Halo!

Pusaka Pulau Es Chapter 77

Memuat...

"Jangan merendahkan diri, Keng Han. Aku sendiri sudah melihat betapa hebatnya ilmu kepandaianmu, dapat menandingi ilmu silat para datuk sesat."

"Engkau terlalu memuji, Cu In. ilmumu sendiri juga hebat sekali?"

Dua orang muda itu saling memuji dan saling merendahkan dirinya sehingga The-ciangkun yang mendengarnya menjadi senang. Pertanda baik bagi orang yang saling mencinta dan calon berjodoh.

Akan tetapi mereka tidak menemi halangan sehingga mereka menduga bahwa keluarga Gak itu disegani dan ditakuti orang karena adalah pendekar-pendekar yang lihai. Akan tetapi mereka sendiri tidak pernah usil mencampuri urusan orang lain sehingga biarpun ada orang asing memasuki wilayah mereka asal orang asing itu tidak mengganggu, juga tidak dilarang. Ketika mereka tiba di pondok tempat tinggal Ang Hwa Nio-nio ternyata wanita itu sudah menunggu di serambi depan bersama Bi-kiam Nio-cu. Dan wanita itu agaknya mengenakan pakaian yang masih baru dan rambutnya tersisir rapi dengan hiasan kembang merah. Agaknya ia sudah diberitahu oleh Niocu akan kedatangan Cu In, Keng Han, dan laki-laki setengah tua itu. Ketika melihat The-ciangkun, Ang Hwa Nio-nio menyambutnya dengan ucapan dingin.

"Hemmm, kiranya engkau memenuhi janjimu, menemukan dan membawa Cu In ke sini."

Mendengar sikap dan mendengar ucapan yang nadanya dingin itu, Cu In yang merasa marah sekali kepada wanita yang menjadi ibu dan gurunya itu berkata,

"Kalau tidak dibujuk Ayah dan Keng Han, sampai mati pun aku tidak akan mau datang ke sini lagi!"

Ang Hwa Nio-nio memandang kepada Cu In. Hatinya seperti ditusuk rasanya. Puteri kandungnya sendiri berkata seperti itu!

"Cu In, jangan berkata begitu, Nak!"

Katanya.

"Mengapa baru sekarang ibu memanggilku seperti itu? Kenapa ibu mengingkari dan mengatakan bahwa aku yatim piatu dan dipungut menjadi murid, kemudian bahkan disuruh membunuh ayah kandungku sendiri? Mengapa?"

Kini dalam suara gadis berkerudung itu terdengar isak tangis. Ang Hwa Nio-nio menghela napas panjang.

"Engkau tidak mengetahui penderitaanku selama itu, Cu In. Hidup seorang diri, menahan semua rasa rindu. Bahkan peristiwa itu membuat aku membenci dan ingin membunuh semua pria! Akan tetapi setelah bertemu dengan ayahmu, aku menginsyafi kekeliruanku. Ternyata tidak semua laki-laki itu jahat. Juga ayahmu sama sekali bukan seorang laki-laki jahat."

Mendengar semua itu, Bi-kiam Niocu Siang Bi Kiok menjadi terheran-heran. Ia membelalakkan matanya yang indah, memandang kepada The Sun Tek, lalu kepada gurunya.

"Jadi... Paman ini.. dia suami Subo?"

Tanyanya dengan suara lirih terputus-putus. Ang Hwa Nio-nio hanya mengangguk dan kedua matanya menjadi basah, berlinang air mata! Makin heranlah Niocu. Belum pernah selama ini ia melihat subonya menangis.

"Aku... aku memang bersalah diracuni sakit hatiku, Cu In. Maafkan ibumu, Nak..."

The Sun Tek berkata,

"Sudahlah, mari kita lupakan semua yang terjadi dan memulai hidup baru yang penuh kasih sayang dan berbahagia. Cu In, ibumu telah minta maaf. Cairkan perasaan hatimu yang membeku itu."

"Benar, Cu In. Bagaimanapun juga, beliau adalah ibu kandungmu yang melahirkanmu kemudian memeliharamu sampai menjadi dewasa."

Kata Keng Han membujuk. Sejak melihat ibunya menangis dan bicara dengan suara terputus-putus mengakui kesalahannya, Cu In sudah menangis tanpa suara. Air matanya bercucuran akan tetapi tidak kelihatan ia menundukkan mukanya. Kini mendengar bujukan ayahnya dan Keng Han, ia lalu bangkit dan berlari menubruk kedua kaki ibunya.

"Ibuku....!"

"Cu In.... Cu In.... engkau anakku, anak tunggal. Kau maafkan aku, ya?"

Ibunya juga merangkul dan keduanya bertangisan.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ibu. Aku dapat memaklumi perasaan Ibu."

"Subo, bagaimanakah ini? Jadi Sumoi adalah puteri Subo sendiri dan Paman ini adalah suami Subo?"

Keng Han melangkah maju menghampiri Niocu sambil berkata,

"Sesungguhnya begitulah, Subo"

"Jangan kau panggil subo kepadaku! Seperti orang mengejek saja. Panggil saja Niocu seperti dulu. Siapa tidak tahu bahwa Ilmumu jauh lebih tinggi dari Ilmuku? Jangan sekali-kali panggil subo atau aku akan menganggap engkau menghinaku."

Ang Hwa Nio-nio yang tahu benar bahwa hati para muridnya itu penuh kebencian kepada pria seperti yang sejak dulu ia tekankan, tahu pula akan watak Bi-kiam Niocu.

"Bi Kiok, sudahlah. Mulai sekarang, jangan membenci setiap orang pria. Hanya yang jahat saja boleh kau benci. Akan tetapi kalau pria itu baik, tidak ada salahnya menjadi sahabatnya."

"Ibu, bagaimana kalau ada pria yang mencinta Suci? Apakah dia harus dibunuh?"

"Tidak, tidak. Dului itu aku sudah gila. Jatuh cinta bukanlah hal yang jahat. Kalau Bi Klok tidak membalas cintanya, jauhi saja dan katakan terus terang."

"Bagaimana kalau teecu yang jatuh cinta, Subo? Apakah pria itu harus dibunuh?"

"Tidak! Kalau engkau mencinta seseorang dan orang itu pun mencintamu, maka tiada halangannya engkau berjodoh dengan, dia."

"Aih, terima kasih, Subo! Adik Cu In, mulai sekarang engkau tidak perlu menutupi mukamu lagi. Kutukan itu telah dihapuskan oleh Subo!"

"Suci, aku tidak mau menjadi buah tertawaan dengan mukaku yang penuh cacat ini! Tidak, aku kini mempunyai sumpah bahwa aku tidak akan membuka cadar ini sebelum aku menikah. Dalam malam pengantin aku membuka dan membuang cadarku untuk selamanya!"

"Sumoi....!"

Kata Niocu sambil memandang kepada Keng Han. Dari sikap mereka ia dapat menduga bahwa keduanya saling mencinta. Akan tetapi kalau kelak Keng Han melihat wajah sumoinya itu, apakah Keng Han akan mau menjadi suaminya?

"Bi Kiok, Cu In sudah mempunyai pendirian begitu, engkau tidak boleh mencampurinya!"

Kata Ang Hwa Nio-nio sambil tersenyum. Niocu memandang bengong. Belum pernah dilihatnya gurunya itu tersenyum apalagi tertawa dan ia melihat wajah subonya itu kini penuh senyuman dan ternyata gurunya itu masih cantik walaupun usianya sudah lima puluh tahun!

"Hong Bwe, anak kita ini sudah mempunyai calon jodohnya bahkan sudah pernah melihat mukanya."

"Ayah....!"

Cu In berseru dan dahinya nampak kemerahan.

"Cu In, engkau tidak dapat menyembunyikan perasaanmu di depan ayahmu, Ha-ha-ha!"

"Benarkah itu?"

Ang Hwa Nio-nio berseru, nada suara-nya gembira bukan main,

"Siapakah laki-laki yang bijaksana itu?"

"Orangnya dekat di sini, apa engkau tidak dapat menduganya, Hong Bwe?"

"Ah, engkaukah, orang muda? Benarkah engkau mencinta Cu In dengan setulus hatimu?"

Biarpun perasaan sungkan dan tersipu, Keng Han menjawab dengan lantang,

"Benar, Bibi. Saya mencinta Cu In dengan segenap jiwa ragaku."

"Ah, tidak mungkin!!"

Tiba-tiba Bikiam Nio-cu berseru nyaring.

"Sama sekali tidak mungkin!"

Tentu saja ia merasa terkejut sekali mendengar ucapan Keng Han itu. Ia pernah mencinta Keng Han dan mengharapkan pemuda itu menjadi suaminya. Akan tetapi Keng Han menolaknya. Dan sekarang Keng Han menyatakan bahwa dia mencinta Cu In? Rasanya tidak mungkin. Ia sendiri seorang wanita cantik dan ia menyadari benar akan hal Ini. Sebaliknya, ia sudah melihat wajah sumoinya yang totol-totol hitam, buruk sekali. Kalau Keng Han pernah melihat wajah itu, bagaimana mungkin dia jatuh cinta kepada wanita yang wajahnya sedemikian buruknya? The Sun Tek berkata, suaranya tegas dan berwibawa,

"Mengapa tidak mungkin? Ada dua macam cinta di dunia ini. Yang pertama cinta murni yang tidak dipengaruhi oleh buruknya rupa, buruknya nama atau kemiskinan. Yang kedua adalah cinta nafsu yang digerakkan oleh keadaan yang dicinta seperti wajah elok, terkenal, berkuasa atau hartawan. Dan cinta Keng Han seperti cinta yang pertama tadi."

"Ucapan suamiku ini benar, Bi Kiok. Lihat cinta suamiku kepadaku. Biarpun namaku buruk dan terkenal sebagai seorang yang disebut kejam dan sesat, namun cintanya kepadaku sama sekali tidak pernah berkurang. Usahakan agar engkau menemukan seorang pria seperti itu, yang mencintamu bukan sekedar pelampiasan nafsu belaka!"

The Sun Tek berkata kepada Ang Hwa Nio-nio,

"Hong Bwe, sebaiknya engkau berkemas dan sekarang juga kita pergi ke kota raja, pulang ke rumah kita."

"Pulang...?"

Ang Hwa Nio-nio bertanya suaranya seperti orang kebingungan, seperti dalam mimpi.

"Ya, pulang ke rumah kita di kota raja."

"Aku sudah bersiap-siap, lama sebelum engkau datang,"

Kata Ang Hwa Nio-nio dengan kedua pipinya berubah kemerahan.

"Aku hanya mem-bawa sebuah buntalan saja."

"Subo, apakah Subo akan pergi meninggalkan tempat ini?"

Tanya Bi-kiam Nio-cu.

"Benar, Bi Kiok. Aku akan pergi, akan pulang ke kota raja, meninggalkan Beng-san dan tidak akan kembali ke sini lagi. Rumah beserta isinya ini kutinggalkan kepadamu, menjadi milikmu."

Ang Hwa Nio-nio lalu mengambil buntalan yang menjadi bekalnya, kemudian mengajak suami dan puterinya untuk segera berangkat. Keng Han tidak ikut.

"Paman, sebagai seorang anak, saya harus mencari ayah saya, membujuknya agar dia menghentikan usahanya memberontak dan mengajaknya pulang ke Khitan. Setelah itu barulah orang tua saya akan mengajukan peminangan resmi atas diri Cu In."

The Sun Tek mengangguk-angguk, diam-diam memuji calon mantunya itu,

"Itu adalah suatu niat yang mulia sekali. Pergilah, kami akan menantimu di kota raja. Memang sudah semestinya kalau orang tuamu merestui perjodohanmu."

The Sun Tek, Ang Hwa Nio-nio dan Cu In segera berangkat. Akan tetapi belum jauh mereka pergi, Cu In membalikkan tubuhnya dan lari menghampiri Keng Han.

"Keng Han, kuharap engkau suka menyimpan ini baik-baik!"

Ia meloloskan sabuk suteranya yang putih.

Post a Comment