Diam diam Sai cu Lo mo harus membenarkan pendapat pangcunya ini. Tiba-tiba ia mengangkat kepala dan berkata,
"Pangcu.... maaf.... hati saya akan selalu gelisah kalau tidak menyatakannya sekarang. Kalau saya tidak keliru menduga.... saya dapat mengenal siapa kiranya Pangcu!"
Nirahai menoleh ke arah Chie Kang dan bertanya,
"Bagaimana dengan engkau, Lui hong Sin ciang Chie Kang? Apakah engkau pun dapat menduga siapa aku?"
Chie Kang terkejut. Dia pun sedang berpikir pikir. Kalau wanita berkerudung itu tidak memperlihatkan sikap mengenal semua orang, bahkan mengetahui segala hal yang bagi banyak tokoh kang ouw merupakan rahasia, maka di dunia ini kiranya hanya ada seorang saja wanita seperti itu, akan tetapi diam diam dia terkejut dan tidak percaya bahwa pangcunya yang baru adalah orang itu! Kini dia makin gugup mendengar pertanyaan itu dan menjawab,
"Saya.... saya hanya menduga duga akan tetapi tidak berani memastikannya. Pribadi Pangcu penuh rahasia, sukar untuk diduga...."
Nirahai tersenyum di balik kerudungnya.
"Sai cu Lo mo, aku dapat menjenguk isi hatimu. Dugaanmu itu agaknya tidak keliru. Engkau dan Chie Kang telah kuangkat menjadi pembantu-pembantuku yang setia dan boleh dipercaya, sedangkan Wi Siang menjadi pelayan dan pengawalku. Hanya kalian bertiga sajalah yang boleh mengetahui siapa sebe-narnya aku. Akan tetapi, kalau sampai seorang di antara kalian berani membocorkan rahasiaku, tanganku sendiri yang akan membunuhnya! Nah, agar hati kalian tidak ragu ragu lagi, kalian boleh mengenalku."
Berkata demikian, wanita berkerudung itu membuka kerudungnya, dan tampaklah wajahnya yang cantik jelita, wajah puteri Kaisar Mancu. Puteri Nirahai yang pernah menggemparkan seluruh dunia kang ouw sebagai pemimpin pasukan pasukan pemerintah yang membasmi para pemberontak! Tiga orang tokoh Thian liong pang itu belum pernah bertemu muka sendiri dengan Nirahai, akan tetapi nama besar puteri ini sudah lama mereka dengar. Kini mendapat kenyataan bahwa yang menjadi Ketua mereka adalah puteri yang terkenal itu, yang berdiri dengan cantik dan agungnya, dengan sepasang mata yang amat berwibawa memandang kepada mereka dengan mulut yang berbentuk indah itu tersenyum halus, mereka serta merta menjatuhkan diri berlutut di depan Nirahai.
"Harap Paduka suka mengampunkan hamba sekalian yang tidak mengenal Puteri yang mulia,"
Kata Sai cu Lo mo mewakili saudara saudaranya.
"Bangunlah kalian!"
Tiba-tiba Nirahai membentak dan ketika mereka dengan kaget bangkit berdiri memandang, Nirahai telah memakai lagi kerudungnya, menutupi mukanya yang cantik, dan kini dari sepasang lubang di depan kerudung, matanya memandang marah.
"Mulai saat ini, kalian tidak boleh sekali-kali menyebutku Puteri, dan jangan membocorkan rahasia ini! Aku adalah Pangcu (Ketua) Thian liong pang dan kalian sebut saja aku Pangcu. Nah, mari kita duduk dan melanjutkan perundingan demi kemajuan perkumpulan kita."
Demikianlah, semenjak hari itu, Nirahai menjadi Ketua Thian liong pang. Kecuali tiga orang pembantunya itu, tak seorang pun di antara para anggauta Thian liong pang mengetahui bahwa Ketua mereka yang diliputi penuh rahasia, yang selalu menyembunyikan muka di belakang kerudung, yang memiliki ilmu kepandaian hebat seperti iblis, sebenarnya adalah Puteri Nirahai yang dahulu amat terkenal itu.
Nirahai menurunkan beberapa macam ilmu silat kepada tiga orang pembantunya sehingga dalam waktu dua tahun saja, Sai cu Lo-mo, Luihong Sin ciang Chie Kang, dan Tang Wi Siang telah memperoleh kemajuan yang amat hebat, tingkat mereka naik jauh lebih tinggi daripada sebelumnya, akan tetapi watak mereka pun berubah, penuh rahasia seperti watak Ketua mereka. Para anak buah Thian liong pang juga dilatih ilmu silat oleh tiga orang tokoh ini sehingga pasukan Thian liong pang kini menjadi pasukan yang hebat, setiap orang anggautanya memiliki kepandaian tinggi. Seperti telah diceritakan di bagian depan tadinya Nirahai menitipkan puterinya, Milana, kepada Pangeran Jenghan di Kerajaan Mongol.
Selama membangun dan memperkuat Thian liong pang beberapa tahun, dia meninggalkan puterinya itu dan hanya kira kira sebulan sekali dia pergi ke Mongol mengunjungi puterinya. Milana sama sekali tidak tahu bahwa ibunya adalah Ketua Thian liong-pang yang amat terkenal itu. Baru setelah Nirahai mengajaknya ke Thian liong-pang anak perempuan ini tahu bahwa ibunya adalah wanita berkerudung, Ketua Thian liong pang yang menggemparkan dunia kang ouw. Juga kini Milana tahu, dengan hati penuh kebanggaan namun juga kedukaan, bahwa ayahnya adalah Pendekar Siluman, To cu dari Pulau Es yang agaknya berselisih paham dengan ibunya sehingga ayah bundanya itu saling berpisah, bahkan timbul gejala saling bertentangan! Pertemuannya dengan suaminya, Suma Han, mendatangkan rasa duka yang hebat di hati Nirahai.
Dia adalah seorang puteri kaisar, seorang wanita yang mempunyai harga diri tinggi sekali. Betapapun besar cinta kasihnya kepada Suma Han, namun sikap suaminya itu membuatnya berduka. Dia tidak mau menyembah-nyembah minta dibawa, sungguh rasa rindunya kadang-kadang menyesak di dada. Dia ingin memperlihatkan bahwa kalau Suma Han tidak membutuhkan dia, dia pun tidak akan merangkak rangkak mengejar suaminya! Keangkuhan ini membuat dia amat menderita, membuat cintanya kadang-kadang berubah menjadi kebencian, membuat dia ingin menandingi kebesaran suaminya, menandingi kepandaiannya. Dalam pertemuannya dua kali dengan Suma Han, pertama ketika tokoh-tokoh kang ouw memperebutkan rahasia pusaka di Sungai Huang ho, ke dua baru baru ini, Nirahai maklum bahwa dalam ilmu kesaktian dia masih belum mampu menandingi Suma Han.
Biarpun Perkumpulan Thian liong pang kini menjadi amat kuat dan agaknya para pembantu dan anak buahnya tidak kalah hebat oleh anak buah Pulau Es, namun kalau dia sendiri tidak mampu menandingi Suma Han, semua akan sia-sia belaka. Tidak ada seorang pun di Thian liong pang yang akan kuat bertanding dengan Suma Han. Maka dia harus mempertinggi ilmu-ilmunya. Terutama sekali Nirahai ingin melihat puterinya, Milana menjadi seorang yang lebih pandai daripadanya. Keinginan untuk menjadi seorang yang lebih sakti dari Suma Han inilah yang membuat Nirahai melakukan hal-hal yang amat berani, di antaranya ialah menculik tokoh-tokoh kang-ouw, ketua-ketua perkumpulan silat yang diundang atau kalau tidak mau dipaksa mengunjungi Thian-liong-pang! Untuk apa?
Sebaiknya kita sekarang mengikuti perjalanan Gak Bun Beng yang sedang mengunjungi Thian-liong-pang dengan mengikuti bayangan dua orang tokoh Thian-liong-pang dengan hati-hati karena dia maklum bahwa kedua orang itu sedang memancingnya untuk memasuki markas besar perkumpulan yang terkenal itu. Markas Thian-liong-pang yang menjadi pusat perkumpulan itu merupakan sekumpulan bangunan besar, dikelilingi oleh dinding batu yang tingginya dua kali tinggi manusia. Di tempat ujung dinding temboknya terdapat tempat di mana tampak penjaga yang melakukan penjaga-an siang malam sehingga sarang perkumpulan itu seperti benteng tentara saja. Pintu gerbang yang lebar terbuat dari kayu tebal berlapis besi, dijaga pula oleh selosin orang.
Pintu gerbang terbuka ketika dua orang tokoh Thian-liong-pang tiba di situ, akan tetapi begitu kedua orang itu masuk melalui pintu gerbang, daun pintu tertutup kembali dari dalam. Bun Beng memeriksa keadaan pintu gerbang yang amat kuat dan dinding tembok yang tinggi. Ia tersenyum. Agaknya, orang-orang Thian-liong-pang itu terlalu memandang rendah kepadanya. Apa artinya dinding tembok setinggi itu baginya? Lebih tinggi lagi pun dia akan mampu melompatinya. Dia maklum bahwa mereka tentu sudah menantinya, akan tetapi dia tidak takut. Dia harus memasuki sarang Thian-liong-pang, menolong Ketua Bu-tong-pai, mungkin menolong banyak orang lagi yang terculik dan menjadi tawanan di tempat itu. Pula, dia sudah mengambil keputusan bulat untuk menemui Ketua Thian-liong-pang dan menegurnya agar tidak melakukan penculikan-penculikan.
Dia maklum bahwa orang-orang Thian-liong-pang amat lihai, apalagi ketuanya yang pernah ia lihat di pulau Sungai Huang-ho beberapa tahun yang lalu. Ia masih bergidik kalau teringat akan wanita berkerudung yang amat lihai itu. Akan tetapi, kepandaiannya sekarang tidak seperti dahulu, kini dia telah dewasa dan berilmu tinggi, kalau dia tidak menentang perbuatan sewenang-wenang ini, untuk apa dia mempelajari ilmu sampai bertahun-tahun? Pula, dia teringat betapa tokoh wanita Thian-liong-pang dahulu bersikap baik kepadanya, dan rata-rata orang Thian-liong-pang tidaklah seganas orang Pulau Neraka. Selain kenyataan itu, juga dalam perjalanannya dia tidak pernah mendengar Thian-liong-pang sebagai perkumpulan orang jahat, tidak pernah melakukan kejahatan.
Kalau sekarang mereka menculik ketua-ketua perkumpulan dan tokoh-tokoh kang-ouw tentu ada rahasia di balik perbuatan mereka itu dan dia harus membongkar rahasia itu dan berusaha menghentikan perbuatan mereka. Akan tetapi Bun Beng bukan seorang yang sembrono. Dia maklum bahwa meloncat begitu saja pada siang hari itu merupakan perbuatan yang amat berbahaya. Tidak, dia tidak berani bersikap sembarangan. Maka dia mundur kembali dan mengintai dari jauh, menanti sampai malam tiba karena dia mengambil kepu-tusan untuk memasuki sarang naga itu setelah hari menjadi gelap. Setelah hari berganti malam, Bun Beng berindap-indap mendekati dinding yang mengurung sarang Thian-liong-pang. Ia sudah memilih bagian kiri di ujung, sebelah kiri pintu gerbang, untuk meloncat masuk.
Tiba-tiba ia mendengar suara tambur dan gembreng di sebelah dalam. Ia berhenti di bawah dinding dan mendengarkan penuh perhatian. Apakah Thian-liong-pang mengadakan pesta? Hemm, bukan, bantah hatinya. Tambur dan gembreng itu dipukul seperti kalau dipergunakan untuk mengiringi orang bermain silat! Agaknya mereka sedang berlatih silat. Dia tidak akan merasa heran kalau mereka telah siap menantinya, bahkan dia menduga bahwa tentu gerak-geriknya sejak tadi telah diintai. Namun dia tidak peduli. Sekarang atau dia akan terlambat. Dengan gerakan indah Bun Beng meloncat. Tubuhnya melayang ke atas dan kedua kakinya hinggap di atas dua ujung tombak, gerakannya amat ringan seolah-olah seekor burung garuda yang besar. Ia merasa heran sekali karena tidak ada anak panah atau senjata orang menyambutnya.
Di bawah tidak tampak orang menjaga, hanya tampak genteng bangunan-bangunan dan tampak sinar penerangan yang besar, terutama di depan sebuah bangunan terbesar di situ. Tampak pula orang-orang hilir mudik, akan tetapi tidak ada yang menengok, seakan-akan mereka itu hanya orang-orang dusun yang tidak paham ilmu silat dan tidak tahu akan kedatangannya. Bun Beng merasa penasaran. Apakah pihak Thian-liong-pang menganggap dia begitu rendah sehingga tidak pantas untuk menjaga dan menghebohkan kedatangannya? Ia melayang turun dari tembok, hinggap di atas genteng, kemudian melayang turun pula ke bagian samping bangunan besar yang agaknya saat itu menjadi pusat keramai-an. Akan tetapi begitu kakinya menginjak tanah, tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang kakek yang berkata tenang.
"Selamat datang, Siauw-hiap dari Siauw-lim-pai. Biarpun caramu masuk tidak selayaknya, namun mengingat bahwa Siauw-hiap adalah seorang murid Siauw-lim-pai, Pangcu kami mempersilakan Siauw-hiap untuk duduk sebagai tamu menonton pertunjukan kami. Kami menerima Siauw-hiap sebagai se-orang tamu yang terhormat, ataukah.... Siauw-hiap lebih suka dianggap sebagai seorang pencuri yang rendah?"
Bun Beng memandang orang itu yang ternyata adalah seorang kakek berkepala gundul, berjenggot dan berkumis, pakaiannya seperti seorang sasterawan, usianya kurang lebih enam puluh tahun, suaranya tinggi nyaring akan tetapi sikapnya halus dan seperti orang lemah. Mendengar ucapan itu, Bun Beng tersenyum.
"Terserah kepada Thian-liong-pang akan menganggap aku sebagai apa. Akan tetapi karena aku ingin bertemu dengan Pangcu kalian, dan melihat betapa aku disambut sebagai tamu, biarlah aku menerima sambutan ini."
"Kalau begitu, silakan Siauw-hiap!"
Kata kakek itu. Bun Beng berjalan dengan sikap tenang menuju ke ruangan depan bangunan besar diiringkan oleh kakek gundul. Kini mengertilah dia mengapa dia tidak disambut sebagai musuh dan tidak diserang. Kiranya Thian-liong-pang agaknya merasa enggan bermusuhan dengan Siauw-lim-pai, dan hanya karena memandang Siauw-lim-pai maka dia disambut dengan manis budi. Dia mengerti bahwa andaikata kedua orang tokoh yang menawan Ketua Bu-tong-pai tadi tidak mengenal dasar ilmu silat Siauw-lim-pai yang ia miliki dan tidak melaporkan bahwa dia seorang murid Siauw-lim-pai, tentu penyambutan mereka akan lain sekali. Ketika kakek gundul itu mengajaknya memasuki ruangan depan yang luas dan diterangi banyak lampu gantung besar, dia cepat melayangkan pandang matanya menyapu keadaan di situ. Ruangan itu luas sekali dan terdapat anak tangga di sebelah dalam.
Di atas anak tangga itu terdapat ruangan lain dan tampaklah seorang wanita berkerudung duduk di atas sebuah kursi besar yang lantainya ditilami kulit seekor biruang. Wanita berkerudung yang dikenalnya sebagai Ketua Thian-liong-pang yang dahulu pernah datang ke Sungai Huang-ho itu duduk dengan sikap tenang, kedua kakinya menginjak kepala biruang yang berada di bawah kursinya, di sebelah kanan wanita ini duduk seorang kakek yang mukanya seperti seekor singa, kursinya agak kecil dibandingkan dengan kursi Si Wanita berkerudung. Di sebelah kanan agak belakang Ketua Thian-liong-pang ini berdiri seorang wanita cantik yang dikenal pula oleh Bun Beng sebagai wanita yang dahulu mewakili Thian-liong-pang di Sungai Huang-ho. Sedangkan di belakang, agak mundur, berdiri seorang wanita lain yang juga cantik, pakaiannya seperti wanita lihai yang berdiri di sebelah kanan Ketua itu.
"Silakan duduk di sini, Siauw-hiap,"
Kata kakek gundul sambil mempersilakan Bun Beng duduk di atas kursi dekat anak tangga. Akan tetapi Bun Beng tidak segera duduk, hanya berdiri dengan terheran-heran memandang ke arah para tamu yang duduk menghadap ke arah Ketua, dengan kursi-kursi yang diatur setengah lingkaran mengurung ruangan di bawah anak tangga, sedangkan para penabuh tambur dan gembreng berdiri paling ujung.