Biarpun demikian, ia sudah membawa banyak bekal nasihat dan pesan kedua orang tuanya.
Andaikata Seng Bu bersikap ceriwis terhadap dirinya, terdapat kegenitan dalam pandang mata atau katakatanya saja, tentu ia akan menjauhkan diri.
Akan tetapi, sikap Seng Bu sungguh baik.
Dia nampak seperti seorang pemuda pen-diam yang sopan dan berwatak pendekar sejati! Inilah sebabnya mengapa Kim Giok mekasa tertarik sekali, kagum dan merasa suka.
Rasa kagumnya semakin bertambah ketika Kim Giok dan Seng Bu tiba di Bukit Naga, di pusat perkampungan Thian--li-pang.
Para anggauta Thian-li-pang rata-rata kelihatan gagah perkasa dengan pakaian yang rapi dan bersih, baik pria-nya maupun wanitanya, dan mereka se-mua itu menyambut kedatangan Seng Bu dengan sikap yang amat menghormat! Masih begitu muda, akan tetapi telah menjadi ketua sebuah perkumpulan pe-juang Yang terkenal gagah perkasa.
Dan melihat perkampungan Thian-li-pang itu, Kim Giok menaksir bahwa anggauta perkumpulan itu tidak kurang dari seratus orang banyaknya.
Akan tetapi, hati gadis itu merasa penasaran ketika pada keesokan harinya ia melihat lima orang tamu yang datang menghadap ketua Thian-li-pang.
Dua orang di antara tamu-tamu itu adalah dua orang tosu (pendeta) berambut pan-jang yang pada baju di dadanya terdapat lukisan teratal putih.
Orang-orang Pek--lian-kauw (Agama Teratai Putih)! Dan tiga orang pendeta lainnya mengenakan gambar pat-kwa (segi delapan) padadada-nya.
Ia pernah mendengar akan nama perkumpulan pemberontak yang namanya tidak bersih di dunia kangouw karena para anggautanya tidak pantang melaku-kan segala macam kejahatan! Setelah lima orang tamu itu mening-galkan perkampungan Thian-li-pang baru-lah Kim Giok memberanikan diri me-nemui ketua Thian-li-pang untuk melampiaskan rasa penasaran di dalam hati-nya.
Ia melihat pemuda itu sedang duduk di ruangan rapat yang luas, sedang mem-beri perintah kepada belasan orang pembantunya.
Melihat ini, Kim Giok yang sudah tiba di ambang pintu, mundur kem-bali.
Akan tetapi Seng Bu telah melihat-nya dan ketua ini berseru dengan camah.
"Nona Cu, masuk sajalah.
Di antara kita orang sendiri tidak ada rahasia.
Masuk dan silakan duduk." Setelah gadis itu memasuki ruangan dan mengambil tempat duduk di sudut, agak jauh dari mereka yang sedang melakukan perunding-an, Seng Bu melanjutkan, "Harap tunggu sebentar, Nona, pembicaraan kami sudah hampir selesai." Kim Giok mengangguk dan pura-pura tidak melihat ke arah mereka, akan te-tapi Seng Bu tidak melirihkan suaranya ketika melanjutkan pengarahannya kepada para pembantunya.
"Kalian sudah tahu akan tugas-tugas kalian" Terserah kalian membagi tugas, kalian harus ingat apa yang terpenting dalam tugas kalian.
Yang pertama menghubungi semua kelompok -pejuang, membujuk mereka agar suka bekerja sama dengan mengemukakan alasan seperti yang kujelaskan tadi.
Ka-lau ada yang tidak bersedia bekerja sama, selidiki keadaan mereka, siapa para pe-mimpinnya dan sampai di mana tingkat kepandaian mereka agar aku dapat meng-ambil tindakan.
Dan ke dua, selidiki kelemahan-kelemahan yang ada pada keluarga kaisar, terutama orang-orang yang dekat hubungannya dengan kaisar.
Sudah mengerti semua?" Belasan orang itu menyatakan me-ngerti dan Seng Bu lalu mempersilakan mereka keluar.
Sikap pemuda itu demi-kian tegas dan berwibawa sehingga Kim Giok yang ikut mendengarkan merasa kagum sekali.
Setelah belasan orang pem-bantunya keluar, Seng Bu menghampiri Kim Giok dan duduk berhadapan dengan gadis itu.
Sikapnya seperti biasa amat sopan dan ramah, menghormati gadis yang dianggap sebagai seorang tamu agung di Thian-lipang.
"Nona Cu, selamat pagi.
Maafkan, bahwa aku meninggalkanmu seorang diri karena kesibukanku menerima tamu ma-lam tadi dan memberi tugas kepada para pembantuku.
Apakah semalam Nona enak tidur, dan apakah pelayanan kepada Nona tidak ada yang mengecewakan?" "Terima kasih, Pangcu (Ketua).
Pela-yanan cukup memuaskan dan aku merasa terlalu disanjung di sini.
Pangcu, aku se-ngaja datang mencarimu karena aku me-lihat sesuatu yang membuat hatiku me-rasa penasaran sekali dan aku mengharap-kan jawabanmu yang sejujurnya." Seng Bu menatap wajah gadis itu.
Sejak pertama kali berjumpa, dia telah terpesona.
Dia bukanlah seorang pria yang mudah terpikat kecantikan wanita.
Akan tetapi, belum pernah dia bertemu dengan seorang gadis muda seperti Kim Giok.
Gadis ini manis sekali dan ter-utama yang membuat dia terpesona ada-lah sepasang matanya.
Mata itu demi-kian indahnya.
Selain ini, ilmu silat gadis itu pun cukup tinggi, dan sikapnya demi-kian pendiam dan gagah.
Semua ini di-tambah lagi kenyataan bahwa gadis ini adalah puteri pendekar dari Lembah Na-ga Siluman! Kiranya sukar dicari kedua-nya gadis seperti ini.
Selama ini, Seng Bu sibuk menggembleng diri dengan ilmu yang ditemukan di dalam sumur maut, maka dia pun tidak sempat memikirkan hal lain.
Apalagi, dia memang bukan ter-golong pemuda yang suka bergaul dengan gadis-gadis cantik.
Dan baru sekarang dia merasa kagum dan tertarik kepada se-orang gadis.
"Nona Cu, aku tidak menyembunyikan sesuatu darimu.
Kalau ada hal yang membuat engkau merasa penasaran, tanyakan-lah dan aku akan menjawab sejujurnya."Kim Giok juga menatap tajam sehing-ga dua pasang mata bertaut, seperti saling menyelidik, kemudian Kim Giok berkata, "Pangcu, bukan aku sebagai tamu ingin mencampuri urusan tuan ru-mah.
Akan tetapi, aku suka menjadi tamu Thian-li-pang karena aku merasa yakin bahwa perkumpulanmu ini adalah perkumpulan orang-orang gagah yang merupakan pejuang-pejuang sejati seperti yang pernah kudengar dibicarakan orang di dunia kang-ouw.
Aku percaya itu, apalagi setelah aku mengenalmu.
Akan tetapi apa yang kulihat hari ini mem-buat aku merasa penasaran bukan main.
Aku melihat para pendeta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai menjadi tamu Thian-li-pang! Bagaimana ini" Aku sudah men-dengar bahwa kedua perkumpulan itu adalah perkumpulan jahat yang banyak ditentang oleh para pendekar!" Seng Bu tersenyum, dengan berani menentang pandang mata gadis itu tanpa merasa canggung.
"Ah, kiranya itu yang membuatmu penasaran, Nona.
Hal ini membutuhkan penjelasan yang panjang lebar, Nona.
Akan tetapi, apakah Nona tertarik oleh urusan perjuangan" Lika--liku perjuangan amat rumit, Nona.
Di-pandang sepintas lalu dari segi kepende-karanmu, memang rasanya janggal kalau melihat kami berhubungan dengan orang-orang dari golongan yang ditentang para pendekar.
Akan tetapi, dalam perjuangan, kepentingan pribadi dan golongan terpaksa harus dikesampingkan.
Yang ter-penting adalah urusan perjuangan, urusan usaha untuk membebaskan bangsa dan negara dari cengkeraman penjajah Man-cu." "Maksudmu bagaimana, Pangcu?" "Tentu engkau telah mengetahui ham-pir satu setengah abad negara kita di-jajah bangsa Mancu, dan selama satu se-tengah abad itu semua usaha perjuangan rakyat untuk merebut kembali tanah air selalu gagal.
Mengapa begitu" Karena tidak ada persatuan di antara para ke-lompok yang berjuang! Bahkan banyak kelompok perjuangan yang saling gempur sendiri, bersaing dan memperebutkan kebenaran demi kepentingan pribadi atau golongan.
Itulah sebab utama kegagalan perjuangan selama ini, dan kami dari Thian-li-pang melihat kekeliruan itu, maka kini kami berusaha untuk mengubahnya.
"Caranya?" "Mempersatukan semua golongan, tanpa membedakan mana golongan putih mana golongan hitam, mana golongan pendekar atau mana yang dinamakan kaum sesat.
Pendeknya, siapa saja, dari golongan manapun, apa pun pekerjaannya, bagaimana bentuk sepak terjangnya, asalkan dia itu menentang pemerintah penjajah Mancu, dia adalah sekutu kita! Dengan cara ini, maka di seluruh negeri akan terdapat persatuan yang kokoh dan kalau sudah tercapai persatuan itu, maka menggulingkan pemerintah penjajah bukan merupakan masalah yang sukar lagi." "Jadi pendirian itukah yang membuat Pangcu tidak memandang bulu dalam memilih sahabat, dan suka menerima Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai sebagai sahabat pula?" "Benar, Nona.
Kalau misalnya Thian-li-pang, Pek-lian-kauw, dan Pat-kwa-pai, yang ketiganya merupakan perkumpulan pejuang, bersatu padu dan bersama-sama menentang penjajah, bukankah itu akan jauh lebih kuat daripada kalau kami ber-juang sendiri-sendiri secara terpisah" Apalagi kalau seluruh kekuatan yang ada, baik dari golongan hitam maupun putih, dapat bersatu padu!" "Tidak dapat disangkal kebenaran pendapat itu, Pangcu.