Halo!

Pusaka Pulau Es Chapter 66

Memuat...

"Rumahnya mudah dicari. Di jalan raya sebelah selatan taman rakyat ada sebuah rumah besar bercat kuning. Di depan rumah itu terdapat dua arca singa yang besar dan indah. Itulah rumahnya."

Cu In bangkit berdiri.

"Terima kasih atas segala keterangan ini. Aku harus pergi sekarang."

The-ciangkun dan puteranya juga cepat berdiri.

"Ehhh, Cu In, engkau akan pergi ke mana? Tinggallah saja di sini dan kalau ada urusan, beritahukan padaku. Aku yang akan mengurusnya sampai selesai."

Cu In tersenyum di balik cadarnya. Ayahnya ini berhati mulia dan menyayangnya, tidak seperti ibunya.

"Terima kasih, urusan ini harus kuselesaikan sendiri, tanpa bantuan siapa pun."

"Akan tetapi engkau adalah puteriku, Cu In. Aku berkewajiban untuk membantumu dalam segala hal."

"Benar, enci Cu In. Atau, kalau engkau tidak mau tinggal di sini saja dan hendak mengurusnya sendiri, biarkan aku ikut untuk membantumu!"

Kata The Kong penuh semangat.

"Terima kasih, aku harus pergi sendiri. Lain kali aku tentu akan datang lagi berkunjung."

"Nanti dulu, Cu In!"

Kata The-ciangkun khawatir.

"Engkau bertanya-tanya, tentang Pangeran Tao Seng dan Hartawan Ji. Kalau engkau mempunyai urusan pertentangan dengan Pangeran Tao Seng, kuharap engkau berhati-hati, anakku. Ketahuilah, Pangeran Tao Seng seorang yang amat berbahaya. Sekarang pun aku sendiri mencurigainya. Menurut para penyelidik, sudah ada beberapa tokoh dan datuk sesat datang berkunjung ke rumah Hartawan Ji. Aku khawatir dia sedang menyusun suatu rencana jahat dan dia berbahaya sekali. Biarpun sekarang menjadi Hartawan Ji yang nampaknya diam dan tenang, akan tetapi dia seperti seekor ular yang diam, namun setiap saat siap untuk mematuk dan menyebar kematian."

"Aku mengerti dan sekali lagi terima kasih. Aku tidak akan melupakan sambutan kalian yang begini baik kepadaku. Selamat malam!"

Cu In membalikkan tubuhnya dan keluar dari tempat itu, terus keluar dari rumah dan pekarangan rumah itu. Ayah dan anak itu mengikutinya sampai ke tempat penjagaan. Para penjaga yang melihat gadis itu keluar diantar oleh The-ciangkun sendiri, diam saja tidak berani mengganggunya.

Hati Keng Han bimbang dan ragu, tegang dan penasaran. Baru saja dia mendengar cerita yang berlainan sama sekali dengan yang didengarnya dari Hartawan Ji! Haruskah dia mempercayai semua keterangan Pangeran Tao Kuang? Akan tetapi setidaknya di sana terdapat Kwi Hong dan Cu In. Dan dia tahu bahwa dua orang gadis ini tentu tidak akan suka membohonginya. Kalau Pangeran Tao Kuang tidak berbohong, lalu apakah Hartawan Ji yang berbohong? Kenapa dia harus percaya kepada keterangan Hartawan Ji? Lalu dia teringat bahwa Hartawan ji, menurut Gulam Sang, adalah sekutu pemuda Tibet itu. Seorang pejuang yang membenci keluarga kaisar Mancu. Jadi wajar saja kalau Hartawan Ji menghasutnya dan mengarang cerita bohong agar dia membunuh Pangeran Mahkota Tao Kuang karena hal itu akan meng-untungkan perjuangannya.

Apalagi kalau Hartawan Ji itu adalah Pangeran Tao Seng yang agaknya mendendam kepada Pangeran Tao Kuang. Akan tetapi kalau dia itu Pangeran Tao Seng, tentu me-ngetahui bahwa dia adalah putera kandungnya! Kenapa berbohong kepada putera kandungnya sendiri? Demi membunuh Pangeran Tao Kuang? Akan tetapi pekerjaan itu amatlah berbahaya. Sepatutnya Pangeran Tao Seng tidak tega untuk menyuruh puteranya sendiri melakukan perbuatan yang amat berbahaya bagi nyawanya itu. Tadi pun andaikata dia berkeras bendak membunuh, menghadapi pangeran itu beserta isterinya dan Kwi Hong, Cu In, kakek pengemis dan muridnya, belum tentu dia berhasil bahkan mungkin saja dia yang roboh dan tewas. Dengan hati kacau tidak menentu dia berkunjung ke rumah besar Hartawan Ji.

Di dalam ruangan sebelah dalam, dia melihat Hartawan JI sedang makan minum bersama seorang pemuda yang dikenalnya, yang bukan lain adalah Gulam Sang, bersama seorang wanita muda yang cantik manis namun wajahnya agak muram. Gadis itu bukan lain adalah Liong Siok Hwa, gadis yang telah dikuasai oleh Gulam Sang, dikuasai badan dan batinnya oleh pengaruh sihir sehingga dia menurut saja apa yang dikehendaki Gulam Sang darinya. Gulam Sang, setelah berhasil membujuk Liong Siok Hwa meninggalkan rumah penginapan di mana ayahnya tewas terbunuh oleh Gulam Sang, lalu membawa gadis itu berkunjung ke rumah Hartawan Ji di kota raja. Kedatangannya disambut oleh Hartawan Ji. Hartawan Ji menceritakan tentang kunjungan Keng Han dan menceritakan tentang siasatnya menyuruh Keng Han membunuh Pangeran Mahkota Tao Kuang.

Mendengar ini, Gulam Sang lalu menitipkan Liong Siok Hwa kepada Hartawan Ji, kemudian dia sendiri cepat keluar pada malam itu, menuju ke istana Pangeran Tao Kuang. Dengan kepandaiannya yang tinggi dia berhasil masuk ke taman dan mengintai ketika Keng Han datang. Dia melihat apa yang terjadi men-dengarkan semua percakapan mereka dan mendahului keluar dari istana itu. Dia menceritakan kepada Hartawan Ji tentang gagalnya Keng Han membunuh Pangeran Mahkota. Di rumah Hartawan Ji terdapat para datuk yang memang sudah lebih dulu tinggal di rumah itu, bersiap-siap membantu Hartawan Ji jika tiba saatnya untuk bergerak membunuh Kaisar. Mereka adalah Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin. Tiga orang ini lalu dipanggil keluar oleh Ji Wan-gwe untuk diajak berunding dengan Gulam Sang.

"Kenapa repot-repot? Kalau pemuda itu datang membuat ulah, ada kami di sini. Dia mau dan bisa berbuat apa terhadap Wan-gwe?"

Kata Lam-hai Koai-jin memandang rendah pemuda yang dibicarakan. Akan tetapi Swat-hai Lo-kwi yang pernah merasakan ketangguhan pemuda itu berkata,

"Lam-hai Koai-jin harap jangan memandang rendah pemuda bernama Keng Han itu. Dia memang lihai sekali dan menguasai ilmu-Ilmu dari keluarga Pulau Es. Akan tetapi di sini terdapat pula aku dan Lo-mo, maka kalau dia membuat ribut, kita tentu akan dapat menundukkannya."

"Sebaiknya diatur siasat untuk menghadapinya. Mula-mula harap Wan-gwe bersikap lembut terhadap dia. Siapa tahu, kalau dia mengetahui bahwa Wan-gwe itu ayah kandungnya, dia akan menaati semua kehendak Wan-gwe dan dia mau membantu dengan terang-terangan. Kalau dia bersikap berlawanan, aku memiliki racun penghisap semangat yang akan kucampurkan dalam arak yang akan di minumnya. Atau kalau dia tidak mau minum arak, aku dapat menyerangnya dengan pukulan beracun atau dapat merobohkannya dengan sihir. Kalau itu pun tidak berhasil, baru Sam-wi Locianpwe muncul dan membantu kami."

"Bagus! Kita atur seperti yang direncakan Gulam Sang."

Jawab Ji Wan-gwe dengan girang. Biarpun Keng Han itu putera kandung-nya, namun dia lebih percaya kepada putera angkat ini karena sudah jelas terbukti bahwa Gulam Sang dapat dipercaya dan benar-benar membantunya untuk membuat gerakannya berhasil. Kalau Keng Han suka mendengarkan bujukannya, hal itu baik sekali. Akan tetapi kalau sebaliknya, dia pun tidak segan untuk membunuh putera kandung yang sejak kecil tidak pernah dikenalnya itu. Kekuasaan merupakan sesuatu yang diperebutkan setiap orang.

Kekuasaan akan menjamin kehidupannya, mendatangkan kekayaan dan kesenangan karena sekali orang memegang kekuasaan, maka segala kehendaknya pasti akan tercapai. Dan untuk mendapatkan kekuasaan itu, orang yang lemah hatinya tidak segan mempergunakan segala macam cara. Seperti Pangeran Tao Seng itu, atau yang kini memakai nama Ji Wan-gwe. Demi mencapai cita-citanya mendapat kekuasaan, dia tidak segan merencanakan untuk membunuh anak kandung sendiri, kalau anak itu menjadi penghalang niatnya. Demikianlah, ketika akhirnya Keng Han muncul, dia melihat Hartawan Ji sedang makan minum bersama Gulam Sang dan seorang gadis yang tidak dikenalnya. Dia tidak takut dengan adanya Gulam Sang yang dia tahu adalah sekutu Hartawan Ji. Dia melompat dan turun ke dekat meja makan, membuat tiga orang yang sedang makan minum itu menjadi terkejut. Akan tetapi Hartawan Ji tersenyum ketika melihatnya dan berkata,

"Ah, kiranya engkau sudah kembali. Tao kongcu? Silakan duduk!"

Keng Han mengerutkan alisnya, akan tetapi dia duduk pula di atas bangku dekat meja.

"Kongcu tentu belum makan juga. Mari silahkan makan minum bersama kami sebelum kita bicara."

Akan tetapi Keng Han tidak menjawab, hanya matanya memandang kepada Hartawan Ji dengan tajam dan penuh selidik. Hartawan Ji menuangkan secawan arak dan memberikan kepada Keng Han.

"Ah, lebih dulu kami mengucapkan selamat datang dengan secawan arak ini sebagai penghormatan kami. Silahkan, Kongcu!"

Bagaimanapun juga, karena sikap Hartawan Ji itu baik dan menghormat sekali, dan juga persoalannya belum jelas baginya siapa yang bersalah, Keng Han menerima secawan arak yang tadi dituang dari guci milik Gulam Sang, Keng Han nengangkat cawan dan minum isinya sampai habis. Mata Gulam Sang mencorong melihat ini, mulutnya tersenyum simpul. Akan tetapi senyum itu berubah. Kini dia menyeringai heran melihat Keng Han sama sekali tidak terkulai lemas dan tidak menjadi pingsan. Tentu saja dia tidak tahu betapa tubuh Keng Han sudah menjadi kebal akan segala macam racun karena bertahun-tahun dia makan daging ular merah setiap hari, juga jamur-jamur beracun. Karena itu sedikit racun dalam arak yang diminumnya sama sekali tidak mempengaruhinya.

"Nah, bagaimana dengan usahamu, Kongcu. Sudahkah berhasil melenyapkan musuh besarmu itu?"

"Tidak. Akan tetapi aku mempunyai sebuah pertanyaan yang kuharap engkau suka menjawabnya dengan terus terang."

Kata Keng Han matanya tidak berkedip menatap wajah Pangeran Tao Seng sehingga dia menjadi resah juga.

"Tentu saja. Pertanyaan apakah itu, Kongcu?"

"Hartawan Ji bukan lain adalah Pangeran Tao Seng! Benarkah dugaanku ini? Engkaulah Pangeran Tao Seng, yang kini mengubah nama menjadi Hartawan ji! Nah, jawab sejujurnya benarkah demikian?"

Tao Seng atau Hartawan Ji tidak merasa terkejut men-dengar ini, karena dia memang sudah diberitahu oleh Gulam Sang bahwa Keng Han telah mendengar keterangan dari Pangeran Tao Kuang. Dia hanya berpura-pura terkejut mendengar ini dan bertanya dengan suara heran.

"Eh, hal itu sangat dirahasiakan, bagaimana engkau dapat mengetahuinya,Tao Kongcu?"

"Sudahlah, tidak perlu menyebut Kongcu lagi. Engkau adalah Pangecan Tao Seng, berarti engkau adalah ayah kandungku! Juga aku sudah mendengar bahwa engkau sama sekali tidak difitnah oleh Pangeran Tao Kuang. Engkau dihukum buang karena usahamu membunuh Pangeran Tao Kuang mengalami kegagalan. Benarkah semua ini?"

"Benar, akan tetapi engkau tidak mengetahui semuanya, anakku."

"Ketika aku datang menghadapmu, engkau membohongi aku dan sengaja menghasut aku agar aku membunuh Pangeran Tao Kuang. Betapa jahatnya engkau! Engkau tahu bahwa membunuh Pangeran Tao Kuang merupakan pekerjaan yang amat berbahaya. Akan tetapi engkau menyuruh anak-mu sendiri menempuh bahaya besar itu. Aku merasa heran dan malu. Jauh-jauh aku pergi merantau untuk mencari ayahku, tidak tahunya ayahku begini jahat. Aku malu, mempunyai ayah sepertimu!"

"Keng Han, engkau tahu satu tidak tahu dua. Akulah yang memberimu nama Keng Han. Engkau anak kandungku maka pertimbangkanlah semua perbuatanku. Pertama, dua puluh tahun yang lalu aku memang berniat membunuh Pangeran Mahkota Tao Kuang karena merasa diperlakukan tidak adil oleh ayahanda Kaisar. Aku sebagai putera tertua, kenapa adinda Tao Kuang sebagai Pangeran Ketiga yang diangkat menjadi putera mahkota. Aku merasa penasaran oleh perlakuan tidak adil itu maka bersama adinda Pangeran Kedua aku merencanakan untuk membunuhnya. Bukankah itu sudah adil? Kalau dia mati tentu aku yang diangkat menjadi Putera. Mahkota. Akan tetapi usaha kami berdua itu gagal, bahkan kami ditangkap dan dijatuhi hukuman buang selama dua puluh tahun! Bayangkan betapa sengsaranya aku, seorang pangeran yang biasanya hidup mewah dan terhormat, dibuang di tempat pengasingan selama dua puluh tahun?"

Keng Han diam saja. Biarpun di dalam hatinya dia tidak setuju dengan perbuatan ayahnya yang hendak membunuh Pangeran Mahkota itu, namun mengingat penderitaan ayahnya selama dua puluh tahun, dia merasa kasihan juga.

"Nah, setelah hukumanku selesai dan aku bebas, aku kembali ke kota raja. Agar rakyat tidak mengenalku, maka aku menyaru menjadi Hartawan Ji. Diam-diam aku bersekutu dengan orang-orang yang menginginkan jatuhnya kerajaan Ceng, dan aku berniat untuk membunuh Pangeran Mahkota Tao Kuang dan juga Kaisar! Kalau mereka berdua tewas, aku sebagai pangeran tertua berhak atas tahta kerajaan! Kemudian aku mendengar tentang kedatanganmu dan bahwa engkau seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Karena itulah, aku sengaja tidak mengaku sebagai ayahmu, melainkan menghasutmu agar engkau membenci Pangeran Mahkota dan membunuhnya. Akan tetapi ternyata usahamu itu pun gagal."

"Hemmm, setelah mendengar duduknya perkara, bagaimana mungkin aku membunuh Pangeran Mahkota Tao Kuang yang tidak bersalah?"

Bantah Keng Han.

"Sudahlah, Keng Han. Sekali gagal tidak mengapa. Sekarang, marilah engkau bantu ayahmu untuk membunuh Kaisar dan Pangeran Tao Kuang. Kalau aku berhasil menjadi Kaisar, bukankah engkau pun akan menjadi pangeran?"

"Tidak! Aku tidak sudi terlibat dalam persekutuan jahat itu! Aku tidak mau membantumu dalam urusan itu!"

Pangeran Tao Seng mengerutkan alisnya dan matanya yang menatap wajah puteranya berubah bengis.

Post a Comment