"Suheng, harap jangan percaya dia. Masih ingat pinceng akan cerita Sin Lian bahwa bocah ini adalah murid Kang-thouw-kwi Gak Liat dan tadi pun dia mengeluarkan pukulan Hwi-yang Sin-ciang. Tentu kedua orang murid Suheng dia pula yang membunuhnya."
Ceng To Hwesio berkata. bukan untuk memanaskan hati suhengnya, melainkan karena ia menduga keras bahwa Han Han adalah seorang musuh besar. Sinar mata Ceng San Hwesio berkilat.
"Hemmm, Gak Liat manusia yang keji dan jahat. Sekarang muridnya lebih kejam lagi.., Omitohud. Sie Han, kau lebih baik menyerahkan diri, jangan melawan. Kau harus menjadi tawanan kami untuk kemudian diperiksa lebih lanjut."
"Locianpwe, sebagai seorang ketua perkumpulan besar, apakah Locianpwe tidak dapat menggunakan kebijaksanaan? Kakakku tidak bersalah, memaksa diri datang kesini untuk memberi penjelasan agar jangan terjadi permusuhan berlarut-larut antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai. Akan tetapi sampai disini malah hendak ditawan. Hayo kembalikan pedangku dan biarkan kami berdua pergi dari sini kalau Locianpwe tidak suka mendengarkan penjelasan Kakakku."
Lulu yang tadinya kelihatan takut-takut itu kini melangkah maju dan bicara dengan suara membentak-bentak kepada ketua Siauw-lim-pai. Jari-jari tangan kiri Ceng San Hwesio menggerak-gerakkan tasbihnya ketika ia memandang Lulu, alisnya berkerut dan ia bertanya halus,
"Nona muda, siapakah namamu?"
"Namaku Lulu dan aku adalah adik Kakakku Han Han ini."
"Nona bukan murid Hoa-san-pai?"
"Bukan, juga Kakakku bukan murid Hoa-san-pai, bukan pula murid Gak Liat."
Bibir hwesio tua itu tersenyum.
"Hem, Nona bicara tidak karuan. Kalau bukan murid Hoa-san-pai, bagaimana pedang Cheng-kong-kiam bisa berada di tangan-mu? Pedang itu adalah pedang pusaka Hoa-san-pai dan biasanya hanya dipergunakan oleh pihak pimpinan Hoa-san-pai."
"Ohhh, itu? Pedangku yang dirampas oleh hwesio jahat ini? Sama saja dengan hwesio itu, Locianpwe, aku merampas dari tosu Hoa-san-pai?"
"Hemmm, merampas dari tosu Hoa-san-pai?"
"Apa bedanya dengan hwesio ini? Dia pun merampas pedangku. Aku diserang tosu Hoa-san-pai dan aku merampas pedangnya."
Tiba-tiba Ceng To Hwesio maju dan berkata,
"Nona muda yang lancang mulut. Benarkah engkau Adik pemuda ini? Pinceng tidak percaya."
Lulu membelalakkan matanya kepada hwesio yang dibencinya itu, yang telah memegang pedangnya.
"Kau percaya atau tidak bukan urusanku. Aku adalah adik angkat Kakakku ini dan aku tidak membutuhkan kepercayaanmu."
"Suheng, gadis ini adalah keturunan Mancu."
Tiba-tiba Ceng To Hwesio berkata.
"Lihatlah matanya, lihat hidungnya dagunya Dia berdarah Mancu."
"Memang aku gadis mancu, habis engkau mau apa?"
"Omitohud.. kalau begitu benar. Mereka ini adalah mata-mata penjajah yang dipergunakan untuk mengadu domba antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai. Bocah kejam, terpaksa pinceng. Turun tangan kepadamu."
Ceng San Hwesio berseru dan tiba-tiba dia menggerakkan kaki maju dua langkah dan tangan kanan-nya mendorong ke depan, mencengkeram ke arah pundak Han Han.
Pemuda yang sudah sakit-sakit rasa tubuhnya ini ketika mendengar suara mencicit keluar dari tangan ketua Siauw-lim-pai, terkejut bukan main. Cepat ia miringkan tubuh, agak merendah dan dengan nekat ia mengangkat tangan menangkis ke arah tangan hwesio yang terulur itu.
"Plakkk."
"Omitohud... menakjubkan."
CengSan Hwesio berseru dan meloncat kebelakang untuk mematahkan daya dorong yang dapat. merusak kuda-kuda kakinya. Akan tetapi Han Han terpental ke belakang dan roboh terguling-guling. Ternyata bahwa dalam hal tenaga, bahkan kakek ketua Siauw-lim-pai ini sendiri tak mampu mengatasi Han Han, akan tetapi karena kakek ini amat lihai, ketika tangan mereka bertemu tadi Ceng San Hwesio telah menggerakkan pergelangan tangan sehingga Han Han terdorong dari samping dan kena dilontarkan ke belakang.
"Kalian benar-benar menghendaki nyawaku? Hemmm...majulah, aku Sie Han bukannya orang yang takut mati."
Bentak Han Han, kemarahannya membuat wajahnya menjadi merah sekali dan kelihatannya beringas menyeramkan, sinar maut terpancar dari sepasang matanya.
Ceng San Hwesio maklum bahwa anak muda ini benar-benar merupakan bahaya dan bahwa kalau dia sendiri tidak turun tangan, tentu akan sukar bagi murid-muridnya menundukkan Han Han tanpa mengorbankan nyawa banyak anak murid Siauw-lim-pai lagi. Sebagai ketua Siauw-lim-pai, tentu saja dia berpantang membunuh, akan tetapi karena maklum bahwa pemuda ini sukar dikalahkah dan memiliki sinkang yang amat luar biasa, ia lalu melangkah maju, siap menurunkan tangan menyerang. Juga Ceng To Hwesio bersama tiga orang muridnya sudah maju mengurung Han Han yang beringas dan marah sedangkan Lulu masih berdiri terbelalak penuh kekhawatiran memandang kakaknya.
Keadaan itu amat menegangkan, terutama sekali bagi Lulu yang seolah-olah melihat betapa kakaknya yang tercinta itu hendak disembelih, hendak dibunuh di depan matanya. Ia amat bangga dan yakin akan kelihaian kakaknya, akan tetapi kini ia mengerti bahwa kakaknya bukanlah lawan hwesio-hwesio yang sakti ini. Ia pun bersiap-siap untuk menyerbu untuk membela kakaknya, karena kalau sampai kakaknya tewas, ia pun tidak mau hidup lebih lama lagi ingin mati disamping kakaknya. Dalam detik seperti itu terasa benar di hati Lulu betapa ia mencinta kakaknya, betapa di dunia ini dia tidak punya siapa-siapa lagi, betapa hidupnya akan kosong dan hampa kalau Han Han mati. Perasaan ini seperti duri-duri menusuk jantungnya, membuat Lulu tanpa disadarinya memekik nyaring.
"Koko..! Aku ingin mati bersamamu..."