"Aku adalah Sai-cu Lo-mo Bhok Toan Kok, mendiang Ibumu Bhok Khim, adalah keponakanku."
Diam-diam Bun Beng merasa terharu. Baru sekali ini dia bertemu dengan orang yang ada hubungan keluarga dengannya, akan tetapi dia bertanya penuh rasa penasaran.
"Kalau benar demikian mengapa baru sekarang Locianpwe mengaku sebagai Paman Kakekku?"
Sai-cu Lo-mo menarik napas panjang.
"Engkau tidak tahu, Bun Beng. Aku telah berusaha merampasmu dengan mengirim anak buah Thian-liong-pang dahulu ke kuil tua, dekat Sungai Fen-ho, akan tetapi usahaku gagal, engkau dirampas oleh Pendekar Siluman dan diberikan kepada orang Siauw-lim-pai. Sekarang kebetulan sekali kita dapat berkumpul, engkau menurutlah, tinggal di sini menjadi anggauta kami, mempelajari ilmu dari Pangcu dan membuat jasa."
"Maaf, Kakek, hal ini tidak dapat kulakukan. Bukan sekali-kali aku tidak memandang perhubungan keluarga antara kita. Aku tahu engkau seorang yang baik dan telah berusaha menyelamatkan aku, akan tetapi untuk menjadi anggauta Thian-liong-pang aku tidak sudi. Terserah kepada Thian-liong-pangcu, hendak membebaskan aku bersama para tokoh kang-ouw di sini atau hendak membunuhku!"
"Sai-cu Lo-mo, mengingat dia cucu keponakanmu, aku tidak membunuhnya. Akan tetapi dia harus menjadi anggauta kita atau mati!"
Terdengar Nirahai berkata, suaranya dingin dan mengandung keputusan yang tidak dapat dibantah lagi. Sai-cu Lo-mo menjadi bingung sekali. Dia ingin menyelamatkan keturunannya ini, akan tetapi maklum bahwa pemuda ini memiliki keberanian dan kenekatan yang sukar ditundukkan dan ia maklum pula bahwa kalau Pangcunya marah, tidak ada seorang pun berani membantahnya. Lalu ia mendapatkan akal dan berkata.
"Pangcu, ampunkan saya dan ampunkan dia yang masih muda. Kalau dia tidak mau, biar dia kita tawan dan perlahan-lahan saya akan membujuknya."
Terdengar jawaban dengan suara kesal,
"Sesukamulah....."
Sai-cu Lo-mo menjadi girang sekali.
"Bun Beng, dengarlah betapa baiknya Ketua kita. Engkau menurutlah, Cucuku!"
"Maaf, aku tidak mau menjadi anggauta Thian-liong-pang! Biarpun Ayahku yang tidak pernah kukenal itu disebut seorang datuk kaum sesat, namun aku bukanlah orang sesat!"
"Bocah bandel, kalau begitu aku akan menawanmu!"
Sai-cu Lo-mo membentak dan menubruk ke depan hendak menangkap Bun Beng. Akan tetapi, Bun Beng sudah mengelak cepat dan ketika kakek itu menyusul dengan serangan totokan untuk merobohkannya, dia cepat menangkis.
"Plak-plak!"
Bun Beng terpental ke belakang dan Sai-cu Lo-mo terhuyung. Diam-diam Bun Beng terkejut, maklum bahwa orang yang mengaku kakeknya ini memang memiliki kepandaian dan tenaga lebih hebat daripada kakek gundul yang berhasil ia kalahkan tadi. Di lain pihak, Sai-cu Lo-mo juga kagum. Kiranya cucu keponakannya ini benar tangguh, pantas saja sutenya kalah.
"Gak Bun Beng, berani engkau melawan kakekmu sendiri?"
"Aku tidak melawan seorang kakekku, melainkan melawan orang-orang Thian-liog-pang."
Jawab Bun Beng tegas.
"Engkau benar tak tahu diri dan sombong!"
Sai-cu Lo-mo kini menerjang dengan hebatnya. Bun Beng terpaksa menggerakkan kaki tangan melawan dan kembali dia menggunakan Ilmu Silat Sam-po-cin-keng. Begitu ia mainkan jurus-jurus aneh ilmu silat ini, Sai-cu Lo-mo mengeluarkan seruan kaget dan kakek ini terdesak hebat! Melihat gerakan pemuda itu Nirahai menjadi kagum dan tertarik sekali. Dia telah melihat dan mempelajari banyak macam ilmu silat tinggi, akan tetapi belum pernah ia me-nyaksikan ilmu silat tangan kosong seperti yang dimainkan pemuda itu. Sungguhpun gerak kaki pemuda itu mempunyai dasar ilmu silat Siauw-lim-pai yang sudah matang, namun jurus itu bukanlah jurus ilmu silat Siauw-lim-pai.
"Wi Siang kau bantulah Lo-mo menangkap bocah itu, pancing sedapatmu agar dia mengeluarkan seluruh ilmunya,"
Bisiknya dengan tertarik sekali sambil duduk kembali ke atas kursinya untuk menon-ton dan mempelajari jurus-jurus yang dimainkan Bun Beng. Tang Wi Siang kini sudah mengenal Bun Beng sebagai anak yang dahulu pernah menolongnya ketika ia bertanding melawan Thai Li Lama di pulau Sungai Huang-ho dan hampir celaka oleh ilmu sihir Lama itu.
Dia meloncat dan menyerang Bun Beng dengan gerakan lincah sekali. Bun Beng terkejut. Dia maklum bahwa wanita ini memiliki gerakan yang cepat luar biasa dan mungkin lebih lihai daripada Sai-cu Lo-mo. Dan memang dugaannya benar, Tang Wi Siang menjadi orang yang paling disayang dan dipercaya oleh Nirahai di antara para pembantunya, maka wanita itu dia beri pelajaran ilmu silat yang lebih tinggi daripada pembantu-pembantu lain, bahkan Tang Wi Siang telah dia beri Ilmu Silat Yancu-sinkun (Ilmu Silat Burung Walet) yang mengandalkan gerakan gin-kang tinggi sekali. Menghadapi Sai-cu Lo-mo saja dia sudah merasa berat, bukan hanya karena kakek itu lihai sekali, juga ia merasa enggan untuk melukai orang tua paman ibunya ini. Sekarang ditambah lagi dengan Tang Wi Siang, dia benar-benar menjadi terancam hebat.
Gerakan penyerangan Wi Siang demikian cepatnya seolah-olah kedua lengan wanita itu berubah menjadi enam dan karena Bun Beng harus menjaga jangan sampai ia tertawan oleh kakek itu, sebuah totokan tangan kiri wanita itu ke arah lehernya tak dapat ia elakkan lagi. Akan tetapi, ternyata tangan itu tidak dilanjutkan menotok, hanya mendorong pundaknya sehingga ia terpental dekat anak tangga. Ia meloncat lagi dan sekilas pandang ia melihat muka berkerudung Ketua Thian-liong-pang yang sedang memandangnya penuh perhatian, ia menjadi terkejut sekali dan sadar bahwa Tang Wi Siang yang turun membantu Sai-cu Lo-mo tentu hanya mendesaknya agar dia mengeluarkan semua jurus ilmunya, yaitu Sam-po-cin-keng dan Si Ketua itu hendak menyaksikan dan mencuri ilmu itu dengan jalan melihat gerakan-gerakannya!
Bun Beng adalah seorang pemuda yang cerdik. Dia tahu bahwa betapapun juga, dia takkan mampu menang karena kalau Si Ketua sendiri turun tangan, betapapun dia melawan akan percuma saja, maka dia mengambil keputusan untuk tidak memperlihatkan ilmunya agar tidak dicuri oleh Ketua itu. Tak mungkin engkau akan dapat mencuri jurus-jurus simpanan Siauw-lim-pai dan Sam-po-cin-keng, pikirnya dan kini ia melawan dengan gerakan sederhana sehingga dalam belasan jurus saja ia telah roboh tertotok oleh Sai-cu Lo-mo. Nirahai menjadi terkejut, penasaran, dan marah. Dia pun mengerti bahwa pemuda bandel itu sengaja tidak memperlihatkan jurus-jurus aneh itu, dan sengaja membiarkan dirinya tertangkap!
"Lempar dia ke dalam penjara di bawah tanah!"
Bentak Ketua Thian-liong-pang.
"Jangan keluarkan sebelum dia mentaati perintah!"
Sai-cu Lo-mo terkejut dan memandang Ketuanya. Akan tetapi sinar mata ketuanya jelas menyatakan tidak mau dibantah. Terpaksa Sai-cu Lo-mo diam saja melihat tubuh pemuda itu diseret oleh dua orang petugas yang membawa ke tempat tahanan di bawah tanah yang letaknya di sebelah belakang kompleks bangunan-bangunan sarang Thian-liong-pang. Biarpun tubuhnya sudah lemas tertotok, ketika ia diseret pergi, Bun Beng masih mendengar ucapan Ketua Thian-liong-pang,
"Lanjutkan pesta dan pertandingan!"