"Aku.... aku tidak percaya...."
Suaranya mengandung isak.
"Kenapa engkau tidak percaya? Kenyataan bahwa engkau murid Ang Hwa Nio-nio dan sumoi Bi-kiam Nio-cu yang jahat dan kejam itu pun tidak mengubah cintaku padamu, pada hal aku sama sekali tidak menyukai watak mereka. Aku bersumpah bahwa aku tetap mencintamu Cu In."
"Ssttt, sudahlah. Soal itu dapat kita bicarakan kemudian. Sekarang ada pekerjaan yang lebih penting. Mari kita menghadap Pangeran Mahkota Tao Kuang."
Baru teringat oleh Kan Han betapa lama mereka berhenti di jalan yang sunyi itu. Dia tersenyum kepada Cu In dan berkata,
"Perasaan hati kita lebih penting dari segala urusan, Cu In. Aku sudah mengutarakan isi hatiku dan hal ini melegakan sekali. Walaupun aku belum tahu bagaimana tanggapanmu tentang perasaanku, namun kini aku merasa lega bahwa engkau mengetahui akan perasasn hatiku kepadamu. Nah, mari kita lanjutkan perjalanan kita."
Ketika mereka tiba di istana Pangeran Tao Kuang, mereka segera disambut oleh Sang Pangeran sendiri yang ditemani oleh Kwi Hong dan ibunya, juga Kai-ong dan muridnya, Yo Han Li masih berada di situ. Melihat munculnya Keng Han bersama Cu In, Kwi Hong segera meloncat ke depan ayahnya dengan pedang terhunus di tangan.
"Han-ko, apakah engkau hendak membunuh ayahku?"
Bentaknya. Keng Han tersenyum. Sudah lama dia mengetahui bahwa Kwi Hong adalah adiknya sendiri, adik sepupu dan semarga. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Tidak, Hong-moi. Aku bahkan datang untuk minta maaf kepada ayahmu."
Lega hati Kwi Hong mendengar ini dan ia pun segera melangkah ke pinggir dekat ayahnya.
"Saya datang pertama-tama untuk mohon maaf kepada Paman Pangeran!"
Kata Keng Han sambil memberi hormat kepada Pengeran Tao Kuang. Pangeran itu tersenyum dan berkata,
"Aku maafkan engkau, Keng Han. Engkau kemarin bersikap demikian karena hasutan orang. Apakah engkau sekarang sudah mengerti benar akan duduknya perkara?"
"Sudah, Paman. Bahkan bukan itu saja. Kami, yaitu Cu In dan saya, mengetahui hal-hal lain yang amat membahayakan keselamatan Paduka dan juga keselamatan Yang Mulia Kaisar. Ada komplotan yang hendak membunuh Paman dan Kaisar."
Pangeran Tao Kuang terkejut mendengar ini dan segera mengajak Cu In dan Keng Han ke ruangan dalam untuk membicarakan hal itu. Setelah tiba di ruangan dalam Keng Han menceritakan semua pengalamannya, menceritakan pula rencana ayahnya yang hendak membunuh Pangeran Mahkota dan Kaisar.
"Dia yang kini memakai nama Hartawan Ji telah mengundang datuk-datuk besar yang berilmu untuk melaksanakan pembunuhan itu. Karena itulah maka kami berdua segera menghadap Paman untuk menghadapi komplotan pembunuh itu. Di antara mereka yang bersekutu itu terdapat pula seorang Tibet bernama Gulam Sang yang agaknya sudah mengadakan persekutuan dengan pihak Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Mungkin mereka akan mengadakan penyerbuan ke kota raja. Juga Bu-tong-pai bekerja sama dengan mereka. Keadaan ini gawat sekali kalau tidak dipersiapkan penjagaan yang ketat."
Demikian antara lain Keng Han berkata.
"Untuk menjaga keselamatan Paduka, di sini sudah terdapat adik Kwi Hong, adik Han Li dan Locianpwe Kai-ong, Akan tetapi untuk menjaga keselamatan Kaisar, perlu ada tenaga yang boleh diandalkan untuk mencegah terjadinya pembunuhan."
Kata Cu In.