Halo!

Pedang Ular Merah Chapter 69

Memuat...

"Go bi Ngo.koai! Sesungguhnya terbalik sama sekali pertanyaan yang kauucapkan itu. Semestinya kami yang berhak bertanya kepada kalian berlima. Siapakah orangnya di dunia kang.ouw yang belum pernah mendengar nama Ang coa kiam Sim Tiong Kiat? Apakah benar-benar kalian berlima tidak mempunyai telinga dan mata? Perlukah kiranya kami beberkan semua kejahatan yang telah dilakukan oleh Ang coa kiam? Kita semua telah mengaku menjadi pendekar-pendekar yang memiliki kepandaian, yang semenjak keciI mempelajari ilmu silat untuk dipergunakan sebagai penegak keadilan dan kebesaran. Ang-coa-kiam adalah seorang pemuda yang jahat dan telah banyak mendatangkan keonaran dan banyak melakukan dosa, mengapa sekarang dapat bertemu dengan kalian di benteng ini? Bagaimana ia dapat menjadi seorang perwira kerajaan? Apakah benar-benar kalian tidak pernah mendengar tentang semua kejahatannya?"

Thian It Tosu tersenyum dan berkata dengan tenang.

"Gan Tian Cu, manusia manakah di dunia ini yang tidak jahat dan berdosa? Pinto tidak suka membongkar-bongkar rahasia dan kesalahan orang, apalagi Sim-ciangkun! Biar apapun juga yang hendak kaukatakan tentang dia, buktinya sekarang Sim ciangkun telah menjadi seorang perwira, yang berarti bahwa dia telah berada di jalan benar, menjadi seorang gagah yang setia dan membela negara! Bagiku, seratus kali lebih baik seorang berdosa yang kembali ke jalan benar daripada seorang yang mengaku-aku suci akan tetapi belum tahu bagaimana isi perutnya!"

Tentu saja Gan Tian Cu dan sute-sutenya tahu betul bahwa mereka telah disindir dan dimaki habis-habisan oleh Thian It Tosu, maka marahlah Gan Tian Cu.

"Go-bi Ngo koai! Kami berlima datang untluk berurusan dengan Ang coa kiam Sim Tiong Kiat dan sama sekali kami tidak mempunyai sangkut paut dengan kalian berlima! Maafkan, kami tidak ada banyak waktu lagi untuk mengobrol dengan kalian!" Setelah berkata demikian, Gan Tian Cu dan empat orang sutenya lalu menyerbu lagi dan menyerang Tiong Kiat yang telah siap sedia. Pemuda ini biarpun maklum bahwa lima orang lawannya amat sukar dan berat dilawan, namun ia tidak mau minta tolong kepada Go bi Ngo koai-tung. Kecuali kalau mereka turun tangan sendiri tanpa diminta, tentu saja dia takkan menolaknya. Kini melihat serangan kelima orang tosu itu, iapun menggerakkan pedangnya sambil membentak,

"Tosu tosu siluman, apa kaukira aku takut menghadapi kalian berlima?"

Kembali pertempuran hebat terjadi. Akan tetapi tentu saja melihat Tiong Kiat berada dalam bahaya, Thian It Tosu dan para sutenya tidak mau tinggal diam begitu saja. Mereka lalu menggerakkan tongkat dan menyerbu membantu Tiong Kiat sehingga pertempuran menjadi makin seru.

Akan tetapi kali ini pertempuran tak seimbang lagi. Kepandaian Go-bi Ngo koai Tung cukup tinggi, tidak berselisih banyak dengan tingkat kepandaian lima orang tokoh Kun lun-pai itu. Maka serbuan mereka yang membantui Tiong Kiat tentu saja membuat Gan Tian Cu dan empat orang adik seperguruannya menjadi kewalahan dan terdesak hebat.

"Go-bi Ngo koai, tidak kelirukah pandanganku?" tiba tiba Gan Tian Cu sambil menangkis tongkat Thian It Tosu berseru keras.

"Ilmu tongkatmu mengingatkan aku akan ilmu tongkat dari Pek lian kauw!"

Seruan yang keras ini tidak saja membuat Go bi Ngo-koai-tung menjadi terkejut, bahkan Tiong Kiat sendiri pun menjadi kaget sekali sehingga ia melompat mundur dan menunda penyerangannya sambil memandang dengan mata mengandung penuh pertanyaan ke arah Go bi Ngo koai tung.

Nama Pek lian-kauw memang amat terkenal di kalangan kang-ouw dan tak seorangpun yang tidak mengingat nama ini dengan hati penuh kebencian. Pek lian kauw di masa jayanya telah banyak mengorbankan orang-orang gagah, diadu domba dan juga diseretnya ke dalam jurang kehinaan, bahkan perkumpulan ini telah mengadakan pemberontakan besar.

Go bi Ngo koai tung menghadapi lima orang tosu Kun lun pai itu dengan mata menyala-nyala saking marahnya.

"Gan Tian Cu, mulutmu benar-benar busuk! Apa hubungannya Pek lian kauw dengan pertempuran ini? Kita orang-orang gagah harus dapat melihat kenyataan di depan mata, tidak menyinggung urusan yang telah lalu! Sekarang kami berlima adalah sahabat, pembantu, dan pelindung dari panglima Oei yang mengepalai pasukan besar dari tentara kerajaan. Kami adalah orang-orang yang membela negara dan kalian bertempur dengan kami karena kalian hendak berhianat hendak mengganggu seorang perwira!"

Gan Tian Cu tertawa bergelak.

"Ha, ha ha! Apa jadinya kalau pemimpin tentara terdiri dari pelarian-pelarian Pek lian kauw dan penjahat-penjahat wanita seperti Ang coa-kiam? Ha, ha, Go-bi Ngo-koai tung, pantas saja Ang coa-kiam lari ke tempat ini, tidak tahunya ada orang-orang macam kalian di sini!"

"Tosu bangsat, tutup mulutmu!" teriak Thian It Tosu, sambil maju menyerang dengan tongkat bambunya. Gan Tian Cu menangkis dan kini lima orang tosu dari Kun lun pai itu bertempur melawan lima orang tosu dari Go bi san yang sesungguhnya adalah pelarian-pelarian dari Pek lian-kauw ini! Bukan main ramainya pertempuran ini, dan Tiong Kiat hanya berdiri dengan pedang di tangan, ragu-ragu untuk maju bergerak. La masih merasa heran dan terkejut mendengar bahwa Go-bi Ngo-koai-tung adalah pelarian-pelarian Pek Iian kauw, maka ia tidak tahu harus berbuat apa. Sudah terang bahwa Gan Tian Cu dan kawan-kawannya adalah musuh-musuhnya yang hendak mencelakakannya, akan tetapi kalau betul Go bi Ngo-koai.tung itu adalah orang-orang Pek lian kauw, ia sendiri merasa sangsi dan juga ngeri untuk membantu mereka!

Gobi Ngo koai tung merasa mendongkol sekali melihat betapa Tiong Kiat berdiri saja seperti patung batu dan tidak membantu mereka. Akan tetapi ternyata bahwa ilmu tongkat dari Go-bi Ngo koai ini benar-benar Iihai sekali. Kalau saja bekas-bekas pengurus Pek lian-kauw itu hanya bersilat biasa saja, mempergunakan ilmu silat yang wajar, belum tentu Gan Tian Cu dan adik-adiknya akan kalah. Akan tetapi Go-bi Ngo-koai-tung tidak percuma pernah menjadi pengurus-pengurus dari Pek-Iian kauw, agama gelap yang menipu rakyat berdasarkan ilmu hitam.

Kini menghadapi lawan tangguh, diam-diam Thian It Tosu memberi tanda rahasia kepada adik-adiknya dan berobahlah ilmu silat mereka. Terdengar mereka mengeluarkan bisikan-bisikan perlahan seperti berdoa dan tiba-tiba Gan Tian Cu dan adik-adik seperguruannya melihat dengan hati gelisah dan kaget betapa lima orang lawan mereka itu nampak makin lama makin tinggi besar dan tongkat bambu mereka juga menjadi amat besar dan panjang! Gan Tian Cu yang lebih matang ilmu batinnya dari pada keempat orang sutenya, masih dapat mempertahankan semangat dan ia mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk melenyapkan bayangan yang aneh ini dan hendak memperingatkan kepada keempat orang sutenya bahwa yang dilihat ini hanyalah bayangan dari ilmu sihir belaka.

Akan tetapi terlambat. Saking takut dan kagetnya, adik-adik seperguruannya itu menjadi kacau balau permainan pedangnya dan berturut-turut mereka mengeluh dan terjungkal karena terkena totokan tongkat bambu yang lihai dari lawan mereka! Gan Tian Cu hendak mengamuk dan mengadu nyawa, akan tetapi dikeroyok lima tentu saja ia tak berdaya. Apa lagi, karena melihat keempat orang sutenya telah dirobohkan, semangatnya menjadi turun dan hatinya terguncang, maka kini iapun melihat lima orang lawannya itu menjadi makin besar dan mengerikan!

Beberapa jurus ia masih dapat bertahan, akan tetapi akhirnya iapun roboh tak dapat berkutik lagi, terkena totokan pada jalan darahnya bagian thian-yu-hiat seperti apa yang telah dialami oleh empat orang adik seperguruannya! Pada saat itu, dari jauh nampak debu mengebul dan Oei Sun atau Oei ciangkun datang berkuda, diiringi oleh sepasukan pengawalnya. Melihat ribut-ribut di depan pintu gerbang ia segera membalapkan kudanya dan ketika melihat betapa Go-bi Ngo-koai-tung telah merobohkan lima orang tosu, ia lalu melompat turun dan dengan heran sekali bertanya.

"Apakah yang telah terjadi?"

Akan tetapi pada saat itu, Thian It Tosu dengan marah sedang mencela Tiong Kiat. Ia menghadapi pemuda ini dan dengan suara keras ia berkata,

"Sim ciangkun, di mana rasa setiakawanmu? Kau tahu sendiri bahwa pinto berlima dengan susah payah melawan lima orang Kun lun pai ini, semata-mata hanya untuk membantu dan melindungimu. Akan tetapi, akhirnya kau bahkan mengundurkan diri dan berdiri sebagai penonton saja, sama sekali tidak mau membantu kami. Apakah artinya ini?"

Merahlah muka Tiong Kiat mendengar teguran ini. Memang ia harus akui bahwa sikapnya tadi benar-benar amat buruk dan patut dicela, akan tetapi ia masih ragu-ragu karena teringat akan tuduhan Gan Tian Cu terhadap Go-bi Ngo-koai-tung.

"Totiang apakah betul ucapan Gan Tian Cu tadi bahwa totiang berlima adalah bekas orang-orang Pek lian kauw?" tanyanya dengan kening berkerut.

"Kalau betul, mengapa? Apakah kami tidak berhak untuk hidup? Sim ciangkun, ingat bahwa kau sendiri dahulunyapun terkenal dengan julukan Ang coa kiam yang ditakuti orang. Akan tetapi sekarang kaupun menjadi seorang perwira yang memilih jalan benar apakah kami tidak berhak pula melakukan kebaikan itu?"

Oei ciangkun yang mendengar pertengkaran ini, menjadi pucat dan cepat menghampiri mereka.

"Sim-ciangkun, siapa bilang bahwa ngo-wi totiang ini bekas antek-antek Pek-lian kauw?" tanyanya dengan suara keren.

Sim Tiong Kiat tentu saja tak pernah menyangka bahwa Oei Sun sendiri adalah bekas seorang tokoh Pek-lian-kauw, maka kini mendengar pertanyaan ini, ia segera mencari kawan untuk menghadapi lima orang pendeta Pek lian-kauw itu.

"Yang bilang adalah Iima orang tosu Kun-lun pai itu dan anehnya, Go bi Ngo-totiang ini tidak membantah bahkan mengaku betul!" jawabnya lalu mendekati Oei ciangkun untuk menghadapi lima orang tosu itu bersama.

Akan tetapi Oei ciangkun tidak memperhatikan Go-bi Ngo-koai-tung, sebaliknya lalu menghampiri lima orang tosu Kun-lun-pai yang masih menggeletak dalam keadaan tidak berdaya itu, lalu bertanyalah dia kepada Tiong Kiat,

"Ada keperluan apakah lima orang tosu Kun-lun-pai ini datang ke sini?"

"Mereka datang mencariku untuk menawanku, karena ada sesuatu permusuhan antara mereka dan aku. Pernah aku membunuh seorang murid mereka dan agaknya mereka merasa dendam dan hendak menghukumku," jawab Tiong Kiat sejujurnya.

"Dan Go-bi Ngo totiang membantumu?" tanya pula Oei ciangkun. Tiong Kiat mengangguk.

"Lima tosu Kun-lun pai ini sudah tahu bahwa kau seorang perwira kerajaan dan mereka tetap menyerangmu?" tanya lagi Oei Sun. Kembali Tiong Kiat mengangguk membenarkan. Oei Sun berpaling kepada beberapa orang pengawalnya dan memberi perintah singkat.

"Bunuh mereka semua!" Tiong Kiat terkejut sekali dan hendak mencegah. Tak disangkanya Oei Sun akan menghukum mati kepada lima orang tosu Kun-lun-pai itu, karena kalau sampai lima orang tosu Kun lun pai itu tewas, hal ini bukanlah perkara kecil. Mereka adalah tokoh-tokoh Kun lun dan kalau sampai dibunuh, tentu akan membangkitkan kemarahan orang gagah seluruh dunia!

Post a Comment