Go-bi Ngo-koai-tung menganggap usul Oei ciangkun untuk menyuruh Tiong Kiat membantu orang-orang Ouigour membasmi Piloko dan anak buahnya amat baik. Demikianlah, beramai-ramai mereka lalu mendatangi Tiong Kiat yang sedang bercakap-cakap dengan amat asyiknya dengan Ang Hwa.
"Sim ciangkun." Oei Sun mulai berkata dengan muka sungguh-sungguh,"seperti pernah kukatakan kepadamu, orang orang Cou yang dikepalai oleh Piloko amat jahat dan berbahaya. Sekarang Piloko telah melatih orang-orangnya dan baru saja ia telah menyerang Huayen khan dan menimbulkan banyak kematian dan kerusakan. Kalau tidak lekas-lekas dibasmi, tentu kelak orang-orang Cou itu akan berani menyerang benteng kita, bahkan mungkin sekali akan berani memasuki tembok besar dan mengganggu rakyat. Oleh karena itu, aku harap kau suka memimpin sepasukan perajurit, bersama-sama dengan pasukan Ouigour yang menjadi penunjuk jalan, menggempur orang-orang Cou itu. Kalau mungkin bunuh atau tawan Piloko atau setidaknya biarlah merasai kelihaian kita."
Sambil mengerling ke arah Ang Hwa, Tiong Kiat menjawab.
"Baiklah, Oei ciangkun. Urusan orang-orang Cou ini mudah saja, biarlah aku yang akan membikin beres. Bilakah aku berangkat?"
Hampir berbareng Huayen-khan dan Oei ciangkun berkata.
"Sekarang juga, lebih cepat lebih baik."
Akan tetapi tiba-tiba Ang Hwa berkata,"Lebih baik besok pagi saja, karena pasukan kita perlu beristirahat. Lagi pula, akupun akan ikut sendiri untuk membalas dendam!"
Kerling mata yang penuh arti dari nyonya muda ini ke arah suaminya membuat Huayen-khan diam-diam menghela napas. Ia maklum bahwa isterinya telah jatuh hati kepada pemuda she Sim ini dan iapun tahu sepenuhnya bahwa istrinya menghendaki agar diperbolehkan berdekatan dengan Sim Tiong Kiat!
"Memang betul juga," akhirnya Huayen-khan, suami tua bangka ini berkata,
"pasukan kami yang telah terpukul itu amat lelah dan perlu beristirahat."
Demikianlah, selanjutnya dapat diduga bahwa Tiong Kiat telah terjerumus dalam perangkap yang di pasang oleh Huayen khan dan Ang Hwa. Pemuda itu tergila-gila kepada Ang Hwa yang sengaja bersikap amat manis kepadanya. Kini Tiong Kiat tidak menolak seperti dulu, karena kalau dulu ia anggap sikap manis Ang Hwa itu untuk menyeretnya ke jurang penghianatan terhadap kaisarnya, kini nyonya muda yang cantik ini bersikap manis karena memang suka kepadanya, dan karena mengharapkan bantuannya untuk membalas dendam kepada bangsa Cou. Dan menurut anggapan Tiong Kiat, Piloko dan pasukannya memang pantas digempur da dibinasakan agar jangan mengganggu dan mengacau rakyat!
Pada keesokan harinya, berangkatlah Tiong Kiat memimpin sepasukan perajurit yang berjumlah dua ratus orang, didahului oleh sepasukan kecil perajurit Ouigour sebagai penunjuk jalan. Ang Hwa tetap berada di dekatnya. Hal ini disetujui oleh Huayen khan dan Oei ciangkun, karena diam-diam Ang Hwa merupakan seorang penilik untuk menyaksikan bagaimana sikap pemuda itu dalam menghadapi Piloko dan gadis pendekar yang membelanya.
Mereka tiba di hutan dekat dengan dusun yang menjadi tempat tinggal orang-orang Cou dan di situ mereka berhenti. Tiong Kiat mengadakan perundingan dengan Ang Hwa dan orang-orang Ouigour yang menjadi pembantu Huayen khan.
"Lebih baik kita serbu mereka malam hari ini juga." usul Ang Hwa yang sudah tak sabar lagi menanti lebih lama.
"Hal itu berbahaya sekali." kata Tiong Kiat yang biarpun belum mempunyai pengalaman dalam perang, namun sudah mempelajari siasat-siasat peperangan dari Oei ciangkun.
"Mereka lebih faham tentang keadaan daerah ini. Pertempuran di malam hari yang gelap di tempat yang belum kita ketahui baik keadaannya, amat berbahaya bagi pasukan kita. Lebih baik kita menanti di hutan ini sampai besok pagi baru menyerang."
"Apa sukarnya?" Ang Hwa berkata dengan bibir cemberut dan pandangan mata mengejek.
"Apa kau takut? Jumlah tentara kita lebih banyak, kita serbu kampung mereka dengan tiba-tiba dan kalau mereka lari kita lalu bakar rumah-rumah mereka. Bukankah hal itu akan menjadi beres? Serahkan saja Piloko kepadaku dan kau menghadapi gadis liar yang membantunya itu."
Dikatakan takut dan diejek oleh kekasihnya yang baru ini, panaslah hati Tiong Kiat. Ia maklum bahwa memang sesungguhnya pasukannya tidak usah takut kalah, akan tetapi bertempur dalam gelap itu akan menjatuhkan lebih banyak korban di fihaknya, dan hal ini tadinya hendak dicegahnya.
"Baiklah, kita serbu sekarang!" Setelah berkata demikian, Tiong Kiat lalu memberi aba-aba dan menyerbulah pasukan kerajaan yang dua ratus orang jumlahnya, dibantu oleh tiga puluh orang lebih pasukan Ouigour yang hendak menuntut balas. Jauh sebelum pasukan ini tiba di dusun tempat tinggal orang Cou, penduduk kampung itu telah mendengat berita tentang penyerbuan ini dari para peronda. Piloko dan Eng Eng cepat mengatur persiapan.
"Ayah," Kata Eng Eng di tengah-tengah kesibukan itu.
"kau bawalah teman keluarga wanita dan anak-anak menyingkir ke arah gunung di sebelah selatan itu. Biar aku memimpin kawan kawan untuk mempertahankan diri!"
Piloko maklum bahwa siasat Eng Eng ini memang tepat. Dari penjaga dan peronda, mereka mendengar bahwa penyerbu-penyerbu itu berjumlah dua ratus orang lebih, maka kalau keluarga tidak diungsikan lebih dulu, maka akan berbahaya sekali keadaannya. Di samping menghadapi musuh, juga mereka terpaksa harus melindungi keluarga mereka. Kalau keluarga mereka sudah diungsikan lebih dulu ke atas gunung, tentu pertahanan akan dapat dilakukan lebih kuat lagi.
Tanpa banyak cakap lagi Piloko Ialu mengumpulkan semua keluarga yang sudah siap pula mengangkut barang-barang yang terpenting seperti pakaian dan lain lain kemudian dengan hanya membawa sepuluh orang kawan laki-laki, Piloko lalu mengajak mereka keluar dari pintu gerbarg sebelah selatan dan melarikan diri di malam gelap menuju ke gunung di sebelah selatan.
Mereka tidak berani mempergunakan obor, oleh karena hal ini tentu akan terlihat oleh musuh. Karena mereka sudah paham akan daerah itu, biarpun di malam gelap, dapat juga mereka mencari jalan dan bergerak maju dengan cepat. Adapun Eng Eng cepat mengatur persiapan. Ia memasang barisan pertahanan di kanan kiri depan pintu gerbang utara dari mana penyerbu itu datang, dan diam-diam ia memasang barisan panah di dalam kampung, bersembunyi di belakang rumah-rumah sebanyak tiga puluh orang ahli anak panah. la telah mengatur siasatnya dengan suara gagah dan nyaring.
"Kawan-kawan, musuh yang datang menurut laporan adalah orang-orang Ouigour yang dibantu oleh tentara kerajaan. Aku sendiri bingung mendengar bagaimana tentara kerajaan sampai membantu perbuatan orang Ouigour yang memusuhi kita, akan tetapi tak perlu hal itu dibicarakan lagi. Sekarang dengarlah baik-baik. Pihak musuh berjumlah dua ratus orang lebih berarti dua kali lebih banyak dari pada kita. Orang-orang yang bersembunyi di luar kampung, apa bila nanti melihat mereka menyerbu, jangan bergerak dulu dan biarkan sebagian dari tentara musuh memasuki kampung. Setelah itu barulah aku akan memberi tanda menyerang. Adapun kawan-kawan yang bersembunyi di dalam kampung, begitu melihat musuh masuk, harus segera mengerjakan busur dan anak panah menyerang dari balik-balik rumah. Akan tetapi harap hati-hati, tiap kali sepuluh batang anak panah harus segera mencari tempat persembunyian lain. kalian sudah dilatih dan sudah tahu bagaimana harus berbuat!"
Demikianlah, orang-orang Cou yang gagah berani ini menanti datangnya musuh dengan hati berdebar. Mereka sama sekali tidak merasa gelisah dan takut karena mereka berbesar hati dengan adanya "Bunga Dewa" di tengah-tengah mereka, apa lagi setelah Eng Eng berkata sebagai penutup pesannya.
"Jumlah mereka lebih banyak, akan tetapi kita tak perlu takut! Akan kita perlihatkan bahwa kita bangsa Cou tidak takut mati dan tidak boleh dibuat permainan!"
Barisan penyerbu menjadi girang ketika melihat keadaan di luar kampung ini sunyi saja. Mereka mengira bahwa orang-orang Cou tentu sudah tidur nyenyak, maka sambil menghunus senjata mereka menyerbu ke dalam dusun melalui pintu gerbang utara yang mereka robohkan. Di dalam serbuan itu, Eng Eng dari tempat sembunyinya hanya melihat seorang perwira Han bersama Ang Hwa memimpin barisan menyerbu ke dalam, akan tetapi karena gelap ia tidak tahu bahwa perwira itu sebetulnya Sim Tiong Kiat.
Setelah tentara musuh yang memasuki kampung kira-kira ada lima puluh orang tiba-tiba Eng Eng mengeluarkan pekik yang amat nyaring dan ia sendiri lalu melompat turun dari sebuah pohon di mana ia bersembunyi! Kawan-kawannyapun mengeluarkan pekik dahsyat dan keluarlah seratus orang Cou menyerang musuh yang baru datang. Perang hebat terjadi dan ternyata keadaan sungguh terbalik. Bukan orang-orang Cou yang kaget menghadapi serbuan tiba-tiba, melainkan para penyeranglah yang benar-benar menjadi kaget karena diserang secara tiba-tiba oleh orang-orang Cou dari kanan kiri! Dan berbareng dengan keributan hebat di luar kampung itu, ketika Tiong Kiat hendak membawa keluar kembali pasukannya tiba-tiba beberapa orang perajuritnya terjungkal dengan dada tertembus anak panah. Kacau balau keadaan dalam kampung dan Tiong Kiat menjadi pucat. Mereka telah terjebak dan terkurung! la lalu melompat turun dari kudanya dan memberi perintah.