Phang Kok Sek sudah menerjang maju, menusukkan tombak cagaknya yang panjang, besar dan berat ke arah perut wanita berkerudung itu.
"Takkk!"
Wanita itu tidak mengelak, tidak berkisar dari tempat dia berdiri hanya mengangkat kaki kirinya dan ujung kakinya itu menendang ke arah tombak, tepat mengenai belakang mata tombak sehingga tusukan itu menyeleweng dan Phang Kok Seng merasa tangannya bergetar hebat. Sai cu Lo mo dan Lui hong Sin ciang Chie Kang yang menjadi merah mukanya mendengar ucapan wanita berkerudung itu sudah menerjang maju pula. Mereka merasa berkewajiban untuk menentang wanita ini, bukan sekali-kali untuk membantu demi keselamatan pribadi Phang Kok Sek, namun demi menjaga nama Thian liong pang dan sebagai tokoh-tokoh Thian liong pang melihat orang luar mengacau perkumpulan itu.
"Wussss.... ciattt!"
Lui hong Sin ciang Chie Kang yang kepalanya gundul dan kelihatan lemah sekali seperti seorang sasterawan yang menjadi botak karena terlalu banyak berpikir dan menjadi buyuten tangannya karena terlalu banyak menulis, begitu menyerang telah memperlihatkan kedahsyatannya. Kedua tangannya bergerak dengan mantep dan mengandung tenaga yang dahsyat sekali sehingga serangannya itu membuat kedua tangannya seolah-olah berubah menjadi baja tajam yang membelah udara menge-luarkan suara mengerikan.
Melihat kelihaian kakek gundul ini, diam diam wanita berkerudung menjadi kagum karena ia maklum bahwa orang ini kalau menjadi pembantunya akan merupakan seorang pembantu yang boleh diandalkan! Biarpun keadaan wanita berkerudung ini merupakan rahasia bagi semua orang Thian liong pang, namun kita tahu bahwa dia itu bukan lain adalah Nirahai. Nirahai, puteri Kaisar ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, apalagi setelah digembleng oleh mendiang Nenek Maya (baca cerita PENDEKAR SUPER SAKTI), tingkat kepandaiannya sudah hebat sekali. Tentu saja serangan Chie Kang itu baginya bukan apa-apa dan dengan mudah ia dapat mengelak ke kiri di mana dia tahu Sai cu Lo mo sudah siap dengan serangannya yang ia duga tentu tidak kalah hebatnya dengan Si Kakek gundul.
"Wirrr wirrr wirrr.... plak plak plak!"
Nirahai makin girang hatinya. Tiga serangan berantai yang diluncurkan Sai-cu Lo mo dengan ujung lengan bajunya itu hebat bukan main. Ujung lengan bajunya itu mengandung tenaga yang lebih kuat daripada kedua tangan Chie Kang dan dia maklum bahwa ujung lengan baju itu cukup dahsyat untuk menghancurkan batu karang ydng keras! Akan tetapi, Sai cu Lo mo lebih kaget lagi karena tiga kali ujung lengan bajunya ditangkis oleh ujung jari jari tangan wanita itu dengan kibasan yang membuat dia merasa seluruh lengannya tergetar. Tahulah dia bahwa dia telah bertemu dengan lawan yang jauh lebih kuat daripada dia dan para sutenya!
"Syuuutt.... serrr serrr serrr!"
Tombak panjang menyambar dari belakang, menusuk lambung Nirahai disusul meluncurnya tiga buah senjata rahasia bintang.
Cara Phan Kok Sek menyerang ini saja sudah membuktikan akan kelicikan wataknya, menggunakan kesempatan selagi Nirahai menghadapi dua orang suhengnya yang lihai, menyerang dari belakang, bukan hanya dengan tombaknya yang dahsyat, juga dengan pelepasan am-gi (senjata rahasia). Nirahai menjadi marah. Kedua tangannya bergerak cepat dan tahu tahu tiga buah senjata rahasia itu telah ia tangkap dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menyambar dan berhasil menangkap leher tombak ketika ia miring ke kiri dan tombak itu meluncur dekat lambungnya. Tangan kirinya diayun dan tiga buah senjata rahasia itu menyambar ke arah pemiliknya! Sebagai seorang ahli melepas senjata rahasia Sin seng ci tentu saja Phang Kok Sek dapat menghindarkan diri dan cepat meloncat ke atas dengan kedua kaki di atas dan kepala di bawah, kedua tangan masih memegangi gagang tombaknya.
Gerakannya ini cepat dan indah sekali sehingga tiga batang Sin seng ci menyambar lewat di bawah tubuhnya. Akan tetapi dia tidak tahu akan kelihaian lawan. Begitu tubuhnya meloncat, Nirahai mengerahkan tenaga pada tangan kanannya yang memegang gagang tombak itu ke atas. Phang Kok Sek terkejut dan berusaha menahan dengan kedua tangan, namun dia kalah kuat dan terdengar teriakan mengerikan ketika gagang tombak itu menerobos dan menusuk perut Phang Kok Sek sampai tembus ke punggungnya. Sekali menggerakkan tangan, Nirahai melemparkan tombak bersama tubuh Ketua Thian liong pang yang tak bernyawa lagi itu ke samping dan otomatis kedua tangannya sudah menangkis dua serangan dari kanan-kiri yang dilakukan Sai cu Lo mo dan Chie Kang.
Dalam melakukan tangkisan ini, Nirahai sudah mengerahkan tenaga pada te-lapak tangannya, maka begitu telapak tangannya bertemu dengan tangan kedua lawan, dua orang itu berseru kaget karena tangan mereka melekat pada telapak tangan yang berkulit halus itu, tak dapat ditarik kembali. Mereka maklum bahwa wanita berkerudung ini sengaja menantang mereka mengadu sin kang maka kedua kakek itu dengan kedua kaki terpentang lebar cepat mengerahkan sin kang melalui tangan mereka untuk merobohkan lawan. Terjadilah adu tenaga sin kang yang hebat. Kedua kakek itu berdiri dengan kaki terpentang tubuh agak membungkuk, sedangkan Nirahai yang berdiri di tengah, kedua tangannya terkembang ke kanan-kiri menahan tangan kedua lawan, kakinya terpentang sedikit dan tubuhnya tegak.
Semua orang menonton dengan hati tegang, mengira bahwa wanita berkerudung itu tentu akan terhimpit di tengah tengah oleh dua kekuatan raksasa yang amat dahsyat! Namun, Nirahai yang memiliki tingkatan lebih tinggi, bersikap tenang-tenang saja, dari kedua tangan lawan di kanan-kirinya, menerobos tenaga sin kang yang kuat sekali melalui kedua lengannya yang terkembang. Wanita cerdik ini tidak melawan sehingga kedua lawannya terkejut dan heran, tiba-tiba mereka tersentak kaget ketika ada tenaga amat kuat menahan dorongan sin kang mereka, Sejenak kedua orang itu mengerahkan semangat dan tenaga dalam dan ketika mereka melihat betapa wanita itu kelihatannya enak enak saja tanpa mengerahkan tenaga, barulah mereka sadar bahwa mereka kena diakali!
Kiranya lawan mereka itu sengaja mempertemukan kedua tenaga sakti dari kanan-kiri sehingga Sai cu Lo mo dan Chie Kang ber-tanding sendiri, saling dorong dengan tenaga sin kang melalui tubuh Si Wanita berkerudung yang seolah-olah hanya menyediakan dirinya menjadi arena pertandingan sambil menonton seenaknya! Mereka sadar dan cepat hendak menarik tenaga sakti mereka, namun terlambat karena pada saat itu, Nirahai sudah menggunakan tenaganya sendiri, menggunakan kesempatan selagi kedua orang saling dorong sehingga tenaga sin-kang mereka terpusat kemudian mereka menarik kembali tenaga ketika sadar bahwa sesungguhnya mereka itu saling gempur antara saudara sendiri. Ketika kedua orang kakek itu menarik kembali tenaga sin kang, saat itulah Nirahai menyerang mereka dengan tenaga sakti yang amat dahsyat.
"Cukup, rebahlah!"
Sai cu Lo mo dan Lui hong Sin ciang Chie Kang tak dapat mempertahankan diri lagi, begitu Nirahai menarik kedua lengannya mereka roboh dan biarpun mereka sudah berusaha sekuatnya untuk tidak terguling, tetap saja mereka jatuh berlutut dan cepat memejamkan mata sambil mengatur pernapasan. Tenaga sin kang mereka sendiri yang tadi mereka tarik telah menghantam dada mereka karena didorong oleh tenaga wanita berkerudung itu, membuat dada terasa sakit dan pernapasan menjadi sesak. Yang membuat mereka heran dan bingung adalah keadaan lengan kanan mereka yang menjadi lumpuh seolah-olah tulang pundak lengan dalam keadaan terkunci, sama sekali tidak dapat digerakkan!
"Wi Siang, bantulah kedua orang Suhengmu itu. Kau totok jalan darah Hong-hu hiat di pundak kanan mereka masing-masing dua kali."
Nirahai berkata kepada Tang Wi Siang yang berdiri menonton pertandingan tadi penuh kagum.
Ia mengangguk, menghampiri kedua orang suhengnya dan tanpa ragu-ragu menotok belakang pundak kanan mereka dua kali seperti yang diperintahkan wanita berkerudung itu. Begitu terkena totokan dua kali, jalan darah mereka normal kembali dan lengan kanan dapat digerakkan. Kini, kedua orang kakek itu benar benar tunduk dan merasa yakin bahwa wanita berkerudung itu benar benar memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa. Timbul rasa kagum dan suka di hati mereka untuk mengangkatnya menjadi ketua, karena dengan ketua sehebat ini, Thian--liong pang pasti akan menjadi sebuah perkumpulan yang kuat dan terpandang. Maka mereka lalu berlutut di depan Nirahai sambil berkata,
"Pangcu!"
Terdengar sorak sorai dari para anggauta yang kini sudah pula berlutut menghadap Si Wanita berkerudung yang tersenyum di balik kerudungnya, Nirahai mengangkat, kedua lengan ke atas dan suara sorakan itu terhenti. Keadaan menjadi sunyi dan semua orang mendengarkan ucapan dari balik kerudung, ucapan yang halus merdu namun berwibawa.
"Mulai saat ini Thian liong pang di bawah pimpinanku harus menjadi sebuah perkumpulan yang kuat, dihormati dan disegani di seluruh dunia kang ouw. Untuk dapat menjadi kuat, kalian semua harus menggembleng diri dan mempertinggi tingkat ilmu silat yang akan kuajarkan kepada kalian semua, sesuai dengan tingkat masing-masing. Untuk menjadi perkumpulan yang disegani, Thian-liong pang harus menunjukkan kegagahan dan kekuatannya menundukkan semua pihak yang menentang kita, dan untuk dapat dihormat, Thian liong pang harus bersih daripada segala perbuatan yang jahat. Tidak boleh ada penyelewengan lagi, tidak boleh ada perampokan, penindasan dan lain perbuatan jahat lagi. Semua perbuatan yang dilakukan oleh anggauta, harus sesuai dengan peraturan-peraturan yang akan kuadakan. Setiap pelanggar akan menerima hukuman berat!"
Mendengar perintah pertama yang ke-luar dari mulut wanita berkerudung itu, diam diam Sai cu Lo mo dan Lui hong Sin ciang Chie Kang menjadi girang sekali. Sai cu Lo mo demikian kagum dan gembiranya sehingga ia mengangkat tangan kanan ke atas sambil berteriak,
"Hidup Pangcu kita!"
Semua anggauta juga tertegun mendengar perintah tadi, tentu saja yang biasanya mengumbar nafsu, diam diam menjadi gentar dan khawatir kalau kalau dia akan mangalami nasib sial dan dihukum seperti para pimpinan mereka yang kini masih menggeletak di situ menjadi mayat. Maka, mendengar seruan Sai cu Lo mo, serentak semua anggauta berteriak,
"Hidup pangcu....!"
Bahkan mereka yang tadinya suka mengandalkan nama besar Thian liong pang untuk melakukan penindasan dan perbuatan perbuatan jahat, berteriak paling keras!
"Sekarang singkirkan dan urus jenazah mereka ini baik baik, kuburkan sebagaimana mestinya. Sai cu Lo mo, Lui-hong Sin ciang Chie Kang, kalian berdua kuangkat menjadi pembantu-pembantuku, sedangkan Tang Wi Siang, sesuai dengan kehendaknya sendiri menjadi pelayanku yang paling kupercaya. Mari kita masuk dan merundingkan segala urusan mengenai Thian liong pang. Aku ingin mendengar, hal apa saja yang dihadapi Thian-liong-pang saat ini."
Nirahai diiringkan oleh tiga orang pembantunya memasuki gedung menuju ke ruangan dalam. Tak seorang pun pelayan diijinkan masuk ketika empat orang ini mengadakan perundingan, sedangkan para anak buah Thian liong pang sibuk mengurus mayat mayat yang bergelimpangan di ruangan tadi. Mereka, juga para pelayan, saling berbisik membicarakan Ketua partai yang penuh rahasia itu. Nirahai dengan tenang mendengarkan pelaporan tiga orang pembantunya mengenai keadaan Thian liong pang. Segala macam urusan mengenai perkumpulan ini diceritakan oleh Sai cu Lo mo dan Lui-hong Sin ciang Chie Kang, sedangkan Tang Wi Siang yang duduk di dekat Nirahai hanya mendengarkan dan bersikap sebagai seorang pelayan.
"Tiga buah perkumpulan yang menentang kita, mudah dibereskan. Aku akan mendatangi mereka dan menundukkan mereka. Hal-hal lain dijalankan seperti biasa, akan tetapi harus disesuaikan dengan peraturan peraturan yang akan kuadakan. Hanya satu hal yang mengherankan hatiku. Kau tadi menceritakan tentang usaha Thian liong pang yang gagal dalam memperebutkan seorang anak bernama Gak Bun Beng. Benarkah utusan kita itu dikalahkan oleh Pendekar Siluman dan anak itu akhirnya dibawa oleh Siauw Lam Hwesio tokoh Siauw-lim-pai?"
"Benar, Pangcu,"
Jawab Sai cu Lo mo. Nirahai mengerutkan keningnya.
"Anak ini.... Gak Bun Beng, ada hubungan apakah dengan Thian liong pang sehingga perkumpulan kita harus berusaha merebutnya?"
Sai cu Lo mo menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya yang seperti jenggot singa itu.
"Maaf, Pangcu. Sesungguhnya, dengan perkumpulan kita tidak ada hubungan apa-apa dan mendiang Ketua kami hanya memenuhi permintaan saya, karena sesungguhnya sayalah yang mempunyai hubungan dengan anak itu. Anak itu masih cucu keponakan saya sendiri."