"Lepas api bakar semua rumah!"
Hebat sekali pertempuran di luar kampung. Kurang lebih seratus lima puluh tentara Han dibantu oleh tiga puluh tentara Ouigour diserang secara tiba-tiba oleh orang-orang Cou yang jumlahnya hanya tujuh puluh orang lebih. Eng Eng mengamuk bagaikan seekor naga sakti. Kemana saja tubuhnya bergerak, dan pedangnya berkelebat, terdengar pekik mengerikan disusul oleh robohnya seorang tentara kerajaan atau tentara Ouigour!
Juga kawan-kawannya mempergunakan ilmu golok yang mereka pelajari untuk mengadakan perlawanan sengit. Kalau saja yang menyerang itu semua adalah bangsa Ouigour biarpun jumlahnya lebih banyak, tak dapat ragukan lagi bahwa orang-orang Cou ini pasti akan memperoleh kemenangan besar. Akan tetapi yang mereka hadapi adalah tentara kerajaan dan kali ini Tiong Kiat membawa pasukan pilihan yang rata-rata anggautanya telah mempelajari ilmu silat dengan amat baiknya, maka pertempuran itu berjalan seru dan ramai sekali.
Hanya Eng Eng saja seorang yang merupakan pencabut nyawa yang tak dapat dihalangi lagi. Baik perajurit biasa maupun perwira muda dari tentara kerajaan atau tentara Ouigour, apabila kebetulan berhadapan dengan gadis ini, tak dapat menahan lebih dari tiga gebrakan! Pasti akan terjungkal dalam keadaan tewas!
Kegagahan luar biasa inilah yang membuat pertempuran itu menjadi seimbang, karena selain sepak terjang gadis pedang merah ini membikin gentar hati pasukan musuh, juga membesarkan semangat orang-orang Cou yang bertempur penuh semangat dan tak kenal takut! Bertumpuk-tumpuk mayat dan orang terluka ditimbulkan oleh pertempuran ini, korban yang jatuh fihak penyerbu banyak sekali, dan juga fihak Cou banyak jatuh korban sehingga Eng Eng mulai merasa kuatir.
Tak disangkanya bahwa fihak penyerbu benar-benar lihai dan rata-rata memiliki ilmu silat yang terlatih. Ia menjadi marah sekali melihat betapa fihaknya sudah banyak berkurang dan bagaikan seorang gila Eng Eng memutar pedangnya lebih cepat lagi sambil berseru berkali-kali.
"Akan kubasmi kalian anjing-anjing rendah!" Makin banyak korban yang roboh di bawah sambaran pedangnya dan makin jerihlah para pengeroyoknya.
Akan tetapi tiba-tiba Eng Eng melihat cahaya terang dari dalam kampung yang makin lama makin besar. Ketika ia menengok, alangkah kagetnya melihat bahwa kampung itu telah menjadi lautan api. Api bernyala tinggi dan asap telah memenuhi udara, bergulung-gulung di atas kampung yang menjadi terang.
"Terkutuk, mereka membakar rumah-rumah!" seru Eng Eng dengan pucat dan bagaikan seekor burung walet terbang, ia meninggalkan pengeroyok-pengeroyoknya, melompat cepat dan berlari masuk ke dalam kampung.
Tepat di pintu gerbang, ia bertemu dengan dua orang yang juga berlari keluar dari dalam kampung. Mereka ini bukan lain adalah Tiong Kiat dan Ang Hwa! Juga Tiong Kiat dengan amat kaget mendengar dari seorang perajurit bahwa di luar anak buahnya telah diamuk oleh seorang gadis yang amat gagah perkasa dan bahwa banyak sekali perajuritnya yang tewas oleh gadis ini. Tiong Kiat telah berhasiI membakar semua rumah dan membunuh semua tentara Cou yang tadi bersembunyi di belakang rumah rumah dengan anak panah mereka, sungguhpun untuk tiga puluh orang musuh itu ia kehilangan hampir semua perajuritnya yang telah memasuki dusun!
Ketika mendengar bahwa tentaranya di luar kampung menghadapi bencana maut yang disebar oleh seorang gadis Cou yang amat sakti, ia lalu cepat berlari keluar bersama Ang Hwa dan kebetulan sekali bertemu dengan seorang gadis yang bukan lain adalah Suma Eng! Untung Eng Eng tidak mengenal perwira ini, akan tetapi ia tidak perduli siapa adanya perwira ini. Dengan kebencian luar biasa karena perwira ini yang memimpin orangnya membakar semua rumah di dalam kampung, Eng Eng lalu maju menerjang dengan pedang merahnya. Ketika perwira itu menangkis dengan sebatang pedang yang bercahaya putih barulah Eng Eng melihat mukanya dan mengenalnya.
"Kau...??" tanyanya dengan tertegun akan tetapi segera disusul dengan kata-kata yang menunjukkan kebencian besar,
"Bangsat jahanam! Sekarang tiba saatnya aku mencabut nyawamu!"
Juga Tiong Kiat kaget sekali ketika melihat bagwa gadis yang mengamuk itu bukan lain adalah Suma Eng. Pantas saja para perajuritnya kocar kacir karena yang dihadapi adalah Eng Eng, gadis yang telah dikenal baik kelihaiannya ini!
"Sim-taihiap, dia inilah perempuan hina yang telah melukaiku! Lekas kau robohkan dia untukku!" kata Ang Hwa sambil maju membantu Tiong Kiat dengan pedangnya.
"Anjing betina, kau belum mampus?" Eng Eng membentak gemas.
"baiklah biar sekarang kau mampus bersama anjing jantan ini!" la lalu memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga Ang Hwa terpaksa melompat mundur karena silau matanya. Ia tidak sekuat Tiong Kiat yang dapat menangkis dan menghadapi pedang merah itu.
Adapun Tiong Kiat sendiri menjadi serba salah dan bingung. Pertemuan dengan Eng Eng Ini benar-benar tak pernah disangkanya, ia tidak takut terhadap ilmu pedang gadis ini, karena biarpun harus diakui bahwa Eng Eng lihai sekali ilmu pedangnya, namun ia yang kini sudah menyempurnakan Ang-coa kiamsut dari Kim-liong.pai, tak usah takut akan kalah. Yang menggelisahkannya adalah kenyataannya bahwa hatinya tidak mengijinkannya untuk melukai apa lagi membunuh gadis yang dicintainya. Baru melihat gadis ini membantu suku bangsa Cou yang memberontak saja, hatinya telah menjadi sakit dan tenaganya Iemas. Ah, bagaimana gadis ini sampai menjadi tersesat dan membantu pemberontak?
Sebaliknya, Eng Eng yang membenci setengah mati kepada pemuda ini, menyerang dengan nekad tidak memperdulikan keselamatannya sendiri. Ang Hwa kini hanya memaki-maki sambil menyerang kadang kadang saja dari belakang karena ia tidak berani menghadapi gadis ini dengan langsung. la mengharapkan agar Tiong Kiat dapat mengalahkan gadis ini.
Melihat sepak terjang Eng Eng, makin sedihlah hati Tiong Kiat. Ia maklum bahwa gadis ini bersedia mengadu nyawa dengan dia dan kenyataan betapa hebatnya kebencian gadis itu terhadapnya. Benar-benar membuat ia sering kali tak dapat tidur di waktu malam.
Sekarang kembali Eng Eng telah memperlihatkan kebenciannya dengan serangan-serangan maut yang benar-benar berbahaya, tidak saja berbahaya baginya, bahkan juga berbahaya bagi Eng Eng sendiri. Gadis itu melakukan serangan dengan sepenuh tenaga dan kepandaiannya, sama sekali tidak perduli lagi bahwa serangan-serangan hebat itu membuat sebagian pertahanannya banyak terbuka.
Tiong Kiat maklum bahwa kalau diteruskan mau tidak mau iapun harus mengadu nyawa. Kalau bukan dia, tentu gadis ini yang menggeletak tidak bernyawa menjadi korban pedang pusaka. Dan hal ini ia tidak menghendakinya. Ia cinta kepada Eng Eng, akan tetapi ia lebih cinta kepada diri sendiri. Melihat beberapa orang pembantunya berada di situ, ia lalu berseru keras,
"Keluarkan perintah menarik mundur pasukan! Kejar keluarga musuh yang melarikan diri, tangkap mereka semua!"
Tiong Kiat ketika memberi perintah membakari rumah tadi mendapat kenyataan bahwa di situ tidak terdapat seorangpun keluarga bangsa Cou, maka sekarang ia mendapat akal baru. la dapat menduga bahwa Piloko tentu mengantar keluarga itu mengungsi buktinya semenjak tadi ia tidak melihat kepala suku bangsa Cou itu.
Dalam keadaan terjepit dalam pertempuran mati-matian melawan Eng Eng, ia sengaja mengeluarkan perintah ini untuk menakut-nakuti hati Eng Eng. Memang siasatnya ini tepat. Mendengar perintah ini Eng Eng menjadi pucat. Betapapun bencinya kepada Tiong Kiat dan betapapun besar nafsunya untuk membunuh pemuda ini, akan tetapi mengingat akan keselamatan keluarga suku bangsa Cou yang terancam, ia melupakan kepentingannya sendiri.
"Jahanam, kejam!" bentaknya marah dan secepat kilat Eng Eng melompat keluar dari dusun itu. Dilihatnya bahwa kawan-kawannya masih bertempur seru melawan musuh yang kini mendapat bantuan dari perajurit perajurit kerajaan yang tadi membakar-bakari itu berada dalam keadaan terdesak hebat.
"Mundur!" teriak gadis itu dan karena ia mengerahkan khikangnya, maka suaranya amat tinggi melengking mengatasi segala kegaduhan pertempuran itu.
"Ke selatan, lindungi keluarga!"
Mendengar aba-aba ini, orang-orang suku bangsa Cou lalu cepat melarikan diri ke selatan, Eng Eng sengaja lari paling belakang. Gelombang perajurit musuh yang mencoba untuk mengejar, disambutnya dengan sinar pedangnya yang dengan mudah membabat roboh beberapa orang perajurit, sehingga para pengejar itu menjadi gentar dan mundur. Kesempatan ini dipergunakan sebaiknya oleh Eng Eng dan kawan-kawannya untuk melarikan diri secepatnya mendaki bukit di selatan itu.
Tiong Kiat dan pasukannya tidak berani mengejar, karena mereka merasa bingung di daerah tak dikenalnya ini, apalagi dalam keadaan segelap itu. Mereka takut akan jebakan-jebakan musuh. Untuk apa mengcjar? Bukankah ia telah mendapat kemenangan, telah merampas dusun itu, membakar habis rumah-rumah orang Cou dan mengusir mereka? Demikian pikir Tiong Kiat. Apalagi fihak orang-orang Cou terdapat Eng Eng yang memimpin, maka semua nafsunya untuk membasmi orang-orang Cou menjadi lenyap. Kalau tidak ada Eng Eng tak dapat disangsikan lagi, Tiong Kiat tentu akan mengejar terus sampai orang terakhir dari suku bangsa Cou terbunuh.
Demikianlah, pada keesokan harinya Tiong Kiat membawa sisa pasukannya yang telah tewas setengahnya lebih itu kembali ke benteng. Ang Hwa berlaku lebih manis kepadanya karena dianggapnya Tiong Kiat telah berhasil membalas dendam, sungguhpun wanita ini masih merasa penasaran karena Eng Eng tak dapat tertawan atau terbunuh, Adapun Eng Eng yang memimpin sisa anak buahnya mendaki gunung, setelah mendapat kenyataan bahwa musuh tidak mengejar lagi lalu ia berhenti dan mengumpulkan perajuritnya. Ternyata bahwa jumlah mereka tinggal lima puluh orang lagi, Eng Eng merasa berduka sekali karena dalam pertempuran ini, ternyata hampir lima puluh orang telah tewas! Tiga puluh orang di dalam dusun dan dua puluh di luar dusun. Dan di antara lima puluh orang yang dapat melarikan diri, terdapat pula yang luka-luka. Hampir saja gadis yang gagah ini mengucurkan air matanya.
Sambil menggigit bibir Eng Eng bersumpah di dalam hatinya bahwa sewaktu-waktu ia pasti akan dapat membekuk batang leher Tiong Kiat dan sekarang lebih banyak lagi alasan baginya untuk membalas sakit hatinya terhadap pemuda itu.
Mereka beristirahat di lereng gunung dan menjelang fajar, dari atas bukit turunlah Piloko dan sepuluh orang kawannya. Malam tadi ia melihat dari atas bukit betapa dusun mereka terbakar. Hati mereka gelisah sekali akan tetapi apakah daya mereka? Piloko tidak berani meninggalkan keluarga yang berada di puncak bukit, maka dengan hati gelisah sekaIi ia menanti sambil menghibur orang-orang perempuan yang mulai menangis dan mengeluh panjang pendek melihat dusun mereka terbakar itu. Ketika bertemu ayah angkatnya, Eng Eng memeluk Piloko dan menjatuhkan mukanya pada dada ayah angkat ini. Keduanya merasa terharu sekali.
"Ayah... aku tak dapat mempertahankan...kampung kita...dan lima puluh orang kawan kawan kita..."
Piloko tak dapat berkata sesuatu, hanya menepuk-nepuk pundak anak angkatnya sebagai usaha menghibur.