Halo!

Pedang Ular Merah Chapter 70

Memuat...

Akan tetapi Oei Sun memegang tangannya dan menariknya masuk ke dalam benteng.

"Marilah, Sim-ciangkun dan jangan perdulikan lagi urusan kecil itu. Mereka adalah pemberontak-pemberontak, karena orang-orang yang berani memusuhi seorang perwira di dalam benteng, mereka itu berarti memberontak terhadap Hongsiang sendiri. Jangankan seorang perwira, baru terhadap seorang perajurit biasa saja rakyat tidak boleh melawan!"

Pada saat itu, para pengawal Oei ciangkun telah menggerakkan tombak mereka ditusukkan ke arah ulu hati kelima orang tosu Kun-lun-pai itu, maka tanpa dapat mengeluarkan suara sedikitpun, lima orang tokoh Kun lun-pai yang bernasib malang itu tewas dalam keadaan yang amat menyedihkan! Tiong Kiat merasa menyesal sekali akan tetapi apa yang dapat ia lakukan? La memandang kepada Oei Sun dan terpaksa ikut masuk ke dalam benteng. Di ruang dalam, duduklah mereka bertujuh. Gobi Ngo koai tung, Oei Sun, dan Tiong Kiat. Lain orang tidak boleh masuk, bahkan Huayen khan dan Ang Hwa sendiripun diminta berada di luar dulu karena ada hal yang amat penting hendak mereka bicarakan. Setelah mereka mengambil tempat duduk berkatalah Oei Sun kepada Tiong Kiat dengan air muka sungguh-sungguh.

"Sim ciangkun, kau telah cukup maklum betapa besar kepercayaanku kepadamu dan bahwa kau telah kuanggap sebagai seorang kawan kerja, seorang murid, juga seorang guru. Oleh karena itu, harap kau suka berpikir tenang dan menggunakan pertimbangan yang sehat. Aku sendiri tidak tahu apakah benar kelima totiang ini dahulunya pernah menjadi orang-orang Pek lian kauw atau bukan. Hal itu sekarang bukan merupakan persoalan lagi. Pernah menjadi orang Pek lian kauw ataupun tidak pernah, yang sudah pasti kelima totiang ini membantu perjuangan kita, membantu pemerintah dan negara. Dalam menghadapi perkara besar dan perjuangan mulia tak perlu kita menggali-gali urusan lama. Bukankah aku sendiri tidak pernah mencari tahu tentang keadaan dirimu sebelum datang di sini?"

Oei Sun memang pandai sekali bicara dan kalau sampai Tiong Kiat dapat terjerumus ke dalam perangkap, semua itu terutama sekali adalah oleh karena Tiong Kiat tertarik dan tertipu oleh omongan-omongan manis yang diucapkan oleh Oei ciangkun secara pandai sekali. Kinipun, pemuda itu mengerutkan kening dan tak dapat membantah kebenaran omongan Oei Sun. Tiong Kiat teringat akan keadaannya sendiri. Bukankah iapun seringkali melakukan hal-hal yang amat tidak baik apabila dipandang dari sudut kebenaran? Bahkan sampai sekarangpun, ia berani bermain gila dengan Ang Hwa di depan Huayen khan, berarti mengganggu seorang isteri di depan suaminya! Dia sendiri seorang yang banyak melakukan kesesatan, bagaimana ia dapat memburukkan orang-orang lain hanya karena mereka pernah menjadi orang Pek Iian kauw?

"Oei ciangkun ternyata mengeluarkan ucapan gagah sebagai seorang laki laki sejati, Sim-ciangkun. Memang pinto harus mengaku bahwa pinto berlima dahulu memang pernah menjadi pendeta Pek lian-kauw, akan tetapi apakah salahnya itu? Apakah salahnya memeluk sesuatu agama tertentu? Ah, sudahlah, tak perlu pinto membela agama Pek Iian kauw yang sudah diburukkan orang lain, karena pinto percaya bahwa agama Pek Iian-kauw sungguhpun sudah dicemarkan orang, kelak pasti akan bangun kembali, akan terlihat kemurniannya bagaikan emas jatuh di dalam lumpur. Sekarang yang penting kita melihat ke depan, melihat kenyataan sekarang. Benar dan tepat sekali apa yang dikatakan oleh Oei ciangkun tadi bahwa kita adalah orang-orang sepaham dan seperjuangan, mengapa kita harus saling menuduh?"

Didesak oleh omongan-omongan yang terdengar penuh cengli (aturan) ini, mau tidak mau Tiong Kiat terpaksa harus menyatakan betul. La berdiri dan menjura kepada Thian It Tosu dan kawan-kawannya.

"Maafkan aku, totiang. Sekarang aku merasa bahwa aku telah melakukan kebodohan besar sekali. Maafkan bahwa tadi aku tidak membantu ngowi totiang menghadapi pendeta-pendeta Kun Iun pai, dan terima kasih bahwa ngowi totiang telah membantuku menghadapi mereka." Ia berhenti sebentar lalu berpaling kepada Oei Sun dan berkata.

"Hanya sayang sekali lima orang tokoh penting dari Kun lun-pai telah dibunuh, aku kuatir sekali hal ini akan berekor panjang. Mereka itu adalah tosu tosu tingkat dua dari Kun- lun pai bukanlah hal ini berbahaya sekali?"

Oei Sun tersenyum.

"Mereka telah melakukan pemberontakan dan satu-satunya hukuman bagi pemberontak adalah hukuman mati! Dan lagi, siapakah yang tahu bahwa mereka itu lewat di sini? Seandainya ada yang tahu, mengapa kita takut? Kita adalah alal-alat negara, dan orang orang gagah akan membantu kita kalau orang orang Kun lun pai datang membikin onar!"

Demikianlah, dengan secara pandai sekali Oei Sun tidak saja dapat menghilangkan keraguan hati Tiong Kiat dan menjauhkan diri sendiri dari dugaan bahwa dia juga adalah seorang bekas tokoh Pek-lian-kauw, akan tetapi juga ia dapat membersihkan nama kelima orang pendeta itu.

"Aku ada berita yang jauh lebih penting dari pada urusan lima orang tosu dari Kun-lun pai itu." akhirnya Oei ciangkun membuka oleh-olehnya yang didapatkan dari pada perjalanannya tadi.

Tiong Kiat dan kelima Go-bi Ngo koai-tung dengan penuh perhatian mendengarkan.

"Lebih dulu tolong kau panggil masuk Huayen khan dan isterinya, Sim ciangkun. Mereka juga berhak mendengarkan," kata pula Oei ciangkun.

Ketika Tiong Kiat keluar dari kamar itu untuk memanggil Huayen-khan dan Ang Hwa, Oei Sun cepat berkata kepada Go bi Ngo koai-tung.

" Lain kali harap berlaku lebih sabar terhadap dia. Kita amat memerlukan bantuannya. Aku mendengar kabar bahwa seorang murid dari Kim-liong pai, mungkin kakak dari Sim Tiong Kiat ini, kini muncul dan menjadi pembantu utama dari Gak ciangkun. Siapa tahu kalau Sim ciangkun ini akan dapat kita pergunakan untuk menghadapi kakaknya yang kabarnya amat lihai itu!"

Thian It Tosu dan adik-adik seperguruannya hanya mengangguk-angguk saja karena mereka tidak mendapat kesempatan untuk bicara lagi. Tiong Kiat telah masuk diikuti oleh Huayen khan dan Ang Hwa. Nyonya muda ini cemberut ketika ia berkata kepada Oei-ciangkun.

"Ah, sekarang kau agaknya sudah tidak percaya lagi kepadaku!" Kalau orang lain yang mendengar sikap dan ucapan ini, tentu orang itu akan merasa heran bagaimana seorang nyonya muda yang boleh dibilang menjadi tamu di benteng itu, bicara macam itu terhadap komandan benteng! Akan tetapi bagi mereka yang berada di situ, tidak merasa heran lagi, karena seperti juga dengan Tiong Kiat, Ang Hwa mengadakan hubungan pula dengan Oei Sun.

"Ha ha, perundingan rahasia selamanya tidak boleh terdengar oleh lain orang!" Huayen khan berkata sambil tertawa. Sungguhpun diam-diam di dalam hatinya amat mendongkol, akan tetapi kepala suku bangsa Ouigour yang licin ini tidak memperlihatkan perasaannya.

"Dengarlah kawan-kawan semua." Kata Oei Sun sambil menghadapi Tiong Kiat,

"di dalam perjalananku melakukan penyelidikan, aku mendengar berita yang amat mengejutkan hati.

Aku mendengar keterangan para penyelidik rahasia yang kusebar dimana-mana bahwa Gak ciangkun kini telah diangkat oleh Hong siang menjadi Jenderal. Gak-goanswe (Jenderal Gak) kini memimpin barisan besar melakukan penjagaan di tapal batas sebelah barat."

"Berita seperti itu apa salahnya? Bukankah itu baik sekali." Tanya Tiong Kiat dengan heran.

"Belum habis Sim ciangkun. Memang kalau hanya sampai di situ saja amat bagus, akan tetapi ternyata hal ini berkembang dengan hebatnya. Kini Gak goanswe secara diam-diam telah mengadakan persekutuan dengan tentara Tartar yang amat besar jumlahnya. Mereka berdua itu kini telah menyusun kekuatan di sebelah barat untuk dipergunakan menyerbu ke kota raja!"

"Sungguh tak berbudi!" seru Tiong Kiat.

"Sudah diberi pangkat tinggi masih hendak memberontak!"

"Sama sekali bukan tidak berbudi, Sim ciangkun." Kata Oei Sun.

"Hal itu hanya menunjukkan betapa tinggi cita-cita Gak goanswe. Orang yang bercita-cita tinggi saja yang akan mendapat kemajuan di dunia ini. Akan tetapi, betapapun juga, kita harus menggempur pasukan Gak goanswe itu sebelum merupakan bahaya besar bagi kita." "Maksudmu tentu bahaya besar bagi kerajaan, Oei ciangkun." Tiong Kiat berkata.

"Ah ya, tentu saja bagi kerajaan. Kita harus mendahuluinya memukul karena menurut berita, kini barisannya menjadi amat kuat dan besar sekali jumlahnya, dipecah-pecah menjadi beberapa bagian dan menjaga di tempat-tempat mengelilingi kota raja, merupakan ancaman yang berbahaya sekali."

"Tentu, kita harus memukulnya " kata Tiong Kiat mengangguk-angguk.

Post a Comment