam.
Mereka terluka dan masing-masing menderita kesakitan dengan sebatang sumpit masih menancap dan menembusi pundak mematahkan tulang pundak, dan dua orang teman mereka ditawan.
Mereka cepat mendaki lereng Bukit Naga yang menjadi sarang Thianli-pang dan sambil meringis kesakitan mereka melapor ke-pada para anggauta Thian-li-pang yang melakukan penjagaan di pintu gerbang perkampungan perkumpulan itu.
Tentu saja para anggauta Thian-li-pang menjadi gempar dan marah mendengar bahwa dua orang kawan mereka dirobohkan seorang asing di dusun yang berada di kaki bukit.
Mereka segera melapor kepada kepala jaga.
Mereka menganggap urusan itu ter-lalu kecil untuk dilaporkan kepada ketua, bahkan mereka tidak ingin ketua men-dengar bahwa mereka tidak mampu mem-bereskan urusan kecil itu.
"Di mana jahanam itu sekarang" tanya seorang murid yang tingkatnya lebih tinggi.
"Di dalam kedai arak dusun itu," kata dua orang tosu itu.
Murid yang termasuk tingkat atas dari Thian-li-pang itu mengumpulkan empat orang saudara lain.
"Kalian tetap berjaga saja di sini, kami berlima yang akan menghajarnya." katanya dan lima orang yang memiliki tingkat tiga di Thian-li-pang itu segera turun dari lereng bukit sambil berlari cepat.
Sebentar saja, lima orang murid Thian-li-pang yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun ini telah tiba di depan kedai arak itu.
Mereka melihat betapa kedai arak itu sepi sekali, dan ada beberapa orang yang mengitai dari jauh dengan sikap ketakutan.