Tiong Kiat memandang kepada kakaknya dan tak sampai hatinya untuk mengusirnya. Ia merasa kasihan sekali, akan tetapi yang dikasihani memandang tajam dan keras.
"Baik Tiong Kiat, kali ini aku mengaku kalah dan gagal. Akan tetapi, sekali aku telah bersumpah, aku tetap akan melanjutkan usahaku dan tugasku ini. Pasti akan datang saatnya aku membawamu kembali ke Liong san menghadap suhu!" setelah berkata demikian, Tiong Han memutar tubuhnya dan berlari pergi.
Malu, sedih, dan kecewa rasa hati Tiong Han setelah ia meninggalkan benteng panglima Oei. la telah gagal menangkap Tiong Kiat, bahkan pedang Ang coa kiam telah dirampas. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Bagaikan seorang yang kehilangan semangat ia berjalan masuk keluar hutan, lupa lelah lupa lapar dan lupa tidur. Berhari-hari ia berjalan tak tentu tujuan. Ia maklum bahwa dalam hal ilmu pedang, sekarang Tiong Kiat sudah lebih pandai dari padanya. Untuk menghadapi Tiong Kiat seorang diri saja, sudah merupakan hal yang amat berat dan belum tentu ia akan dapat menangkan adiknya.
Apalagi sekarang keadaan Tiong Kiat amat kuat. Selain telah menjadi seorang perwira yang dilindungi oleh undang-undang dan tidak boleh diserang oleh orang biasa, juga disamping itu masih ada lagi orang-orang pandai seperti lima orang pendeta itu di dalam benteng yang selalu akan membantu Tiong Kiat. Bagaimana ia akan dapat menunaikan tugasnya? Bagaimana ia akan bisa menangkan Tiong Kiat?
Tiong Han benar-benar merasa bingung dan serba salah. Kalau ia nekad menyerbu lagi untuk menghadapi Tiong Kiat akan merupakan usaha yang sia-sia belaka, bahkan ia akan mendapat malu lagi. Untuk kembali kepada suhunya, ia tidak berani.
Ketika ia sedang berjalan dengan tubuh terasa lemas dan pikiran melayang jauh, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Bangsat muda, bagus sekali kau datang mengantarkan nyawa!"
Tiong Han terkejut sekali dan cepat mengangkat muka. Ternyata dihadapannya telah berdiri seorang nenek tua yang memandangnya dengan mata merah sekali. Nenek ini rambutnya telah putih, digelung ke belakang dan mukanya kelihatan galak sekali, apa lagi sepasang matanya yang mengeluarkan sinar berapi itu. Pakaiannya seperti pakaian pertapa dari kain putih yang kasar. Nenek ini berdiri dan memegang sebatang tongkat yang bengkak-bengkok dan kepalanya berbentuk aneh seperti kepala naga.
Tiong Han tidak mengenal nenek ini, akan tetapi melihat sikap dan pandang mata nenek yang luar biasa itu, ia dapat menduga bahwa ia tentu berhadapan dengan seorang yang pandai. Cepat pemuda ini lalu mengangkat kedua tangannya memberi hormat sambil berkata,
"Maafkan teecu kalau teecu tidak tahu dengan siapakah teecu berhadapan? Dan kesaIahan apa pulakah yang teecu lakukan sehingga membikin marah kepada suthay?"
Mendengar ucapan yang sopan dan sikap yang ramah ini, nenek itu menjadi makin marah.
"Bangsat bermulut manis! Dengan wajahmu yang tampan dan mulutmu yang manis itu agaknya kau telah menipu dan membujuk banyak wanita! Kedosaanmu telah bertumpuk-tumpuk, dan manusia macam kau ini amat berbahaya! Tidak saja kau telah melempari nama perguruanmu dengan kotoran, bahkan kau juga membawa-bawa nama pemilik pedang Hui liong kiam yang telah kaucemarkan! Hayo kaukeluarkan Hui liong kiam dan kaukembalikan kepadaku!"
"Suthai"maaf........teecu tidak membawa Hui-liong kiam"sudah teecu berikan"..." Tiong Han berkata gagap dan ia menjadi bingung sekali. Tak dapat ia menceritakan bahwa Hui-liong kiam telah ia berikan kepada Tiong Kiat, dan iapun dapat menduga bahwa kembali nenek ini salah lihat disangkanya ia adalah Tiong Kiat. Akan tetapi anehnya, mengapa nenek ini tahu bahwa dia telah menerima pedang Hui liong kiam yang sudah lama diberikannya kepada Tiong Kiat? Siapakah nenek ini? Tiba-tiba teringatlah ia dan mukanya menjadi berseri.
"Ah, pernah Lui piauwsu bercerita tentang dia"" pikirnya, kemudian ia menjura lagi sambil berkata.
"Apakah teecu bukannya berhadapan dengan Pat jiu Toanio Li Bie Hong yang ternama?"
Tiba-tiba nenek itu tertawa dan suara ketawanya merdu dan nyaring seperti suara ketawa seorang gadis muda. Akan tetapi tiba-tiba ia berkata dengan suara bentakan marah sekali.
"Orang jahat, jangan coba berpura-pura. Dulu aku masih memberi ampun kepadamu akan tetapi sekarang jangan harap lagi!" Dan sebelum Tiong Han dapat berjaga diri tahu-tahu tongkat yang panjang itu melayang dan menyambar ke arah kepalanya!
Tiong Han terkejut sekali. Sambaran tongkat itu biarpun masih jauh telah mendatangkan angin pukulan yang hebat sekali. Maklumlah dia bahwa sekali saja kepalanya terkena pukulan tongkat ini, nyawanya takkan dapat tertolong lagi. Ia cepat membuang diri ke belakang dan kemudian melompat menjauhkan diri. Akan tetapi ternyata bahwa Pat jiu Toanio telah berada dihadapannya tanpa ia ketahui kapan bergeraknya. Sekali lagi tongkat nyonya tua itu bergerak, kini menotok ke arah dadanya.
Tiong Han benar-benar merasa bingung, ia tidak mempunyai pedang lagi. Sedangkan seandainya Ang-coa kiam berada di tangannya juga tak mungkin ia dapat menangkan nenek yang gerakan tongkatnya luar biasa sekali ini, apalagi kini ia bertangan kosong. Menghadapi serangan tongkat kedua ini kembali ia mengelak ke kiri akan tetapi sungguh tak disangka sama sekali karena tongkat itu tiba-tiba diputar dan kini yang berbentuk kepala naga itu menyerangnya dengan kecepatan yang tak dapat diduga. Sebelum Tiong Han dapat mengelak, tongkat itu telah mengenai bajunya. Akan tetapi Tiong Han bukanlah seorang pemuda yang hanya memiliki ilmu silat biasa saja. la telah digembleng hebat oleh Lui Thian Sianjin. Cepat ia mengumpulkan tenaga Iweekangnya ke arah paha kanannya yang disambar tongkat sambil membarengi menggunakan kedua tangan menyampok tongkat itu. Ketika tongkat itu mengenai paha, tongkat itu membal kembali karena paha Tiong Han telah menjadi keras dan kuat seperti karet dan dibantu oleh sampokannya, tongkat itu terpental.
"Bagus, kepandaianmu tidak jelek, sayang watakmu kotor sekali!" Setelah berkata demikian Pat jiu toanio lalu memutar tongkatnya dengan cepat sekali. Berkali-kali Tiong Han minta agar supaya nenek itu suka mendengarkan bicaranya akan tetapi semua kata-katanya tidak diperdulikan, bahkan didengarpun tidak oleh nenek yang sudah marah ini.
Pat jiu toanio memang mempunyai watak keras dan aneh dan penjahat penjahat ia tidak mengenal ampun. Apalagi terhadap penjahat muda yang disangkanya Sim Tiong Kiat ini. Ia sengaja mencari-cari Tiong Kiat untuk diberi hukuman. Kemarahannya terhadap Tiong Kiat memuncak ketika ia bertemu dengan Lui Thian Sianjin dan mendengar keluh kesah orang tua ini, lalu mendengar sepak terjang Tiong Kiat yang jahat. Apalagi akhir-akhir ini ia mendengar betapa pemuda ini telab melakukan kejahatan dengan menggunakan pedang Hui liong-kiam! Ia merasa bertanggung jawab kalau pedang Hui-liong kiam sampai jatuh ke tangan penjahat.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, setelah merampas pedang Hui liong-kiam dari tangan penjahat Sin-kiam Koai-jin Ang Kun, murid murtad dari Lui-kong-jiu Kong Kin Tosu, Pat jiu Toanio lalu memberikan pedang itu kepada seorang piauwsu yang gagah, yakni Lui Siong Te. Kemudian Lui-piauwsu ini yang tertolong oleh Tiong Han, lalu memberikan pedang itu kepada Tiong Han yang kemudian memberikannya pula kepada Tiong Kiat sebagai penukar pedang Ang coa kiam.
Pat jiu Toanio ketika mendengar bahwa pedang Hui liong-kiam dipergunakan oleh penjahat, cepat mendatangi Lui piauwsu dan marah sekali. Kemudian ia mendengar bahwa pedang itu oleh Lui piauwsu diberikan kepada seorang muda she Sim yang gagah perkasa. Maka nenek ini lalu mengejar ke utara untuk mencari penjahat yang telah memakai pedang itu dan untuk berbuat jahat dan tak disangka-sangka ia bertemu dengan Tiong Han.
Betapapun tinggi kepandaian Tiong Han, menghadapi Pat-jiu Toanio yang kepandaiannya masih mengatasi Lui Thian Sianjin apa lagi bertangan kosong, tentu saja pemuda itu menjadi sibuk sekali. la hanya dapat menghindarkan diri dari serangan nenek itu selama dua puluh jurus saja dan pada jurut ke dua puluh satu, Pat jiu Toanio berhasil menotok pundaknya dan robohlah Tiong Han tanpa dapat bergerak lagi. Ia telah kena ditotok jalan darahnya dengan ilmu totok satu jari yang luar biasa dan lemaslah semua tubugnya seperti telah diloloskan semua urat-uratnya.
Pat jiu Toanio tertawa lagi. la pukul-pukulkan tongkatnya di atas tanah dekat kepala Tiong Han sehingga debu mengebul ke atas.
"Hm, ingin sekali aku menghancurkan kepalamu dengan tongkat ini. Akan tetapi kau harus membuat pengakuan lebih dahulu di depan meja sembahyang, agar dosa-dosamu tidak terlalu berat dan rohmu tidak terlalu tersiksa."
Tanpa menanti jawaban, nenek ini lalu mengempit tubuh pemuda itu dengan tangan kirinya dan berlarilah ia secepat angin menuju ke dalam hutan. Setelah tiba di sebuah bio (kuil) kecil dan rusak, ia segera masuk dan melemparkan tubuh Tiong Han ke depan meja sembahyang yang telah dibersihkan orang dan telah dipasangi hio dan lilin. Dengan menepuk pundak dan punggung Tiong Han, Pat jiu Toanio membebaskan pemuda ini. Tiong Han bangun dengan tubuh lemas.
"Hayo berlutut di depan meja sembahyang!" bentak Pat-jiu Toanio dengan suara keras dan bengis. Tiong Han hanya tersenyum lalu bangkit berdiri sambil berkata,
"Pai jiu Toanio, biarpun aku telah kau kalahkan dan berada di dalam kekuasaanmu jangan harap untuk membuat aku menjadi ketakutan dan menurut saja sekehendakmu. Aku Sim Tiong Han tidak takut mati!"
"Bangsat sombong, berlutut kau!" kaki dari nenek ini dengan cara cepat dan luar biasa sekali bergerak melakukan tendangan berantai yang tepat mengenai belakang lutut Tiong Han. Pemuda ini merasa betapa tenaga kakinya lenyap dan terpaksa ia jatuh berlutut di depan meja sembahyang!
"Bangsat muda, jangan kau berani main-main di depan Pat jiu Toanio! Kau tidak tahu bahwa perbuatan ini kulakukan untuk menolong rohmu yang tersesat! Kalau aku tidak mengingat bahwa kau adalah murid Kim liong pai, apakah kau kira aku akan sudi melelahkan diri seperti ini? Kupecahkan saja kepalamu di dalam hutan dan habis perkara! Hayo sekarang kau mengakui semua perbuatanmu yang jahat, semenjak kau melarikan diri bersama sumoimu dari Liong san sampai sekarang. Setelah itu kau harus minta ampun di depan meja sembahyang ini kepada Thian sehingga rohmu takkan terlalu disiksa di neraka! Aku tidak menghendaki kau mati penasaran, lebih baik kau mati dengan penuh kesadaran bahwa kematianmu ini untuk menebus dosa!"
Akan tetapi biarpun tahu bahwa ia takkan terhindar dari kematian di tangan nenek yeng lihai dan galak ini, Tiong Han tetap tersenyum ketika berkata,
"Pat jiu Toanio, apakah kau menghendaki aku mengakui kebohongan di depan meja sembahyang? lngat, kaulah yang berdosa kalau membohong, karena kau yang memaksaku!"
"Apa maksudmu?" tanya nenek itu dengan sikap mengancam.
"Aku memang benar murid dari Kim liong pai, akan tetapi aku tidak pernah melakukan dosa-dosa yang kau sebutkan tadi."
"Bangsat, berani benar kau membohong! Pengecut kau, berani berbuat tak berani bertanggung jawab? Manusia seperti engkau ini sudah seharusnya dibikin mampus!" Setelah berkata demikian, Pat jiu Toanio lalu mengangkat tongkatnya hendak dipukulkan ke arah kepala pemuda itu, adapun Tiong Han yang merasa bahwa melawan tiada gunanya lagi, hanya meramkan kedua matanya.
"Li suthai...." tunggu"!" Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan dari dalam kuil bobrok itu muncullah seorang pendeta wanita yang masih muda dan berwajah cantik.
Pat jiu Toanio menahan tongkatnya dan Tiong Han cepat menengok. Pemuda ini membelalakkan kedua matanya memandang kepada pendeta wanita yang baru muncul itu. Hatinya berdebar keras karena pada penglihatan pertama ia mengira bahwa pendeta wanita yang muda dan jelita ini adalah Suma Eng! Akan tetapi setelah bertemu pandang, tahulah ia bahwa biarpun pendeta wanita ini cantik dan memiliki air muka hampir sama dengan Eng Eng, sesungguhnya bukan gadis gagah itu.