"Mulai sekarang engkau akan menuruti semua kehendakku. Engkau akan taat kepadaku!"
Siok Hwa menunduk.
"Aku.... akan taat kepadamu."
Katnya lirih dan tanpa tenaga. Gilam Sang merasa girang sekali sudah dapat menguasai Siok Hwa.
"Mulai sekarang, ikutlah ke mana aku pergi kecuali kalau kularang. Sekarang, ikuti aku!"
Gulam Sang lalu membalikan dirI dan melangkah pergi dan seperti telah kehilangan semangatnya, Siok Hwa mengikutinya. Kalau Gulam Sang berlari, ia pun ikut pula berlari! Mulal saat itu, Siok Hwa telah berada dalam cengkraman Gu Lam Sang. Sekali waktu, ingatannya kembali dan apabila dia teringat akan kematian ayahnya dan akan keadaan dirinya, dia menangis, akan tetapi ia segera terhibur kalau GuLam Sang sudah mengeluarkan kata-kata hiburan yang mengandung kekuatan sihir.
Cu In masih menangis tanpa suara ketika ia berjalan seorang diri masih di kota raja, setelah meninggalkan rumah The Sun Tek. Pikirannya masih kacau. Hatinya terasa hancur luluh. Padahal, sepatutnya ia berbahagia sekali karena ternyata ayah bundanya masih hidup! Ia bukan yatim piatu. Gurunya adalah ibu kandungnya dan The Sun Tek adalah ayah kandungnya. Sepatutnya ia bersyukur. Akan tetapi kenya-taannya lain. Ibunya sendiri mendidiknya sebagai murid hanya untuk diadu dengan ayah kandungnya. Ia harus membunuh ayah kandungnya sendiri! Demikian parah racun dendam merusak hati ibunya sehingga wanita itu ingin melihat kekasihnya terbunuh oleh puterinya sendiri. Sebuah kereta meluncur berpapasan dengannya. Kereta itu segera dihentikan dan seorang gadis menyingkap tirai kereta dan memanggil-manggilnya.
"Enci Cu In...! Enci Cu In...!"
Cu In membalikkan tubuhnya memandang dan ia segera mengenal gadis yang memanggilnya itu. Gadis itu bukan lain adalah Yo Han Li, gadis yang membantunya ketika ia dikeroyok oleh orang-orang Kwi-kiam-pang. Gadis itu dan gurunya, Kai-ong telah membantunya sehingga ia dapat terlepas dari pengeroyokan yang berbahaya. Dan ia pun mengenal gadis itu dari ilmu pedangnya bahwa ia adalah puteri Pendekar Tangan Sakti Yo Han dan isterinya, Si Bangau Merah! Biarpun pertemuan dan perkenalan mereka hanya sebentar, namun berkesan di hati Cu In, maka ketika melihat bahwa Han Li yang memanggilnya ia pun segera menghampiri kereta itu. Han Li sudah meloncat turun dari dalam kereta, diikuti seorang gadis lain yang juga cantik dan berpakaian serba biru.
"Enci Cu In, girang sekali aku dapat bertemu dengan engkau di sini. Perkenalkan, enci Cu In, ini adalah adik Tao Kwi Hong, puteri Pangeran Mahkota. Adik Hong, ini adalah enci Souw Cu In yang pernah kuceritakan kepadamu, ilmu silatnya hebat. Mendengar bahwa gadis itu puteri Pangeran Mahkota, Cu In memberi hormat dan dibalas dengan manis oleh Kwi Hong.
"Aku sudah mendengar tentang dirimu, enci Cu In, dan aku merasa kagum sekali. Mari, kupersilakan untuk singgah di rumahku agar kita bertiga dapat bercakap-cakap dengan leluasa dan gembira."
"Benar, enci Cu In. Aku bersama suhu sedang menjadi tamu dari keluarga Pangeran Mahkota, sudah beberapa hari aku berada di sini. Marilah singgah sebentar, Enci. Aku ingin mengenalmu lebih dekat."
Dibujuk oleh dua orang gadis yang ramah dan manis budi itu, Cu In yang sedang bersedih menjadi gembira dan ia pun ikut naik ke dalam kereta yang segera dijalankan menuju ke istana Pangeran Mahkota. Biarpun Cu In masih memakai cadar dan mukanya tidak dapat dikenali, namun sikap Han Li dan Kwi Hong tetap ramah kepadanya, seolah menutupi muka dengan cadar adalah suatu hal yang biasa saja.
"Enci Cu In, apakah angkau masih berdarah keturunan Turki dan beragama Islam?"
Tanya Kwi Hong ketika mereka sudah tiba di istana dan mereka bertiga bercakap-cakap di taman bunga yang indah dari istana itu.
"Ah, tidak. Mengapa?"
Tanya Cu In heran.
"Cadarmu itu mengingatkan aku akan kebiasaan para wanita Islam yang pernah kutemui."
Kata pula Kwi Hong dan suaranya terdengar biasa saja sehingga tidak menyinggung perasaan Cu In. Cu In pun mengerti akan kewajaran pertanyaan itu. Akan tetapi pertanyaan mengenai cadar yang menutupi mukanya itu mengingatkan Cu In akan ibunya!
Ibunya yang tadinya diangap gurunya itulah penyebab ia mengenakan cadar sejak menjadi gadis remaja. Gurunya selalu menekankan kepadanya betapa palsu dan jahatnya semua pria, dan betapa besar bahayanya kalau ada pria jatuh cinta kepadanya atau sebaliknya kalau ia mencinta pria. Pria yang demikian itu harus dibunuh! Karena itulah, untuk mencegah agar jangan ada pria jatuh cinta kepadanya ia menutupi mukanya dengan cadar. Ia tidak harus seperti sucinya yang entah berapa kali harus mem-bunuh pria karena pria itu tertarik dan jatuh cinta kepadanya. Dan teringat akan gurunya, mengingatkan pula ia akan kenyataan bahwa gurunya adalah ibu kandungnya, dan mengingatkan pula bahwa sikap ibunya yang menyuruh ia membenci setiap orang pria itu berdasarkan sakit hati ibunya terhadap ayahnya!
Teringat akan semua ini, hati Cu In menjadi sedih sekali. Dan pada saat itu juga sudah timbul niat di hatinya untuk menentang sikap ibu kandungnya itu. Menentang sikapnya yang membenci setiap orang laki-laki, hanya karena dia pernah disakiti hatinya oleh seorang laki-laki. Ia sendiri selama ini tidak pernah merasa benci kepada laki-laki, dan menganggap mereka sama saja seperti para wanita, ada yang jahat dan ada pula yang baik. Tidak adanya sikap membenci pria ini sudah diperlihatkan ketika dia menyelamatkan Keng Han dari tangan sucinya, ketika sucinya hendak membunuh laki-laki itu karena Keng Han tidak mau diajak ber-jodoh dan minggat. Mendengar pengakuan Keng Han bahwa pemuda itu tidak mencinta sucinya, cukup menjadi alasan baginya untuk mencegah sucinya membunuh Keng Han.
Ingatannya melayang-layang ketika ia teringat akan pemuda itu. Teringat betapa ia telah ditolong oleh Keng Han ketika ia tertawan oleh Tung-hai Lo-mo dan Swat. hai Lo-kwi, teringat akan perjalanan mereka bersama, malam-malam di dalam gua, makan minum bersama. Makin terasa di hatinya betapa ia amat tertarik kepada Keng Han, betapa debar jantungnya menjadi cepat kalau ia teringat kepada pemuda itu, namun selama ini perasa-an itu selalu ditekannya karena anggapan yang ditanam gurunya sejak kecil dalam perasaannya bahwa semua pria itu palsu dan jahat. Akan tetapi sekarang, setelah ia mengetahui bahwa gurunya adalah ibu-nya sendiri yang membenci kaum pria karena disakiti hatinya oleh seorarig laki-laki, maka anggapan itu mengendur dan ia bahkan tidak percaya lagi kepada ibunya yang begitu tega menyuruhnya membunuh ayah kandungnya sendiri!
"Enci Cu In, engkau melamun?"
Tiba-tiba Han Li menegur sambil menyentuh tangannya. Han Li melihat betapa pandang mata Cui In menerawang jauh dan pandangan mata itu kosong separti orang melamun dan sejak tadi Cu In diam saja. Cu In tersentak kaget dan baru sadar, teringat bahwa tadi Kwi Hong menyinggung tentang cadarnya dan ia merasa tidak enak kalau tidak menjawab.
"Ah, cadarku ini.... sebagai penutup mukaku. Aku tidak ingin orang lain melihat mukaku, aku malu...."
Jawabnya terpaksa sekali.
"Malu? Engkau yang begini cantik jelita, malu kalau orang lain melihat mukamu? Sungguh aneh!"
Kata Kwi Hong yang memang lincah.
"Aku.... sama sekali tidak cantik, aku.... mukaku buruk sekali...."
Kata Cu In dengan terpatah-patah. Han Li yang juga lincah namun berwatak lembut itu melihat sikap yang gugup dari Cu In, segera berkata,
"Sudahlah, enci Cu In. Kalau engkau ingin menyembunyikan wajahmu di balik cadar, itu adalah urusamu sendiri dan menjadi hakmu. Kami tidak akan memaksamu untuk memperlihatkan mukamu kepada kami, bukankah begitu, adik Kwi Hong?"
Kwi Hong juga seorang gadis yang biarpun puteri pangeran mahkota, namun sudah lumayan pengala-mannya di dunia kang-ouw, maklum betapa orang kang-ouw memang banyak yang aneh-aneh, maka ia pun segera berkata,
"Tentu saja. Menggunakan cadar untuk menyembunyikan mukanya adalah rahasia enci Cu In sendiri, walaupun aku sungguh ingin dapat melihat muka itu."
"Kelak akan datang waktunya kalian dapat melihat mukaku, akan tetapi sekarang belum waktunya,"
Kata Cu In. Ketika mereka akan bercakap terus mendadak nampak Pangeran Mahkota Tao Kuang memasuki taman itu, berjalan sambil bercakap-cakap dengan Kia-ong Lu Tong Ki. Ternyata Lu Tong Ki merupakan kawan bercakap-cakap yang menyenangkan bagi putera mahkota itu. Raja Pengemis itu berpengetahuan luas dan biarpun dia hanya seorang yang berjuluk Raja Pengemis, ternyata dia tidak pernah merasa rendah diri dan dapat melayani sang Pangeran Mahkota bercakap-cakap mengenai banyak hal. Ketika itu, hawa agak panas dan Pangeran Tao Kuang mengajak tamunya unatuk barjalan-jalan dalam taman sambil bercakap-cakap. Melihat putrinya bersama Han Li dan seorang gadis lain yang bercadar sedang berada dalam taman pula, Pangeran Mahkota segera menghampiri.
"Itu ayah datang!"
Kata Kwi Hong, dan mendengar bahwa yang datang adalah Pangeran Mahkota, Cu In segera berdiri dengan perasaan tidak enak, Ia belum pernah bartemu dengan Pangeran Mahkota dan merasa kedatangannya mengganggu.
"Hai, bukankah itu nona Souw?"
Kai-ong Lu Tong Ki berteriak ketika melihat Cu In. Dia masih ingat ketika bersama Han Li membantu Cu In dari pengeroyokan Toat-beng Kiam-sian Lo Cit dan anak buahnya.
"Ayah, ini nona Sauw Cu In yang saya undang untuk berkunjung ke sini. Ia seorang yang memiliki ilmu silat yang tinggi sekali, Ayah."
"Bagus, engkau boleh saja mengajak para sahabatmu yang gagah datang berkunjung, Kwi Hong."
Kata Pangeran Mahkota Tao Kuang sambil menghampiri. Cu In bangkt dan memberi hormat kepada Pangeran Tao Kuang.
"Harap Paduka suka memaakan kalau kedatangan saya ini menganggu."
Katanya lembut.
"Ah sama sekali tidak mengganggu, Nona. Bahkan kami mengundang Nona untuk menjadi tamu yang terhomat dari kami dan malam nanti kami akan mengadakan perjamuan makan malam di taman ini untuk menghormati para tamu."
"Enci Cu In, aku harap engkau suka menghadirinya!"